Mathias merasa tertantang saat Elea tidak memohon dan tidak ketakutan seperti yang ia harapkan.
Cengkraman tangan Mathias di wajah Elea sedikit lebih kencang tapi Elea tetap tenang, walaupun hatinya sudah sangat kacau tak karuan.
"Apa karena aku ini gadis desa? Karena aku jelek? Atau ... ada sesuatu hal yang tidak aku ketahui? Katakan saja, aku akan minta maaf dengan alasan yang jelas dan setidaknya aku tidak mati penasaran," ucap Elea dengan suara yang tidak terlalu jelas tapi bisa dipahami oleh Mathias.
Mathias melepaskan cengkraman tangannya di wajah Elea tapi tak melepaskan tatapan matanya yang masih begitu tajam.
Elea kembali menundukkan wajahnya sambil merangkai do'a sambil menghitung sisa waktunya.
Beberapa saat di ruang kamar itu terasa hening, tapi benak Elea begitu gaduh dengan tanya, apa yang akan mungkin terjadi selanjutnya? Apakah ia akan dicekik, atau dibunvh dengan cara lain?
'Kenapa diam saja? Sebenarnya apa yang dia inginkan? Ayolah lakukan sesuatu agar aku tidak menunggu terlalu lama!' batin gadis berkulit putih bersih seputih s**u itu.
Elea tidak tahu kalau saat ini netra Mathias sudah mulai turun menyusuri bagian lain dari tubuhnya. Mathias mengalihkan matanya dari wajah ke setiap lekuk tubuh yang sedang ranum-ranumnya itu. Bahkan jemari kaki Elea tak luput dari perhatiannya.
Pendirian mulai sedikit goyah, apalagi pengaruh alkohol mulai membuatnya terdorong untuk melakukan sesuatu yang tidak ada dalam rencananya.
"Hm, Tuan ... bagaimana? Berapa lama lagi aku harus berdiri seperti ini?" protes Elea.
Mathias kembali menatap ke wajah Elea dan sedikit mengerut dahi. Berani-beraninya dia protes seperti itu sementara selama ini nyaris tak ada satu pun orang-orang di bawah Mathias yang berani mengeluh apa lagi protes. Sementara Elea?
"Marahnya jangan sedikit demi sedikit, Tuan. Itu membuat aku bingung, aku akan lebih senang kalau Tuan langsung melakukan yang sudah direncanakan, jangan ditunda-tunda seperti ...."
Di saat Elea mengoceh, tangan Mathias bergerak lagi, kali ini ia menarik pinggang Elea sehingga Elea terjatuh ke dalam pelukan pria 32 Tahun itu.
Elea terkaget, intensitas detak jantung semakin meninggkat, tak terlendali sampai membuat ia terbungkam tak mampu bersuara lagi.
"Tidak ada yang berani banyak bicara di hadapanku!" geram Mathias, tangannya meremas pinggang ramping istrinya yang sedang ketakutan itu.
"Aaaah." Hingga terdengar lenguhan lembut yang malah semakin memicu hasr4t sang Mafia.
"Kau mencoba menggodaku dengan des4han itu, hm?"
"Bu-bukan, Tuan. Tadi itu spontan saja, a-aku ... aku ...." Nafas Elea mulai terasa sesak sehingga membuatnya perlahan mulai hilang keberanian.
Elea mencoba melepaskan diri tapi wangi tubuh yang ia sebarkan jelas telah membuai seluruh indra Mathias. Mathias tak mampu menolak, libido merayap naik sampai ke ubun-ubun, dia ingin ....
"Baiklah, maafkan aku, Tuan! Maafkan karena aku banyak bicara dan membuatmu tidak senang. Kirimkan lagi aku ke ruang isolasi itu, selamat beristirahat, perjalanan panjang pasti membuatmu sangat lelah ...."
Tidak! Mathias tidak menuruti ocehan Elea, Mathias malah menyeret tubuh Elea ke ranja4ngnya dan mulai berbuat kasar lagi dengan menghempas tubuh Elea sampai terjerembab ke atas hamparan ranj4ng yang luas itu.
"Ya Tuhan, apa lagi sekarang," gumam Elea yang merasakan adrenalin serupa menaiki wahana roller coaster.
Belum sempat bangkit, Elea sudah dibuat terbelalak lagi ketika secara membabi buta Mathias merobek pakaiannya sampai hanya menyisakan pakaian dalam yang menutup area-area sensitif Elea.
"Astaga! Tuan! Apa lagi ini? Ini adalah gaun terbaik yang aku miliki!" protes Elea, bukan karena dibanting ke kasur, tapi karena gaunnya dirobek.
"Kau lebih peduli pada gaunmu?" tanya Mathias yang semakin dibuat gemas dengan sikap polos Elea.
"Iya! Ini gaun paling bagus yang aku miliki! Harusnya jadi pakaian terakhir yang aku bawa ke peti mati! Tapi sekarang robek karena ...."
"Jangan bicara lagi, penjahat kecil! Diam dan ikuti ritme-ku!"
"A-apa ma-maksudnya ....?"
Elea kian sesak nafas saat Mathias malah melucuti pakaian yang melekat pada tubuh tegapnya. Jas, kemeja sudah ia lepaskan dan ia biarkan berserak di lantai.
"Tu-tuan ... a-apa yang mau Anda lakukan ...?" Elea sedikit menarik mundur dirinya tapi lebih mengejutkan lagi saat Mathias juga melepaskan sabuk celananya.
"Tu-tuan ...."
"Sial, malam ini aku sedikit mengubah rencana," geramnya lalu mulai bergabung naik ke atas ranj4ng.
"Re-rencana apa?" Elea berpegangan erat pada seprai saat ia hampir terjengkang karena sudah bergeser sampai ke tepian ranjang.
Tangan berurat Mathias menarik betis Elea sehingga Elea kembali ada di dekatnya kali ini dengan posisi yang lebih mendebarkan, Elea terbaring tak berdaya di bawah tubuh gagah sang Mafia.
Elea tercekat, rasa takut makin tak terkendali walaupun wangi tubuh Mathias yang bercampur dengan bau alkohol sedikit memainkan hasrat Elea juga.
"Malam ini kau menang, tapi malam selanjutnya aku tak akan tergoda lagi!" ucap Mathias membuat cekikan longgar di leher Elea dengan satu tangannya.
"Tergoda ...?" gumam Elea, suaranya semakin gemetar.
Netra Mathias beralih dari wajah ke bagian dad4 dan sekarang setiap inci dari bagian tubuh Elea telah berhasil membangkitkan gair4hnya.
'Ja-jangan-jangan ... jangan-jangan dia mau ....' batin Elea dengan perasaan yang semakin tak karuan.
Dan otaknya tak bisa berpikir jernih lagi saat Mathias mulai berbuat lebih, tangan Mathias bergerak pelan namun pasti. Ia tak jadi mencekik tapi menurunkan temali bra yang menggantung di pundak Elea. Sehingga ....
"Aargghhhh." Elea sempat berteriak kaget, seumur hidup, ini adalah kali pertama ia memperlihatkan barang berharganya di hadapan mata lelaki. Spontan ia menyilangkan kedua tangannya menutupi dadanya itu.
"Akhirnya kau ketakutan juga, hm?" Mathias malah senang melihat Elea semakin ketakutan.
"Ja-jadi, apa yang akan Anda lakukan, Tuan?"
"Aku ini suamimu, Elea!"
"Iya ... walaupun sejak malam pertama pernikahan aku diperlakukan seperti seorang tahanan ...."
"Tapi memang itu lah tujuan utamaku menikahimu!"
"Dan sekarang ...?"
"Malam ini kau jadi istriku ... hanya untuk malam ini!"
"A-apa ini artinya, i-ini akan ja-jadi malam pertama kita?" Ucapan Elea semakin terbata, ia mulai berspekulasi kalau malam ini semua yang diharapkan pada malam pengantinnya seminggu yang lalu akan terwujud.
"Pertama dan terakhir!" Senyum seringai terbit di wajah rupawannya.
Tubuh Elea menegang dan memanas, Mathias bisa merasakannya. Tapi Elea akhirnya berhenti protes dan membiarkan Mathias melakukan semuanya!
Mathias merentangkan tangan Elea lalu menahannya sementara ia mulai memanfaatkan momen, menyantap Elea dengan penuh penghayatan tapi sayangnya ia ada di bawah kendali Alkohol. Itu artinya ia melakukan semuanya setengah sadar.
Tubuh Elea mulai bergelinjang, tak tahan merasakan sentuhan luar biasa yang dilakukan oleh pria pemarah itu.