Asta merasakan ketegangan yang mulai membara di antara mereka. Dalam pikirannya, ia merencanakan langkah selanjutnya—bagaimana mengelabuhi Zhao Wei sambil mengumpulkan lebih banyak informasi tentang kebencian tersembunyi sang jenderal terhadap Liang Zhen.
“Bagaimana jika kita mulai dengan yang sederhana? Mari kita bicarakan keluargamu,” Asta mengusulkan dengan nada menyenangkan, seolah ingin menarik perhatian Zhao Wei. Matanya yang tajam memperhatikan setiap gerakan kecil Zhao Wei, berharap menangkap kelemahan.
Zhao Wei tersenyum, tetapi senyum itu tidak pernah sampai ke matanya. Punggungnya tegak, tangannya tetap tenang di sisinya, kendati ketegangan jelas terasa. “Keluargaku adalah masa lalu. Sekarang, kita di sini, dan itu jauh lebih penting.”
Asta memiringkan kepalanya sedikit, senyumnya semakin melebar, tetapi dalam hatinya ada sedikit frustrasi. Zhao Wei, rupanya, tidak semudah itu dipermainkan. Dia tangguh, pikir Asta, tapi ini hanya membuat permainannya semakin menarik. “Mungkin kau benar. Tapi masa lalu selalu membentuk kita, bukan? Aku hanya penasaran... apa yang membuatmu membenci ayahku? Atau, lebih tepatnya, siapa sebenarnya Liang Zhen bagimu?”
Zhao Wei terdiam sejenak, keningnya sedikit berkerut. Kilatan emosi melintas di balik matanya, meskipun bibirnya tetap terkunci rapat. Dia tahu bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya harus hati-hati.
“Urusan keluargaku,” katanya perlahan, “bukanlah sesuatu yang perlu kau khawatirkan. Aku tidak punya keinginan untuk mengulangnya.”
Ada sesuatu di sana, Asta bisa merasakannya. Senyumnya melebar, puas dengan hasil kecil yang diperolehnya. “Aha! Jadi memang ada sesuatu yang kau sembunyikan, Jenderal Zhao. Kau tidak bisa menghindari semuanya dariku. Dan sepertinya, aku punya sesuatu untukmu juga.”
Zhao Wei tak bergeming, tatapannya tetap tajam, tetapi Asta tahu ia mulai memasuki wilayah yang lebih berbahaya. Sempurna.
“Kau bermain dengan api, Nona Liang,” kata Zhao Wei, suaranya rendah namun penuh peringatan. “Jangan terlalu berani.”
Asta tertawa, suara lembut namun penuh dengan niat yang tersembunyi. “Siapa bilang aku takut terbakar?”
Asta menatapnya lebih dalam, menunggu reaksinya. Di balik kata-katanya, dia merasakan lonjakan dorongan untuk mendorong lebih jauh, mencari celah, mencoba memahami kebencian Zhao Wei terhadap ayah Liang Ning. Namun sebelum ia bisa melanjutkan, Zhao Wei berbicara lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas.
“Baiklah,” katanya, kata-katanya penuh tekanan. “Jika kau tidak ingin membahas keluargamu, mari kita kembali ke hutan terlarang. Apa yang kau lihat di sana? Siapa yang kau temui?”
Asta berdiam sejenak, pura-pura merenung. Bagaimana aku bisa memanfaatkan ini? pikirnya. “Hutan itu... auranya begitu gelap dan kuat. Ada sesuatu di balik semua ini, sesuatu yang lebih besar dari sekadar sekte. Sayangnya, aku tidak bisa mengingat semuanya dengan jelas, tapi... rasanya bukan hanya sekedar ritual gagal. Ada lebih dari itu.”
Zhao Wei mendengarkan dengan seksama, ekspresinya berubah lebih serius. Matanya menyala dengan keingintahuan yang sulit disembunyikan. “Apakah kau merasa ada sesuatu yang mengancam di sana? Lebih dari sekadar ritual?”
Asta mengangguk pelan, menyusun kata-katanya dengan cermat. “Takut dan ancaman... mereka saling terikat erat. Sepertinya ada kekuatan yang lebih besar dari sekedar manusia yang beroperasi di sana. Sesuatu yang lebih berbahaya dari sekedar sekte.”
Zhao Wei tampak ingin menggali lebih dalam, tapi suara langkah kaki yang pelan mulai terdengar. Jin Fan mendekat dengan cepat dan membungkuk di sampingnya.
