Bab 5

353 Words
"Ya Allah, hamba ini hanya berharap Engkau membimbing hamba dalam menjalani segala cobaan. Hamba hidup pada akhir zaman, maka dari itu perkuatlah iman hamba," ucapku. Saat ini aku berada di Musholla sekolah, membaca Al-Qur'an dan berzikir serta berdoa kepada Allah SWT. Aku memang hanya manusia yang banyak dosa, tapi aku senantiasa berharap akan ampunan Allah SWT. Setelah berdoa, aku membereskan perlengkapan ibadahku. Aku memutuskan untuk kembali ke kelas, menyusul Luna yang pergi duluan. Aku menyusuri jalan ke kelas. Dari kejauhan, aku bisa melihat gerombolan orang yang masih ribut. mungkin jadi kebiasaan si Ahya yang nolak perempuan. Batinku sambil mengusap d**a. Aku pun kembali ke kelas, yang kudapati kosong tak berisi sama sekali. Luna mungkin lagi keluar sama teman-teman yang lain. Pikirku, sambil memasuki kelas setelah mengucapkan, "Assalamu'alaikum." Lalu, aku pergi ke tempat dudukku dan mengerjakan tugas-tugas yang belum selesai. Satu per satu lembar buku itu terisi dengan jawaban dan penjelasan dari setiap soal yang diberikan oleh guru. Memang, bukan main tugas yang diberikan, mengerjakan 20 soal yang notabene sulit adalah sebuah p********n tersendiri bagi yang tak mampu. Namun, aku disini bukanlah tanpa perjuangan, dan hanya sekumpulan tulisan di kertas tanpa hayat akan membuatku mundur dari menorehkan sejarah. Aku telah membuat janji dan aku tidak akan mengingkarinya saat ini. Aku menyadari seseorang memasuki kelas. Tanpa sengaja aku menoleh ke arah sumber suara untuk bertatapan persis ke arahnya. Untuk sejenak aku terhentak diam ditempat. Sebuah perasaan aneh mulai menyeruak di diriku, namun aku segera mengambil kendali lalu menghentikan arah pandanganku. Dengan segera aku menurunkan pandangan. Entah mengapa diriku menjadi tidak stabil. Aku berusaha menenangkan diri. Aku menyadari bahwa dia telah pergi meninggalkan kelas. Aku kembali mengerjakan tugasku, sementara jantungku berdenyut kencang. Astaghfirullah, tenang Lia, tenanglah. Batinku dalam hati. Waktu terus berlalu, namun rasa itu tidak pudar meski hentakan kaki yang berlalu lalang terus terdengar. Suara manusia yang berbicara tidaklah menghapuskan rasa aneh itu. Justru dia semakin menyeruak tanpa kendali, seakan mencoba mengambil alih. Aku mencoba terus menutupnya, agar dia tidak mencoba berkuasa. Akulah yang harus terus menjaga diriku, karena itu aku tidak boleh membiarkan rasa ini memegang kendali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD