“Robin, kamu gila ya! Kamu itu tunanganku! Kamu mencintaiku, kenapa kamu malah milih dia!” teriak Bianca yang menjadi orang paling tersakiti saat ini.
Robin menoleh ke Viona yang berdiri di sampingnya. Dia meraih tangan wanita cantik itu dan menggenggamnya. “Maafkan aku, Bi. Sejak awal sebenernya aku udah suka Viona. Tapi karena saat itu dia mau tunangan sama orang lain, maka aku mundur. Ternyata malah kamu yang datang,” jawab Robin mengungkap apa yang terjadi tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
Bianca mengernyitkan keningnya. “Apa kamu bilang? Maksudmu aku cuma pelarian kamu karena kamu gagal dapetin Viona?!” Bianca tidak percaya kalau pria yang dia cintai selama ini ternyata berpura-pura membalas perasaannya.
“Aku gak bilang gitu. Aku sayang sama kamu. Tapi aku juga say—“
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Robin. Tamparan yang membuat suasana di dalam ruangan kian tegang.
“b******k kamu, Robin! b******n kamu! Berani-beraninya kamu bohongi aku!” pekik Bianca yang disertai tangisnya yang kembali pecah.
Bianca menyeka air matanya dengan kasar. Dia menatap ke arah kakaknya, yang malam ini seperti orang lain, orang yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.
Tatapan Bianca sangat tajam. Rasa cinta dan kagum yang selama ini dia miliki untuk sang kakak, mendadak hilang. Semua berubah menjadi sorot kebencian yang mendalam.
Viona tidak mampu menatap sorot mata adiknya. Ingin sekali dia meminta maaf dan mengatakan kalau ini hanya sebuah bagian permainan kejutan. Tapi Viona harus menelan pil pahit itu sendirian, dibenci oleh keluarga yang sangat dia sayang.
Bibir Bianca bergetar. Matanya berkaca-kaca, berharap ini adalah mimpi buruk dan seseorang akan membangunkannya.
“Dan kamu Viona. Tega bener kamu sama aku. Katanya kamu mencintaiku, tapi apa? Kam-kamu malah tega rebut orang yang paling aku sayang. Kamu ....” Bianca sampai tidak sanggup memaki kakaknya karena dia pernah sangat menyayangi wanita itu.
“Bi, dengerin aku. Aku bisa jelasin. Ak—“
“Apa lagi yang mau kamu jelasin!” teriak Bianca di depan muka Viona yang membuat hati Viona kian tercabik.
“Apa lagi yang mau kamu bilang, hah? Aku gak mau dengar. Aku gak mau dengar! Kamu nyakitin aku, Vi. Kamu kecewain aku. Aku benci kamu. Aku benci kamu, Viona!” pekik Bianca kencang, meluapkan semua perasaan sesak di dadanya.
Tak kuat lagi menghadapi kenyataan menyakitkan ini, Bianca langsung berlari keluar dari ruangan. Dia sampai menabrak Viona, yang membuat wanita itu oleng dan hampir terjatuh.
Disakiti dan dikecewakan oleh dua orang yang dia sayang dan dia cintai sekaligus dalam waktu yang sama, membuat dia sangat terpukul.
“Bianca!” teriak Linda saat melihat putri bungsunya lari.
Linda melihat putri sulungnya. “Puas kamu sekarang, Vi? Puas kamu nyakitin adik kamu!” hardik Linda yang kecewa dengan kelakuan putri sulungnya.
Linda langsung berlari menyusul Bianca. Dia takut putrinya akan pendek akal, saat dia tidak kuat menghadapi kenyataan pahit yang tidak pernah terbayangkan ini.
Bukan hanya Bianca, Viona pun juga sedang terluka. Menyakiti hati adik yang selalu dia cintai itu, sama sekali tidak pernah terlintas di bayangannya.
Namun Viona tidak boleh goyah. Dia sebisa mungkin harus bisa menahan air matanya agar tidak jatuh, yang akan menunjukkan sisi lemahnya.
Viona yang tadi sempat terpelanting dan di tangkap oleh Leon yang berdiri di dekat Viona, meremas tangan Leon kuat-kuat saat dia mendengar makian mamanya. Tubuh Viona bergetar, menahan sesak di dalam dadanya yang hampir saja pecah.
“Ada apa ini? Kenapa dia seperti ini,” gumam Leon dalam hati saat dia bisa merasakan kesedihan Viona yang sedang berusaha mati-matian menyembunyikan perasaannya.
Robin memegang lengan Viona, kembali membantu wanita yang baru sembuh dari sakit itu kembali berdiri. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Viona, membantu wanitanya tetap bisa tegak berdiri bersamanya.
Robin menoleh ke Viona. “Kamu gak papa?” tanya Robin pelan.
Pertanyaan itu hanya dijawab dengan gelengan kepala. Viona tidak sanggup menjawab dengan kebohongan lagi.
Mata Leon tidak lepas dari wajah cantik Viona. Matanya menyipit dan perlahan namun pasti, sudut bibir kanannya naik.
“Cantik, tapi ternyata hatinya kayak iblis!” cibir Leon yang kemudian memilih pergi. Dia malas melihat drama percintaan di ruangan ini.
Semua orang yang masih ada di ruangan, sedang dilanda kebingungan. Kejadian di luar prediksi ini benar-benar membuat otak mereka mendadak tumpul, tidak bisa berpikir jelas lagi.
Pertunangan yang digelar dan dihadiri banyak tamu orang penting itu, kini sepertinya akan jadi bahan tertawaan banyak orang. Pertunangan tiba-tiba akan bertukar pasangan tanpa alasan yang jelas.
Haris memejamkan matanya. Menarik napas dalam, mencoba mengalirkan oksigen ke otaknya agar dia bisa tetap tenang dan berpikir dengan baik.
Entah dosa apa yang telah dia lakukan, sampai putri yang sering dia banggakan itu malah dengan sadar mencoreng wajahnya dengan tinta hitam.
Haris menatap pasangan muda di depannya. Pasangan yang seharusnya tidak pernah ada.
“Puas kalian bikin keributan di sini? Apa kalian akan menghancurkan semuanya?” ucap Haris dengan nada suara yang berat dan perasaan tertekan.
“Pak Haris, kita tidak perlu menghancurkan acara ini. Kita lanjutkan saja,” jawab Robin santai.
Mata Haris menyipit. “Maksudmu?”
Robin menatap Viona sejenak. Dia kemudian kembali melihat ke arah calon mertuanya. “Saya bisa meneruskan dengan Viona, Pak. Kami saling mencintai.”
“Apa? Apa kamu sudah gila, Robin? Apa kau tidak mengerti perasaan Bianca, hah?”
Sam maju ke depan Robin. “Pak Haris. Mari berpikir tenang dan menganggap ini bukan masalah yang terlalu besar. Kita ba—“
“Apa kau bilang? Bukan masalah besar?” potong Haris tidak terima.
“Iya. Anggap saja ini adalah jalan Tuhan sebelum pernikahan. Bukan hanya Robin dan Bianca yang bisa mengalami kegagalan pernikahan, di luar sana juga masih banyak, Pak.”
“Betul itu. Siapa tau dengan Robin menikahi Viona, mereka akan lebih bahagia ke depannya,” sahut Mega, menguatkan argumen suaminya.
Haris mendengus. Dia tidak mengerti jalan pikiran keluarga calon besannya itu. Bisa-bisanya mereka menganggap ini bukan masalah serius.
“Pak Haris,” panggil Robin.
Haris menjawab panggilan itu hanya dengan menoleh ke Robin. Dia ingin tahu, apa yang hendak dikatakan oleh pria yang ikut andil menyakiti putri bungsunya.
“Ijinkan saya menikahi Viona, Pak. Saya akan membahagiakannya. Saya akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Tolong berikan restu Bapak untuk kami,” ucap Robin dengan nada serius.
Haris terdiam. Dia menatap putrinya yang masih berdiri di sisi Robin.
Haris yang biasanya bisa dengan mudah mengerti perasaan putrinya lewat sorot mata bening nan cantik itu, entah mengapa sorot mata putrinya terasa berbeda saat ini. Terlihat kosong namun sangat datar.
Haris menarik napas panjang. Dia kembali menatap Robin. “Terserah! Saya sudah gak bisa mikir!”
Haris langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan. Dia ingin melihat keadaan Bianca, yang telah menjadi korban di hari bahagianya.
Melihat papanya juga melangkah pergi meninggalkannya sendirian, Viona pun ambruk. Kakinya yang sedari tadi dia paksa jadi kuat untuk menopang tubuhnya, mendadak lemas.
Robin menangkap tubuh Viona. Dia menahan tubuh Viona agar tidak terjatuh.
“Vi, kamu gak papa?” tanya Robin.
“Robin, aku mau ke kamar. Aku lelah,” pinta Viona dengan suara lemah.
“Iya. Aku antar kamu ke kamar.”
Robin memapah Viona. Dia mengantarkan wanita yang tengah mati-matian menahan rasa sakitnya sendirian.
Viona tidak keluar kamar sama sekali. Dia bahkan belum menyentuh makanannya sama sekali.
Jangankan merasakan lapar, air matanya pun sudah lelah keluar setelah tadi dia keluarkan sepuasnya di bantal sampai dia tertidur.
Viona melihat ponselnya. Ada banyak notifikasi di sana, namun dia tidak berminat ingin membukanya.
Hari sudah lewat tengah malam. Viona yang merasa sesak di dalam kamarnya, berjalan menuju balkon kamar hotelnya.
Embusan angin dingin langsung menerpa tubuh lemahnya. Tangan Viona menarik jaket kimono yang dia pakai, menutupi tubuhnya, menahan embusan angin dingin itu.
Gelapnya malam, berhias titik-titik terang lampu kota menemani kepedihannya. Suasana yang sunyi sesunyi hatinya, membuat air matanya menangis lagi.
Tatapan Viona lurus ke depan. Rambut panjangnya berkibar, dipermainkan angin. Air matanya pun ikut beterbangan, seolah akan mengabarkan ke semua orang kalau dia sedang sedih.
“Tuhan, apa ini jalan yang benar? Apa ini yang harus aku lakukan? Tapi sakit, Tuhan,” lirih Viona mengadu pada Tuhannya.
“Tapi kalau kesakitan ini membuat Bianca tetap hidup, aku rela, Tuhan. Aku gak mau Bianca mati di tangan b******n itu. Gak akan aku ijinkan!” pekik Viona mengguncang malam.
“Bianca mati? b******n? Siapa yang dia sebut b******n? Ada apa ini?” gumam seseorang di balkon sebelah, sambil mengintip Viona yang masih terus merancau.