Seperti apapun Varong menghindar, Laila tetap tahu jika ia sudah pergi. Sudah turun dari puncak gunung, tapi tak ingin mampir terlebih dahulu. Varong hanya lewat, dari sisi lain desa. Laila yang telah mengetahui itu semua, sudah memiliki firasat Varong akan menghindar. Sehingga instingnya menuntun untuk mendatangi hutan yang ada di sisi lain desa. Dengan dalih mencari kayu bakar, Laila melihat dengan jelas jika Varong melintas dengan kecepatan tinggi. Gadis itu tersenyum tipis. Melihat Varong yang tak ada sedikitpun niat untuk menoleh apalagi mampir, sekedar berpamitan dan mengucapkan kata perpisahan. Namun, Laila segera menepis rasa kecewanya. Ia kembali menegaskan kepada dirinya sendiri jika Varong bukanlah siapa-siapa. Tidak pantas untuk dirinya, karena pemuda itu memang tidak pern