“Jenderal Zhao, maaf mengganggu kegiatan Anda,” Jin Fan berbisik dengan hormat, suaranya hampir tak terdengar di telinga Asta, yang kini menatap penuh minat.
Zhao Wei mengangguk sekali pada Jin Fan, lalu menoleh kembali pada Asta yang masih mengenakan senyum kecil di wajahnya. Liang Ning yang penuh teka-teki. Namun di balik mata Zhao Wei, Asta bisa melihat bahwa rasa ingin tahu itu masih ada—belum sepenuhnya padam.
“Sepertinya kita harus menunda kesaksianmu, Nona Liang. Beristirahatlah. Jika kau membutuhkan sesuatu, pelayan dan prajuritku akan siap membantu.”
Asta tersenyum tipis. Permainan ini belum selesai.
***
Zhao Wei berjalan bersama Jin Fan menuju tempat para mayat anggota sekte di simpan. Sebenarnya sangat sulit bagi Jin Fan untuk mengidentifikasi identitas aggota tersebut, karena sebagian dari mereka meninggal dengan wajah yang hancur dan sebagian kecil dari mereka meninggal tanpa kepala.
Penyelidikannya membuahkan hasil ketika Jin Fan menemukan sebuah tato yang selama ini mereka incar.
“Apa kau benar-benar yakin bahwa dia bagian dari Sekte Moyue?” tanya Zhao Wei
Jin Fan yang berjalan di samping Zhao Wei mengangguk yakin. “Ya, saya yakin. Orang ini memiliki tato yang menunjukkan bahwa dia dari Sekte Moyue. Namun, tato ini sedikit berbeda dengan yang kita ketahui.”
Zhao Wei mengerutkan kening kecil, mereka masuk ke dalam tenda dan segera memeriksa mayat anggota Sekte Moyue yang Jin Fan katakan.
Saat kain itu tersingkap, udara di dalam tenda seakan menebal. Tato bulan sabit dengan simbol mata di tengahnya tampak seolah menatap langsung ke dalam jiwanya, membuat Zhao Wei merasakan sesuatu yang lebih dari sekedar rasa penasaran – ada rasa waspada, hampir seperti… peringatan.
Zhao Wei memperhatikan tato itu dengan seksama. Tato itu sama namun berbeda. Dia yakin bahwa laki-laki ini adalah anggota sekte Moyue karena tato mereka yang terkenal dengan simbol bulan sabit dan awan-awan gelap yang berputar di sekelilingnya. Sedangkan mayat ini memiliki tato yang sedikit terang dan tambahan simbol mata di tengahnya. Hal ini membuat Zhao Wei diliputi banyak pertanyaan.
Jin Fan menundukkan kepala sedikit lebih dalam, ragu untuk berkomentar lebih jauh.“Jenderal Zhao, saya tidak ingin melangkahi. Tapi saya yakin, tato ini berbeda dari yang pernah kita lihat. Ini mungkin sesuatu yang baru dari mereka.”
“Aku tidak tahu Jin Fan. Yang jelas, ini adalah petunjuk baru untuk kita. Kita baru menemukan tato baru seperti ini. entah sekte Moyue memegang sekte lain di bawah kekuasaan mereka, ataukah sekte Moyue memiliki tingkatan anggota yang berbeda dengan tato yang berbeda juga. Kita masih belum tahu.” Jelas Zhao Wei.
Meskipun dia tidak yakin bahwa Sekte Moyue memiliki kekuasaan atas sekte lain, karena sebenarnya hanya sekte Moyue lah yang diketahui beroperasi secara luas di tanah Tian ini.
“Jika sekte Moyue memang memiliki sistem hierarki yang lebih kompleks, kenapa kita baru menemukan hhal ini sekarang?” gumam Zhao Wei, lebih kepada dirinya sendiri. “Apakah ini petunjuk… atau jebakan?”
Zhao Wei menghela napas, membiarkan kain kembali menutupi tubuh tanpa nyawa itu. “Kita harus segera menyelidiki ini lebih dalam. Jangan biarkan satu pun petunjuk luput dari pengamatan kita, Jin Fan. Jika sekte ini memiliki rahasia yang belum kita ketahui, aku tidak ingin ada kejutan di kemudian hari.”
Jin Fan mengangguk, “Saya mengerti, Jenderal.”
“Ayo kita lanjutkan. Waktu kita terbatas,” ujar Zhao Wei, suaranya dingin namun tegas, meninggalkan rasa waspada yang mengendap di udara saat mereka keluar dari tenda menuju investigasi berikutnya.