Badan Elea terasa remuk, perlahan ia membuka mata menatap langit langit yang tetap jadi saksi bisu. Ia sempat berharap apa yang ia alami hanyalah mimpi, tapi nyatanya ia tetap terbangun di dalam ruangan dingin itu.
Jam dinding menunjukkan pukul 8, kemudian Elea menggulirkan matanya ke sisi jendela kecil sebagai satu-satunya ventilasi udara di ruangan itu, nampak cahaya terang terbingkai bagai harapan di balik jendela itu.
"Ini sudah pagi, sudah ganti hari," gumam Elea dan tak terasa ia telah menikmati malam yang penuh kesakitan.
Perlahan Elea mengangkat tubuhnya sampai terduduk, di dekat pintu ada tas besar miliknya dan sebuah tray makanan. Ia terdiam sejenak. Apa benar itu tas milikku? Apa aku juga masih diberi makan? Pikirnya lalu ia merangkak ke arah pintu itu secara perlahan.
Benar saja, itu memang tas yang ia bawa dari desa yang berisi barang-barang miliknya, hal itu membuat Elea memanjat rasa syukur, setidaknya ia tak akan membusuk bersama gaun indah yang masih melekat di tubuhnya.
"Habiskan makananmu! Bos tidak mau kau mati kelaparan!"
Sebuah seruan lewat radio di panel dekat pintu membuat Elea kaget. Seruan seorang wanita bernada tegas, mungkin adalah suara wanita yang menyiksanya semalam.
Elea menatap tray makanan itu, ada segelas s**u, dua potong roti, satu mangkuk sup krim dan sebotol air mineral. Cukup lengkap sebagai sarapan bagi tahanan seperti dirinya.
Mungkin memang benar, Mathias tak memiliki rencana untuk membuat Elea kelaparan, tapi ia lebih suka melihat Elea menderita karena siksaan fisik seperti yang keluarganya Alami di masa lalu.
"Terima kasih, Tuhan. Mungkin Engkau memang memiliki rencana lain untukku. Semoga Engkau kabulkan pintaku untuk mengetahui alasan apa yang membuat Tuan Mathias tega melakukan ini padaku." Elea memanjat syukur lagi, lalu setelah itu mulai menikmati jatah makanan miliknya.
Elea tetap belum sadar kalau ada sepasang mata yang mengawasi dirinya dari bilik ruangan lain.
Pagi hari yang cerah Mathias awali dengan duduk santai kembali di ruangan kerjanya, mengawasi tawanannya.
Setiap gerak, bahkan helaan nafas Elea tak luput dari perhatian Mathias yang setiap kali melihat Elea, maka ia seperti melihat bayang-bayang pria yang telah menghabisi seluruh keluarganya.
"Habiskan sarapanmu, Elea! Aku ingin kau memberontak! Kau butuh tenaga untuk itu! Semakin keras kau berontak, maka semakin keras siksaan yang akan kau terima!" Mathias menarik sudut bibirnya, menciptakan sebuah senyum kecut penuh kebencian.
Selesai makan, Elea berusaha bangkit lalu ia menyeret langkah yang pincang menuju ke kamar mandi yang ada di sudut ruang. Itu lah satu satunya titik yang luput dari perhatian Mathias.
Dengan perasaan tak rela, Elea merobek gaun indah yang telah koyak itu. Ia membiarkan shower mengguyur tubuhnya yang telah dihiasi beberapa luka lebam yang menyakitkan.
Ribuan tanya masih belum terjawab. Apa salahnya? Kenapa Mathias melakukan ini semua pada dirinya? Dan masih banyak pertanyaan lain yang berserakan di dalam benak.
Mathias datang menawarkan pernikahan yang indah dan kehidupan yang sempurna tapi selang satu minggu setelah Elea memutuskan untuk melangkah jauh dari desa tempatnya tinggal, kini ia jadi manusia yang dihantui keputus-asaan.
Bagaimana lepas dari mimpi buruk ini?
***
Mathias Xanders adalah generasi ke-3 dari kerajaan bisnis kelompok The Eagle. Kelompok Mafia yang cukup disegani di seluruh negeri. Orang-orang mengenalnya sebagai seorang pioner bisnis Property dan hiburan berupa Kondominium, Apartement, Penthouse, Beach Club dan Kasino.
Tapi lebih dari itu, bisnis utamanya bernilai ratusan Miliar setiap bulannya. Bisnis gelap yang tetap bisa ia jalankan dengan aman dengan back up dari beberapa oknum pejabat polisi.
Mathias adalah satu-satunya keturuan pendiri The Eagle yang tersisa setelah peristiwa tragis yang terjadi 15 Tahun lalu, saat seluruh keluarga habis dibantai oleh rival bisnis lewat tangan-tangan pembunvh bayaran yang salah satunya adalah mendiang Ayahnya Elea, walau itu belum terbukti benar.
Sayangnya, Elea tidak pernah mengetahui hal ini. Dalam kebingungan, dalam ketidak tahuan, ia menerima satu sampai dua sesi penyiksaan oleh Esther setiap harinya.
Ini adalah hari ke-3 ia tersiksa di dalam ruangan itu. 3 hari terkurung dan tiga hari berteriak kesakitan karena tendangan dan pukulan telak atas perintah dari suaminya sendiri.
"Bagaimana kalau bawa saja aku ke tiang gantung atau bawa aku ke lapangan tembak. Habisi aku secara langsung! Jangan bunvh aku secara perlahan seperti ini ... jangan ...." ratap Elea ketika tubuhnya dihempas beberapa kali ke dinding beton yang keras.
"Maaf, Nona. Semuanya aku lakukan sesuai perintah Tuan Mathias," ucap Esther berbisik pelan, kalimat itu terucap setiap kali ia mengeksekusi Elea.
Elea bosan mendengarnya, terlebih ia tak tahu apa alasan pastinya.
Di penghujung siksaan, Elea terkapar lagi, merasakan remuk pada setiap ruas tulangnya, merasakan perih yang sudah mulai bersahabat dengan dirinya.
"Apa salahku ...." gumamnya lalu ia memejam mata perlahan.
Esther sang eksekutor menatap Iba pada gadis malang itu. Di balik kekejamannya, sudut hatinya terluka melihat semua ini terjadi.
"Maafkan aku, Nona," ucapnya sangat pelan, suaranya nyaris tak merambat di udara saking pelannya.
Setelah Elea tak berdaya, Esther beranjak meninggalkan Elea sendiri dengan rasa bersalah yang coba ia sembunyikan di balik wajah dinginnya. Elea dibiarkan begitu saja tanpa pertolongan medis
Di ruangan biasa, Mathias menyaksikan sesi penyiksaan itu sampai tuntas dan lagi lagi, ia merasakan kepuasan itu.
Kali ini Mathias ditemani oleh Arthur, pengawal yang paling ia percayai sejak beberapa Tahun terakhir ini.
Arthur meremas ujung jasnya menahan emosi ketika ikut menyaksikan gadis tak berdosa itu harus menanggung akibat dari perbuatan mendiang Ayahnya. Arthur menangis di dalam hati.
"Sampai kapan, Bos?" tanya Arthur dengan nada biasa padahal hatinya marah.
"Sampai dia berakhir seperti keluargaku!" jawab Mathias lalu menyulut rokok untuk ia nikmati bersama sebotol sampagne.
"Bagaimana kalau kita langsung habisi saja, kalau seperti ini, dia bisa ma ti karena putus asa, bukan karena luka fisik yang intens dilakukan Esther," usul Arthur mencoba memberanikan diri.
Mathias menyorot Arthur dengan tatapan mata tajam yang sangat mengintimidasi. Arthur pun segera menundukkan pandangannya sebab ia tahu kalau tatapan itu menandakan amarah yang bisa berakibat fatal.
"Maaf, Bos," ucap Arthur.
"Jangan ubah rencanaku! Aku sudah menunggu momen ini selama 15 Tahun!" ucap Mathias dengan tatapan mata yang makin tajam dan rahang yang mengencang.
Arthur mengangguk pasti dan tak berani bicara lagi.
Mathias meninggalkan ruangan itu dengan marah dan barulah Arthur bisa merutuki dirinya sendiri yang tak mampu melepaskan Elea dari siksaan-siksaan itu.
"Damn!"
Arthur pun mulai mencari cara agar bisa memberi motivasi untuk Elea. Tapi bagaimana caranya?