Bab 5. Tak Selemah yang Dibayangkan

1063 Words
Wanita yang dianggap beruntung itu adalah Elea Watson yang kini sedang merajut harapan semu di sebuah ruangan dingin dan gelap sebagai tawanan, bukan sebagai istri yang dicintai. Kondisi Elea terlihat membaik setelah dua hari lolos dari menu harian berupa siksaan telak dari Esther, sang eksekutor. Seminggu sudah cukup bagi Elea beradaptasi dengan kehidupan barunya, bahkan membuat ia menjadi kuat dan siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Malam sudah sampai pada puncaknya, jarum jam menunjukkan pukul 23.49 ketika Elea masih melamun di depan jendela kecil itu. Lamunan buyar ketika ia melihat sebuah mobil hitam masuk ke halaman mansion walau tidak terlalu jelas karena jarak pandangnya sangat terbatas. "Dia sudah kembali," gumam Elea agak ketakutan. "Aku harus apa?" gumamnya lagi. Elea takut kalau di malam yang damai ini ia akan dieksekusi lagi. Sementara itu Mathias pulang dalam keadaan mabuk berat walaupun ia masih bisa berjalan tegak menuju kamar pribadinya. Walaupun ia pulang tengah malam, tapi para pengawal dan para pelayan tetap konsisten menyambut kedatangannya seperti biasa. Di lorong menuju ke kamarnya ia disambut oleh Arthur yang tak sempat turun ke pelataran Mansion. "Selamat datang, Bos." Arthur menjaga sikap. "Perempuan itu tetap hidup kan?" tanya Mathias sembari terus berjalan. "Masih, Bos. Dia masih hidup," jawab Arthur. "Bawa dia ke ruanganku!" titah Mathias. Arthur keheranan sekaligus curiga, apa jangan-jangan malam ini akan jadi malam terakhir bagi Elea? Apakah malam ini Mathias akan langsung membunvhnya? Arthur melaksanakan perintah Mathias, ia pergi ke ruangan Elea tapi saat ia masuk ia tak menemukan Elea di sudut ruang mana pun. "Elea!" panggil Arthur agak panik. Tapi saat ia merapat ke arah kamar mandi, ia mendengar suara shower menyala di dalamnya. "Elea!" panggil Arthur sembari mengetuk pintu kamar mandi itu. Shower dimatikan. "Ya! Aku di sini!" Dan Elea berseru menjawab. "Apa yang sedang kamu lakukan? Cepat lah keluar! Bos memanggilmu!" seru Arthur. "Sebentar!" sahut Elea dengan tenang. 5 menit kemudian ia keluar dari dalam sana dengan keadaan wangi bersih dan rambut setengah basah. Walau tidak dipoles make up, tapi Arthur sempat terpana melihat kecantikan wanita malang itu. "Tuan Mathias memanggilku? Apa dia akan membunvhku malam ini?" tanya Elea sedikit putus asa lagi. Arthur tersadar dan segera bersikap tegas lagi. "Entah! Tetap berdo'a saja, berharap sesuatu yang lebih baik akan terjadi malam ini," jawab Arthur. "Baiklah." Elea pergi ke dekat tasnya, mengambil sisir dan menyisir rambut indahnya sebelum pergi. Arthur diam-diam memperhatikan, tengah malam Elea tampil menawan walau hanya memakai sebuah dress midi bermotif bunga berwarna gelap. Tanpa polesan make up tapi wangi tubuhnya begitu membuai. Apakah Bos masih akan tega membunvh gadis manis ini? Tanya Arthur di dalam hati. "Aku sudah siap, ke mana aku harus pergi?" tanya Elea setelah selesai merapikan rambutnya. "Ikut aku!" Arthur membawa Elea menuju ke ruangan Mathias yang ada di lantai yang sama dengan ruang isolasi itu. "Kenapa kamu mandi tengah malam begini?" tanya Arthur sebelum mereka sampai di depan ruangan Mathias. "Aku lihat Bos baru saja pulang. Firasatku mengatakan kalau dia akan memanggilku, ternyata firasatku tepat sekali. Setidaknya aku mati dalam keadaan bersih, sebelum nanti dia menguburku tanpa penghormatan," jawab Elea. Jawaban Elea membuat hati Arthur teriris lagi. Sayang sekali, gadis malang ini harus berada dalam situasi sulit karena sebuah dendam membara seorang Mafia kejam. "Tapi Elea ...." "Ya? Tapi apa?" "Kamu punya kesempatan untuk menyentuh hati Bos Mathias." Elea tersenyum masam mendengar itu. Menyentuh hati pria berhati iblis? Itu sangat mustahil. Dan mereka sudah tiba di depan pintu kamar Mathias. Intensitas debar jantung Elea mulai kencang tapi ia berusaha untuk tetap terlihat tenang. Arthur mengetuk pintu dan me-notice Mathias kalau dirinya sudah sampai di depan pintu, tak lama pintu pun terbuka secara otomatis dan Arthur membawa Elea melangkah masuk ke dalam kamar luas yang terkesan misterius itu. Elea melangkah masuk dan mendapati Mathias sedang berdiri menatap ke luar jendela, semakin terkesan misterius. "Kau boleh pergi! Tinggalkan dia di sini!" ujar Mathias tanpa menoleh. "Baik, Bos." Sebelum pergi, Arthur sempat menatap pada Elea dan tanpa bicara ia menunjukkan rasa empati, Elea bisa mengerti, tapi dia bisa apa? Arthur pergi meninggalkan Elea bersama pria kejam yang sudah berniat ingin membunvhnya sejak 15 Tahun yang lalu. Elea kian bersahabat dengan ketakutan, tapi tak ada yang dia lakukan selain berdiri kaku dan bingung, hanya menunggu detik perdetik yang terus berlalu. Mathias membalik badannya dan Elea terjebak di antara terpesona dan ketakutan apalagi mata elang Mathias begitu tajam menatap tepat pada matanya sehingga Elea perlahan menundukkan pandangannya. Mathias menatap tajam pada gadis cantik dengan dress bunga-bunga itu. Rambutnya setengah basah, wajahnya pucat dan beberapa luka lebam masih tampak di beberapa bagian lengannya. "Apa kabar, Elea Watson?" tanya Mathias dengan suara rendah dan dalam yang terasa begitu mengintimidasi. "Baik, Tuan. Seperti yang terlihat, hanya sedikit lebam lebam saja," jawab Elea dengan tenang. Mathias sempat terkejut dengan jawaban dan ketenangan Elea. Mathias kira Elea akan menangis dan memohon untuk dikasihani. "Apa Tuan akan menyelesaikan aku malam ini?" tanya Elea memberanikan diri. Rahang Mathias mengencang lagi, menunjukkan kalau ia marah dan merasa tertantang. "Setiap orang memiliki sebuah kesempatan untuk meminta permintaan terakhir, bukan? Kalau memang malam ini adalah malam terakhir untukku, tolong beri tahu aku, ... apa salahku? Kenapa Tuan tega melakukan ini padaku?" Elea terus menumbuhkan keberaniannya bicara pada Mathias. Tapi adrenalin mulai terpacu lagi saat Mathias berjalan mendekat ke arahnya. Elea merasakan degup jantung semakin kencang tak terkendali, tapi ia tak bisa beranjak ke mana-mana, ia hanya meremas kain rok pakaiannya untuk mengonversi rasa tegangnya itu. Tapi semakin didekati, Mathias malah salah fokus dengan penampilan Elea, walau sederhana tapi ia tampak bercahaya di matanya malam ini. 'Jangan percaya dengan wajah polosnya! Ingat pada dendam yang telah kau jaga selama 15 Tahun ini!' Tapi sisi hatinya berbisik mencoba mengingatkan Mathias. "La-lakukan saja, Tuan. Arahkan senjatamu ke titik mana pun yang Tuan inginkan. Tapi tolong, jawab dulu pertanyaanku, apa salahku?" Suara Elea mulai bergetar tapi ia bertahan di tempatnya. Jemari Mathias bergerak, mencengkram wajah Elea cukup kencang dan menatap wajahnya dari jarak dekat. Tidak ada raut ketakutan seperti yang ia bayangkan, Elea memang takut tapi benar-benar terlihat lebih tenang. "Apa salahku, Tuan?" Elea mengulangi lagi pertanyaannya sambil menatap langsung pada mata Mathias. Dia benar-benar berani. "Kau tidak takut?" tanya Mathias. "Mungkin ... aku sudah menyatu dengan rasa takut. Satu minggu berada di ruangan isolasi bersama Esther membuat aku terbiasa dengan rasa takut ...." jawab Elea, cukup lugas untuk ukuran seorang tawanan. Sialan! Desis Mathias di dalam hati. Ternyata Elea tidak selemah yang ia bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD