bc

Rahasia Di balik Desah Suamiku

book_age18+
163
FOLLOW
1.0K
READ
revenge
time-travel
playboy
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
city
enimies to lovers
like
intro-logo
Blurb

"Buka kakimu lebar-lebar dan nikmatilah. Kau harus ingat, siapa pemilikmu sebenarnya!"

“Ahhhh Tuan ... Ini sangat ...."

***

Viona (26th), seorang wanita kuat dan mandiri, namun memiliki rahasia yang tersembunyi. Putri seorang gubernur yang dikenal sebagai wanita perfeksionis dan pintar, telah menjadi incaran banyak pria di kota. Viona yang telah bertunangan, tiba-tiba meninggalkan tunangannya dan memilih menikah dengan tunangan adiknya.

Kegemparan itu menyita perhatian banyak orang, namun Viona tidak bergeming meski hubungan dengan keluarganya menjadi taruhannya.

Leon (30th), seorang pria yang dingin dan misterius, namun memiliki hati yang lembut, menaruh curiga pada niat Viona yang tiba-tiba menikahi adiknya.

Didorong dengan rasa penasaran yang tinggi dan wajah cantik Viona, membuat pergolakan batin di hati Leon, akan meneruskan menyelidiki Viona atau memperjuangkan perasaannya.

Apa sebenarnya alasan Viona merebut tunangan adiknya?

Bagaimana kelanjutan perasaan Leon pada Viona?

