Yura

1103 Words
"Ayah mau istirahat dulu. Nanti sore banyak pekerjaan yang harus diurus di rumah makan." suara ayah datar dan dingin. Matanya bahkan tidak melirik ke arah Karen. Karen memilih mengunci mulut. Ayah beranjak dari kursinya menuju kamar. Karen menarik napas panjang mengatur detak jantungnya. Mendengar begitu saja nyali terasa menciut. Habislah harapan Karen. "Habiskan makan siangmu. Ibu mau bereskan piring dulu," ibu mulai mengumpulkan piring kotor bekas makan. "Nanti biar Karen yang cuci Bu," "Sudah kamu habiskan makan saja dulu." Ibu berlalu ke dapur dengan piring kotor di tangannya. Pikiran Karen mulai kemana-mana. Jangankan untuk menghabiskan makanan. Mengunyah saja terasa berat. Drrrt … drrt … ponsel dalam saku bergetar. Segera ia keluarkan dan mengintip nama siapa yang muncul di layar. [Fidya calling ….] "Ada apa Fid?" tanya Karen menjawab telepon dari asisten yang membantunya mengelola rumah makan. "Mbak Karen hari ini ke kedai enggak?" tanya Fidya. "Hmm, iya deh. Tapi nanti sore sekitar jam lima ya," "Kalau jam empat sudah di kedai bisa tidak Mbak?" "Memang ada apa?" "Ada yang mau bertemu Mbak, katanya teman SMA dulu. Dia bilang mau pesan ayam untuk acara hajatan." Sesaat Karen tidak menjawab. ‘Kebetulan macam apa ini? Mungkin ini memang rezeki. Pas sekali ketika aku ingin mencari lagi kontak teman-teman SMA, pas ada yang mau pesan juga? Siapa kira-kira? Jangan-jangan ….’ Batin Karen menebak-nebak "Laki-laki atau perempuan Fid?" "Perempuan Mbak, katanya lihat iklan kedai ayam bakar Mbak di sosial media." "Namanya siapa?" "Maaf Mbak, saya lupa tanya. Dia cuma bilang teman SMA Mbak," "Ya sudah, nanti saya ke kedai sebelum jam empat sore." "Baik Mbak," Sambungan telepon terputus. Nasi di piring Karen tinggal beberapa sendok lagi. Ia paksakan makan karena sebetulnya perutnya memang lapar. Selesai makan segera Karen menyusul ibu ke dapur. "Biar Karen aja Bu," ia hampiri ibu di wastafel cuci piring. "Sudah selesai." jawab ibu. Ibu membasuh tangannya yang sebelumnya penuh busa lalu duduk di kursi. "Kamu jangan memaksakan bicara sama Ayahmu dulu ya, nanti malah repot. Malah jadi marah." ucap ibu. Karen mencuci piring bekas makannya sendiri. Sedikit ia lirik wajah ibu lalu mengangguk sebagai jawaban. Melihat sikap Ayah tadi rasanya dengan ibu pun ia jadi tidak terlalu berani membahas ini. "Ibu istirahat saja. Nanti sore Karen mau ke kedai," kata Karen. "Sore? Jam berapa? Tadi pagi kamu bilang hari ini tidak mau ke kedai." "Barusan Fidya telepon, katanya ada yang mau pesan untuk hajatan. Maunya ketemu langsung sama Karen." "Memang orang yang pesan kenal sama kamu?" tanya ibu. "Kata Fidya orang itu mengaku teman SMA Karen. Tapi Fidya lupa tidak menanyakan namanya." "Hmm, begitu. Ya sudah nanti kamu bareng ayah saja. Biar ayah antar dan pulangnya di jemput." "Enggak usah Bu," sahut Karen cepat sembari meletakkan piring yang baru selesai ia cuci. Ibu menatap Karen sesaat. "Ya sudah terserah kamu saja." ucapnya. "Iya Bu, Ibu istirahat saja. Karen juga mau ke kamar." Ibu berlalu lebih dulu. Berselang beberapa menit Karen menuju kamarnya lalu membaringkan tubuh di atas tempat tidur berkasur empuk. “Mana mungkin aku mau diantar jemput ayah. Bisa-bisa ayah menginterogasi banyak hal di mobil nanti. Terus orang yang pesan makana di kedai siapa ya? Teman SMA? Cewek? Bikin penasaran aja,” Karen mengoceh sendiri bertanya-tanya. *** Pukul 15.00 WIB, perlahan Karen mengintip lewat kaca jendela kamar. Ayah sudah bersiap masuk mobil untuk kembali berangkat. "Ren," "Iya Bu!" Panggilan ibu membuat Karen terperanjat. "Kamu sedang apa? Dipanggil begitu saja kaget?" tanya ibu. "Eng-enggak bu," "Katanya mau ke kedai? Kok belum siap-siap? itu ayah sudah mau berangkat." "Eng, belum mandi bu," Karen berdalih mencari alasan. "Ya sudah sana mandi. Katanya punya janji sama orang. Ayah sudah siap berangkat. Nanti kamu jadi berangkat sendiri?" "Jadi Bu, aku mandi dulu ya, biar nggak telat." "Iya, gak baik buat orang menunggu." Ibu akhirnya keluar dari kamar Karen. Segera Karen bergegas menuju kamar mandi. Air shower mengucur deras membasahi tubuh. Karen mandi dengan cepat-cepat. Tidak mau membuat orang menunggu dan terutama, ingin cepat menjawab rasa penasarannya. Siapa teman SMA yang mencarinya itu. "Bu, aku pamit ya," Karen mencium punggung tangan ibu setelah berpakaian rapi. Ibu mengamati putrinya seperti biasa. Biasanya ada beberapa komentar tentang busana yang Karen kenakan. Rasanya seperti sedang berhadapan dengan desainer profesional setiap kali Karen pamit mau pergi. "Coba ibu lihat?" Ibu memperhatikan pakaian putrinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Tumben pilihan baju kamu bagus. Biasanya harus dipilihkan ibu dulu." Komentar ibu kali ini membuar Karen lega. Karen mengenakan dress simple berwana mocca yang kelihatan cassual namun elegan. "Iya dong, aku kan belajar dari ibu. Masa harus dipilihkan baju terus sama ibu?" "Ya sudah sana berangkat. Hati-hati," Ibu mengantar Karen sampai teras. Matanya tak henti mengawasi sampai Karen masuk ke dalam city car berwarna putih yang selalu setia menemaninya kemana-mana. Baru saja masuk mobil, ponsel berdering lagi. Panggilan dari Fidya. "Iya Fid, saya baru jalan." Jawab Karen agak kesal. "Orangnya sudah di kedai Mbak," suara Fidya agak panik. Rasa penasaran dalam hati Karen makin besar. Ia pasang handsfree untuk melanjutkan pembicaraan di telepon sembari mulai memacu kendaraannya keluar halaman rumah. "Fid, tanyakan siapa namanya." "Orangnya sedang ke toilet Mbak," "Ah, kamu ini. Tadi lupa, sekarang ke toilet." "Betul Mbak, orangnya sedang ke toilet." jelas Fidya meyakinkan. Biasanya Fidya memang pemalu Karen sempat berpikir dia hanya mencari alasan. Padahal sebenarnya dia yang malu disuruh bertanya siapa nama orang itu. "Ya sudah suruh tunggu saja. Bilang saya sebentar lagi sampai." Jalanan agak lengang. Kalau sedikit macet biasanya butuh waktu tiga puluh menit untuk tiba di kedai. Karen memacu kecepatan sedikit lebih tinggi dari biasa. Dua puluh menit berlalu ia tiba di kedai miliknya. Sebuah kedai berkonsep milenial dan unik yang ia rintis dari nol sejak masa kuliah. Ada sebuah mobil berwarna silver terparkir di halaman kedai. Karen langsung meyakini ini adalah milik orang yang mengaku teman SMA nya itu. "Mbak, orangnya duduk di sebelah sana," Fidya langsung menghampiri ketika melihat Karen tiba. Ia menunjuk ke sebuah meja yang berada di sudut kedai. Karen mengangguk bola matanya mengikuti kearah yang Fidya tunjuk. Ada seorang wanita mengenakan gamis berwarna ungu dan jilbab dengan warna senada. Posisi duduknya membelakangi arah Karen berdiri saat ini. Tanpa buang waktu Karen mendekat dan menyapa wanita itu. "Permisi," sapanya perlahan. Sosok yang disapa menoleh. Wajahnya cantik dengan kulit glowing terawat. Sehingga polesan make up sedikit saja sudah mampu membuatnya terlihat memesona. "Karenina," sosok itu beranjak dari kursi menyambut Karen dengan ceria. Karen mencoba menjelajahi memori. Tetap saja tak ia temukan ingatan siapa sosok ini. "Ini aku," katanya menunjuk diri sendiri. Ada sedikit perasaan tak enak dalam benak Karen karena ia tak mampu mengenali wanita yang kelihatan begitu akrab mengenalnya ini. "Yura, teman SMA dulu, pasti lupa kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD