"Mas?" Liona yang baru saja menjemur pakaian langsung menghampiri Reksa yang tengah duduk di kursi ruang makan.
Memang sudah kebiasaan Liona menjemur pakaian di malam hari.
"Mas kenapa?" tanya Liona melihat Reksa yang hanya terdiam di depan lilin.
Reksa akan memesan makanan tadinya, tapi entah kenapa tidak ada sinyal.
"Gue laper." Liona menghela napas.
"Kirain kerasukan." kata Liona mengelus d**a nya.
"Liona buatin makanan, nasi goreng aja mau? yang cepet masaknya Mas." Reksa mengangguk.
"Apapun, gue udah sekarat."
"Kalau mau cepet bantuin dong." Reksa berdecak.
Lalu menghampiri Liona yang langsung ke dapur.
"Bantu apa?" tanya Reksa tiba tiba suaranya melembut membuat Liona tersenyum simpul.
"Kupas bawang nya." Liona memberikan bawang merah dan bawang putih pada Reksa yang duduk di pantry.
"AAAAAKH!" Liona langsung berteriak kala lampu tiba tiba padam.
"Mas, Mas Liona takut." rengek Liona berusaha mencari dimana Reksa.
"Gausa takut, gue disini." Reksa lalu juga turut mencari dimana keberadaan Liona.
"Mass... Mas dimana?" Liona mengulur ngulur kan tangannya mencari dimana Reksa.
Dugh
Kening Liona menabrak sesuatu, dan gadis itu langsung memeluknya erat.
Reksa yang di peluk erat seperti itu membeku di tempat. Pikiran nya terngiang ke beberapa tahun yang lalu. Dimana ia berpelukan dengan seorang gadis yang amat ia cintai.
Reksa menahan napasnya.
Pria itu tak langsung membalas pelukan Liona. Tangannya malah terangkat layaknya tertangkap basah oleh polisi.
Tiba tiba saat mereka masih berpelukan, lampu kembali menyala.
Reksa lalu menatap Liona yang masih memejamkan matanya sembari memeluknya erat.
Namun, entah kenapa tangan Reksa langsung mendorong Liona hingga gadis itu terpental dan punggungnya menabrak kulkas hingga Liona mengaduh dan menatap Reksa tak percaya.
"Sorry." Reksa langsung menjauh dari Liona yang masih mengaduh dan menatapnya tak percaya.
Setelah kepergian Reksa. Liona tetap memasak nasi goreng sendiri.
Sudah biasa sebenarnya, Liona tadi meminta Reksa membantunya karena Liona ingin merasakan bagaimana sensasi ketika ia di temani.
Sampai detik ini bahkan statusnya sudah berubah, Tuhan tak mengijinkan Liona untuk merasakan bagaimana rasanya bahagia bersama seseorang. Tak pernah ada yang mau menemani Liona.
Liona tersenyum sembari sesekali mengelus punggung nya. Ia masih merasakan pegal akibat acara pernikahan nya, dan dorongan Reksa menambah kan rasa sakit di punggungnya.
Sedangkan Reksa? Pria itu pergi ke belakang rumah. Ia duduk terdiam di taman belakang.
Sesekali Reksa mengusap wajahnya kasar. Sampai panggilan Liona membuatnya tersadar.
"Mas, nasi gorengnya udah jadi." teriak Liona.
Reksa lalu bangkit, pria itu berjalan menghampiri Liona yang tengah mengelus punggung nya.
Reksa mengulur kan tangannya, namun kembali ia tarik lagi.
"Sorry." kata Reksa, Liona mengangguk.
"Gapapa." Liona lalu dengan tulus melayani Reksa.
xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx
Liona mengerjap kan matanya. Wanita itu lalu menatap jam dinding, pukul dua lebih sedikit.
Liona langsung bangkit dari tidurnya. Sekejap Liona menatap Reksa yang tertidur di sebelahnya.
Reksa dan Liona memang sudah sepakat untuk tidak melakukan hubungan layaknya suami istri. Hubungan mereka hanya lah simbiosis mutualisme.
Namun mereka tetap sepakat tidur dk ranjang yang sama walaupun ada guling di tengah tengah mereka.
Bagaimana pun mereka suami-istri dan Reksa tak mau jika nantinya Renita tiba tiba datang dan memergoki mereka tidak tidur di ranjang yang sama.
Liona langsung menguncir rambutnya. Cepat cepat gadis itu langsung mengambil wudhu.
Liona lalu melaksanakan tahajud malam, seperti yang sudah rutin ia lakukan. Memang, Liona sangat rajin solat. Namun ia belum bisa menutup pakaian nya.
Saat Liona solat, Reksa yang biasa terbangun malam hari langsung menatap gadis itu dalam diam.
Reksa terus menatap Liona saat solat hingga gadis itu berdoa. Saat Liona selesai solat, Reksa langsung menutup matanya kembali.
Reksa merasakan Liona yang mengelus keningnya dan memperbaiki selimutnya.
"Tidur nyenyak." kata Liona. "Suamiku." sambungya yang masih bisa Reksa dengar.
xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx
“Bangun..”Liona menepuk pipi Reksa yang masih terlelap. Wanita dengan baju tidur biru dongker itu sampai mengguncang tubuh Reksa yang tak kunjung bangun.
“Mas.”Reksa hanya melenguh membuat Liona berdecak. Ternyata sulit menjadi seorang istri.
“Iya iya Gue bangun!”kesal Reksa mengangkat badannya untuk duduk dengan mata yang masih menahan kantuk.
“Lo apaan sih!”kesal Reksa membuat Liona meringis.
“Kan Aku udah bilang Aku bakal jadi istri boongan yang baik buat Mas.”ujar Liona cengengesan.
“Terserah.”ujar Reksa masa bodo, lalu pria itu bangun dan beranjak dari ranjang.
Liona lalu membuka almari. Ia tersenyum melihat pakaiannya sudah tertata rapi didalamnya, pasti Reksa yang menatanya karena kemarin Dia lelah dan memutuskan akan menata sekarang.
Namun Reksa sudah menatanya untuknya. Pria itu terkesan dingin namun hanya luarnya saja.
Liona mengambil setelan untuk Reksa pakai ke kantor hari ini. Ya dia sadar dia hanya istri kontrak, namun Dia dan Reksa menikah dengan syarat dan ketentuan sebagaimana pasurti pada umumnya.
Bahkan Reksa sedang mengurus surat surat nikah mereka.
Liona meletakkan setelan itu diatas tempat tidur lalu keluar kamar.
“Liona?”Liona menoleh dan mendapati Renita yang mendekat padanya.
“Ibu lupa kalau Reksa sudah menikah.”kekeh Renita membuat Liona tertawa.
“Liona memasak nasi goreng, apa ibu suka?”tanya Liona ragu ragu membuat Renita tertawa geli lalu mengelus rambut Liona.
“Tak apa sayang. Ibu menyukai semua makanan yang kau buat.”ujar Renita membuat Liona tersenyum.
“Apa perlu bantuan Ibu?”Liona menggeleng, pasalnya semua sudah selesai hanya tinggal menyajikan dimeja makan saja.
“Tidak perlu, Ibu duduk saja biar Liona yang menyelesaikan.”ujar Liona membuat Renita tersenyum lalu menuruti kemauan Liona. Wanita itu lalu memilih menonton tayangan televisi.
Setelah beberapa saat Liona mendekat pada wanita itu.
“Ibu semuanya sudah selesai, Liona panggil Mas Reksa dulu ya.”Renita mengangguk.
Liona lalu masuk ke kamar, dilihatnya Reksa yang sudah memakai pakaian yang ia siapkan tadi senyumnya mengembang. Reksa yang ditatap Liona seperti tiu mengalihkan pandangannya.
“Kalau perlu bantuan bilang Mas. Maskan udah punya istri.”ujar Liona mendekat pada Reksa yang sedari tadi bergulat dengan dasi yang tak kunjung jadi.
Napas Reksa tercekat.
“Rileks Mas, Liona nggak bakal ngapa ngapain kok.”ujar gadis itu membuat Reksa menghela napasnya tersendat.
“Gue udah bilang jangan panggil Gue Mas.”ujar Reksa mengalihkan pandangannya dari Liona didepannya.
“Terserah Mas lah mau nggak yang penting Aku seneng.”ujar Liona membuat Reksa berdecak
JANGAN LUPA IKUTI I*STAGRAM @QUEENDEEII DAN WAT**AD DEE @QUEENAADEE(QUEENDEE)
DOAKAN DEE YA BISA MENJADI PENULIS TERKENAL SUATU SAAT NANTI. AAMIIN AAMIIN.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA CERITA DEE. MAAF JIKA TIDAK SESUAI EKSPETASI KALIAN.
DANK U ALL SUKSES SELALU