Dua Rasa

1365 Words

“Saya mencarimu. Saya kangen.” Tatapan Arnold menghujam, penuh kejujuran. Dewi mematung. Sebab, Arnold tak mengenal tempat mengungkapkankejujurannya. Tak jauh dari mereka berdiri, Anwar mendengarkan percakapanmereka. Itu yang ditakutkannya. “Kamu akan membiarkan saya berdiri di sini, Wi?” Ia tersentak ketika sebuah teguran mengenainya. Dewi menatapArnold dengan gugup, bingung dan berbagai macam perasaan lainnya. “Oh, iya, silahkan masuk.” “Sebentar, saya punya sesuatu untukmu.” Arnold berbalik danberlari kecil menuju mobilnya. Ia membuka bagian belakang danmengeluarkan dua buah paper bag berbeda warna. Satu berlogo salahsatu restoran ternama dan satu lagi berwarna biru polos. Arnold kembali mendekati Dewi kemudian menyerahkan keduapaper bag itu pada Dewi. “Untukmu?” “Untuk saya?”

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD