"Aaaah, pelan-pelan, Tuan! Tolong lakukan perlahan ...." mohon Elea.
Desah dan rintih bercampur jadi satu saat tubuhnya dikuasai oleh Mathias yang semakin kehilangan kendali.
Malam ini, pria pendendam itu sedang menumpahkan hasrat pada wanita yang dibencinya dalam keadaan setengah sadar. Tapi kenikmatan yang ia kecap telah membuat ia lupa segalanya.
Tanpa banyak bicara, Mathias menghentakan 20 cm miliknya pada Elea sehingga menciptakan sensasi rasa sakit yang beriringan dengan sensasi luar biasa yang sebelumnya tak pernah sekali pun Elea rasakan selama seumur hidupnya.
***
Diam-diam Arthur merasakan rasa cemas yang hebat saat ini.
Di dalam kamarnya, ia tak bisa tidur padahal ini sudah hampir dini hari. Ia mondar mandir tak karuan di ruang kamarnya itu sambil membayangkan yang tidak-tidak tentang kebersamaan Elea dan Mathias saat ini.
"Tuhan, lindungin gadis malang itu ... berikan dia nyawa ke-2, beri ia kesempatan untuk tetap hidup ...." harap Arthur, terhitung sudah lebih dari satu jam ia tak berhenti berdo'a untuk Elea.
Arthur membayangkan Elea diikat dan disiksa habis-habisan bagai binatang karena ia sangat mengenal siapa Mathias Xanders. Mathias adalah pria berdarah dingin yang tak memiliki belas kasihan.
Padahal pada kenyataannya saat ini Elea baru saja membuat Mathias mencapai puncak kenikmatan sehingga ia melemas dan pada akhirnya terbaring di samping Elea yang tak bisa banyak bergerak. Ia merasa tubuhnya remuk, lebih remuk daripada saat Esther menyiksanya.
"Aaah Elea, kau membuatku puas malam ini ...." racau Mathias dan sepertinya ia benar-benar kelelahan sehingga tak lama setelah itu ia memejam mata dan terlelap.
Tidak dengan Elea! Elea tak mampu berkata-kata, tak mampu tidur tenang dan segala rasa bercampur di dalam hatinya.
"Jadi barusan aku baru saja melayani dia sebagai suamiku ....?" gumam Elea dengan rasa percaya tak percaya.
Sedikit demi sedikit ia merasa percaya diri, sedikit demi sedikit harapan terbit walaupun ia tak tahu apa yang akan terjadi besok pagi.
Elea melirik ke arah pria gagah yang ada di sampingnya. Saat ia terlelap bahkan ia tetap mempesona. Setiap detik saat Mathias bergerak liar di atas dirinya terekam jelas dalam memorinya.
Rasa sakit perlahan pudar dan dengan mudahnya Elea merasa tersanjung dengan apa yang barusan terjadi.
"Semoga kau mempertimbangkan aku, Tuan ... aku akan jadi istri yang baik jika kau menginginkan itu ... aku bisa melayanimu, aku akan melahirkan keturunanmu, aku akan memasak masakan yang enak untukmu ...." ucap Elea pelan sambil menyandarkan kepalanya pada lengan kekar itu.
Karena lelah, Elea pun mulai mengantuk dan akhirnya lelap bersama tanpa memikirkan rasa takutnya lagi.
Tapi, di pagi harinya ....
Mathias terbangun dalam keadaan pening berat. Perlahan ia membuka mata dan merasakan ada yang aneh dengan paginya kali ini.
Ia telanj4ng bulat dan ada sesosok wanita yang tidur di bawah selimut yang sama dengannya. Mathias kaget sekaligus marah, tak pernah sekali pun ia membiarkan orang asing naik ke atas pembaringannya.
"Shiiit!" rutuknya geram. Apa lagi saat ia menyadari kalau wanita yang ada di sampingnya adalah Elea, perempuan yang sangat ia benci.
"Berani-beraninya kau ada di sini, Elea!" ujar Mathias dengan mata berapi-api.
Elea pun mulai terusik dan mendengar ucapan Mathias. Elea mengucek matanya dan tetap ingat dengan apa yang terjadi semalam.
"Apa yang kau lakukan di atas tempat tidurku?" tanya Mathias, api di sorot matanya semakin berkobar.
"Anda yang memintaku untuk ada di sini, Tuan. Apa Anda lupa?" ingatkan Elea.
Mathias melihat ke sekitar, pakaiannya sudah berserakan di lantai, begitu juga dengan pakaian dan pakaian dalam Elea. Keadaan ranjang juga terlihat kacau balau menggambarkan betapa buasnya ia berbuat pada Elea semalam.
"Anda benar-benar tidak ingat, Tuan? Semalam Anda meminta malam pertama padaku," oceh Elea mencoba mengingatkan, tapi ia tetap memegang erat selimut untuk menutup rapat tubuh polosnya.
"Jangan bicara omong kosong padaku, Elea! Aku tidak menginginkanmu, dan tak akan pernah ..." bantah Mathias.
"Anda mabuk berat semalam, Anda berc!nta denganku semalam," perjelas Elea, hatinya sedikit sedih saat sadar kalau Semalam Mathias melakukannya di luar kesadaran.
"Enyah dari tempatku!" usir Mathias.
Hati Elea terasa lemas lagi, setelah semalam menggila, nampaknya Mathias kembali ke setelan awal. Killer dan arogan.
"Tunggu apa lagi? Enyah dari tempatku, jal4ng! Kembali ke tempatmu, tunggu Esther akan menghabisimu hari ini!" Mathias benar-benar murka.
Hati Elea semakin tersayat. Optimisme semalam hancur lebur di pagi yang cerah ini.
"Tuhan akan membalas kekejamanmu, Tuan!" desis Elea penuh kebencian lalu beranjak dari atas ranjang dengan susah payah.
Ia memunguti pakaiannya, memakainya dengan cepat walaupun sudah robek tak karuan. Kali ini Elea menangis, ia merasa seperti sampah yang sama sekali tak memiliki nilai.
Mathias segera menginstruksikan Arthur untuk menunggu di depan pintu untuk kembali mengawal Elea menuju ruang isolasi itu.
Elea pergi tanpa menoleh dan meninggalkan kamar itu dengan hati penuh luka.
Arthur menunggu di depan pintu dan bersyukur melihat Elea masih hidup, tapi kemudian Arthur merasa kaget melihat penampilan Elea yang sangat berantakan.
"Kau baik-baik saja, Elea?" tanya Arthur pelan.
Elea menggeleng pelan dan mulai menyeret langkah sambil menahan sakit di area sensitifnya.
Arthur semakin tercengang, apakah semalam Elea bercinta dengan tuannya? Sungguh Arthur terkaget membayangkan hal itu.
"Apa yang terjadi? Apa Bos menyiksamu?" tanya Arthur yang begitu ingin tahu.
"Kapan aku dihabisi? Kapan ...? Kalau seperti ini aku jengah, kenapa tidak langsung saja habisi aku?" lirih Elea sambil menangis dan ia menahan langkah di lorong yang gelap itu.
Hati Arthur terenyuh dan seakan ia bisa ikut merasakan penderitaan yang Elea rasakan.
"Apa salahku? Adakah yang bisa menjawab pertanyaanku? Kenapa aku diperlakukan seperti ini?" lirihnya lagi.
Hati Arthur semakin teriris. Tapi dia bisa apa?
"Percuma aku hidup kalau sisa hidupku akan dihabiskan dengan penyiksaan ini ... untuk apa aku tetap ada di sini ...?" Elea nyaris ambruk saking down-nya. Tapi Arthur sigap menopang agar Elea tetap bertahan untuk berdiri.
"Bertahanlah, Elea. Yakinlah kalau satu hari nanti hidupmu akan lebih baik," ucap Arthur.
Elea menggelengkan kepala dan ia tak percaya dengan apa yang Arthur katakan.
Dan sekali lagi, area lorong itu sedang diawasi oleh Mathias lewat tayangan CCTV yang ia lihat dengan ponselnya.
Mathias marah melihat Arthur menguatkan Elea walaupun ia tidak bisa dengar dengan jelas apa yang Elea dan Arthur bicarakan.
"Awas kau, Arthur!" geramnya sambil mengepal tangan.
Setelah itu Mathias agak melempar ponselnya ke sembarang tempat di ranjangnya. Ia kesal, sangat kesal.
Ia menyibak selimut dan hendak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri tapi geraknya terhenti saat ia menemukan bercak darah di atas seprai.
Mathias sejenak terdiam dan menatap lekat bercak darah itu.