Cemburu tapi Gengsi

1638 Words

“Capek sekali. Mana si Jono, sih?” Dewi menghentak-hentakkan kaki pertanda lama ia tegak menyandar pada sisi tembok. Sudah setengah jam dirinya menunggu Jono tetapi tidak kunjung datang. Lelah berdiri, iapun berganti menunggu duduk di kursi. “Wi, nunggu kakakmu?” tanya seorang temannya. “Iya, nunggu jemputan,” jawab Dewi. “Aku pulang duluan nggak pa-pa, ya, Wi?” “Iya nggak apa-apa. Sebentar lagi juga datang jemputannya.” Ini adalah teman kesekian yang berpamitan dengannya. “Lama sekali ... aku sudah lapar ....” “Belum dijemput, Wi?” Dewi tersentak. Saat ia membungkuk memegangi perutnya yang melilit, sebuah teguran terdengar. Iapun mendongak. “Chef.” Dewi buru-buru menegakkan punggung. “Mana jemputannya?” tanya Arnold, chef pemilik galeri. “Belum datang, Chef.” “Kamu kelapara

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD