Chapter 5

2078 Words
Nayla mulai menggeliat dalam tidurnya, matanya menerjap beberapa kali saat melihat ruangan tempatnya tidur. Ini seperti sebuah kamar tapi dia yakin ini bukan kamarnya. Beberapa saat kemudian matanya terbuka lebar begitu menyadari bahwa ini adalah kamar samudra. Jadi semalam dia tidur disini? Bagaimana bisa ? Seingatnya semalam dia tidur di depan pintu apartment pria sombong itu, kenapa sekarang bisa sampai disini. Saat sibuk dengan beberapa memikirkan bagaimana caranya dia bisa tidur disini. Tiba-tiba dia mendengar suara pintu terbuka. "Sudah puas tidurnya ?" tanya samudra yang baru saja masuk kedalam kamarnya membawa sebuah bantal dan selimut. Berarti pria itu semalam dia tidur di sofa ruang tamu. "Ka-kamu ? Ah aku kenapa bisa disini ?" tanya nayla. Samudra menaikan bahunya acuh. dia berjalan menuju ranjang, menaruh bantal dan selimut yang semalam dia pakai. Setelah itu dia beranjak menuju lemari pakaiannya. "Mau sampai kapan kamu disana ? Kamu tidak ingin kembali ke apartment mu dan bersiap?" Pertanyaan itu langsung membuat nayla beranjak berdiri "Dimana tasku? Kartu akses apartment ku ada di dalam tas yang tertinggal di mobilmu," "ada di mobil," jawab samudra singkat. dia merogoh kantong celana yang semalam dia pake. Mengambil sebuah kunci mobil lalu memberinya ke nayla. "10 menit sudah harus siap. tidak ada bantahan," lanjutnya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Nayla tidak perduli, dia segera pergi ke tempat parkiran untuk mengambil tas yang berada dimobil pria sombong itu. Namun saat sudah berada didalam mobil, dia tidak menemukan tasnya. "Eh apa ini ?" gumamnya melihat sebuah paper bag di kursi penumbang belakang. Karena penasaran takutnya itu barang penting punya samudra akhirnya nayla pun melihat isinya yang ternyata adalah pakaian wanita yang terlihat seperti kurang bahan menurutnya. "Cckk dasar pria sombong bin m***m" gumamnya memikirkan hal yang tidak-tidak. Tidak ingin terlalu mengambil pusing, nayla melanjutnya mencari tasnya yang ternyata berada di jok paling belakang mobil itu. ,,,, "Selamat pagi," sapa samudra saat sampai di lokasi syuting. Hari ini adalah hari terakhir dia syuting ftv. "Selamat pagi, kak," sapa nayla saat brian tersenyum kearahnya. "sudah lama tidak bertemu ya. Kamu terlihat semakin lucu," goda pria bernama brian itu membuat nayla tersipu malu. "Kak brian mengenalnya?" takut samudra sambil menatap tak suka kearah nayla yang masih tersenyum malu. "Nayla? Iya kita baru berkenalan sekitar 2 mingguan yang lalu. Kamu mengenalnya ?" Samudra mengangguk "dia asistenku," "Apa? Wah pasti kamu sangat betah bersamanya. aku sih bakal semangat bekerja jika asistennya seperti nayla," "Cck betah apanya. Yang ada muak dan menjengkelkan. Tidak ada gunanya sama sekali," balas samudra sebelum akhirnya melangkahkan kakinya pergi. "Aku duluan ya nay," pamit brian lalu sedikit berlari mengejar samudra. "Ccck memangnya hanya dia yang muak ? Akupun juga. Kalo bukan karena perjanjian konyol itu mana mungkin aku mau menjadi asisten nya. Cih sombong sekali," ,,,, Tanpa terasa waktu terus berjalan dan kontrakpun hanya tinggal 1 minggu lagi. Selama 1 minggu ini nayla jadi lebih sering di omeli oleh samudra tanpa alasan yang jelas. Setahunya dia sama sekali tidak mempunyai kesalahan tapi pria itu terus saja memarahinya. Selama 1 minggu ini juga samudra terlihat sering murung dan suka marah-marah. Alasannya hanya karena claudia. Selama 1 minggu ini pacarnya itu menghilang tanpa kabar. terakhir mereka berkomunikasi claudia bilang sedang sibuk mempersiapkan untuk tour konsernya. Awalnya samudra percaya saja tapi tiba-tiba aditya bilang jika group claudia tidak ada jadwal konser dalam waktu dekat ini. "Nayla! Kamu tuli apa gimana sih? aku bilang sepatu yang warna coklat kenapa kamu mengambil yang ini?!" bentak samudra pada nayla didepan semua member the seven dream. "Tapi hanya ada ini. Tidak ada sepatu yang berwarna coklat," "Aku tidak mau tahu. Kamu ini asistenku jadi harus mengikuti semua yang aku petintahkan. Dasar wanita tidak berguna!" Nayla sudah cukup sabar menghadapi sikap kasar samudra 1 minggu belakangan ini, jika sebelumnya dia masih sabar karena selama ini pria itu hanya menyindir dengan ucapan angkuh nya tapi kali ini dia sudah benar benar keterlaluan. "Apa yang kamu lalukan bodoh!" teriak samudra saat nayla membanting sepatunya dengan sangat keras. "Cukup!. Aku sudah muak dengan semua nya. Aku bukan babu mu. Oke, aku memang asistenmu tapi kamu tidak bisa memperlakukanku semaumu seperti ini. Aku juga punya hati, aku punya harga diri !!" teriak nayla penuh emosi. dia tidak perduli jika di sana ada member the seven dream beserta para staf mereka. "harga diri ? Berapa harga dirimu itu? 10 juta? Tidak, terlalu kemahalan. Apa 1jt? Itu juga masih terlalu mahal, mungkin 100...,, Plak!. Satu tamparan keras mendarat di pipi samudra. Pelakunya adalah nayla. "Kamu berani menamparku ha?!" "Iya!. Kenapa kalau aku berani ? Bahkan aku juga berani membunuhmu saat ini juga. Dengar ya langit samudra yang terhormat, Kamu memang orang kaya dan aku orang tak punya tapi kamu tidak berhak menghina harga diriku semaumu!. Aku memang tidak punya apa-apa. Aku tidak punya kemewahan dan ketenaran tapi setidaknya aku masih punya hati tidak seperti mu!. Dan satu lagi , harga diriku bahkan jauh lebih mahal daripada harga dirimu !" ucap nayla menumpahkan semua amarahnya. air mata yang ia tahan sejak tadi pun akhirnya menetes. Samudra mengepalkan tangannya geram , matanya menatap tajam gadis yang baru saja memakainya ini. "Mulai hari ini aku berhenti jadi asistenmu. Terserah kamu mau melaporkanku ke polisi aku sudah tidak perduli !! Aku lebih baik membusuk di penjara dari pada bersama manusia yang tidak punya hati sama sekali sepertimu!" geram nayla sebelum akhirnya berlari meninggalkan ruangan itu. Samudra membanting semua barang serta make up yang berada diatas meja rias didepannya. Emosinya sudah benar benar tidak bisa dikendalikan. June dan rama berusaha untuk menghentikannya sebelum semua barang-barang disini hancur ditangannya. ,,,, "Hiks hiks dia pikir dia siapa .hiks berani nya menginjak injak harga diriku hiks. Dasar pria sombong m***m tidak punya perasaan hiks," "Nih," Brian menyodorkan sapu tangannya pada nayla yang sedang duduk menangis di taman gedung agensi itu. "Ambil, tidak baik wanita secantikmu menangis. Hapus air matamu. Maaf aku tidak ada tisu jadi pakailah ini. Tenang saja ini masih baru, belum aku pakai," "Terima kasih kak," Brian tersenyum lalu duduk di sebelah nya "maafin samudra ya. Dia tidak bermaksut berbicara seperti itu padamu. Dia sebenarnya orang yang baik. dia mencintai semua orang yang ada di sekitarnya. aku juga kaget saat melihatnya bersikap seperti tadi padamu, jujur ini baru pertama kalinya dia seperti ini. dia hanya meluapkan semua kemarahannya padamu, dia marah karena sudah 1 minggu ini claudia tidak menghubunginya," jelas brian. "Kak claudia? Memangnya dia kemana?" Bukannya menjawab brian juatru terseyum "Kamu tidak perlu tahu soal itu. Hmm mau aku antar pulang? Sudah hampir petang dan kamu akan malu pulang sendiri dengan mata bengkak seperti itu," ,,,,, Nayla memutuskan untuk kembali pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah dia langsung memeluk ibunya yang sudah tidak ia temui selama 3 minggu ini. "Ibu, nayla kangen," ucapnya mempererat pelukannya. Ibu ayu tidak membalas ucapan putrinya itu, dia malah melepas pelukannya begitu saja dan menggantikannya dengan jeweran, membuatnya meringis kesakitan. "Biarin , biar tau rasa kamu. Dasar anak durhaka kemana saja kamu 3 minggu tidak pulang hah rasain ini," "Ibu sakit. Iya maaf, tolong lepaskan ini sangat sakit," "Untung kamu anak ibu. Kalau tidak sudah habis kamu," Nayla mengelus telinganya yang sangat perih akibat jerewan sang itu "ibu, bukannya disambut anak nya pulang malah di jewer kan sakit," "Sudahlah tidak usah banyak drama cepat masuk ibu sudah masak makanan kesukaanmu," "Beneran? Ibu memang terbaik," girang nayla mengecup singkat pipi ibunya lalu berlari masuk kedalam rumah. Maklum saja dia belum makan dari tadi pagi jadi perutnya sudah sangat keroncongan. ,,,, Di lain tempat saat ini samudra sedang berada didepan sebuah bangunan besar yang dikenal sebagai rumah the girlist, nama group claudia. Dia sengaja kesini untuk menemui claudia karena jujur dia sudah sangat merindukan kekasihnya itu. Namun belum sempat keluar dari mobil, dia melihat ada sebuah mobil yang baru saja tiba dan berhenti tepat di depan rumah itu. Samudra memicingkan matanya mencoba melihat sosok yang keluar dari dalam mobil. Seorang pria yang tidak terlihat wajahnya karena tertutup masker itu keluar dari mobil lalu berjalan membukakan pintu mobil disisi penumpang. "Claudia?" wanita cantik itu keluar dari dalam mobil yang sama dengan pria tadi. "Sayang terima kasih untuk hari ini. Aku sangat senang," ucap claudia pada pria yang dia panggil sayang itu. "Terima kasih saja tidak cukup," Claudia tersenyum, dia tahu maksud dari ucapan pria di depannya ini. Sedetik kemudian dia mencium singkat bibir pria itu. "b******k!!" Suara teriakan claudia terdengar begitu saja saat pria yang baru saja dia cium sudah tersungkur di tanah. "S-samudra?" "Iya ini aku..kenapa?" "Siapa kamu? Beraninya kamu memukulku!" teriak pria tadi yang kini sudah kembali berdiri. "Aku samudra. Pacar claudai," jawab samudra membuat pria tadi tersenyum miring. "Samudra? Oh member boygroup yang katanya katanya sedang naik daun itu? Cih," "Apa kamu bilang ?!!" samudra sudah emosi ingin memukul pria itu kalau saja claudia tidak menahannya. "Sam, cukup!" "Apa? Kamu membelanya ? Sebenarnya siapa dia sampai kamu membela nya ?" "Perkenalkan aku Rocky, pacar claudia," "Jaga ucapanmu? Aku pacarnya," "Terserah padamu. Kamu bisa tanyakan sendiri pada claudia," Samudra menatap tajam ke arah claudia, sedangkan yang di tatap sudah kebingungan harus menjawab apa. "Katakan. Katakan kamu bukan kekasihnya," "M-maaf sam. A-aku bisa jelasin semuanya. Ini tidak seperti yang kamu pikir," lirih claudia. Samudra tersenyum smirk. "Jadi benar, dia pacarmu ? Dasar w************n," Plak. "Aku bukan w************n!" teriak claudia setelah berhasil melayangkan tamparannya. "Lalu apa? Kamu memilihnya karena uang kan ? Iyakan ?!" "kalau iya kenapa? Dia jauh lebih kaya darimu. Dia juga jauh lebih perhatian darimu. Dan dia juga bisa memberiku apapun yang aku mau," "Ke-kenapa ? Aku juga bisa memberimu semuanya," tanya samudra lirih "Tidak. Kamu tidak bisa memberiku waktu. Kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu. Aku lelah sam, aku juga butuh perhatian," "Maaf," "Mulai sekarang kita putus. Lupakan semuanya dan jangan pernah hubungin aku lagi," cladia langsung menarik tangan rocky masuk kedalam rumahnya. ,,,, "Nayla ponsel kamu berbunyi. Cepat angkat kuping ibu sudah sangat sakit mendengarnya!!" teriak ibu ayu dari dapur. "Siapa sih yang tlp malam-malam begini. Kak brian? Tumben dia tlp?" Brian menghubunginya untuk menanyakan keberadaan samudra yang sejak tadi pagi tidak ada di apartmentnya. "Kemana pria sombong itu? Ah sudahlah itu bukan urusanku," gumamnya tak tahu karena selama 3 hari ini dia pulang kerumah nya dan tidak kembali ke apartmentnya. ,,,, Nayla mengobrak abrik kamarnya mencari buku note yang berisi resep kue dari ibunya. Tadi pagi ibunya nya pergi ke bandung untuk menjenguk neneknya yang sedang sakit jadi toko kue dia yang pegang untuk sementara waktu. besok dia harus membuat kue pagi-pagi tapi resep yang berada di dalam notenya tidak ada. "Ah aku lupa. Waktu itu aku membawanya ke apartment," gumamnya baru menyadari jika buku note nya tertinggal di apartment. Ini masih pukul 8 malam jadi nayla memutuskan untuk pergi ke apartment sekarang mengambil note itu. "Sejak kapan suasana apartment ini jadi seseram ini," nayla sudah berada di apartment nya. Setelah menemukan note nya dia pun beranjak pulang namun langkahnya terhenti begitu mendengar suara sesuatu. "Suara apa itu ? Siapa yang menangis malam malam begini?" gumamnya saat mendegar suara tangisan. Tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Suara tangisan itu terdengar semakin jelas. "Dari balik tembok ini? Iya aku yakin dari sini. Tunggu ini kan apartment si pria sombong itu ? Bukannya kata kak brian dia tidak pulang ke apartment nya? Lalu siapa yang menangis," gummnya lagi begitu tahu jika suara tangisan itu berasal dari apartment sebelah Saat melewati pintu apart samudra dia berhenti tepat di depannya "lihat gak ya ? Kalau maling gimana ? Ah bukan urusanku lagian biarin aja si pria sombong itu bangkrut kemalingan," Baru beberapa langkah nayla memutuskan untuk kembali mundur. "kata ibu kamu tidak boleh dendam nay. Jadi kamu harus melihat kedalam siapa tahu itu benar maling," ucapnya bermonolog. Nayla melihat kekanan dan kiri, dia menemukan sebuah tongkat. Dia pun mengambil tongkat itu untuk berjaga jaga siapa tahu beneran ada maling didalam. Beruntung dia masih menyimpan kartu aksesnya jadi dia bisa langsung masuk kedalam. "Kenapa gelap sekali," sesampainya didalam, apartment itu terlihat sangat gelap. Suara tangisan yang dia dengar tadi juga terdengar semakin jelas membuatnya semakin ketajutan. "su-suara itu. Siapa yang menangis," Nayla sudah sangat ketakutan dia ingin pergi namun dia juga penasaran. Suara itu sepertinya berasal dari dalam kamar samudra. Saat dia berjalan menuju kamar itu, suara tangisan tadi terdengar semakin jelas. "Buka tidak ya ?" tanya nayla pada dirinya sendiri saat sudah sampai di depan pintu kamar. "Buka saja deh. Semoga bukan hantu," Nayla memegang knop pintu, dia membuka pintu itu pelan-pelan sambil memejamkan matanya takut jika benar didalam ada hantu. Gelap? Gadis itu meraba dinding mencari saklar lampu. Setelah menemukannya dia langsung menyalakan tombol itu. "Samudra?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD