-1

1312 Words
"Oper sini, Sim!" "Oke!" Bola basket yang dilempar dengan teknik headpass itu tertangkap oleh lelaki jangkung di ujung ring. Meloncat kecil, tangannya berusaha memasukkan bola itu ke dalam ring. Dan.. Shut! "1 poin untuk Uncea!" Tepukan meriah terdengar keras. Tak jarang pekikan kaum hawa juga memenuhi lapangan indoor tersebut. Permainan basket terus berlanjut. Semua anggota langsung menyebar kala bola ditangkap lawan. Posisi defense menjadi posisi Uncea. Salah satu tim yang berada di dalam lapangan. Dengan posisi 3-2, mereka menjaga kawasannya. Terutama saat musuh mulai masuk dan mencoba memasukkan bola ke dalam ring. Tpak! Bola gagal masuk. Lelaki jangkung tadi menepaknya dengan kuat, dan langsung diambil alih oleh temannya. Ia kembali berlari mengikuti yang lain. Dan saat temannya kembali melempar padanya lagi, ia segera mendribble beberapa kali sebelum kakinya melangkah lebar sebanyak dua kali dan meloncat. Melakukan lay up yang sempurna dengan bola yang masuk tanpa mengenai jaring ring sedikitpun. Prit! Prit! Prit! Pertandingan selesai. "Wah! Hebat lo, Ge! Lay up didetik-detik terakhir!" "Iya. Gua aja tadi nyangkanya gak akan menang." Lelaki jangkung dengan jersey merahnya itu hanya mengangguk. Punggungnya yang memiliki nomor 07 dan nama Gean di bawahnya langsung dipeluk hangat. Yang mau tak mau membuat lelaki itu langsung membungkuk dan mengulurkan tangannya ke belakang. Mengangkat seseorang yang ada di belakangnya seraya membenarkan letak kepala orang itu. "Ya Allah! Reza! Turun!" "Gak papa, Tante," ujar Gean dengan wajah datarnya. Nada dingin juga mulai terdengar dari bibirnya. Namun bagi sosok yang tak lain adalah ibu dari anak bernama Reza itu, ini adalah hal yang biasa. "Gak papa gimana?! Kamu baru aja beres tanding. Reza, turun!" Gean menghela napas dan memilih membawa lari anak lelaki di punggungnya. Membuat wanita yang menjadi ibunya itu menjerit tertahan. "Ya Allah! Om sama keponakan sama aja." "Udah, Tante. Biarin aja. Paling dibawa ke kantin atas." "Ya tapi gak enak sama Gean. Dia baru beres banget." "Gak masalah, Tante. Eh, Ciama mana Tante?" Tanya salah satu teman Gean. Mendadak ingin modus. Namun tak jadi dijawab oleh wanita itu sebab pertanyaan lain datang. "Mana Gean?" Tanya pria jangkung dengan jas hitam yang melekat di tubuhnya. Yang lain langsung menelan saliva kasar. Melihat sosok tetua Gean alias pemberi gen dingin dan tak memiliki eksperesi. "A-ada di kantin, Om." "Duh, sorry ya, Yo. Tadi Reza nemplok kaya biasa. Gua lupa buat naliin tuh anak." Pria itu tertawa kecil sebelum mengangguk. "Kamu ke sini sendiri? Di mana Om Revan?" "Biasa. Anter Ciama les piano. Riana sendiri di mana?" Tanya wanita itu akrab. Geo, pria yang kini usianya sudah menginjak kepala empat itu menatap jam tangannya sebentar. "Rian sekarang ada jadwal tampil. Riana lagi nemenin." "Oh iya! Sekarang ada tampil di cafe yang baru buka itu, kan?" Geo mengangguk. "Lo mau jemput Gean buat ke sana? Sekalian aja. Gua juga mau ke sana." "Baik. Oh ya, dan untuk kalian, langsung masuk saja ke mobil. Kita makan dulu di cafe itu." "Wah! Siap Om!" "Mantap, Om! Ayo!" "Oke, Om!" Pekik mereka girang. Walau ini bukan pertama kalinya mereka mendapat traktiran gratis, tetap saja rasanya bahagia. Tiada tara. "Pelatih kalian mana?" Tanya Geo seraya berjalan menuju kantin. Ia sempat meminta salah satu di antara mereka menunjukkan jalan menunju kantin. "Beliau lagi berhalangan datang, Om. Jadi gak ada yang ngawas." "Tadi kalian tanding tanpa pelatih?" Tanya Geo lagi. "Benar, Om." "Ka--" "Ya ampun! Ini cowok tadi, kan?! Yang baru aja beres tanding tadi?!" "Iya! Bener banget!" "Kok ganteng banget sih kalau dari deket?!" "Eh, tapi masa bawa anak? Dia udah nikah? Bukannya mahasiswa ya?" Geo menghela napas mendengar bisik-bisik yang lebih tepatnya bicara langsung mengenai anaknya. Inilah alasan kenapa anaknya itu selalu menerima jika Reza meminta digendong. Karena Gean pastinya akan lebih leluasa berada di kantin. Tanpa harus mengurusi perempuan yang berusaha mendekatinya. Bukannya anti perempuan, hanya saja itu cukup membuat Gean risih. Geandra Anggara. Lelaki dengan kulit putih dan mata kecil itu baru saja duduk di atas kursi putih. Tubuhnya yang jangkung dan tegak, membuat siapapun memekik heboh kala melihatnya. Tak jarang juga beberapa orang menyentuh otot besar di lengan atas Gean. d**a bidang dengan perut terjaga, jelas sangat terlihat. Terutama ketika baju jerseynya basah seperti sekarang. Sudah terlihat seperti atlet tinju dibanding atlet basket. Rahang yang tegas dengan tatapan tajam, mampu menghunus apapun yang berani mengusiknya. Terlahir dari keluarga berada, Gean bukanlah sosok yang mudah bersyukur. Memiliki ambisi kuat dan keras kepala bukan lagi rumor belaka. Emosi yang tidak stabil dan memutuskan tanpa berpikir panjang juga termasuk 'keunikan' dalam diri lelaki itu. Hanya saja, karena wajah yang rupawan dan kepintaran yang melambung tinggi, terkadang beberapa orang buta akan keburukan sosok Gean. Kaum good looking adalah yang nomor 1. "Ngapain makan di sini?" Tanya Geo begitu sampai di meja anaknya. "Harusnya di mana?" Balas Gean songong. Geo menghela napas. Kalau dipikir-pikir Gean ini seperti jiplakan dirinya semasa muda. "Kakakmu sedang tampil di cafe baru. Kita akan makan di sana." Gean berdecak cukup kuat. Sampai meja-meja sebelahnya bisa mendengar dengan jelas decakan lelaki itu. Geo yang juga medengarnya hanya mampu diam. Sudah dipastikan Gean akan marah. Lelaki itu tidak menyukai sesuatu yang datang tiba-tiba atau dadakan. Semuanya harus terencana. Dan kalau memang tidak jadi atau diganti, ia harus mendapat konfirmasi. Benar-benar cetakannya.  Kenapa hanya anak pertamanya yang memiliki watak macam istrinya, Riana? "Maaf karena Papa baru bilang. Papa lupa." "Hem!" Balas Gean. Lelaki itu langsung memasukkan secara asal burger miliknya ke dalam boxnya lagi. Begitu juga dengan minuman yang sama sekali belum Gean buka. Tangannya terulur, menarik anak berumur 5 tahun yang masih asyik duduk di meja seraya memakan kentang gorengnya. Menggendongnya dengan satu tangan, Gean langsung berjalan lebih dulu. Semenyebalkan apapun seorang Gean, lelaki itu akan tunduk jika Geo yang langsung turun tangan. "Bawa mobil?" Tanya Gean pada sang papa. Geo menjawab dengan deheman pelan. Lelaki itu lalu menyerahkan Reza pada temannya yang sedari tadi bersama Papanya. "Bawa bareng. Gean bawa motor," ujar Gean dan berjalan dengan langkah panjangnya menuju garasi di lantai bawah. Meninggalkan Geo dan temannya yang masih menggendong Reza. Lelaki berambut semi coklat itu kembali berdecak kala dirinya melupakan ponsel di kursi pelatih. Tangannya menepuk kecil kening sebelum membalikkan diri. Baru akan melangkah, sebuah tangan kecil terangkat seraya menunjukkan sebuah ponsel berwarna hitam dengan kamera tiga itu. "Mencari ini?" Tanya gadis itu seraya tersenyum miring. Gean menghela napas lega dan mengambil ponsel itu dari tangan mungil di depannya. Tubuh ramping dengan wajah manisnya itu terlihat menarik. Tapi tidak berfungsi untuk sosok Gean. "Ya." "Apa kamu tidak bisa berterima kasih?" "Terima kasih," jawab Gean seadanya. "Come on, Gean! Aku di sini untuk kamu!" Gean menghela napas pelan. "Gua gak nyuruh lo ke sini." Gadis itu berdecak. Tangannya melipat. Seraya menajamkan mata melihat sosok Gean. Tapi bukannya terlihat menyeramkan, gadis itu malah terlihat menggemaskan. "Naik," titah Gean pada akhirnya. Motor matic berwarna merah itu menjadi kendaraanya sekarang. "Kamu memakai motor Kakakmu? "Iya." Tangan Gean terulur pelan. Membantu gadis dengan rok di atas lutut itu untuk naik ke motornya. "Kenapa? 'Baby' sedang merajuk?" Tanya gadis itu. "Ya." "Bisakah kamu berbicara lebih panjang? Itu akan terdengar lebih baik, cold prince!" "Angel!" Peringat Gean seraya menstater motornya. Gadis itu tertawa. Gean paling tidak suka dipanggil dengan sebutan Cold Prince. Entah apa alasannya. Padahal sudah jelas jika Gean adalah sosok pangeran yang dingin. Sampai-sampai para perempuan yang akan datang harus membawa 'api' agar lelaki ini lebih mencair. Angelica Paramitha. Gadis yang kini duduk di belakang Gean itu tanpa ragu memeluk tubuh Gean dari belakang. Seraya menyandarkan kepalanya di punggung lebar lelaki itu. Ia juga tak segan menghirup aroma  Gean. Aroma pinus yang bercampur dengan keringat Gean adalah kesukaannya. Membuatnya sadar jika Gean adalah sosok lelaki sejati sesungguhnya. Tubuh besarnya benar-benar membuat siapapun akan terpana dan terkejut melihatnya. Di umurnya yang bahkan baru menginjak dua puluh tahun, rasanya agak mustahil mendapatkan tubuh tinggi besar seperti sekarang. "Lepas, Angel." Gadis di belakangnya itu menggeleng enggan. Membuat Gean hanya mampu menghela napas. Rasanya akan sia-sia meminta gadis ini dengan berucap dua kali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD