Arjun menuruni tangga dengan langkah gontai. Kepulangannyatak diharapkan, Dewi tidak merespon hangat seperti apa yang dibayangkannya. Jauh-jauh dari luar kota, ia membayangkan akan disambutsepenuh hati, mendapat pelukan hangat lalu mereka akan berbincang sepertimalam-malam sebelumnya dan membuat kesepakatan akan memperbaiki hubungan kedepannya. Arjun tertawa miris. Tapi inilah kenyataannya, tak dapatterelakkan lagi rasa kecewa itu harus ia telan mentah-mentah. “Pak Arjun mau makan?” tanya Imas yang mengikuti Arjun kearah meja makan. “Nggak. Aku cuma mau minum. Buatkan teh hangat saja,” jawabArjun. Imas segera mengerjakan apa yang diminta majikannya.Sedangkan Arjun menuju lemari pendingin. Rasa kecewa ingin ia hapus jejaknyadengan minuman segar. Gelas kosong segera ia isi dengan air p

