Siapa nih anak letakin nih surat. Ah ogah, buka aja lah.
Aku pun membuka surat itu.
"Kaka Zakaria yang dede cintai, dede ingin sekali bertemu dengan kakak. Bolehlah dede memohon supaya bisa bertemu kakak di taman pulang sekolah?
Anisa Liana, X IPA 8"
Surat ginian lagi. Bosen dapat ginian terus. Aku ini bukan barang rebutan, plis deh. Hanya itu yang bisa ku katakan dalam hati. Sebenarnya ini adalah bisnis harian, dapat surat macam ini dengan berbagai kadar gombal, kadang dapat sampai 5 sehari, bahkan ada yang tidak pernah jera mengirim lagi dan lagi, ah udahlah.
Lalu, aku dikejutkan oleh pengumuman sekolah yang membuat semua siswa sontak kegirangan. Coba tebak?
Bukan. Bukan pulang sekolah cepat, tapi rapat guru. Meski tidak seperti pulang sekolah, setidaknya ini adalah kemerdekaan kedua yang didapatkan para siswa.
Untuk menghargai siswi kelas X ini, langsung aja deh aku berkunjung. Katakan terima kasih nanti ke rapat gurunya. Aku berangkat ke kelas X IPA 8 dengan cepat. Agenda ini harus selesai sebelum rapat kelar.
Begitu aku tiba di depan kelas, aku mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum," ucapku.
"Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh!" Teriakan balasan penuh semangat datang para siswa disana. Para siswi langsung pada syok kegirangan melihatku, baik yang diluar maupun didalam. Ogah ah lihat cewe cewe ginian, mau pulang aja gue, pikirku kesal.
"Anisa Liana," ucapku, yang menggegerkan semua yang melihat. Liana langsung mendatangiku dengan kegirangan.
Aku, yang sudah bad mood duluan, langsung ke poin aja. "Anisa Liana, kamu ingin mengatakan kalau kamu cinta aku?" Dan aku mengatakannya dengan santai. Para siswi langsung berbisik, sementara para siswa langsung bersorak, "tembak, tembak!"
"Maaf, aku nggak bisa nerima," jawabku dengan nada serius, yang menyayat hati Liana. Liana pun langsung terjatuh menangis terisak-isak. Para siswa dan siswi pun langsung heboh. Aku tidak mengatakan apa-apa, ataupun menolong Anisa. Biarlah dia belajar, bahwa dunia lebih keras daripada hanyalah sebuah penolakan.
Rendah amet sih kodrat cewe sekarang, jilbab aja sekarang yang ngaku muslim berani lepas, heran deh. Ngumbar aurat biasa-biasa aja. Ngakuin cinta dan pacaran, ah bodoh deh semuanya. Cowo cewe sama saja sekarang ini. Dan itulah yang ku pikirkan sementara aku melangkah pergi. Dan aku pergi meninggalkan tempat itu tanpa penyesalan sedikitpun. Iya, sudah jadi "bisnis" harian sebenarnya kalau masalah menolak cewe, karena disini aku dalam posisi seperti oase di padang pasir, dicari oleh mereka yang kehausan, haus akan pamor dan ketenaran.
Hola langsung mendatangiku saat aku berjalan ke kelas.
"Lo gak nyesel nolak tuh cewe?"
"Ah bodo, gue sudah menderita duluan," jawabku.
Tiba-tiba, Faisal, ketua Islamic Student Club, mendatangiku bagaikan halilintar yang menyambar.
"Assalamu'alaikum, Zakaria, guru agama mencari kamu, beliau di kantor guru," ucapnya. Jangan bilang aku kena masalah lagi.
"Wa'alaikumussalam. Oke, aku pergi dulu," jawabku. Aku meninggalkan Hola yang segera beralih haluan ke kantin. Siapa yang mau dapat eksekusi guru agama coba?
Sampai di ruang guru, aku dapat teguran habis-habisan dari bapak guru agama supaya tidak memancing hawa nafsu. Seperti biasa, aku hanya menanggapi dengan satu pernyataan andalan, yang menurutku usang tapi memang apa adanya, setidaknya menurutku, "Pak, saya tidak ingin, tetapi Syaithon sepertinya menguasai mereka. Saya tidak ingin jadi target hawa nafsu mereka."
Bapak guru agama hanya bisa bernafas dalam, sepertinya mengerti apa maksud kata-kata ku. Beliau menyuruhku kembali ke kelas. Aku pun izin kembali ke kelas lalu mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum," ucapku.
"Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh," jawab beliau.
Aku pun tiba di depan kelas.
Akhirnya sampai kelas, kayaknya tuh luka berbekas bikin ributnya, gak ada yang cari aku lagi tuh. Pikirku dalam hati dan meletakkan sepatu di rak sepatu samping kiri pintu.
Bergegas aku masuk.
Di kelas, aku dapati Lia sendirian. Tak ku sadari, Lia melihat ku arahku dan mata kami berhadapan untuk beberapa detik. Aku sangat terkejut sampai tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saat matanya menatap, aku merasa seperti untuk pertama kalinya, setelah dua tahun hampa, merasakan namanya cinta.
Aku pun tersadar setelah Lia menurunkan pandangannya.
Astaghfirullah al adzhim. Batinku dalam hati.
Aku menolak apa yang baru ku rasakan dalam satu pandangan itu, dan pergi keluar.