Di bawah teduhnya pohon di taman belakang rumah, Lopita dengan tenang mengupas buah apel. Sesekali, ia bersenandung pelan, menikmati kesendirian dan semilir angin sore yang membelai wajahnya. Aroma segar apel memenuhi udara, menambah ketenangan suasana. Lopita begitu larut dalam kegiatannya, fokus pada setiap irisan yang ia buat dengan pisau buah di tangannya. Tiba-tiba, sebuah suara berat dan dingin memecah kesunyian, "Lopita." Lopita terlonjak kaget. Jantungnya serasa mau copot mendengar sapaan dingin yang tak terduga itu. Karena refleks, tangannya bergerak tak terkendali. Pisau buah yang tajam itu meleset dari kulit apel, dan bukan main, langsung menggores dalam jari telunjuknya. "Aduh!" pekik Lopita tertahan, matanya langsung berkaca-kaca menahan perih yang menyeruak. Setetes dar

