Akhirnya, setelah semua siswa bercerita, selesailah pelajaran Bahasa Indonesia. Berita buruknya, bagi kebanyakan siswa XI IPA 5, pelajaran selanjutnya adalah pelajaran Matematika yang digelari oleh para siswa malas 'Mental a***e to Human Endlessly Murdering All the Innocent Children' (Mathematic), kalau diartikan kira-kira 'p********n mental untuk manusia tanpa akhir membunuh anak-anak tak berdosa'. Doa-doa harapan untuk tidak masuknya sang guru matematika mulai meluncur dari mulut para siswa.
Tapi tidak bagi Ahya. Pelajaran ini adalah pelajaran favoritnya, maklumlah, dia adalah seorang ahli matematika muda kelas atas yang diakui seluruh kota, sehingga kemampuan tak di ragukan lagi. Dia juga menjuarai OSN tingkat provinsi dan juara 2 tingkat Nasional. Hanya seorang siswa dari Jakarta saja yang berhasil mengalahkannya di tingkat Nasional.
Bu guru matematika pun masuk. Seperti biasa, beliau menjelaskan matematika yang ditanggapi sebagian siswa dengan tidur atau main Handphone tak acuh. Bu guru pun tidak terlalu mempermasalahkan mereka, karena data nilai kelas ini yang bisa di katakan baik, atau terlalu abnormal baik. Dan ada 'fakta unik' dibalik itu.
Biasanya, saat ulangan, nilai XI IPA 5 terkenal tertinggi seantero sekolah, sehingga beliau santai saja. Asal muasalnya? "Tim Sukses", tak lain adalah kerjasama para anggota di kelas. Ahya termasuk dalam tim ini. Kalau dihadapkan ke kalangan guru, mereka tak akan percaya. Tapi itulah faktanya, itupun jika mereka tahu kalau tim ini ada. Hebat sekali bukan? Hebat merusak moral sih iya.
Meskipun demikian, pada setiap ada tim kecurangan, pasti ada yang berlaku adil. Di antara semua siswa di kelas itu, ada saja yang masih jujur dengan ulangan mereka.
Pasca Matematika, istirahat pun tiba. Semua siswa pergi ke kantin, kecuali Luna dan Lia. Duo ini selalu fokus belajar dan menjadi orang-orang yang paling tertutup di kelas. Sebutan klasik mereka adalah "kutu buku" dan "ratu es kembar". Meski demikian, nilai rapot mereka adalah terbaik di XI IPA 5, bahkan Ahya yang terkenal sangat pintar di kelas juga harus mengakui mereka.
Seperti biasa, Ahya senang mengganggu privasi orang lain dengan diam-diam. Sebuah kebiasaan yang dia miliki sejak SMP Kelas IX. Dia selalu mencari tahu apa yang dikerjakan orang lain. Kalau ala orang sekarang dia adalah stalker. Kelas stalker? Legendaris. Kalau bukan karena dia bisa menyembunyikan keberadaannya dengan baik, mungkin dia akan 'cepat tamat' dihadapan dua perempuan itu, terutama Luna.
Dia mendekati Luna dan Lia yang asik mengerjakan tugas Matematika, dan menengok dari belakang seraya menahan napas agar tak ketahuan. Dia tahu, dari wajah keduanya, keduanya bingung dengan soal nomor 11, yang memang sangat sulit. Dia terdiam sedikit lama dibelakang mereka berdua yang kebingungan. Tetapi, keheningan itu terpecah saat Dio dan Deni masuk dalam kelas dan berteriak "Cie!!!"
***
Aku masih sibuk dengan soal nomor 11 dari tugas matematika. Sangat sulit, ya, bahkan seperti ya ada yang aneh dengan hitungan pada soal ini. Ada yang tidak masuk dalam materi pelajaran.
"Sepertinya ibunya lupa untuk menjelaskan soal ini," gumamku. Aku melihat ke arah teman akrabku, Lia. Dia tampak bingung, seperti diriku ini.
Kertas kami berdua sudah dipenuhi dengan hitungan nomor 1-15, kecuali nomor 11. Otak kami sudah seperti diperah habis-habisan. Ada yang jelas salah disini.
'Kekhusyukan' kami terganggu saat Dio dan Deni datang, mereka meledek kami, atau orang yang tepat berada di belakang kami, yang sangat mengejutkan kami. Untuk tipeku, aku tidak senang ada orang dibelakangku, apalagi seperti ini. Sontak, aku langsung berdiri naik pitam, menoleh ke belakang untuk menyadari bahwa ada Ahya di belakang ku.
"Ahya, apa yang kamu lakukan dibelakang ku dan Lia! Apa yang kau lihati disini!" teriakku kesal. Lia yang masih belum sadar, karena dia memang tidak terlalu menganggap serius ejekan, tampak terkejut dari cara dia berhenti menulis.
Ahya terdiam, aku masih kesal dengan wajahku memerah karena marah. Secepat tubuhku bereaksi, aku memberi Ahya 'sebuah pelajaran' (baca : memukul) dengan buku tulisku. Spontan saja, Ahya langsung menyingkir keluar kelas, mungkin karena malu, sementara Dio dan Deni terus meledek dia.
Aku mendekati mereka berdua dengan buku tulisku, Lia langsung menggenggam tanganku erat.
"Sudah Lun, sudah," pinta Lia.
"Nggak Li, lepasin!" balasku geram. Aku akan membuat Dio dan Deni mencicipi sisi keras buku ini. Lia pun tidak bisa menahan lenganku, dan terpaksa melepaskan.
Aku langsung berjalan mendekati mereka berdua dan memberi kado mereka. Pipi mereka merah kesakitan karena buku tulis yang mendarat mulus di wajah mereka.
"Cie!! Ngebelain si Ahya ya?" Sindiran itu langsung meluncur dari mulut Hola yang baru datang.
Kesal sekali aku mendengar itu dan dengan instan pipi Hola menjadi merah karena bukuku. Buku matematika yang tebal itu sangat bagus untuk menjadi pemberi hiasan di wajahnya.
"Stop Luna, Stop!" teriak Lia.
Aku pun tersadar dari amarahku yang sudah mulai lepas kendali dan harus segera di hentikan, dan langsung minta maaf kepada mereka bertiga. Mereka terlihat kebingungan dengan perubahan tingkahku dan hanya satu kata yang terucap dari mereka: "Iya."