2. Pertentangan Keluarga

1201 Words
"Robin, menikahlah denganku!" “Hah? Ni-nikah?” Robin terperangah mendengar ucapan Viona. Ruangan yang tadinya sepi saat kedatangan Viona, kini mendadak menjadi ramai. Banyak terdengar komentar yang mempertanyakan kejutan yang diberikan Viona di pertunangan adiknya. Keluarga Viona yang ada di panggung utama juga tak kalah kagetnya. Mereka sibuk menenangkan Bianca yang mulai panik mendengar pernyataan frontal sang kakak. Leon yang masih berdiri di depan pintu menyeringai. Dia tidak menyangka kalau Viona akan menjatuhkan bom di pertunangan adiknya. Leon menggeleng pelan. “Wah, drama apa lagi ini. Dateng-dateng malah bikin heboh,” gumam Leon sambil tergelak ringan. “Viona! Apa-apaan kamu ini, hah?! Gak usah becanda kamu! Gak lucu!” tegur Haris pada putri sulungnya. Viona menoleh ke papanya. “Viona gak becanda, Pa. Viona mau menikah dengan Robin!” tegas Viona. “Viona! Dia tunanganku!” pekik Bianca yang sudah sangat emosi. Viona berbalik. Dia kini melihat adiknya yang sudah melihatnya dengan tatapan penuh amarah. “Biar aku yang nikah sama Robin. Carilah pria lain yang lebih baik.” Robin menarik lengan Viona sampai wanita yang masih lemah itu terbanting dan kini menghadapnya. “Heh, Viona. Apa maksudmu aku gak baik?!” Viona terdiam beberapa detik. “Iya. Kamu gak baik buat Bianca.” Linda mendekat ke putrinya. Dia memegang lengan Viona dengan lembut. “Viona, kayaknya kamu masih sakit. Kita istirahat lagi ya?” ajak Linda sambil sedikit menarik lengan Viona agar mau pergi dengannya. “Viona gak sakit, Ma. Viona sehat!” Viona mengempaskan tangan mamanya. Suasana di ruangan itu kian ricuh. Semua orang sepertinya sedang menunggu penjelasan tentang kejadian tak terduga ini. Haris yang tengah dilanda amarah bercampur malu, segera mencengkeram lengan Viona. “Ikut, Papa!” Haris menarik lengan Viona dan dia bawa ke luar ruangan. Melihat suami dan anaknya pergi, Linda pun segera menyusul langkah suaminya. Dia juga harus mendengar penjelasan Viona atas tindakan mengejutkan ini. Bianca yang perasaannya sedang campur aduk antara kesedihan dan amarah, ikut menyusul orang tuanya. Dia ingin kakaknya menjelaskan kalau kejadian tadi hanya sebuah prank saja. Haris melemparkan tubuh Viona ke dalam ruangan. Dia sangat marah, karena tindakan tidak masuk akal putrinya yang membuatnya malu di depan banyak orang. Viona yang masih lemas, sampai menabrak meja di tengah ruangan. Dia berpegangan pada meja kayu itu, untuk mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Bianca dan Linda ikut menyusul masuk ke dalam ruangan yang ada di sebelah aula utama. Mereka ingin mendengar penjelasan pada kejadian konyol yang baru saja dilakukan putri tertua keluarga itu. “Viona! Apa kamu sudah gila, hah? Apa kamu pikir tindakan kamu benar, hah?!” Suara menggelegar Haris memenuhi semua sudut ruangan. Viona menegakkan tubuhnya. Dia memberanikan diri menatap mata tajam seluruh anggota keluarganya. Sakit. Ya, rasa sakit menatap sorot kebencian dari orang yang sangat dia cintai membuat badan Viona bergetar. Tapi dia tidak boleh terlihat lemah. Sambil berpegangan pada pinggiran meja, Viona menarik napas panjang, siap mempertahankan apa yang dia katakan tadi. “Viona gak gila, Pa. Viona benar-benar ingin menikahi Robin,” jawab Viona tegas, tak ingin dianggap main-main. “Robin itu milikku! Apa kamu mau hancurin hidup aku, Vi!” sentak Bianca dengan suara serak menahan tangis. Viona melihat ke adiknya. “Kamu bisa milih orang lain. Jangan Robin!” Kali ini Viona benar-benar menentang adiknya, padahal biasanya dia kerap kali mengalah. “Vi, kamu kan udah tunangan sama Evan. Kenapa tiba-tiba kamu mau nikah sama Robin. Apa kamu lagi ada masalah sama Evan?” Linda juga ikut mempertanyakan maksud putrinya. “Ini tidak ada hubungannya dengan Evan, Ma.” “Tentu saja ada! Evan tunangan kamu. Gimana sama keluarganya kalo nanti kamu nikah sama Robin!” sanggah Haris. “Evan. Biar nanti Viona yang urus. Pokoknya Viona mau nikah sama Robin!” tegas Viona yang bingung kalau terus di sudutkan. Jujur saja, dia sama sekali tidak punya alasan kuat tentang tindakannya ini. Selama ini Viona juga tidak pernah memiliki interaksi yang banyak dengan Robin. Tapi mengingat kejadian di masa depan tentang adiknya, tentu saja Viona tidak akan menginginkan hal itu terjadi. Haris menarik napas dalam dan berat. Dia memejamkan matanya, sekedar sedikit menenangkan diri, padahal dia yakin kalau dia tidak akan bisa tenang. Haris berjalan pelan mendekati Viona. Dia yang sangat mengenal Viona, berharap putrinya yang selalu penuh perhitungan matang dalam bertindak itu bisa memberikannya alasan masuk akal. Haris menatap Viona yang juga sedang menatapnya. Sorot mata putrinya itu terlihat sedikit sayu tapi menyala seperti menggambarkan kalau dia sangat serius. “Vi, kasih tau Papa. Apa alasan kamu melakukan hal ini?” tanya Haris berharap akan mendapat jawaban masuk akal. Akhirnya pertanyaan yang ditakuti Viona keluar juga. Tentu saja dia tidak siap jika pertanyaan ini keluar, karena semua sangat tiba-tiba. “Ya ... pokoknya Bianca gak boleh nikah sama Robin. Ini gak boleh terjadi.” Viona mulai tampak gugup. “Ya alasannya apa? Kenapa gak boleh? Apa kamu tau sesuatu tentang Robin?” tanya Linda sambil memeluk Bianca yang sudah menangis tersedu-sedu. “Robin ... Robin gak baik buat Bianca.” Suara Viona mulai bergetar. “Gak baik? Emang dia kenapa? Kalo dia gak baik, kenapa malah kamu yang mau nikahin dia?” Haris terus mengejar jawaban dari putrinya. Viona tersudut. Dia semakin bingung saat ini. “Ya gak boleh aja, Pa. Pokoknya harus Viona. Pok—“ “Viona! Yang jelas kalo ngomong! Jangan berbelit-belit!” bentak Haris geram. “Bianca akan mati kalo dia nikah sama Robin, Pa!” Apa yang Viona alami di masa kehidupan masa depan meluncur begitu saja dari mulutnya. Dia sudah kebingungan memberi alasan kuat untuk menggagalkan acara ini. Ketiga orang keluarga Viona terperanjat mendengar apa yang dikatakan Viona. Terdengar menakutkan, tapi terkesan dibuat-buat untuk menguatkan alasan tindakan putri sulung sang gubernur. “Mati? Jangan asal bicara kamu, Vi. Robin mencintaiku!” bantah Bianca nyaring meski suaranya parau. “Vi, kamu jangan asal bicara. Omonganmu gak masuk akal. Papa kenal betul siapa Robin!” bantahan kedua datang dari Haris. “Vi, apa kamu abis mimpi buruk? Kamu mimpi tentang adikmu?” tebak Linda. “Ma, Viona gak mimpi. Vio—“ Ucapan Viona terhenti saat tiba-tiba pintu ruangan terbuka dari luar. Robin dan keluarganya menyeruak masuk ke dalam ruangan, karena merasa dipermainkan oleh keluarga Haris. “Pak Haris, gimana ini. Apa Bapak berniat mempermalukan kami?” tanya Sam, paman Robin yang kesal telah dibuat menunggu terlalu lama di antara semua kegaduhan di ruangan utama. Melihat Robin dan keluarganya datang, Viona segera berlari ke arah Robin. Dia menatap Robin dengan tegas, tidak memedulikan keluarganya. Robin dan keluarganya menatap Viona. Wanita yang masih tampil acak-acakan itu bersikap sangat aneh malam ini. “Robin, menikahlah denganku. Aku yakin, kamu pasti akan lebih bahagia denganku,” ucap Viona tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah pria di depannya. Viona mencondongkan badannya sedikit ke depan, mendekati Robin. “Aku akan lebih bisa mendukungmu dalam membesarkan bisnis kita. Bukankah itu bagus?” bisik Viona. Muncul seringai tipis di bibir Robin, mendengar kalimat menggiurkan yang baru saja dilontarkan Viona. Dia yang sejak awal sudah membidik Viona demi kemajuan bisnisnya, tidak menyangka akan benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan. Robin menatap Viona dengan wajah cerah. Tangannya meraih tangan Viona dan dia genggam, tanpa memedulikan perasaan Bianca yang juga ada di sana. “Ok! Ayo kita nikah,” jawab Robin menerima permintaan Viona.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD