Namaku lengkapku Zakaria Ahya, dipanggil Ahya. Gelar sang ahli matematika muda legendaris di kota kecil ini ku sandang dengan bangga. Kalau matematika, gak ada masalah lagi buat ku. Ranking sih nomor tiga di kelas, maklum tuh dua orang selalu merebut juara dari ku. Pengalaman hidupku cukuplah menyenangkan saat SD, tapi memilukan saat SMP ... tidak perlu dibicarakan lagi. Kalian sudah dengar, aku yakin. In fact, kenapa aku harus memperkenalkan diriku kembali? Oh iya, supaya kalian tidak hanya kenal aku sekilas.
Di kalangan guru, statusku aman-aman saja, seperti anak biasa dengan prestasi mendulang langit. Tapi kalau di kalangan siswa, ah sudahlah .... Kalian bisa katakan, aku adalah salah satu pemegang kendali. Guru mudah percaya dengan anak pintar.
Sangat memilukan bagiku untuk mendapat pukulan seperti itu dari teman akrab sejak SD seperti Luna. Bagaimana tidak, pukulan cukup membuat nyeri. Terkadang Luna memang emosian, jadi aku perlu untuk bersabar. Ya, karena kami berteman sudah cukup lama, jadi aku santai saja. Kalau sudah selesai, eh dia malah minta maaf tanpa henti ke semua orang yang kena dampak emosinya. Seperti yang sekarang terjadi pada teman-temanku dari ujung netraku.
Aku kembali ke kursiku, tepat saat bel berbunyi.
"Ah s**l, guru killer lagi," komentar Hola dari kursinya.
"Udah, mau ngebolos di kantin aja?" tanya Deni ke Dio dan Hola.
"Malas bro, nanti malah ke BK lagi gue," jawab Hola yang kemarin masuk BK gara-gara membolos. Oh ya, BK memang terkenal dengan killer-nya ruangan itu. Semua siswa masuk kelas, bersiap-siap untuk kelas paling horor. Kalau boleh pilih tempat adu nyali, BK di sekolah ini terkualifikasi sebagai ruangan level tinggi.
Pelajaran berikutnya adalah pelajaran yang diampu oleh seorang guru killer. Kalau begini, gak bisa berbuat apa-apa lagi. Sudah killer, pasti on time lagi, paling lama telatnya 10 menit.
Sang bapak guru killer masuk ke kelas, dan beliau mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab para siswa.
"Pak, izin ke toilet!" teriakku setelah menjawab salam. Sangat tidak etis, tapi karena aku sering melakukan ini khusus di kelas beliau, sepertinya beliau sudah terpaksa maklum.
"Cepat, 7 menit," jawab beliau. Ah udah, kalau soal izin meizin, ribetnya minta ampun, Batinku. Bergegaslah ku pergi ke toilet.
Setengah jalan ke toilet, aku lewat kelas mantan gebetan pertamaku, kelas XI IPA 1, Ata. Bagusnya, kelasnya mendapat pelajaran guru killer yang lain. Yes, yes! Aku tersenyum senang. Makan tuh! celetukku dalam hati.
Setelah dari toilet dan kembali ke kelas, Pak Guru memberi tugas kepada kami. Yah, kalau sudah tugas pasti bosen nih judulnya. Apalagi hobi bapaknya ini buat tugas ngebuat teks-teks dari bahasa asing yang meskipun aku bisa, membuatku malas. Dan teksnya bisa 5 lembar untuk satu tugas. Bisa tebak pelajaran apa?
Bahasa Inggris.
Sabar Zakaria, sabar. Aku hanya tersenyum dan mengerjakan tugas. Sampaikan tiga jam pelajaran ini tuntas saja.
Sampai bel akhirnya berbunyi, setelah bapaknya keluar, kami pun bersorak "Merdeka!" Bak pasukan 45 bertenaga penuh, maklumlah, tiga jam pelajaran p********n.
Aku hanya melirik ke jam yang mengarah ke angka 1, dan bergegas pergi ke kantin sekolah. Teman-teman ada yang sholat juga ada yang ke kantin. Tapi kali ini ada yang beda, biasanya kalau sudah masuk kantin, semua cewek pada sorak kegirangan melihat ku, maklumlah nih orang juara OSN provinsi, ganteng lagi, hahaha!
Pede amet yah. Terlalu pede.
Sementara aku di kantin, aku melihat si Aya. Aku lewat aja dengan sinis dan sombongnya dekatnya. Aya tampak berusaha untuk tidak memperdulikanku. Aku yakin sekali, dia menyesal pernah menolak ku. Ku teruskan langkahku menuju kelas.
Di kelas, Luna berulang kali mengucapkan maaf atas kejadian tadi pagi. Aku cuma mengiyakan dan tak peduli, lalu pergi ke mejaku. Aku terkejut ada surat di mejaku. Dari siapa? Gumamku kebingungan. Dan entahlah, ini adalah surat kesekian yang ku dapatkan di mejaku bulan ini.
***
"Mentari jatuh, rembulan sirna."
"Kau masih saja membaca itu?" Laki-laki itu berjalan dengan tenang mendekati temannya itu.
"Ada apa, Kak?" balasan datar itu keluar dengan cepat.
"Seperti biasa, aku akan memberikan penugasan lagi untukmu. Target pengawasan kali ini cukup menantang." Kalimat itu membuat lawan bicaranya menatap heran kepadanya. Ada sirat tertarik mendengar kata 'menantang' itu.
"Nama orang yang kau awasi adalah-"