"Eja ikut!" Pekik anak kecil yang ada di pangkuan Gean. Anak lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah adik Ciama itu ikut memekik heboh. Sedangkan sang kakak Ciama langsung mencebik kesal.
"Gak boleh! Kakak mau bawa temen!" Bentak Ciama tidak suka.
"Gak mau! Eja harus ikut!" Keukeuh anak kecil itu.
"Gak boleh!" Ciama menatap Reza dengan kesal. Matanya ikut menatap tajam pada Rian.
"Mau ikut!" Reza menatap orang tuanya dengan tatapan memelas. Tak lupa anak itu juga melihat Rian, meminta perlindungan pada sepupunya itu agar ia bisa ikut. Rian tertawa melihatnya.
"Gak papa dong, Reza ikut. Emang kenapa?" Ujar Rian denga lembut. Ciama berdecak kesal. gadis itu menggoyangkan badannya merasa tidak bisa menolak permintaan Rian namun enggan mengajak Reza bersama.
"Ish! Nanti suka ganggu Ciama sama temen Ciama!" Adu Ciama seraya menatap adiknya dengan tajam. Sedangkan yang saat ini sedang ditatap tajam malah memeletkan lidahnya, meledek.
"Gak akan," ujar Gean yang sedari tadi diam. "Gean juga ikut."
"Eh, beneran? Abang Gean gak papa? Emang gak banyak tugas?" Tanya Ciama beruntun. Gadis itu menatap berbinar pada Gean yang tidak memiliki reaksi apapun di wajahnya.
"Gean ditanya ada tugas apa nggak, kalau Abang nggak," rajuk Rian. Ciama terkekeh. Gadis itu lalu duduk di sebelah Rian dan menatap Kakak sepupunya dengan jahil.
"Abisnya Abang kaya gak pernah pusing sama tugas. Gak kaya Bang Gean, kalau gak mau ikut pasti alesannya tugas," jawab Ciama jujur. Rian semakin keras tertawa. Sedangkan Gean mendelik tak suka. Apa yang dikatakan Ciama memang benar adanya. Seperti saat mereka pergi ke pantai tahun lalu dan Gean enggan ikut. Maka lelaki itu akan menjadikan kata tugas sebagai alasan yang paling masuk. Padahal kenyataanya lelaki itu hanya diam di kamar dan bermain game bersama dengan teman-temannya yang sengaja ia bawa.
Gean mendengkus kala melihat orang tuanya juga ikut tertawa. Ciama dan Rian memang satu server dalam menistakannya.
"Iya, bener. Kadang Tante juga kalau ngajak ketemu sama temen, suka gak mau. Alesannya pasti banyak tugas," gerutu Riana, Mama Gean setuju.
"Gean gak gitu, Ma."
"Masa? Kemaren aja bilangnya gak mau nemenin Mama ambil gitar Abang karena banyak tugas buat minggu depan. Padahal buat minggu depan ini." Gean sudah menyerah jika Mamanya dan yang lain bersekongkol. Apalagi Rian yang tertawa bahagia. Terasa seperti tidak ada artinya mendapatkan kemenangan di sparing tadi.
"Oh ya, uang sisa tadi mau buat apa?" Tanya Rian saat mengingat pembicaraannya sebelum naik ke atas panggung.
"Belikan sepatu baru." Rian mengangguk. Lelaki itu mengutak-atik ponselnya sebentar sebelum memberikannya pada Gean.
“Itu bentuk sepatu terbaru dan kayaknya cocok buat lo. Mau yang itu?" Tanya Rian. Gean melihat dengan seksama jenis sepatu yang Rian perlihatkan. Bentuknya memang cukup bagus. Tidak terlalu tinggi dan terlihat lebih cocok dipakai untuk orang yang sering berolahraga. Dan kalau dari detail produk, bahannya juga bukan bahan yang membuat panas kaki saat memakainya. Terutama ketika sedang berolahraga.
"Iya."
"Sisanya lagi?" Tanya Rian seraya mengambil ponselnya lagi. Memang sudah kesepatakan jika di antara mereka mendaratkan juara, mau tak mau setengah tabungan yang dimiliki harus diberi kepada pemenang. Dan kebetulan uang tabungan Rian cukup banyak, alhasil Gean mendapat banyak.
"Motor."
"Mau lo modif lagi? Ngapain sih? Itu udah bagus juga," seru Rian. Bukannya tidak mendukung keputusan Gean yang ingin merubah motornya lebih bagus, tapi itu cukup banyak mengeluarkan uang. Dan motor itu malah berakhir di bengkel bukan menjadi bagus seperti yang Gean inginkan. Padahal sudah jelas kalau Gean bukan terlahir dan lulus di bidang otomotif, tapi tetap saja menyukai rombak-merombak motor. Dan hasil akhirnya akan diberikan pada bengkel. Alias gagal.
"Lagi di bengkel."
"Hah? Di bengkel lagi?!" Pekik Rian syok.
"Kecilin suara lo!" Geram Gean. Sial! Sudah pasti Mamanya mendengar. Habis sudah nasib Gean.
"Apa yang di bengkel? Oh iya, Dek. Kok kamu pake motornya Abang?" Tanya sang mama serius. Semua orang yang tengah sibuk mengobrol itu langsung menoleh ke arah si kembar. Kalau sudah seperti ini, ingin rasanya Gean memaki Kakak kembarnya itu.
"Mama tahu dari siapa? Lo beneran pake motor gua?" Tanya Rian memastikan. Gean langsung mendelik pada Angel. Yang dibalas senyuman santai serta terangkatnya dua jari.
"Iya."
"Kok bisa di bengkel lagi? Kamu buat dia kaya gimana?" Tanya Riana kesal.
Gean memilih diam. Tidak akan ada akhirnya kalau dia ikut berkomentar dan menjelaskan semuanya. Mamanya pasti akan semakin marah. Karena wanita itu sudah mewanti-wantinya untuk tidak membuang uang percuma. Sekalipun ia memiliki banyak uang, Mamanya selalu meminta ia untuk menabungnya. Memang sih, kalau dipikir-pikir, ia terlalu boros daripada Rian. Dia selalu ingin melakukan ini itu tanpa memikirkan akhirnya. Sedangkan Rian lebih tenang dan tidak mudah tersulut. Lihat saja sebagai contohnya motor matic tadi.
Lelaki itu memilikinya sejak kelas 2 SMA dan tidak menggantinya sampai sekarang. Sedangkan ia sudah beberapa kali mengganti motornya. Mulai dari yang paling bagus, lalu paling cepat, lalu paling antik, dan paling-paling lainnya mengikuti zaman. Dan semua itu selalu berakhir di bengkel ketika ia berusaha memodifikasi. Dan akhirnya Papanya yang membenarkan semua motor itu dan disimpan di garasi. Menjadi koleksi atau kendaraan saat Rian akan pergi. Kenapa tidak Gean yang pakai? Jelas karena orang tuanya tidak mau menebus motor itu lagi di bengkel dan membetulkannya. Rian itu orangnya apik dan rapi. Sedangkan Gean memiliki watak gasrak dan begajulan. Barang rusak sama dengan sampah. Kalau tidak suka maka dibuang. Kalau sayang maka dijaga. Sesederhana itu pemikirannya. Tapi kadang malah membuat masalah baru.
"Udahlah, Mama udah pusing ngurusnya," putus Riana seraya menyesap teh di gelasnya.
"Iya, Tante. Gean emang susah dikasih tahu," kompor Simon, salah satu teman Gean yang juga satu klub basket plus satu tim.
"Diem lo!" Desis Gean. Simon yang melihatnya hanya bisa tertawa. Tidak di kampus, tidak di lapangan, tidak di cafe pasti ada saja masalah anak itu.
"Iya. Tante aja sampe pusing!"
"Ma.."
Angel tertawa pelan. Menghasilkan suara indah yang menerpa telinga seseorang. Sebenarnya itu tawa biasa. Hanya saja bagi mereka yang menyukai orang tertentu jelas terdengar sangat indah. Sama halnya dengan lelaki yang kini terperangah.
"Gara-gara lo!" Ujar Gean pada Angel tanpa suara. Angel hanya membalas dengan ledekan berupa juluran lidah.
"Eh itu siapa, Bang Gean?" Tanya Ciama pada Angel dan Simon yang duduk berhadapan di meja lain.
"Kamu belum mengenalkan aku pada mereka?" Tanya Angel dengan pelan. Tentu saja Gean tidak membalas ucapan perempuan itu. Ia sibuk menahan rasa geram dan marahnya saat ini. Apalagi melihat Mamanya yang masih marah padanya. Bukannya ia terlalu mempermasalahkan, hanya saja nanti makan malamnya akan dikurangi. Padahal Gean sedang membutuhkan masakan Mamanya.
"Aku Angel," ujar Angel saat Ciama menatapnya dengan halis kiri yang terangkat.
"Ciama," balas Ciama acuh. Angel tersenyum pelan mendengar jawaban Ciama. Bukankah anak itu bertanya tadi?
"Ciama, kan udah abang kasih tahu, jangan ketus sama orang lain. Minta maaf," titah Rian dalam. Ciama mendengkus.
"Ciama ngomong kaya biasa."
"Kaya biasa apanya? Tadi kamu ketus, Ciama.."
"Ish! Iya, iya. Ciama minta maaf, Kak," putus Ciama dengan nada sebal. Rian langsung mengangkat tangannya dan mengusap kepala gadis itu.
"Oh ya, aku dengar kalian akan pergi ke dufan? Boleh aku ikut?"
"Bo--"
"Nggak!" Ujar Gean dan Ciama bersamaan. Keduanya berhasil memotong ucapan Rian dan Reza. Berhasil. Angel langsung berdehem pelan dan mengangguk. Jarang-jarang wanita itu akan menurutkan? Memang sih, walau kadang Gean tidak suka pada Ciama tetap saja Ciama selalu mendukungnya di waktu-waktu tertentu. Mungkin karena Ciama termasuk perempuan galak? Maka dari itu masih bisa bersekongkol dengan Gean?
"Kok pada gak ngebolehin? Padahal seru kalau banyakan," ujar Reza dengan lesu.
"Bocah mana tau!" Balas Ciama.
Gean mengangguk semangat. "Iya."
"Abang dukung Ciama?" Tanya Ciama tak percaya melihat Gean yang mengangguk setuju seraya mengatakan ya.
"Kenapa? Tidak boleh?" Jawab Gean.
"Bukan gitu sih. Lebih ke.. males aja sekelompok sama Bang Gean."
"Lho kenapa Ciama?" Tanya Angel penasaran.
"Kepo banget." Gean dan Simon langsung tertawa melihat Angel yang mendengkus sebal.
***
"Lo suka Angel?"
Prang.
"Apa itu?!" Pekik Riana dari lantai bawah.
"b**o! Ceroboh banget sih?! Kenapa bisa pecah coba?!" Gerutu Gean. Lelaki itu langsung berlari menuju kamarnya dan membiakan sang kembaran dimarahi oleh Mama mereka. Ia tidak akan ikut campur. Sebab jika nanti Mamanya melihat ia dan Rian bersama di saat kejadian, sudah pasti ia juga akan menjadi sasaran amarah Mamanya. Setelah mendengar perdebatan Mamanya dan Rian selesai, barulah Gean kembali keluar. Tapi sebelum itu ia mengecek keadaan dengan memastikan apakah Mamanya ada di sekitar. Alarm kembali hijau. Mamanya tidak ada. Gean dengan santainya berjalan. Namun baru dua langkah, telinganya sudah ditarik oleh sang papa.
"Ngapain ngumpet?" Tanya Geo dengan tatapan tajamnya.
"Itu.. aku mau ambil buku."
"Buku kamu masih di meja makan," kata Geo dengan mata yang menyipit tajam.
"Anu.. itu.."
"Sekali lagi Papa liat kamu hindarin masalah, Papa potong uang jajan kamu."
"Lho?! Kok salah aku?! Kan yang mecahin Rian!"
"Terus? Kamu harus banget ngilang ke kamar? Kalau ada masalah tuh bantuin, jangan ditinggal. Rian Kakak kamu. Bantu Kakakmu bereskan piring pecah."
"Papa!" Gean berdecak saat Geo malah melambai tak peduli setelah melepaskan tangannya dari telinga Gean.
Sial! Kenapa Rian seceroboh itu, sih?! Dan kenapa juga ia kena?! Yang mecahin Rian, kok!
"Gak usah ngoceh! Cepet bantuin!"
Gean mendengkus pelan. Lelaki itu tak berjalan menuju Rian yang tengah memungut pecahan kaca dan malah duduk di kursi seraya meminum s**u.
"Kenapa harus mecahin barang?!"
"Ya gak tau. Orang piringnya licin," jawab Rian seadanya.
"Bukan karena Angel?"
"Cewek kemaren?" Tanya Rian balik. Lelaki itu sudah selesai membereskan semuanya. Dan memilih bergabung bersama Gean.
"Iya."
"Lagi gak minat suka sama cewek." Gean langsung menyemburkan s**u di mulutnya. Mengusap bibirnya dengan punggung tangan, Gean menatap horor Rian.
"Gay?!" Tanyanya dengan nada terkejut. Rian sontak memukul kepala adiknya itu.
"Nggak lah! Males aja. Dan masalah lo yang tanya gua suka sama Angel terus tiba-tiba mecahin piring, itu salah! Piring tadi licin. Angel aja gua gak tau dia kaya gimana." Gean menghela napas. Ia hanya bisa mengedik pelan. Enggan bertanya lebih. Rian memang terkadang menjadi sosok yang introvert di waktu-waktu tertentu.