chap-preview
Free preview
1. Menikahlah Denganku!
"A-apa yang ingin kau lakukan?" tanya Viona terbata-bata, dia tidak mungkin tidak ketakutan dengan situasi saat ini. Senyuman Robin terlihat, namun tatapannya sangat gelap dan penuh kebencian. "Menurutmu apa lagi? Bukankah sudah jelas--" Robin tidak melanjutkan perkataannya membuat Viona semakin ketakutan. "J-jangan lakukan itu ..." Suara Viona tercekat karena cekikan tangan kuat dan kokoh Robin. Tak goyah sedikit pun meski sudah dia pukul beberapa kali. Pria yang beberapa saat lalu masih berstatus sebagai adik iparnya, kini sebentar lagi akan menjadi malaikat pencabut nyawanya. Tubuh Viona yang tergantung di pagar pembatas atap gedung milik Robin itu terus mengepak, berusaha melepaskan diri dari penguasaan Robin. Robin menatap tajam penuh kebencian pada Viona. Dia yang selama ini sudah berpura-pura baik pada kakak iparnya itu, memendam kebencian pada Viona. “Ini semua akibat ulahmu sendiri, Viona. Seharusnya kamu tetap diam dan nikmati saja hidup mewahmu bersama suami bodohmu itu! Seharusnya kau tidak membuat adik sialanmu itu bertingkah, Viona!” Robin murka, terlihat jelas dari wajahnya memerah, dadanya naik turun serta rahang yang mengeras, tidak hanya itu saja, cengkeramannya pun sangat terasa membuat Viona kesulitan bernapas, dia harusnya lebih berhati-hati melawan pria itu. “Lepas, Robin! Kau ... kau pembunuh!” pekik Viona dengan sisa tenaganya. Disisa tenaganya Viona berusaha memberontak. Namun, sayangnya suara itu tidak bisa mengalahkan suara derasnya hujan saat itu. Langit seakan merestui apa yang tengah terjadi. Mata Viona menangkap tubuh adiknya yang terbaring kaku di lantai atap gedung, rahangnya mengeras, dia marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Viona yang malam ini meminta bantuan sang adik untuk mengambil kamera tersembunyi yang dia tinggalkan di ruang kerja Robin, ternyata membawa petaka pada Bianca. Dia yang datang terlambat, tidak tahu apa yang membuat Robin kehilangan kendali. Viona datang tepat saat Robin melempar tubuh Bianca sampai menghantam tembok gudang dengan keras. Benturan itu langsung membuat Bianca jatuh terkapar di lantai, tanpa bergerak lagi. Viona langsung berhambur menemui adiknya, tanpa berpikir kalau nyawanya juga akan menjadi taruhan. Tubuh Bianca sudah banyak luka, darah pun langsung menghilang terbawa aliran air. Tidak terima melihat keadaan adiknya yang mengenaskan, tanpa berpikir panjang, Viona segera menyerang Robin dengan kayu yang ada di dekatnya. Tapi siapalah Viona jika dibandingkan Robin. Pria penyuka olah raga kick boxing itu, bisa dengan mudah mencengkeram tangan Viona dan menjatuhkan Viona ke lantai atap. Tak hanya sampai di sana, Robin yang sudah sangat emosi, juga langsung menendang badan dan kepala Viona sambil mengumpatinya. Setelah lawannya tidak lagi melakukan perlawanan, Robin menyeret tubuh Viona mendekati pagar besi, pembatas atap. “Kau sangat mencintai adikmu kan, Viona? Maka, susulah adikmu ke alam baka. Aku akan mengirim kalian sekaligus!” ucap geram Robin yang kemudian disambut dengan tawa bahagia penuh kemenangan. “b******k kau, Robin! Ak-aku akan membalasmu!” balas Viona pelan yang hampir tak terdengar tertelan suara hujan “Balas?” Robin tertawa. Sedetik kemudian tatapan menakutkan itu kembali datang. “Dengan senang hati aku akan menunggunya. Tapi aku akan pastikan, kau akan membusuk di neraka lebih dulu, Viona!” bentak Robin sambil mulai mengangkat tubuh Viona semakin condong keluar pagar. “Robin! Robin!” pekik Viona yang merasa tubuhnya tidak imbang lagi. Tubuh Viona kian melayang di kekosongan. Pandangannya kian gelap dan bayangan kematian mulai menghampiri. “Salamat tinggal kakak iparku yang cantik,” bisik Robin di dekat telinga Viona. “Aak! b******k!” Robin menjerit kesakitan saat tiba-tiba tangan Viona menjambak rambutnya. Tanpa ampun Robin langsung mencengkeram rahang Viona sehingga membuat wanita itu meronta kesakitan dan melepas tangannya dari kepala Robin. “Dasar perempuan tidak tahu diri!” umpat Robin yang kemudian langsung menampar Viona. Darah segar keluar lagi dari bibir Viona untuk kesekian kalinya. Entah sudah berapa kali bau anyir itu tercium saat pembuluh darah di bibir dan hidung Viona pecah. “Aku tidak akan memaafkanmu, Robin. Aku akan membalasmu!” pekik Viona dengan tenaga terakhirnya. “Cih!” Robin meludahi muka Viona yang langsung membuat Viona terpejam. “Aku akan tunggu pembalasanmu. Semoga kau masih mengenaliku di kehidupan selanjutnya, b******k!” berang Robin tepat di depan muka Viona. Tanpa buang waktu panjang lagi, Robin langsung mendorong tubuh Viona dan menjatuhkannya begitu saja dari atap gedung berlantai 5 itu. Suara pekikkan Viona bersatu dengan suara petir yang datang menggelegar bercampur sambaran kilat yang membuat langit menjadi terang seketika. Robin yang sempat kaget dengan suara guruh yang sangat besar itu, kini memberanikan diri mendekati pagar pembatas. Dia ingin memastikan keadaan Viona di bawah sana. Senyum miring muncul di bibir Robin saat melihat tubuh Viona jatuh di jalan tepat di depan gedung. Pengacau hidupnya telah hilang dan kini hidupnya akan lebih baik tanpa gangguan siapa pun. Sementara itu Viona yang sudah tidak bergerak, masih berusaha melihat Robin, meski tak jelas. Tapi dia yakin pasti Robin sedang melihatnya juga. “Tunggulah Robin. Aku pasti akan datang mencarimu,” gumam Viona dalam hati, sebelum kegelapan mulai menutup semua sinar matanya. ** Pyaar! “Haah! Tolong!” teriak Viona sambil gelagapan dan bangun dari tidurnya. Suara benda jatuh dan pecah, membuat Viona terbangun. Dia masih duduk diam, bingung karena isi kepalanya berputar semua. Napas Viona terengah-engah, seperti baru saja lari. Pandangannya menyisir ke setiap sudut ruangan dan berakhir di kakinya yang tertutup selimut. Perlahan namun pasti, napas Viona sudah kembali teratur. Dia kembali melihat ke sekelilingnya, mencoba mencari tahu, di mana dia berada. “Di mana ini?” gumam Viona masih bingung. “Neo Hotel,” lirih Viona membaca tulisan dari benang bordil di selimut. Viona terdiam. Dia kembali teringat, kalau tadi dia masih ada di atap galeri bersama Robin dan Bianca. Tapi tiba-tiba dia sekarang sudah ada di dalam kamar, sendirian. “Apa aku sudah mati?” gumam Viona lagi sambil meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Layar ponsel menyala terang. Viona segera membuka aplikasi pengirim pesan, namun sedetik kemudian, dia kembali ke layar utama. Mata Viona melebar. Tatapannya tertuju pada tanggal yang ada di ponselnya. “15 Oktober 2023. Ini—“ Leher Viona mendadak tercekat. Viona menarik napas dalam. “Bianca. Bianca bertunangan hari ini.” Viona sangat hafal hari ini. Hari pertunangan adiknya, satu bulan setelah dia bertunangan dengan pria pilihan orang tuanya. “Gak boleh! Bianca gak boleh menikah sama Robin. Gak boleh!” Keterkejutan itu kini berubah jadi kepanikan. Viona segera menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang. “Aku harus gagalkan pertunangan ini. Aku harus gagalkan. Bianca ... Bianca gak boleh tunangan sama Robin. Gak akan aku ijinkan!” cerocos Viona sambil memakai jaket yang dia temukan di gantungan. Tanpa pikir panjang lagi, Viona segera keluar dari kamar dan berlari ke arah lift. Dia harus segera menghentikan acara yang diadakan di aula utama hotel ini. Entah kenapa lift terasa berjalan sangat lambat. Kuku tangan Viona yang terawat itu bertabrakan dengan besi pegangan lift, membuat suasana terasa kian tegang. “Gak boleh. Aku gak akan ijinkan b******n itu nikahi Bianca. Gak boleh! Bianca gak boleh mati!” geram Viona sambil memegang kuat pegangan besi itu. Pintu lift terbuka. Viona langsung berlari menuju ke ruang acara. Namun sayangnya, langkah Viona terhenti saat dua penjaga keamanan langsung menangkap tubuh Viona, yang akan menerobos masuk ke dalam ruang acara. Tentu saja Viona dilarang masuk. Selain tidak kenal dengan Viona, penampilan wanita cantik itu sangat berantakan. Setelan baju tidur dan jaket panjang, serta rambut yang masih acak-acakan, sangat bertolak belakang dengan penampilan tamu undangan yang sudah ada di dalam. “Minggir! Minggir kalian!” bentak Viona sambil memberontak hendak melepaskan diri dari para penjaga. “Anda gak boleh masuk, Nona. Di dalam ada acara resmi!” jawab salah satu penjaga, sambil terus memegangi Viona yang memberontak, bahkan sampai menendang ke segala arah. “Lepasin aku, sialan! Aku harus masuk!” teriak Viona. “Biarkan dia masuk!” ucap seseorang yang muncul dari belakang Viona. Penjaga itu melihat boutonnire di jas pria itu. Bunga kancing milik keluarga penyelenggara acara. “Tapi Pak, dia—“ “Dia anak Pak Gubernur.” “Oh, maaf.” Penjaga itu segera melepaskan Viona. Viona menoleh sebentar ke arah pria penolongnya, tanpa mengucapkan terima kasih, Viona langsung melangkah lagi ke pintu utama. “Ngapain Viona ke sini pake baju kayak gitu? Bukannya semalam dia sakit,” gumam Leon yang melihat Viona membuat keributan di depan ruang acara dan baru saja jadi penolongnya. Ingin tahu apa yang akan dilakukan Viona, Leon mengikuti langkah Viona. Suara dentuman pintu kayu super kokoh dan tinggi itu menyita perhatian banyak orang di dalam sana. "Hentikan!" teriak Viona yang membuat perhatian seluruh orang di dalam ruangan tertuju padanya. Tak peduli dengan pandangan orang lain, dengan langkah pasti Viona segera melangkah cepat ke arah panggung utama. Viona langsung berdiri di depan Robin yang sedang memegang cincin. Menatap lurus ke arah pria di depannya yang sedang kebingungan. "Robin, menikahlah denganku!"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.7K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
19.6K
bc

Kali kedua

read
219.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.2K
bc

TERNODA

read
200.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
79.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook