-2

1337 Words
Keduanya membelah jalanan yang lenggang. Karena ini masih cukup pagi untuk ukuran Gean, ia jadi bisa leluasa mempercepat laju motornya. Lelaki itu tidak memperdulikan Angel yang mungkin sudah sibuk membenarkan letak roknya yang semakin naik. Walau bentukannya span, tetap saja ditubuh Angel rok itu menjadi rok lebar. Saking kecilnya kaki dan paha wanita itu. Sebab menjadi sosok model dan selebgram, ia harus memiliki tubuh se'rapi' mungkin. "Sudah sampai. Turun." Angel melepaskan pelukannya dan berganti memegang pundak Gean. Turun perlahan, Angel tak lupa membuka helm di kepalanya sebelum memberikannya pada Gean. Keduanya berjalan beriringan setelah Gean menyimpan motornya di tempat parkir. Jika dilihat dengan seksama, keduanya lebih mirip sebagai sepasang kekasih dibanding sepasang teman. Gean yang tampan dan Angel yang cantik. Pasangan serasi. Gean yang macho dan Angel yang manis. Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun. Sosok Gean yang dingin terlalu sulit untuk Angel cairkan. Belum lagi Gean yang menjadi sangat 'tinggi', membuat Angel sulit untuk menggapainya. Angel tidak pernah tahu isi hati lelaki itu. Karena semakin dicari, maka akan semakin sulit. Hidup Gean seperti sebuah labirin yang ujungnya sulit dicari jika tidak memakai peta. Kring. Gean membuka pintu cafe. Semua orang langsung menoleh dan menatapnya. Pandangannya itu seketika tertuju padanya tanpa berkedip. Sosok yang kini berada di sisi Mamanya. Lelaki jangkung yang umurnya lebih tua 10 menit dari Gean. Lelaki yang Gean tahu memiliki rasa pada seseorang. Pada teman perempuan Gean. Bahkan sebelum Gean memberitahukan siapa wanita itu. "Dek! Di sini!" Ujar Mamanya seraya melambaikan tangan. Sosok cantik yang mampu membuat siapapun terbungkam melihatnya. Gean tersenyum lebar. Mamanya memang selalu memiliki aura sebagus itu bagi mood Gean. Semua rasa kesal karena acara dadakan ini menguap ketika Gean merasakan pelukan hangat Mamanya. "Mama kecil," ujar Gean yang lebih tepatnya mengejek. "Iya deh, yang tingginya kaya tiang listrik," balas Mamanya ramah. Gean kembali tersenyum ketika tangan mungil Mamanya mengusap kepalanya pelan. "Gimana tadi? Menang gak?" Tanya seseorang di samping Mamanya. Lelaki yang sedari tadi menatapnya. "Menang," jawab Gean singkat. Lelaki itu mengangguk seraya mengeluarkan kartu atm berwarna hitam. "Sesuai janji. 50 juta gua buat lo," ujar lelaki itu tenang. "Gua gak butuh sekarang," jawab Gean dingin. "Jadi, lo butuhnya kapan?" "Sisain 25 juta." Lelaki itu mengernyit. "Sisanya? Buat gua lagi? Gak papa sih, lumayan." "Setan!" Umpat Gean dengan tajam. Lelaki di depannya tertawa seraya menarik kembali tangannya. "Adek! Gak boleh ngomong kasar!" Ujar Mamanya memperingatkan. Gean langsung menyengir seraya menggaruk tengkuknya. "Maaf, Ma." "Yhaa.. kena semprot!" Ejek lelaki itu lagi. "Abang juga! Jangan ngeledek! Udah pada gede juga!" Gean tersenyum miring. Merasa menang karena bukan hanya dirinya yang dimarahi. Lelaki yang dipanggil Abang itu lantas meminta maaf pada wanita di depan Gean. Ya, lelaki itu Kakak lelaki Gean. Lebih tepatnya Kakak kembar Gean. Lelaki yang lahir lebih dulu dari Gean itu memang berbeda dengan sosok Gean. Keseluruhannya beda. Hanya kepribadian tertentu yang sama. "Ya udah, cepet sana ke panggung! Bentar lagi kamu tampil!" Gean memutar bola matanya malas ketika lelaki yang menjadi Kakaknya itu tersenyum padanya. *** "Hebat! Kalian membuat para pelanggan merasa nyaman. Saya tidak menyesal mengontrak kalian selama setahun ini." "Terima kasih atas pujiannya, Pak." "Kalian akan tampil lagi lusa. Bagaimana?" Tanya pria yang menjadi pemilik cafe. "Insyaallah bisa, Pak." "Oh, kalian semua muslim?" Tanya pria itu terkejut. "Ah, saya bukan, Pak," jawab salah satu anak band itu. "Saya juga bukan," ujar yang lain mengangkat tangan. "Jadi yang muslim, siapa saja?" "Hanya Rian, Pak," jawab gitaris band tersebut. "Oh, kamu muslim? Vokalis band kalian, kan?" Lelaki yang dipanggil itu mengangguk seraya tersenyum. "Benar, Pak." "Ya sudah. Kalian duduk dulu saja. Perfomance kalian nanti jam 3 ya. Makan saja dulu. Pesan apa saja yang kalian mau." Semua anggota band tersebut mengangguk. Lalu berjalan menuju tempat yang paling ramai. Tempat di mana keluarga Rian dan yang lainnya telah menunggu. Ini memang bukan pertama kalinya mereka berada di cafe dan membuat pertunjukkan. Tapi baru kali ini mereka mendapat kontrak secara eksklusif. Di mana gaji mereka dibayar 2X lipat asal permainan mereka harus selalu bagus. "Suara lo emang gak ada tandingannya, Bro!" "Makasih, Cel." "Iya, bener. Gua aja yang sering denger masih suka terkesima." "Apasih! Alay banget!" Ujar seorang perempuan yang tengah melepas gitar dari tubuhnya. "Bilang aja lo juga terkesima, kan?" "Gak tuh, biasa aja." "Alah! Paling pengen jaga image karena ada gebetannya," celetuk Akbar. Lelaki yang menjadi pengontrol nada lewat drum itu mengejek Fera. Satu-satunya perempuan yang menjadi anggota di band tersebut. "Gak usah sok tau, lo!" Rian tertawa. Bibirnya melengkung lebar dengan tawa renyahnya yang manis. Jenis tawa yang mampu memabukkan siapapun yang kini tengah melihatnya. Sudah rupawan, tawa manis ditambah dengan kepribadian yang sangat baik. Ramah, lembut dan sopan. Membuat siapapun langsung terpana. Riandra Anggara. Lelaki dua puluh tahun dengan kemeja yang tidak dikacingkan itu adalah sosok pangeran impian siapapun. Sosoknya yang hangat dan sangat penuh perhatian, sangat melekat dalam diri Rian. Bagai matahari dan bulan jika disandingkan langsung dengan Gean. Benar. Rian adalah Kakak kembar Gean. Riandra dan Geandra. Anak kembar yang lahir dua puluh tahun lalu itu adalah kedua anak yang menjadi aset berharga bagi keluarga. Jika Gean diibaratkan sebagai bulan, maka Rian adalah matahari. Gean yang dingin dan akan semakin dingin serta gelap ketika marah. Dan Rian yang hangat namun bisa membakar ketika marah. Kedua sikap yang sangat berbanding terbalik. Ungkapan bagai bumi dan langit sudah tidak cocok untuk keduanya. Sun and moon. Matahari dan bulan bagi keluarga. Rian seperti benar-benar matahari. Menjadi sosok yang sangat bisa diandalkan. Ramah dan bisa memiliki pemikiran yang panjang. Juga sosok yang mampu mengatur emosi dengan sangat baik. Bukan orang yang gegabah dan memiliki pemikiran matang. Sudah seperti matahari yang mengawali hari dan mengakhiri hari dengan cahaya. Jika Rian matahari yang terang, maka Gean adalah bulan yang gelap. Malam adalah waktu di mana angin dingin mulai berhembus. Karena sinarnya yang tidak terlalu terang dan terkesan sangat redup. Begitu juga Gean. Dingin, gelap, dan tak terbaca. Walau begitu, keduanya tetap memiliki kesamaan yang mencolok. Mulai dari gaya bicara, cara melangkah, cara makan bahkan sampai pakaian yang akan dipakai. Semuanya sama. Sampai-sampai jika berada di rumah, orang tua mereka masih susah membedakan. Si kembar yang berbeda sifat namun sama keseharian. "Abang!!" Pekik seirang gadis yang baru saja masuk ke dalam cafe. Gadis SMA yang masih memakai seragamnya. "Hai, Ciama!" Sapa Rian pada gadis itu. Berbanding terbalik dengan Rian yang menyapa ramah disertai senyuman, Gean hanya mengangguk dan menatap sekilas pada Ciama. Karena bagi Gean, Reza-- adik Ciama lebih baik untuk Gean. Selain pendiam, Reza juga bukan anak yang banyak tingkah. Sangat berbeda dengan Ciama yang galak dan judes. "Udah selesai lesnya?" Tanya Rian seraya mengelus rambut panjang anak itu. "Udah, dong. Oh ya, sekolah Ciama libur beberapa hari, Bang." Rian mengangkat halisnya. Kebiasaan Ciama. Gadis itu akan melaporkan mengenai kegiatan sekolahnya pada Rian. Begitupun Reza pada Gean. Sedangkan orang tua mereka hanya bisa mendengkus. "Kenapa libur?" Tanya Rian. "Soalnya anak kelas 12nya study tour. Abang ada waktu luang gak? Ciama pengen ke dufan!" "Liburnya berapa hari?" Tanya Rian. "Lima hari. Ya, semingguan lah. Abang sibuk?" "Kita cari jadwal kosong dulu, ya. Nanti kalau ada wakti kosong, Abang langsung jemput Ciama di rumah." Gadis berseragam SMA itu membulatkan mata seraya bangkit dari kursinya. "Bener?!" "Iya." Ciama langsung berjingkrak kegirangan. Rian tersenyum pelan. Sedangkan Gean hanya mampu menghela napas. Entah kenapa ia sedikit sebal dengan Rian. Apa lelaki yang menjadi Kakak kembarnya itu tidak pernah berfikir, ya? Karena terlalu dekat dengan anak dari Om mereka, Rian jadi sulit mendapat kekasih. Tak jarang wanita yang mendekat selalu risih melihatnya. Karena Rian yang selalu mementingkan Ciama daripada yang lain. Mungkin karena Rian ingin memiliki adik perempuan? Ya.. kalau dipikir-pikir, itu bisa jadi alasan kuat sih. Sebab dulu mereka pernah memiliki adik perempuan. Tapi saat berumur 3 bulan, adik mereka mengalami demam berdarah sampai Tuhan mengambilnya. Saat itu Rianlah yang paling tersiksa. Selain karena Rian menyukai anak kecil apalagi anak perempuan, lelaki itu juga selalu bermimpi bertemu anak perempuan. Membuatnya menjadi sangat dekat dengan anak perempuan. Bukan hanya Ciama saja. Namun karena Ciama yang paling dekat, alhasil Ciama menjadi adik tersayang lelaki itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD