- 6

2064 Words
"Assalamualaikum!!" Salam semua orang yang berada di depan gerbang rumah si kembar. Ada Simon, Fera, Agung, Marcel, Viona, Akbar, Sebastian, Carrel, dan Angel pastinya. Tapi hanya Agung, Akbar, Angel, Sebastian dan Carrel yang menyebut salam. Sisanya tersenyum penuh arti pada layar monitor kecil di samping gerbang. Tepatnya di tembok yang kini ditempati semua orang itu. Agung yang memang paling dekat dan paling tersorot gambarnya sampai berpose alay. Lelaki itu juga menyuruh Akbar ikut berpose yang langsung dilakukan lelaki berbadan besar tersebut. Rian dan Gean yang baru saja datang menatap datar para teman-temannya. Padahal bukan sekali dua kali mereka datang ke rumahnya. Tapi kenapa tetap membuat keributan seperti orang pertama kali? Ditambah mobil dan motor teman-temannya itu terparkir di jalan tanpa dosa. Sudah seperti orang yang tidak dikenal. Kalau saja bukan temannya, mungkin Rian dan Gean akan langsung memanggil security yang berjaga di depan komplek. Para tetangga juga terlihat sudah biasa dengan kebiasaan teman-temannya yang selalu membuat keributan. "Sumpah, bukan temen gua," ujar Rian begitu menempelkan tangannya pada layar monitor dan gerbang terbuka otomatis. Agung, Akbar, dan Marcel tertawa mendengarnya. Mengerjai Rian memang selalu berhasil. Tidak ada wkatu yang pas selain mengerjai lelaki itu saat berada di rumahnya. "Sebentar, ini Gean yang mana Rian yang mana?" Tanya Carrel. Lelaki itu memang baru pertama kali melihat Rian dan Gean bersama. Biasanya ia hanya melihat Gean sendiri. Wajahnya terlihat sangat kebingungan dengan kening yang mengernyit tajam. Simon langsung tertawa melihat wajah kocak temannya. "Rian yang di depan. Gean yang di belakang," jawab Fera cuek. Rian membuka kaca helmnya, begitupun dengan Gean. Keduanya dengan serentak menjetikkan jari seraya mengedipkan mata sebelah pada Fera. Yang dibalas gidikan ngeri oleh Fera. "Anjir! Bisa barengan gitu," takjub Akbar. "Udahlah, masuk aja. Anggap rumah sendiri," ujar Agung tanpa tahu malu seraya menaiki kembali motor KLX hijaunya dan melempar helm ke arah Fera yang ditangkap dengan tepat oleh gadis itu. "Ish! Kamu gak boleh gitu!" Bentak Angel pada Agung yang kini sudah berada di depan Fera. Gean mengangkat halisnya bingung. Ucapan Angel berubah. Nada dan kosa kata yang digunakan Angel seratus persen berubah. Bagaimana bisa?! "Heran kan lo?" Tebak Simon pada Gean yang menganggukkan kepalanya karena bingung. "Gua aja bingung. Tanya tuh sama Tian sama Carrel." "Yo, gais! Kita habiskan makanan di rumah ini!" Teriak Agung seraya menancap gas memasuki pelataran rumah si kembar yang lebih bagus disebut kebun atau mungkin taman kota. Rian mengikuti Agung dari belakang. Yang lain pun begitu. Setelah semuanya masuk, gerbang kembali tertutup otomatis. Bukan hal yang menakjubkan memang bagi para teman Rian dan Gean. Tapi hal itu cukup membuat iri beberapa dari mereka. Rian dan Gean lahir dalam keadaan semuanya sudah ada. Baik tempat tinggal, kedua orang tua lengkap, harta dan semuanya yang mungkin tak semua orang memilikinya. Tapi hebatnya, kedua lelaki berwajah sama itu tidak sombong. "Masukin ke garasi aja. Lama juga kan di sininya?" Saran Rian saat teman-temannya menaruh motor di halaman depan. Ia menunjuk pada sebuah gerbang hitam yang masih tertutup dengna rapat. Hampir sama dengan gerbang depan rumahnya yang berada sekitar 500 meter dari gerbang garasi. "Gak deh, Yan," tolak Simon dan juga Carrel bersamaan. Rian langsung mengernyit. Lelaki itu menatap temannya yang lain. "Iya, di sini aja," jawab mereka serentak dan mengangguk. "Kenapa?" Kali ini Gean yang bicara. Akbar dan yang lain menatap satu sama lain. Lelaki yang menjadi adik kembar Rian itu menatap tidak mengerti teman-temannya yang langsung menolak untuk memasukkan kendaraan mereka di garasi. "Ya kita gak mau insecure liat isi garasi lo, jawab Viona santai. Gadis itu mengambil tasnya yang Sebastian sodorkan. Agung dan Akbar serentak mengangguk. Setuju dengan apa yang Viona katakan. "Ya elah! Gua kira kenapa." Rian dan Gean serentak tertawa kecil. Kedua lelaki itu menatap teman-temannya dengan menggelengkan kepalanya. "Bener kata temennya Gean. Bisa-bisa jiwa missqueen gua bergetar," ujar Agung mendramatisir. Simon dan Carrel tertawa mendengarnya. Lelaki itu mengusp motor KLXnya dengan sayang. Rian tidak tahan untuk tidak tertawa. Lelaki itu masih tidak bisa menahan tawanya jika Agung sudah berulah. "Eh, udah pada datang. Abang, Adek, ajakin masuk dong! Ayo, masuk. Anggap rumah sendiri aja, ya," ujar seorang wanita yang barus aja keluar dari pintu besar di atas sana. Semua teman-teman Rian maupun Gen langsung diam emmebku melihatnya. Sedangkan si kembar serentak mengangguk dan tersenyum kecil. "Itu Mama lo?" Tanya Viona dan Carrel dengan tatapan tak percaya. Keduanya merasa takjub melihat seorang wnaita yang sudah melahirkan 2 anak tapi masih terlihat sangat cantik. belum lagi bentuk tubuhnya yang sangat-sangat keren. "Iyalah! Dikira kembaran mereka lagi kali," celetuk Simon yang sedang mengunci mobilnya. Sontak semua tertawa mendengar lelucon Simon. Lelaki yang sedikit kasar itu melirik Gean yang kini terlihat menatapnya tajam. Apa yang Simon katakan tidak salah, kan? Kenapa juga lelaki itu harus menatapnya dnegan tajam? "Gila! Cantik banget anjir! Mana ukhti-ukhti gitu lagi!" Puji Carrel dengan tulus. Lelaki itu menggelengkan kepalanya. Masih merasa takjub melihat mahakarya Tuhan yang tidak ada duanya. Pantas saja Gean dan Rian sangat tampan. Gen mereka saja tidak kaleng-keleng bentukannya. "Iya bener. Kayanya semua yang ada di rumah lo buat gua insecure, Yan," tambah Viona pada Gean yang hanya membalas dengan kedikan bahu. Lelaki itu terlihat acuh dengan apa yang dikatakan oleh Viona maupun para temannya. Ia sendiri memang mengakui jika Mamanya cantik, tapi memuji terang-terangan begitu juga rasanya terlalu lebay. Apalagi jika sampai Papanya mendengar hal itu. Sudah pasti mata Papanya akan sangat tajam. Semuanya masuk ke dalam rumah si kembar dengan sesekali candaan yang terlontar dari bibir Agung maupun Simon. Ini memang bukan pertama kali Gean bertemu dengan teman-teman Rian. Begitupun si sulung. Keduanya sama-sama sudah mengetahui teman masing-masing. Hanya saja mereka sekedar 'tahu' tidak benar-benar mengetahui bagaimana sifat, jenis, cara berbicara dan sebagainya. Tapi hari ini sepertinya mereka akan tahu. Terlihat dari bagaimana kedekatan Simon dan juga Agung, sepertinya mereka tidak akan sulit dekat denga para temannya. "Abang! Adek! Sini sebentar!" Panggil Riana pada anak-anaknya. Kedua anak kembar itu lantas berpamitan sebentar menemui sang mama yang diangguki teman-temannya. Tak lama dari kepergian si kembar, para asisten rumah tangga yang sepertinya baru dipanggil kembali oleh Riana, menghidangkan minuman dan cemilan. Agung dan yang lainnya memilih duduk lesehan di bawah. Sedangkan teman-teman Gean duduk di atas sofa seraya mengeluarkan laptop. Tujuan Gean memang untuk mengerjakan tugas. Sedangkan Rian mengajak teman-temannya hanya untuk bermain. Kebetulan lelaki itu juga berniat membuat lagu di atas. "Kenapa, Ma?" Tanya Rian dan Gean bersamaan. Keduanya menatap Riana yang sedang menyiapkan makan siang. Bau harum masakan menyeruak masuk ke dalam hidung mereka. Makanan kesukaan mereka sepertinya sedang disiapkan. "Kalau mau ke lantai atas, jam dua-an gak papa, kan? Soalnya Mama baru inget. Belum diberesin juga bekas teman-teman Papa tadi," ujar Riana seraya menatap Rian yang kini terlihat biasa saja. Berbeda dengan Gean yang terlihat datar dan tidak ingin mengatakan apapun. "Iya, Ma. Santai aja," jawab Rian tenang. Begitupun Gean yang mengangguk. Kedua lelaki itu mendekati sang mama yang sibuk mengaduk sup di panci besar. "Mama buat apa?" Tanya Gean seraya memeluk Riana dari belakang. Lelaki itu menatap wajah Mamanya yang tampak sibuk. "Tomyam. Sisa udang kemaren banyak, ya udah Mama buat tomyam. Gak ada yang alergi, kan?" Riana menolehkan kepala ke belakang. Gean langsung melepaskan pelukannya dan menatap Kakak kembarnya dengan halis terangkat. "Temen Rian sih semua masuk," ujar Rian seraya mencomot paham ayam yang ada di atas saringan. Sedangkan Gean tampak berfikir keras. "Kayanya temen Gean juga," jawabnya seraya membuka mulutnya agar Rian membagi paha ayam itu padanya. Berdecak sesaat, Rian langsung memberikan paha ayam itu pada Gean dan menariknya lagi saat lelaki di sampingnya itu sudah menggigitnya cukup besar. "Alhamdulillah kalau gitu. Ya udah sana, temenin lagi. Jangan suka gitu kalau ada temen," ujar Riana dan menunjuk para teman anaknya yang kini tengah asyik bercanda di rumah tengah. "Iya, Ma." Keduanya serentak mengecup pipi Riana dan berlalu pergi. Kembali ke tempat para temannya tengah menikmati makanan dan bermain game. "Kayanya ngerjain tugasnya entaran aja. Jam 2an. Gak masalah, kan?" Tanya Rian bermaksud membantu Gean yang baru akan bicara. Sebab lelaki itu pasti bicara sangat singkat. Dan mungkin saja nanti akan menimbulkan masalah karena para temannya tidak mengerti dengan apa yang Gean katakan. Jadi, dari pada mengulang ucapan dua kali, lebih baik ia mengatakannya sekarang, kan? "Santai aja. Oh ya, ini bolu buatan siapa? Enak banget, asli. Apa beli?" Tanya Sebastian seraya mengangkat cheese cake yang ia makan sedari tadi. Lelaki itu lalu melahap lagi kue yang ia pegang dan menutup matanya lebay kala ia mengunyah kue itu di dalam mulutnya. "Kagak tau," jawab Gean acuh. Toh memang ia tidak tahu dari mana cheese cake itu berasal. Sebab ia dan Rian jarang memakan kue manis. Kalaupun ingin, mereka akan membeli sendiri dan menghabiskannya sendiri. Pertama jelas karena tidak ingin membuat sang mama kelelahan. Sebab, jika ibu dari dua anak itu sudah mendengar apa yang anak-anaknya inginkan, Riana pasti akan langsung membuatnya dan bereksperimen. Yang nantinya akan berakibat fatal bagi kesehatannya karea terlalu lelah bekerja. Kedua, karena di keluarganya memang jarang makan makanan manis. Kalaupun ada, pasti Papanya dapat dari teman atau kerabat dekat yang datang berkunjung. "Main sini, Yan! Seru bat dah ini permainannya. Kok lo kagak bilang punya game ini?" Ujar Akbar dengan semangat. Lelaki itu besar itu tampak heboh dengan apa yang dimainkannya. Belum lagi badannya ikut bergerak seiring dengan permainan yang ia mainkan. "Eh, iya. Ini tadi gua beli mie samyang, gimana kalau kita main game apa gitu.. terus yang kalah makan mie ini sampe abis," tantang Viona seraya mengeluarkan empat pack mie yang terkenal pedas itu dari tasnya. Tak lupa gadis itu juga mengeluarkan satu pack kartu uno. "Anjir, niat dia mau buat orang mencret!" Ujar Agung saat melihat Viona sibuk mengeluarkan ini dan itu. Lelaki itu memang sudah biasa tidak menyaring ucapannya kala berbicara dengan orang. Sekalipun mereka tidak begitu dikenal. Keturunan betawinya begitu kental di dalam darah Agung. "Yuk, cepetan! Kocok aja dulu kartunya. Gua mau numpang masak mienya ya, Yan!" Tanpa menunggu jawaban, Viona sudah pergi ke dapur. Gadis itu bangkit dan mengangkat mie di meja untuk ia bawa ke dapur. "Gua bantu," ujar Fera pendek dan pergi. Angel yang notabenenya menjadi perempuan satu-satunya langsung berdiri dan mengikuti Fera juga Viona ke dapur. Membuat mie sebagai bahan kekalahan. Sedangkan para lelaki sibuk membereskan makanan ke bawah meja dan mulai mengosongkan meja agar permainan lebih leluasa. Agung yang sudah selesai membereskan stick game dan mematikan layar televisi di depan sana ikut duduk berhadapan dengan Rian. "Tuh, kocok kartunya. Gua mau ambil kursi dulu,” titah Rian seraya bangkit guna mengambil kursi lain untuk para temannya. "Udahlah, Yan. Gak usah ambil kursi. Duduk di bawah aja. Gak akan buat p****t lo gatel-gatel juga," ujar Agung seraya duduk dengan nyaman. "Ya, seenggaknya itu belum di bersihin," ujar Rian tidak enak. "Santai aja sih." "Iya. Rumah lo belum diberesin aja sekinclong ini. Apalagi kalau udah dibersihin kali," kelakar Akbar yang berhasil membuat teman-temannya terkekeh kecil. "Iya. Santai aja, Yan." Rian menggaruk tengkuknya sebelum akhirnya ikut duduk. Gean yang awalnya mau membawa kursi tambahan kembali duduk di tempatnya. Lelaki itu memang awalnya berinisiatif sama dengan Rian. Hanya saja lelaki Itu tidak banyak bicara dan langsung bertindak. "Udah dikocok?" Tanya Viona yang datang membawa satu keranjang penuh berisikan buah. "Udah. Lagi dibagiin juga sama Marcel," jawab Akbar yang senantiasa mengambil keranjang buah itu. "Oke. Mienya juga bentar lagi mateng." "Eh, lo masaknya gimana? Cepet banget?" "Kan pake air anget masaknya. Jadi mendidihnya cepet," jawab Viona seraya tertawa dan kembali ke dapur. Sedangkan para lelaki hanya bisa menggelengkan kepala. "Eh, yang ceweknya kartunya buka aja. Jadi kita bisa tahu isinya apa aja," kata Sebastian dengan tenangnya. Otak licik lelaki itu langsung bekerja begitu melihat Viona dan yang lain masih sibuk di dapur. "Astagfirullah, berdosa banget Anda," ucap Agung dengan tangan yang mengelus d**a. Merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Sebastian. Matanya memejam seraya menggelengkan kepala. Membuat yang lain merasa jijik dengan apa yang Agung lakukan. "Jijik banget, Gung!" Agung tertawa sendiri. Lelaki itu mengambil kartu bagiannya dan membukanya sebentar. "Mama lo kenapa langsung ke dapur, sih? Padahal kita mau salim dulu. Biar disebut anak pinter. Taat sama agama juga," celetuk Agung. Lelaki itu mengatur kartunya agar mudah dimainkan. Menyimpan angka yang sama dengan teratur seraya menatap ke arah Rian sesekali. "Gak tau. Bentar lagi juga Mama ke sini. Ntar salimnya waktu ke sini aja." "Iya. Bener, sih. Padahal belum tentu juga lo salim," jawab Akbar. "Yee.. suka suudzon si Abang." Simon dan yang lain hanya bisa tertawa mendengarkan pertengkaran kedua manusia itu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD