
Saat itu. Saat dimana aku berumur 5 tahun.
Saat itu aku sudah sekolah dasar. Tidak seperti teman-teman ku pada umumnya mereka mengawali pendidikan mereka dari taman kanak-kanak. Aku tidak suka hal yang bersangkutan dengan melipat kertas dan bernyanyi. Aku lebih suka dengan penjumlahan dan aritmatika lainnya. Aku lebih tertarik dengan membaca rangkaian huruf yang akan menjadi kata hingga menjadi sebuah cerita. Ya aku aneh, aku lebih sering menghabiskan waktu ku untuk belajar di dalam rumah dengan kakak-kakak ku dari pada dengan teman-teman ku. Aku berlatih bela diri dengan kakak laki-laki ku, aku berlatih soal matematika dengan kakak perempuan ku.
Di angkatan ku aku adalah murid termuda dan paling berprestasi selama bersekolah dasar. Aku sering mengikuti perlombaan-perlombaan dan memenangkannya. Dari tinggkat kecamatan, daerah atau nasional aku terbilang anak yang cepat tanggap dengan soal-soal akademik. Hingga suatu ketika aku ingin bermain seperti teman-teman ku lainya berlari, teriak, tertawa hingga saling merasa paling hebat saat bermain. Tapi aku saat itu memang ditakdirkan untuk tetap belajar. Aku jatuh dari lantai 2 sekolahan ku dan saat itu kepalaku lebih dulu menyentuh daratan hingga mengakibatkan aku kritis di Rumah Sakit hingga 3 bulan lamanya.
Setelah aku sadar yang aku ingat hanya nama-nama keluargaku dan semua pelajaran selama diriku sekolah saja. Anehnya aku tak ingat nama teman-teman ku hingga nama guruku.
Dan yang paling aneh lagi aku bisa melihat mereka yang berkata bahwa mereka teman baru ku. Tapi ketika aku bilang kepada keluarga ku mereka berkata " Kami tidak melihat apapun"
Itu membuatku syok dan takut yang berkepanjangan hingga aku menjadi lebih pendiam dari dulunya.

