bc

SWEET-TALK

book_age16+
701
FOLLOW
4.1K
READ
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Kata orang, tingkat mencintai tertinggi adalah ketika harus merelakan orang yang kita cintai hidup bersama orang lain. Ada yang menambahkan, tingkat kebohongan paling besar adalah kalimat pertama di awal paragraf ini.

Bhoomi Gangika adalah salah satu yang merasa bahwa membiarkan orang yang dicinta berbahagia dengan orang lain bukanlah sebuah level cinta, tetapi karena ia tak punya pilihan untuk memilih. Ia terpaksa merelakan, lalu berharap menemukan kembali alasan untuk jatuh cinta.

Dengan niatnya yang sesederhana itu, Tuhan jelas tak akan berlaku kejam, maka dikirimlah sosok lelaki luar biasa untuk Bhoomi. Lelaki yang tak pernah ia perhitungkan, tetapi meyakinkan hingga batas mampu. Menurutmu, apakah buah dari sebuah ikhlas itu sungguh indah nyatanya?

chap-preview
Free preview
SATU
Sahabatku pernah bilang, Miley Cyrus itu bodoh karena masih mau balik sama Liam Hemsworth setelah apa yang dilakukan laki-laki asal Australia itu. Katanya sih diselingkuhin, sampai bikin Miley jadi agak nggak waras begitu. Dan, akhir-akhir ini pasangan yang—kadang kalau nongol di explore **—bikin iri itu kelihatan rujuk lagi. Merespons penilaiannya pada Miley, aku dengan cepat menjawab, "Kalau lakinya model Liam, gue juga bakalan gitu kali, Sar. Bukannya dia yang minta maaf karena selingkuh, yang ada gue duluan yang ngelakuin atau ngemis karena nggak mau ditinggal." Kemudian langsung dapat sentilan di jidat lumayan kencang. Jadi, kalau menilik dari analogi sintingnya Sarah, aku adalah si Miley Cyrus dan—tapi aku nggak sudi mengakui—Niko adalah Liamnya. Niko memang ganteng kok walau nggak se-hawt para cogan (cowok ganteng) yang berserakan di novel teenlit. Mukanya agak kebulean gitu deh. Terus yang paling aku suka dari dia adalah bibirnya yang sumpah ya, Bo, manis banget kalau nyium. Apalagi kalau udah mulai jelajah ke rahang, leher dan ... ya ampuuuuun, ini salah satu kenapa aku benci menganalogikan Niko sebagai Liam Hemsworth, karena Niko Pratama itu lebih bikin enak daripada Liam—yang nggak mungkin juga kelakon grepe aku—itu. Salah duanya adalah karena aku nggak sudi mengemis kayak apa yang kubilang kalau pacarku adalah Liam Hemsworth tadi. Alasan satu-satunya ya balik lagi, sesempurna apa pun Niko Pratama, he is NOT Liam Hemswroth. Titik. Sesimpel itu. Niko nggak mengikuti jejak Liam—yang menurut informasi dari Sarah main curang—kok. Dia itu anak baik-baik. Saking baiknya sampai semua cewek dikasih status biar nggak jadi jones (jomblo ngenes) di malam minggu dan Niko selalu menemani mereka hadir ke gedung pernikahan. Baik banget kan mantan pacar aku itu? Dan, karena aku yang jauh lebih baik, begitu tahu dia orangnya baik banget itu, aku langsung peluk dia sambil menitikkan air mata dikit (aku sedih plus sakit lho waktu itu), kemudian berbisik, "Tahu nggak, Nik? Orang baik itu matinya duluan. Emang kamu udah prepare buat di alam barzakh nanti?" Setelah itu aku pergi dengan sok tegar, jalan tetap tegap, mengangkat dagu pongah dan ... ambruk di ranjang sesampainya di rumah, nangis jejeritan, nggak doyan makan seminggu. Ih, suka najis gitu aku sekarang kalau sama orang baik banget kayak Niko. Nah, itu kenapa, aku jadi nggak peduli sama cowok ganteng. Bikin nangis di akhir cerita. Kan ngeselin. Lebih pilih yang sangar-sangar gimana gitu. Bukan sangar yang suka marah dan bentak ya. Itu sih kalau aku udah kutendang selangkangannya sampai mampus. Cewek kok dikasarin. Nggak baik ah, Boys. Nanti kamu kualat lho. Diakhirat dihukum sama Allah. Jadi, sangar yang kumaksud di sini adalah saat ia mencium, menggenggam tangan dan ... b******a. Aku suka dikasarin kayak Anastasia Steele anyway. Dan, indikator yang kupakai buat mendeteksi dia sangar atau tidak saat melakukan ketiga hal tadi bukan sosok macam Christian Grey. Nehi nehi nehi, dia terlalu kentara. Yang kumaksud begini, begitu hero-nya muncul kali pertama dalam Fifty Shades of Grey, aku sudah bisa menebak kalau Christian adalah lelaki posesif dan agak ... berbeda. Dari caranya menatap begitu tajam, fokus ke satu detail ... bibir lawan bicaranya—kalau cewek—misalnya. Aku lebih tertarik dengan lelaki yang punya banyak ekspresi. Nggak cuma bisa senyum miring, natap tajam sama seks. Euh. Lelaki banyak ekspresi itu menurutku merepresentasikan bagaimana euforia saat mereka mencium, bagaimana mendebarkannya mereka saat menatap jika hanya berdua, dan seberapa banyaknya gaya saat mereka b******a. Ya ampun, aku makin bersemangat aja nih cari laki model begitu. Tapi nggak nemu-nemu! . Susah banget sumpah daripada lembaran kertas skripsi yang waktu itu aja aku sampai turun berat badan 5 Kg, tapi setelahnya aku syukuri sih karena mendapat pujian dari teman-teman pas reunian SMA. Ngomong-ngomong soal reuni, memang dijadikan ajang pamer atau gi… "Bhoomi Gangika!" "Eh ya? Itu ... hehehe." Dan, kamu-kamu mau tahu satu-satunya laki-laki yang kutemukan dan sesuai dengan apa yang kucari? Inilah jawabannya. "Ada apa, Pak?" Aku senyum manis. Supaya dia agak luluh. "Kamu kalau nggak niat kerja, siapin surat resign dari sekarang." "Niat kok, Pak. Niat banget. Doa saya setiap hari malah—" –gantiin posisi Bapak. Tangannya dikibaskan di udara, tanda kalau dia udah nggak mau dengerin lagi ocehanku. Si Bos yang kalau udah marah— "Saya tadi suruh kamu telepon K-kafe. Bilang kalau kita mau ngadain kerja sama buat edisi bulan depan." —persis anjingnya tetangga Sarah yang setiap aku lewat selalu digonggongin. "Gangikaaa... saya panggil sekali lagi, kalau mata kamu ke mana-mana dan otakmu nggak dipakai, saya bisa langsung sepak kamu keluar lho." "Siap, Pak!" "Siap disepak?" Aku melotot. "Bukaaaan! Siap menjalankan tugas, Komandan!" "Apa coba?" "Telepon ... itu ... siapa, Pak tadi namanya? Saya agak susah nyebut nama orang kalau belum pernah ketemu." Dia malah terbahak. Habis marah, diam, ngoceh, sekarang ketawa kencang. Dimasetyo Panjaitan. Sudah tahu kan jawabannya? Betul banget, dialah Bosku. Lelaki yang kuinginkan. "Saya bahkan nggak nyebut nama orang dari tadi. Hubungi K-Kafe, Gangika. Buat perjanjian sama mereka. Sudah bisa dipahami?" "Sudah, Pak! Siap lahir batin!" Sambil mencibir, dia melangkah ke ruangannya lagi. Tapi baru aja sampai pintu, dia balik badan, merhatiin aku gitu. Kurasa emang dia ini nggak banyak-banyak amat kerjaannya, buktinya sering banget berdiri di pintu. Udah kayak CCTV aja, ngerekam semua aktivitasku di meja sini. Ugh, aku sebetulnya nggak senang sama hobinya itu. Maksudku gini lho, siapa sih yang suka semua aktivitasnya disorot sama mata yang berkepribadian ... gimana nyebutnya kalau lebih dari sekadar ganda? Aku jadi nggak bisa dandan semena-mena karena dia yang sering banget ada di sana, sementara aku di sini ... deket banget. Boro-boro juga mau nyuri-nyuri waktu chating-an sama gebetan hasil aku berburu di aplikasi. Dengan sigap, aku membuka Google buat cari informasi akurat tentang K-Kafe itu. Jangan sampai salah telepon kayak bulan lalu dan berakhir aku kena kultum sama Dimas itu seminggu berturut-turut. Kapok aku, beneran. Senyumku melebar begitu mata menemukan satu result web resmi restoran itu. Spontan, aku mengklik dan langsung mencari nomor telepon yang bisa dihubungi. "Halo, selamat siang, saya Bhoomi Gangika dari majalah iFood, ini betul dengan K-Kafe?" "Selamat siang. Betul. Ada yang bisa dibantu?" "Menurut informasi yang saya dapat, K-Kafe ini adalah salah satu tempat dessert italia ya, Mas?" "Iya, Mbak, betul." "Saya berniat untuk mengajak kerja sama dengan iFood majalah edisi September untuk pekan di akhir bulan. Jadi, kita kan terbit seminggu sekali nih, Mas. Dan setiap pekan terakhir dalam bulan, tema kita adalah makanan internasional. Jadi, menyeimbangkan makanan khas daerah di tiga minggu sebelumnya. Gimana, Mas?" "Oh gitu ... nanti saya bicarain dulu sama owner-nya ya, Mbak. Untuk urusan kerja sama dia yang biasanya ngurus. Jadi, nanti saya kabari kalau dia sudah clear." "Baiklah. Kira-kira, kapan saya bisa mendapatkan kabar terbarunya, Mas?" "Nanti saya kabari lagi." Enggak. Kata 'nanti saya kabari lagi' itu nggak jelas entah tahun depan atau saat pemilu periode depan nanti. "Lusa bisa, Mas?" Kamu kalau mau buat janji sama orang penting atau jenis birokrasi lain, tembak waktu yang tepat. Jangan mau di-PHP-in dengan kata 'nanti saya kabari'. Tiga kata itu adalah momok paling berbahaya. Soalnya, awal-awal aku kerja juga gitu. Nurut aja sama tiga kata dari narasumber, eh sampai waktu terbit majalah sudah mepet dan aku sebelumnya ngegampangin orang-orang dan minta para reporter juga fotografer buat cari artikel lain dulu berakhir dibentak sama Dimas. "Oke. Lusa saya kabari." Jackpot! Begitulah sekretaris cerdas harus bekerja! Anyway anyway anyway, bosku lagi nyengir sekarang di depanku. Dia pasti sudah bisa menebak dari ekspresiku yang senyum lebar setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada pihak K-kafe. "Gimana, Ga?" "Lancar, Pak! Lusa kita bakalan dapat kabar dan kalau semuanya clear, minggu depan bisa liputan." "Kalau ternyata mereka menolak?" "Siapa sih yang bisa menolak kharisma seorang Dimasetyo Panjaitan? Anak dari pengusaha media yang suka banget monopoli media massa?" Dimas tergelak. "Kamu kalau saya laporin ke Ayah saya, dituntut lho, Gangika." "Saya tuntut balik dong! Kan sekarang lagi jamannya, Pak kalau dituntut malah balik nuntut. Kayak publik figur itu lho." "Gila kamu memang!" Kepalanya digeleng-gelengkan pelan. Jangan terkecoh sama sikap baiknya seorang Dimas barusan, tolong. Itu cuma manipulasi dari semua sifat dan sikap buruknya selama ini. Iya, sih kalau baiknya lagi kumat, dia itu memang nggak ketulungan bikin baper semua karyawan perempuan yang hampir mendominasi populasi di kantor ini. Cuma ya, kalau penyakitnya juga lagi kambuh, ya ampun, aku rasanya langsung mau pindah naungan tahu enggak. Untung aja semua sikap brutalnya dia selama ini tertolong sama penglihatanku yang kayaknya agak nggak beres. Maksudku gini, kalau ada yang nggak percaya bos tampan, muda dan bertubuh tegap itu nyata, sini coba, datang ke daerah Kuningan di Panjaitan Tower, di lantai 16 itu ada ruangan besar punya Dimas ini dan aku nyempil di dalamnya. Karena bapaknya Dimas ini punya beberapa media, baik elektronik, cetak maupun online, jadi gampang banget dia buat jadi Redaktur Pelaksana doang dari secuil bagian media