Paginya, berjalan seperti biasa. Di mana Riana harus berteriak seraya memencet tombol di dinding untuk membangunkan anak-anaknya. Tak lupa ibu dua anak itu juga sibuk mengurus sarapan untuk keluarga kecilnya. Karena pagi hari asisten rumah tangga tidak bertugas di dapur, membuatnya harus turun tangan. Dengan baju yang sudah rapi, Riana berdecak dan menekan tombol di samping nya.
"RIGEAN!! RIAN!! GEANN!! BANGUN!" Teriaknya keras. Ia menghela napas karena anak-anaknya belum juga memberi balasan. Padahal makanan sudah siap di meja makan. Kenapa sangat sulit membangunkan dua bocah itu sih?!
"Rigean!!"
Hap.
"Allahuakbar!" Pekik Riana setelah meneriakan nama anak kembarnya secara bersamaan.
"Mama jangan teriak terus. Kita udah di sini," ujar si sulung dengan suara lembutnya.
"Benar. Tenggorokan Mama bisa sakit," tambah si bungsu dengan tajam. Riana melepaskan pelukan si kembar padanya dan berbalik badan. Tangannya yang semula memegang piring kosong kini mulai bersedekap. Awalnya ia akan memarahi semuanya, termasuk suaminya yang baru saja turun ke bawah. Tapi penampilan ketiganya membuat Riana terpana. Ketiganya sama-sama memakai baju koko putih dengan sarung batik. Rambut yang masih sedikit basah dengan wajah yang bersinar. Riana hanya mampu menghela napas. Tangannya yang berminyak terangkat guna mencubit pipi kedua anaknya.
"Ceritanya mau ngerjain Mama, hm?" Rian dan Gean tertawa singkat. Mereka baru saja selesai sholat subuh yang dipimpin langsung sang ayah. Tapi karena Riana sedang tidak sholat, jadi wanita itu tidak ikut tadi pagi. Dan lagi, Riana melupakan hal itu.
"Gak," jawab Gean singkat.
"Terus?"
"Mamanya aja kali yang lupa. Kan emang biasanya jam segini kita ke atas buat sholat. Mentang-mentang lagi gak sholat, Mama jadi lupain kita," jawab Rian panjang.
Riana tertawa. Ia lalu menggelengkan kepalanya pelan sebelum menyuruh kedua anaknya untuk segera duduk di kursinya masing-masing. Dengan telaten, wanita itu mengisi nasi serta lauk-pauk di atas piring ketiga lelaki di meja makan itu. Mulai dari menuangkan nasi, lalu sayur, sampai pada lauknya. Kebiasaanya sejak menjadi seorang ibu.
"Mama mending diem aja. Biar Rian sama Gean yang siapin semuanya."
"Iya, Ma." Riana tidak menjawab dan malah duduk tenang di kursinya seraya membalikkan piring. Baru akan mengambil makanan untuknya, ia sudah ditahan oleh kedua anaknya. Bahunya dipegang Rian yang mana lelaki itu menggeleng dan menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Riana. Lalu piring kosongnya raib diambil Gean. Anak bungsunya itu sibuk memasukkan makanan yang tersaji di meja ke atas piring mamanya. Setelah dirasa pas, piring itu kembali ke meja. Riana juga sudah tidak ditahan oleh Rian. Senyum Riana terbit. Kedua anaknya memang tidak terlalu terlihat penurut, tapi cukup membuat Riana bangga.
"Sekarang, ayo makan!" Seru Rian semangat.
Gean mengangguk setuju. "Ayo!!"
Prang.
"Doa dulu," desis Geo tajam setelah menepak kedua tangan anaknya yang berakhir menjatuhkan sendok di tangan mereka. Rian dan Gean sontak mendengkus bersamaan. Mata mereka menatap tak suka sang papa yang dengan santainya mengangkat tangan seraya berdehem kencang. Riana tertawa kecil. Ini juga salah satu kebiasaannya yang tidka pernah bisa ntuk tidak tertawa melihat kelakuan kedua anaknya dengan sang suami. Ketiga lelaki yang selalu bisa membuatnya tertawa dan juga tersenyum di pagi hari. Hal yang tidak pernah Riana syukuri setiap harinya.
"Iya. Doa dulu," ingat Riana. Wanita itu menatap kedua anaknya dengan senyuman. Membuat si kembar akhirnya mengangguk dan mengangkat tangannya.
“Abang yang pimpin,” titah si bungsu dan memejamkan matanya khusyuk.
“Gua udah waktu makan malem. Sekarang giliran lo!”
“Mana ada. Gua juga udah waktu makan siang.”
“Ya sekarang kan emang bagian lo!”
Riana menarik napas panjang. “Papa yang pimpin doanya!” Putusnya yang langsung membuat si kembar diam dan tertawa. Sedangkan Geo yang berada di seberang Gean hanya bisa menghela napas. Tidak bisa membantah jika istrinya sudah memutuskan. Setelah berdoa, kedua lelaki dengan wajah sama itu makan dengan sangat lahap. Menghabiskan satu piring sarapan serta segelas s**u putih untuk Rian dan segelas s**u coklat untuk Gean.
"Oh ya, Dek. Temen-temen kamu mau ke sini, kan?" Tanya Riana pada Gean.
"Iya."
"Kapan?" Kali ini Geolah yang bertanya. Rian mengangguk tanda ia juga bertanya hal yang sama. Gean yang sibuk mengelap bibirnya dengan tisu itu hanya mampu mengangguk kecil.
"Ditanya kapan malah ngangguk-ngangguk gak jelas!" Sungut Rian.
"Sabar, dong!" Riana yang sudah terbiasa melihat perdebatan kedua anaknya itu hanya bisa tertawa. Memang tidak komplit rasanya jika tidak ada ribut yang terselip di antara si kembar. Padahal baru beberapa menit tadi mereka meributkan hal yang tidak penting.
"Abang, Abang.. kayanya kalau orang luar liat Abang yang marah-marah gini, pasti gak pada percaya," ujar Riana masih dengan tawanya. Wanita itu menatap anak sulungnya yang kini menyengir kecil seraya menyuapkan satu sendok sarapannya.
"Iya, Ma. Dia emang jaga image mulu depan orang," tambah Gean dendam.
"Lo juga sama aja! Di luar sok-sokan dingin, ngomong singkat, tapi kalau di rumah kaya petasan sunatan! Teriak-teriak gak ada abisnya," balas Rian tak mau kalah. Mata lelaki itu menatap adiknya dengan tajam.
"Siapa?" Tanya Gean tak terima. Gean ikut menatap Rian dengan mata dinginnya.
"Ya lo, lah! Siapa lagi? Di sini gak ada tuh yang ngerasa jadi cold prince," ejek Rian semakin bersemangat. Bibirnya sengaja dibuat maju untuk membuat adiknya itu kesal. melihat Gean yang kesal di pagi hari sepertinya menyenangkan dan lagi melihat lelaki itu yang marah karena sebutan yang baru saja ia katakan, sekana menambah rasa bahagia Rian.
"Apa lo bilang?!"
"Col prinsss..."
"Sini gak lo!"
"Hey! Papa nanya malah jadi panjang!" Hentak Geo dengan nada tajamnya. Gean dan Rian langsung diam seketika. Sedangkan Riana hanya mampu tertawa. Entah di mana bagian leluconnya dalam peristiwa tadi. Geo saja sudah merasa jadi tua karena berhadapan dengan dua anak ini. Kelakuan anaknya yang seperti ini sangat menggemaskan menurut Riana. Apalagi ketika keduanya sama-sama memiliki sifat kerasa kepala seperti suaminya. Riana sebenarnya bisa saja menghentikan perdeatan anak-anaknya. Tapi, melihat Geo yang tampak kesal, Riana memilih diam dan membiarkan suaminya saja yang menghentikan semuanya.
"Dia duluan," ujar Rian dengan nada pelan. Kepalanya masih menunduk.
"Enak aja! Orang Mama duluan yang mancing!" Balas Gean keras. Berbeda dengan sang kakak yang tampak takut, Gean malah mendongkak dan menatap sebal Papa dan juga kembarannya.
"Kalian minta Papa bawa ke gudang?" Tanya Geo dingin. Rian langsung menyengir dan menunjukkan tangannya tanda ia menyerah. Begitupun Gean yang langsung menunduk takut. Keduanya masih sama seperti dulu. Takut jika Geo sudah membawa-bawa nama gudang dan juga mengeluarkan nada dinginnya. Sebab pria itu tidak akan main-main dengan apa yang dikatakannya.
"Kapan pada ke sininya, Dek?" Tanya Riana kembali ke topik.
"Kayanya abis pulang kuliah."
"Kalian ada kelas pagi?" Tanya Geo yang diangguki keduanya secara bersamaan.
For your information, keduanya berbeda kampus dan jurusan. Itu adalah pilihan keduanya. Mereka bilang, mereka tak mau selalu berada di dalam lingkungan yang sama. Sudah cukup sejak dimasukkan ke playgroup sampai SMA, mereka satu sekolah. Untuk masa depan keduanya ingin melangkah sendiri-sendiri. Sama halnya dengan kepribadian, keduanya masuk ke universitas sesuai kemampuan. Rian yang berkuliah di Universitas negeri terkenal, dan Gean berkuliah di Universitas swasta terpencil. Mereka mengambil itu semua karena kenyamanan tersendiri.
Rian menyukai persaingan. Apalagi persaingan nilai dan kedudukan. Lelaki itu bahkan masih menggunakan beasiswa dari pertama masuk sampai sekarang. Tidak pernah sekalipun kedua orang tuanya memberi uang untuk biaya kuliah. Kalaupun mendesak, Rian akan memakai uang hasil lomba. Bahkan tak jarang lelaki itu memberi hasil kemenangannya pada Riana berupa hadiah.
Dan seperti pada umumnya, Gean adalah si pembuat masalah. Jangankan beasiswa, Gean adalah mahasiswa yang daftar melalui jalur mandiri. Segalanya serba mandiri. Bahkan uang kuliah pun dibayar mandiri menggunakan uang orang tuanya. Bukannya tidak sepintar Rian, hanya saja lelaki itu pernah berkeinginan tidak berkuliah dan memilih pergi ke Swedia, merawat Neneknya. Tapi itu ditolak keras oleh Geo dan juga Kakeknya. Sampai akhirnya Gean mau tak mau berkuliah dengan keadaan terpaksa. Maka dari itu lelaki berumur dua puluh tahun itu tidak pernah serius dalam berkuliah.
"Berangkatnya sendiri-sendiri?"
"Nggak, Pa," jawab Rian. Lelaki itu menghabiskan s**u di gelasnya seraya menggelengkan kepala.
"Kok? Tumben. Gean bareng teman? Atau kamu yang bareng teman?" Geo mengernyitkan keningnya. Pria itu menatap bingung Gean yang mulai berubah. Lelaki yang menjadi anak keduanya itu langsung bergerak gelisah.
"Gean bareng Rian. Motornya masih di bengkel."
"Oh.. HA?! Masih di bengkel?!"
Mampus! Ceramah panjang…
***
Tepat jam 8, Rian sampai di kampusnya. Ia memarkirkan motor maticnya di jajaran parkir motor. Matanya menatap sekeliling sebelum membuka helm. Setelahnya ia turun dari motor dan memangku tas gendongnya. Tak lupa kunci motor Rian ambil dari lubangnya. Lelaki itu berjalan menuju kelasnya. Yang mungkin akan dimulai sekitar dua puluh menit lagi. Baru beberapa langkah ia berjalan, teman-temannya sudah menghadang. Tentu saja menanyakan tugas yang beberapa hari lalu diberi. Rian? Jelas saja dengan baiknya memberikan jawaban dengan catatan, jam makan siang ada di tangan para temannya.
"Sumpah, lo asik parah!"
"Iyalah! Sesama manusia itu harus saling berbagi dan mengerti. Ya gak, Bar?" Ujar Rian seraya terkekeh pelan. Lelaki yang tengah merangkulnya itu tertawa dan mengangguk semangat. Tubuhnya yang tinggi besar membuat Rian tenggelam. Meskipun tinggi Rian mencapai 186 cm, tetap saja ia tenggelam ketika Akbar merangkulnya.
"Tapi, tumben lo datengnya agak telat? Fera nanyain lo terus tuh! Mau bagi jatah katanya," ucap Marcel. Lelaki yang memakai kacamata minus itu menutup buku yang sedari tadi ia baca.
"Anter Gean dulu," jawab Rian seadanya. "Oh ya, Gean minta kalian ke rumah juga. Temen-temannya bakal datang ke rumah. Sekalian menuhin rumah."
"Anjir! Sombong banget lo, Yan!"
"Bukan sombong, hanya menunjukkan kepunyaan." Rian tertawa kala Akbar ikut menjawab. Lelaki itu tampaknya masih anteng merangkul Rian. Keempatnya masuk ke dalam gedung fakultas. Semua orang tentu saja langsung menatap keempatnya.
Rian dengan wajah tampan dan manisnya. Akbar dengan tubuh besar dan tangguhnya. Marcel dengan wajah kalem dan tenangnya. Serta si pembuat ribut, Agung dengan wajah tengilnya. Semuanya menarik perhatian. Apalagi ketika Akbar yang memimpin. Sudah seperti sebuah geng yang memasuki wilayahnya sendiri. Tidak aneh memang bagi keempatnya, namun bagi seseorang yang kini tengah membawa laptop seraya mengunyah permen karet, itu adalah sebuah hal yang risihnya tiada tara.
"Fer!" Panggil Akbar dengan suara beratnya. Fera, gadis dengan baju kodok berbahan jeans itu tidak langsung menoleh. Melainkan berhenti dan menunggu ke empatnya menghampiri. Di belakang punggung perempuan itu ada gitar yang ia gendong lengkap dengan tas hitamnya.
"Sendiri aja, Neng. Abang temenin mau gak?"