"Sendiri aja, Neng. Abang temenin mau?" Goda Agung seraya menyugar rambutnya ke belakang. Tidak seperti perempuan lain yang mungkin akan marah atau menanggapi lelucon Agung, Fera malah terkesan acuh seraya mengulurkan satu permen karet dari sakunya. Tidak berminat untuk mengikuti alur candaan kedua temannya yang memang selalu bisa membangun rasa geli untuk tertawa. Beruntungnya Fera sudah kebal dan tidak perlu lagi tertawa atau ikut menjawab.
"Rasa apa?" Tanya Rian ketika ia juga menerima permen karet tersebut. Tangan lelaki itu mengambil perme karet yang Fera sodorkan padanya. Sudah biasa dengan kebiasaan Fera yang selalu membagi-bagi permen karet, Rian jadi tidak sungkan lagi untuk mengambilnya.
"Coba aja," titah Fera cuek. Tak lupa gadis itu melepaskan tas gitar dari tubuhnya dan memberikannya pada Akbar. Yang tentu saja langsung diambil dan dipakai oleh Akbar. Lelaki berbadan besar itu mengantikkan Fera membawa gitar kebanggan gadis itu. Menggendongnya di bahu, Akbar melirik ke arah Rian seraya mengambil permen yang juga Fera berikan untuknya.
"Katanya lo ada di kelas," ujar Rian seraya kembali berjalan dan mencoba menebak rasa permen karet yang ia makan. "Rasa stroberi?"
"Bukan."
"Rasa anggur?"
"Salah."
"Terus rasa apa?"
"Rasa coco pandan," jawab Fera santai seraya membentu balon dari permen karetnya. Akbar langsung membuang permen karet yang ia kunyah sedari tadi.
"Pantes rasanya aneh!" Ujarnya seraya membersihkan lidahnya dari sisa permen yang ia makan. Rasa yang tidak pernah Abar rasakan sejak ia lahir sampai sebesar ini. lagipula, memangnya ada ya rasa coco pandan seperti yang Fera katakan?
"Haha.. pantes kaya rasa sirop pas lebaran," tawa Agung. Agung terbahak kencang saat melihat Akbar yang tampak tidak suka dengan permen yang Fera berikan. Awalnya Agung juga tidak begitu suka dengan rasa permen karet itu. Tapi semakin lama dikunyah, rasanya tidak terlalu buruk menurut Agung. Akbar saja yang terlalu pemilih.
"Fer, katanya lo tadi di kelas," ujar Rian mengulang kembali pertanyaannya. Fera menolehkan kepala dan mengangkat halisnya pada Rian. Gadis itu mengedikan bahunya kecil seraya menunjukkan barang yang ada di tangannya.
"Daripada pertanyaan itu, kayanya lo semua harus cepet ke kelas, deh. Dosen pagi ini tadi bilang sama gua untuk ambil laptop dan kelas dipercepat karena dia mau ada urusan dia juga lagi jalan ke kelas. Tadinya gua mau bilang pas lo semua manggil. Tapi baru inget lagi sekarang,” ujarnya santai dan kembali mengunyah permen karet itu dengan tenang. Tak lupa ia jadikan balon yang bisa sedikit menghiburnya. Rian, Akbar, Agung dan Marcel sontak membelalak terkejut dan terbatuk bersamaan karena permen karet yang tertelan tiba-tiba, sedangkan Akbar terbatuk karena lehernya baru saja dipukul Marcel.
"Kok lo gak bilang daritadi?!" Sentak Akbar tidak terima. Wajahnya berubah kesal.
Fera mengedikan bahunya dan memperlihatkan ponsel yang ia bawa pada teman-temannya. "Gua udah bilang di grup dua puluh menit yang lalu."
"Terus kenapa lo gak ikut lari?!" Tanya Agung seraya menyusul teman-temannya.
"Dosennya udah tahu ini gua ada di kelas tadi."
"FERA BANGS@!!"
***
Di lain tempat, Gean tengah tertidur santai. Padahal sudah jelas di depan sana seorang dosen tengah menjelaskan suatu pembelajaran. Tidak ada yang tahu jika ternyata lelaki itu tertidur. Sebab kacamata hitam yang dipakai Gean mampu mengelabui semuanya. Termasuk dosen di depan yang tidak melirik ke arah Gean sama sekali. Karena kebetulan Gean berada di jajaran tengah bersama dengan teman-temannya. Dan jajaran depan sedang diisi oleh anak-anak pintar dan penyimak ahli.
"Baik, mungkin sekian yang bisa saya jelaskan. Sisanya kalian cari dan tugas besok harus sudah ada di meja saya. Terima kasih. Selamat siang.."
"Siang, Pak!" Jawab mahasiswa serentak.
Gean yang terkejut dengan suara tinggi teman sekelasnya akhirnya terbangun. Lelaki itu melepas kacamata hitamnya dan melirik sekitar. Semuanya terlihat sedang merapikan buku-buku mereka. Menguap sekali, Gean menormalkan matanya yang terasa sedikit buram dengan menguceknya pelan.
"Udah beres, Mon?" Tanya Gean begitu Simon memakai tasnya seraya mengubah duduknya. Lelaki yang berada di samping Gean itu menghela napas pelan dan menggelengkan kepala seraya berdecak.
"Menurut lo?" Tanya Simon balik yang langsung membuat Gean memunculkan senyum kecilnya. Walau Gean tidak menyimak semuanya dan tidak mendengarkan apa yang dosen tadi jelaskan, lelaki itu tetap mengerti. Sebab, ia masih memiliki Simon dan juga teman-temannya yang lain untuk membantunya belajar nanti.
"Baguslah," jawab Gean santai. Mengambil buku di kolong dan kembali memasukkannya ke dalam tas, Gean lalu berdiri. Berencana langsung pulang karena sang mama sudah memasak. Dan lagi sudah tidak ada jamnya lagi. Ia selesai. Selesai tidur sepanjang kelas maksudnya.
"Sekarang jadi?" Tanya Simon seraya menatap Gean dengan mata berbinar. Entah kenapa, teman Gean yang satu ini sangat bahagia jika sudah mendengar akan keluar. Apalagi jika keluarnya berada di rumah Gean yang serba ada. Padahal di rumahnya juga serba ada. Terlebih Simon juga sering melakukan apapun sesuka hatinya tanpa ada bantahan.
"Iya." Gean mengangguk. Tangannya mulai mendial nomor telepon temannya satu persatu.
"Mentang-mentang banyak pulsa, jadi teleponin semua. Padahal bisa chat di grup aja," gumam Simon seraya menggelengkan kepala. Lelaki itu berjalan menaiki tangga guna keluar dari kelas lewat pintu atas. Tangannya mengecek sesekali ponselnya, berharap Gean menjadi pintar dengan menghubungi teman-temannya lewat grup chat saja. Tapi memang pada dasarnya Gean adalah anak terlampau pintar dan sangat bebal, Simon hanya bisa berharap jika lelaki itu akan menjadi pintar dalam sesaat.
Dug.
"Astaga!" Umpat Simon seraya menahan ponselnya yang akan jatuh ke bawah. Lelaki itu menghela napas lega melihat ponselnya yang aman dan tidak jadi jatuh dengan mengenaskna ke bawah sana. Mengelus d**a sekali, Simon mengecek ponselnya sebelum memandang perempuan di depannya dengan tatapan bingung.
"Eh, aduh, sorry Kak Simon. Kak Geannya ada?" Tanya seorang mahasiswi dengan baju basketnya. Perempuan yang Simon yakini adalah MABA itu kini terlihat panic dan butuh jawaban segera.
"Ada. Tuh, di sana. Kenapa?" Tunjuk Simon pada Gean yang berada tak jauh darinya.
"Itu.. Kak Angel udah teriak-teriak gak jelas nyari Kak Gean,” jawab gadis itu seraya mentap Simon dengan panic.
"Di mana?" Simon mengusap dadanya saat sosok tinggi besar berada di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan Gean. Lelaki ini memang suka sekali membuat orang terkejut. Menatap Gean dengan wajahnya yang kesal, Simon lalu melirik ke arah gadis tadi. Sepertinya aka nada perang baru yang dimulai.
"Di parkiran. Nanya ke semua orang, Gean ada di mana?" Ujar gadis itu lagi seraya memperagakan apa yang gadis itu mungkin lihat. Simon menahan tawanya mendengar adik tingkatnya memperagakan apa yang dilakukan Angel. Berbeda dengan Simon yang hampir tergelak, Gean malah menghela napas kesal. Bukan hal aneh lagi mendengar Angel selalu berbuat ulah karena mencari Gean. Dan bukan hal aneh lagi bagi Gean mendapatkan kabar seperti itu dari adik tingkat dan kakak tingkatnya. Tapi yang menjadi aneh adalah hubungan keduanya yang tidak lebih dari kata teman. Padahal rumor keduanya berpacaran bukan sesuatu yang buruk.
"Oke. Makasih." Gean segera pergi menuju parkiran. Dibelakangnya ada Simon yang tidak hentinya tertawa keras.
"Gean ada di mana?" Ujar Simon seraya berlagak seperti banci. Gean tidak memperdulikannya. Ia sudah kesal sejak tadi. Kenapa Angel tidak bisa merubah sikap, sih?! Apa perlu membuatnya emosi terus-menerus? Tidak tahu apa kondisi kesabarannya itu tidak sebanyak kondisi sabar Rian?
"Tuh! Di sana Kak," ucap seseorang dari kejauhan. Simon menengok sedikit dan menemukan sosok Angel yang kini tengah berlari menuju Gean.
Bruk.
"Kamu dari mana saja? Aku sejak tadi mencari tau.." rengek gadis itu seraya memeluk Gean tanpa malu. Bahasa baku yang Angel kenakan memang menjadi keseharian gadis itu. Tumbuh di luar negeri, Angel terbiasa menggunakan bahasa baku ketika berbicara dengan orang lain. Begitupun dengan temannya. Sekalipun diajarkan, gadis itu selalu terlihat kebingungan dan mengganti kata sesukannya. Alhasil, teman-teman gadis itu membiarkannya saja.
"Lepas, Angel," desis Gean tidak suka. Bukannya melepaskan pelukan, gadis itu malah mempereratnya dan mendongkak. Melihat Gean dari bawah.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Lo gak diajak," ancam Gean penuh penekanan. Matanya menatap dingin Angel yang kini langsung memberenggut kecil dan melepaskan pelukannya sedikit demi sedikit.
Simon mengangguk. "Iya bener. Gak usah diajak aja, Yan!"
"Ihh, masa gitu? Angel ingin bertemu dengan Tante Riana, tahu!" Gerutunya yang langsung membuat Simon berdecih kesal.
"Ya udah. Lepas." Angel memberenggut seraya memajukkan bibir bawahnya. Gadis itu lalu menempatkan diri di samping Gean seraya merangkul lengan lelaki itu. Tidak mau jauh dengan Gean. Kan yang lelaki itu tadi bilang hanya melepas pelukan biasa. Bukan melarangnya untuk tidak memeluk lengannya, kan?
"Angel.." desis Gean menajam. Angel mengedikan bahunya enggan. Pupul gelapnya menatap Gean dengan wajah manis yang memang sudah ia dapatkan sejak lahir.
"Tadi Angel peluk tidak boleh. Ya, ini harusnya boleh, kan?" Tanyanya seaya tersenyum miring. Gean hanya bisa menghela napas. Tidak mau berdebat semakin panjang atau nanti seluruh universitas kembali gempar oleh beritanya dan juga Angel.
"Lo sama Simon," putus Gean tiba-tiba. Angel langsung menatap lelaki di sampingnya itu dengan tatapan kesal.
"Tidak mau!" Tolaknya seraya menggelengkan kepala.
"Lo sama Simon, Angel."
"Ish! Tidak mau! Angel mau sama Gean!"
"Stop it, b***h!" Desis Gean dengan nada dinginnya. Angel tidak merasa sakit hati ataupun kecewa. Gadis itu sudah biasa mendengar u*****n Gean yang memakinya diluar batas. Bukannya tidak mengerti, Angel hanya merasakan kebahagiaan saat Gean memarahinya atau berkata kasar. Setidaknya sifat asli Gean bisa keluar di hadapan Angel. Dan Angel merasa bahagia akan hal itu.
Di saat orang luar merasa Gean adalah sosok yang sempurna dengan segala pencapaian dan kenalakannya, Angel malah merasa lelaki ini perlu diperbaiki. Dari segi sifat maupun perlakuan. Orang lain selalu merasa Gean adalah sosok yang setia, baik, ramah, walau berwujud dingin dan tidak pernah berkata banyak. Tapi kenyataanya, sosok Gean di luar adalah sifat aslinya. Pemaki, pencaci, pembully, selalu seenaknya, tidak suka diatur, manja, sering melakukan hal yang tidak baik, keras kepala, pembenci hewan dan penatap tajam adalah sosok Gean yang sebenarnya. Angel tahu itu semua setelah dua tahun dekat dengan lelaki itu. Tidak mudah memang mendekati Gean, apalagi Gean tidak suka wanita manja.
"Angel mau sama Gean," putus Angel seakan tidak mendengar u*****n kasar Gean tadi.
"Terserah!" Kan? Gean akhirnya akan menyerah juga. Jadi biarkan Gean dengan umpatannya. Toh, itu hanya sekedar u*****n. Angel masih menerimanya. Kecuali jika Gean benar-benar memperlakukannya seperti w************n.
"Lho? Motor Gean di mana?" Tanya Angel ketika melihat jajaran motor di parkiran. Tidak ada plat nomor motor Gean maupun jenis motor lelaki itu.
"Lo mau ikut gue, kan?" Tanya Gean dengan senyum miringnya. Yang jelas langsung membuat Angel menelan salivanya takut. Merasa ada yang tidak beres akan terjadi sebentar lagi.
"Iya."
"Naik bus."
"Eh?"
Gean tersenyum miring. "Kenapa? Gak mau kan lo?" Tanya Gean seraya menatap Angel yang tengah kebingunan. Jelas sekali Angel tidak akan ikut dengannya. Sebab Angel paling takut dengan bus. Apalagi gadis itu memiliki pengalaman buruk ketika naik bus. Ditambah sekarang gadis itu memakai kemeja putih dengan rok prisket di atas lutut berwarna pink.
"Mon," panggil Gean pada Simon yang baru memasuki mobil lelaki itu. Kaca mobil Simon terbuka. Wajah lelaki itu terlihat.
"Kenapa?"
"Angkut," titan Gean bermaksud agar Simon membawa serta Angel ke mobilnya. Tentu saja Simon langsung mengacungkan ibu jarinya. Toh, mobilnya masih kosong. Hanya terdapat teman-temannya di belakang.
"Tapi.."
Gean tidak banyak bicara dan hanya menatap Angel yang semakin bimbang. Matanya menghunus tajam mata Angel yang semakin tidak bisa memilih. Ia ingin bersama dengan Gean, tapi di sisi lain, ia juga tidak mau naik bus. Ia terlalu takut hanya untuk menginjakkan kakinya di kendaraan dengan volume besar itu.
"Iya! Angel sama Simon!" Gean tersenyum penuh kemenangan dan membiarkan Angel masuk ke dalam mobil Simon dan pergi. Sedangkan dirinya langsung menemui Rian yang sudah menunggu di depan gerbang.
Seperti biasa, Rian datang menggunakan hoodie berwarna hitam dengan helm dan juga celana jeans. Sepertinya Rian menggunakan hoodie milik temannya. Dilihat dari bentuk dan gambat hoodie yang Rian pakai, bukan gambar kesukaan Rian. Dan lagi, Rian tidak memiliki hoodie sepanjang itu. Motor matic merah yang dipakai Rian benar-benar menarik perhatian semua orang. Seorang Gean yang biasanya terlihat modis dan penuh gaya kini menaiki motor matic berwarna merah? Dan dibonceng?
"Kenapa lo gak ikut sama temen lo? Gua kan jadi gak usah ikut," celetuk Rian kesal.
"Enak di lo," jawab Gean singkat dan mengambil helm yang Rian sodorkan. Mendengar jawaban Gean, Rian langsung membulatkan mata dan menggeplak kepala kembarannya.
"Emang gak ada akhlak!"