"Kaki Liona pegal Mas." adu Liona pada Reksa di sampingnya.
"Sabar, bentar lagi selesai. Nggak usah ngeluh mulu, gue juga cape." balas Reksa.
Setelah berhari hati bersama Reksa, Liona sangat hapal dengan salah satu tabiat pria itu.
Ketus. Liona bahkan harus ekstra sabar menghadapi sikap Reksa.
Bahkan pria itu cenderung moodyan. Liona kadang tak bisa menebak kapan Reksa berubah baik atau ketus padanya.
Liona kembali menatap para tamu yang hanya berapa orang. Karena Liona tak mau drama pernikahan mereka tersebar kemana mana.
Sama saja seperti ia membohongi semua tamu. Semakin banyak tamu bukankah dosa Liona dan Reksa semakin banyak?
Reksa yang duduk di samping Liona melirik ke wanita yang baru berapa menit sah menjadi istrinya itu.
Terlihat jelas mata sayu Liona. Bahkan sesekali gadis itu memijat kaki dan tangannya.
"Ke kamar, biar gue yang bilang Ibu nanti." wajah Liona langsung menatap Reksa penuh girang.
"Lo tau kan kamar nya dimana?" Liona mengangguk.
"Tau. Makasih Mas." Liona lalu benar benar meninggalkan Reksa sendiri.
Reksa terkekeh kala melihat heels Liona tertinggal. Liona berjalan tanpa alas ke kamar. Benar benar gadis itu.
"Nikah juga Lo." seseorang datang menghampiri Reksa.
Namun Reksa malah menatapnya sinis.
"Sorry gue habis dari rapat. Gabisa di tunda. Rapat nya dadakan tadi malem gue baru tau. Yang penting kan gue disini." Reksa mendengus.
"Tapi gue udah liat istri Lo sih, cantik."
"Jelas." balas Reksa.
"Kenal dimana Lo? setelah sekian lama menjomblo tiba tiba dapat yang cantik."
"Planet Mars." balas Reksa membuat Dirga tergelak.
Keduanya lalu berbincang sembari mengamati para tamu yang sedang sibuk makan makan.
"Li?"
"Eh, Ibu?" Renita tersenyum pada Liona yang akan melepas gaun pengantin nya.
"Maaf, Liona cape." Renita mengangguk.
"Tak apa. Biar Ibu dan Reksa yang menemui para tamu." kata wanita yang memakai dress berwarna senada dengan gaun pengantin Liona.
"Kesini." Renita lalu memakai kan sebuah kalung yang sama persis dengan yang ia pakai.
"Jangan sampai hilang ya?" Liona mengangguk.
"Ibu kesana dulu, kamu istirahat saja ya?" Liona mengangguk.
"Terimakasih Ibu." Renita mengangguk lalu pergi setelah mengelus rambut Liona.
Liona malah tak langsung melepas gaunnya. Gadis itu langsung merubah suhu AC karena gerah dan langsung merebahkan dirinya.
Ia ingin melepas gaun nya, namun energi yang Liona punya seakan tak cukup untuk melepas gaun itu.
Liona benar benar lelah. Akhirnya gadis itu terlelap dengan gaun dan riasan wajah nya.
xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx
"Reksa."
Reksa yang baru saja akan masuk kamar setelah acara yang panjang menoleh dan mendapati ibunya.
"Ibu mau ke acara teman ibu sebentar."
"Sekarang?" Renita mengangguk.
"Ibu tak lelah?" heran Reksa.
"Ibu mu ini wanita kuat Reksa." kata Renita memperlihatkan tubuhnya yang masih segar bugar berbanding terbalik dengan Reksa.
"Baiklah, ibu pergi dulu. Para tukang sedang membereskan, semua makanan sudah habis ibu bagi bagi kan. Kalau kamu lapar pesan saja." Reksa mengangguk.
Renita mencium pipi Reksa membuat pria itu protes, namun Renita malah tertawa.
"Ini terakhir kalinya. Besok kamu akan di cium oleh istrimu." kata Renita sebelum berbalik dan menjauh dari Reksa.
Reksa mematung sebentar. Ada sedikit rasa bersalah, kecewa dan marah dengan dirinya sendiri.
Karena tega membohongi semua orang, termasuk ibu nya sendiri.
Reksa membuka pintu kamar dan tampak terkejut melihat Liona yang terbaring pulas dengan riasan dan gaun pengantin nya.
Reksa mendekat.
"Hei, bangun." Reksa berusaha membangunkan Liona.
"Eunghhh..." Liona melenguh.
"Ganti dulu bajumu." kata Reksa.
"Liona cape Mas. Nanti saja." balas Liona.
"Ganti sekarang atau aku yang menggantikan?"
JANGAN LUPA IKUTI I*STAGRAM @QUEENDEEII DAN WAT**AD DEE @QUEENAADEE(QUEENDEE)
DOAKAN DEE YA BISA MENJADI PENULIS TERKENAL SUATU SAAT NANTI. AAMIIN AAMIIN.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA CERITA DEE. MAAF JIKA TIDAK SESUAI EKSPETASI KALIAN.
DANK U ALL SUKSES SELALU