bapaknya. Di sini yang kumaksud adalah majalah iFood ini. Umurnya aja lho, Bo, baru menginjak 37 tahun bulan kemarin. Aku masih ingat karena masih anget-angetnya. Dirayain sama penghuni empat lantai—orangnya iFood—dan dia semringah banget. Kalau dikomparasi sama umurku yang masih unyu ini—25 tahun—kelihatan pas banget kan. Dia pasti yang mengayomiku dengan payung uangnya, menjejaliku dengan makanan-makanan khas orang kaya. Namun, sayang, aku nggak doyan sama bos-bos begitu. Nggak menarik. Hehehe. Kamu jelas tahu aku berbohong. Sejak menginjakkan kaki di iFood, nggak ada yang bisa mendekati kriteria-ekspresi milikku selain Dimas. Semuanya menjadi nggak menarik karena salah satunya dia udah punya pacar. Damn it! Jadi bikin aku berhenti mengkhayal ajalah. Sampai mati, orang ganteng dan kaya ya maunya sama yang pahanya aja nggak kelihatan lubang pori saking mulusnya. Tekstur mukanya aja ngalahin alusnya p****t Baby Alya—bayinya Sarah. Alasan kedua karena kalau kita menjalin hubungan, kita bakalan LDR-an paling jauh dari yang terjauh sekalipun. Dia kenalnya Bunda Maria, kalau aku tahunya Mariam. Dia merayakan Natal sementara hari besarku Lebaran. Dia bilang gereja itu tempat paling suci, aku melakukan salat ied di masjid. Dan, di saat aku berharap menemukan jodoh yang keluar dari masjid di pertengahan hari di Jumat, dia beribadah menunggu hari Minggu. Dan, gimana aku nggak menyerah lebih dulu, kalau pemandangan yang sering aku lihat juga kayak gitu. Lihat orang di depanku satu itu lho. Yang lagi teleponan. Kenapa sih nggak balik aja ke ruangannya. "Iya. Nanti setelah kamu selesai pemotretan, aku jemput di sana. Iya, Sayang. Kita makan di rumahmu. Oke." Pakai terkekeh dulu lagi. Obrolannya pasti yang najis-najis gitu. "Iya iya. Enggak kok. Aku nggak doyan sama Gangika." Aku melengos langsung begitu dia kasih aku senyum jahil. Syukurnya aku punya senjata biar nggak baper berkepanjangan sama dia: pura-pura nggak suka. Bos Dimas memang begitu orangnya. Suka banget banting aku ke bumi tanpa harga seperak pun. Ngapain coba bawa-bawa aku. Pacarnya pasti godain dia. Bukan kok, pacarnya Bos Dimas bukan pemeran antagonis. Dia ya dia. Audy Trijaya. Model kebanggaan Indonesia yang bulan lalu katanya sih jadi kover majalah Vogue. Hm, lumayan kan ya. Dia baik banget. Kita sering ngopi bareng dan orangnya memang suka bercanda. Suka jahilin aku yang katanya lucu. Itu penghinaan, Booooo! Tapi ya, karena aku ini cuma kacung dari kekasihnya, yaudahlah, aku berusaha legowo. Apa sih yang bisa dikomplain sama sekretaris mungil berusia 25 tahun dengan wajah rupawan kayak aku ini? Selain menikmati hari dan berdoa supaya lekas naik gaji. Perhatianku kebagi sama bunyi notifikasi pesan dari Saraha di smartphone. Niko dateng ke rumah gue, Bhooooo. "Waaaatsss? Eh maaf, Pak. Saya histeris banget ini lihat film horor." Aku kembali membuka mata lebar, siapa tahu salah baca kan. Ya ampuuunn, tapi tulisan di chatroom aku sama Sarah nggak berubah. Tetap ada tulisan Niko-nya. Ngapain sih tuh orang setelah sekian lama nggak kontekan juga?  

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Garis Tanganku

read
42.4K
bc

Kujaga Takdirku (Bahasa Indonesia)

read
75.5K
bc

MENGGENGGAM JANJI

read
473.0K
bc

Mas DokterKu

read
238.1K
bc

Cici BenCi Uncle (Benar-benar Cinta)

read
197.9K
bc

The Time We Meet Again

read
48.7K
bc

Vanda dan Cintanya (Farmer Family #7)

read
111.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook