Di ruangan serba putih yang dingin dan steril, Lopita terbaring kaku di ranjang rumah sakit. Hawa AC menusuk kulitnya yang kini setengah terbuka di bagian perut. Perawat dengan sigap mengoleskan gel bening dan dingin ke kulitnya, menyiapkan area untuk prosedur yang akan datang. Sebuah alat yang terasa asing dan dingin kemudian ditempelkan, mulai bergerak perlahan, menelusuri setiap inci kulitnya. Di layar monitor besar di hadapan mereka, gambaran rahim Lopita mulai terbentuk, hitam putih namun semakin jelas dengan teknologi 4 dimensi yang canggih, memperlihatkan kehidupan yang berdenyut di dalam sana. Dokter Hans, sosok tenang dan berwibawa, satu-satunya dokter kepercayaan Leon yang selama ini menjadi saksi bisu perjuangan dan kekecewaan Leon dalam kasus kemandulannya. Selama bertahun-ta

