Bab 4. Siapa Wanita Beruntung itu?

1034 Words
Walau badan terasa remuk redam tapi Elea tetap menjalani hidupnya seperti biasa melawan keputus asaan itu. Pagi hari ia tetap mandi, berganti pakaian, menyisir rambut dan menghabiskan jatah makanan seolah tak terjadi apa-apa setiap harinya. Setiap hari, ketika menjelang siang, ia duduk meringkuk dengan tas yang ia jadikan bantal dan menunggu Esther datang untuk menjalankan tugasnya. Tapi hari ini ada yang berbeda, Elea sudah mendapatkan jatah makan siangnya, padahal ia selalu dieksekusi setiap satu jam sebelum ia diberi makan siang. "Apa mulai hari ini jadwalnya diganti?" tanya Elea sambil menajamkan matanya untuk memastikan kalau ia tak salah membaca jarum jam. "Elea, habiskan makan siangmu!" Keanehan terjadi lagi ketika siang ini yang mengantar makan siang adalah seorang pria bersuara berat, bukan pelayan yang biasanya. Elea menegakkan tubuhnya yang sebelumnya ia biarkan meringkuk itu lalu menoleh ke arah suara. Ternyata yang datang adalah Arthur, ia yang membawakan tray makan siang Elea kali ini. Elea menatap ragu pada Arthur, walaupun hatinya mendesak untuk bertanya banyak hal pada Arthur tapi Elea yakin kalau itu akan sangat percuma karena Arthur adalah orang kepercayaan Mathias, pasti Arthur sama saja seperti Mathias, pikir Elea. "Baik, tetap lah di sana! Saya yang akan membawakannya ke sana," kata Arthur dan ia melangkah maju mendekat pada Elea. Elea tetap diam tak mempercayai siapa pun. "Makan lah," kata Arthur sambil berjongkok agar sejajar dengan Elea yang hanya duduk diam menatap hampa pada dirinya. Perasaan Arthur kian teriris melihat keadaan Elea, tapi atas nama loyalitas pada The Eagle dan pada Mathias, Arthur tak bisa menolong Elea untuk lepas dari jebakan Mathias. "Akan selalu ada harapan dan kesempatan, jangan putus asa," ucap Arthur pelan. "Apa hari ini kamu yang akan melakukan penyiksaan terhadapku?" tanya Elea pasrah. Hati Arthur semakin teriris, penderitaan terlukis jelas di sorot mata gadis 21 Tahun itu. "Lakukan lebih keras agar aku mati dalam satu kali pukulan," pinta Elea. Gejolak emoisonal kian membara di hati Arthur tapi sekali lagi ia sadar diri kalau dirinya takut dan lemah di hadapan Mathias. "Cepat habiskan makananmu. 2 hari ini kamu bisa beristirahat dengan tenang, Bos Mathias sedang ada lawatan ke luar negeri, dia sedang tidak ada di sini. Mungkin kesibukan membuat ia lupa dengan perintah rutinnya," kata Arthur. Elea menatap heran pada Arthur, Elea merasakan Arthur tidak memiliki niat buruk terhadapnya. "Jangan takut, ketika ada kesempatan, saya akan memastikan semuanya baik-baik saja," ucap Arthur lagi. Seketika hati Elea tersentuh. Sungguh ia tak menyangka kalau Arthur akan baik padanya. Setelah hampir 1 minggu hidup dalam kurungan dan siksaan, akhirnya Arthur datang dan memberinya setitik harapan. "Cepat, jangan ragu lagi, makan lah!" Tak ingin berlaut Elea pun mulai menyantap jatah makan siangnya sambil mencuri pandang pada Arthur sesekali. "Saya tidak bisa lama-lama ada di sini, kalau kamu percaya pada kekuatan do'a, tetaplah berdo'a, semuanya akan baik-baik saja," ucap Arthur sebelum pergi. Perasaan Elea semakin tersentuh sampai matanya berkaca-kaca karena perasaan haru semakin memenuhi ruang hatinya. Walau tanpa kata lagi, ketika Arthur pergi menutup pintu rapat-rapat, air mata Elea meniti di ujung matanya dan menganggap Arthur sebagai harapan untuk kelangsungan hidupnya yang masih belum jelas itu. *** Benar sekali, 2 hari ini Mathias dijadwalkan pergi ke Luar negeri untuk melakukan perjalanan bisnis. Ia tidak mengajak Arthur karena Arthur dipercaya untuk menjaga keamanan Mansionnya sementara Mathias pergi dengan pengawal yang lain. Mathias memiliki jadwal padat sehingga ia lupa untuk memeriksa keadaan Elea, Mathias juga tidak memberikan perintah pada Esther untuk menyiksa Elea yang biasanya dilakukan 2 kali dalam sehari. Selain menjalani kepentingan Bisnis, Mathias juga menghadiri sebuah pesta khusus para kolega di sebuah Beach Club yang dibooking khusus untuk pesta privat mereka. Meja judi dipenuhi dengan barang taruhan dan belasan wanita seksi menjadi hiasan di pesta para lelaki berbahaya itu. "Di Mansion kau ditemani istrimu, Math. Tapi di sini, kau bebas memilih dua atau tiga Ladies untuk memuaskan hasr4tmu!" goda salah satu kolega senior yang ditemani dua wanita seksi di sisi kanan kirinya. "Jangan paksa dia, King. Biarkan dia tetap jadi lelaki yang setia," kata rekan Mafia Mathias yang lain. "Setia pada kelompok adalah harga mati untuk para The Eagle, tapi setia pada wanita adalah hal tabu bagi orang-orang seperti kita! Ha ha! Hidup hanya sekali, jadi nikmati saja surga dunia yang telah Tuhan sediakan untuk kita!" Pria tua itu tertawa terbahak lalu mencoba meracuni pikiran Mathias untuk bermain-main dengan para wanita simbol sensualitas itu. Apakah Mathias terpengaruh? Jawabannya adalah tidak! Mathias Xanders adalah Mathias Xanders yang bahkan mendeklarasikan dirinya untuk menolak perasaan cinta menyentuh hatinya. Hati Mathias tidak dirancang untuk mencintai semenjak seluruh keluarganya mati di hadapan matanya sendiri. Bahkan tanpa belas kasihan, ia menyiksa istrinya sendiri walau lewat tangan orang lain tapi itu adalah perintah mutlak darinya. Seorang wanita cantik berambut brunet dan berbikini merapat ke arah Mathias. "Selain menuang wine ke gelasmu, apa lagi yang bisa aku lakukan untukmu, Tuan?" tanyanya tampak berusaha keras menjerat Mathias. Jangankan tergoda, sekedar untuk melirik saja tidak. "Bersenang-senanglah dengan Valerie, Math. Dia tidak melayani sembarang pria, kau boleh membawanya ke kamar hotelmu!" ujar King, kolega Mathias yang paling senior di perkumpulan itu. "Jangan ragu, aku bisa jadi apa pun yang kamu mau, Tuan." Valerie masih berusaha, ia menunjukkan raut menggoda dan mungkin saja dirinya juga sudah mulai bira hi ketika berdekatan dengan Mathias. "Go ahead, Math! Buat malam terakhirmu di sini menjadi penuh kesan! Selain Valerie, kau juga bisa memilih yang lain, katakan saja kau mau Ladies yang mana? Kami punya koleksi barbie hidup dari lebih 30 negara dari seluruh penjuru dunia." Mathias tetap bergeming, hanya segelas wine dan asap rokok yang benar-benar bisa memuaskan dirinya saat ini. Valerie mulai merasa kecil karena tak dilirik sedikit pun oleh Mathias, padahal selama bertahun-tahun ia berkecimpung dengan dunia malam, nyaris tak ada satupun mata yang tidak tertarik dengan kemolekan tubuhnya. "Jangan berkecil hati, Valerie! Mathias baru saja menikah, dia seorang pengantin baru, barangkali ia memang masih menjaga janji setia untuk istrinya, ha ha ha!" King menggoda Valerie dan memberikan fakta yang membuat Valerie tercengang. Mathias Xanders yang terkenal dingin tak tersentuh telah menikah? Benarkah? Wanita mana yang mampu menaklukan hatinya? Pikir Valerie dengan mata terbeliak kaget, hati tak rela dan rasa penasaran menghantui ingin mengetahui sosok wanita beruntung yang telah dinikahi oleh sang Mafia berhati dingin sedingin puncak Everest itu. 'Siapa wanita beruntung itu?'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD