dr. Rendra Sumarmo

1136 Words
“Eng, aku akan menerima lamaran putra keluarga Sumarmo,” ucap Karen setelah bernegosiasi dengan diri sendiri. Wajah ibu seketika berbinar dan tersenyum lebar. “Tunggu dulu ada tapinya,” lanjut Karen. “Apa? Apa? Kamu minta syarat apa?” “Waktu pertemuan keluarga nanti kan masih tiga bulan lagi?” “Iya, Kenapa? kamu minta dipercepat?” “Gak Bu, enak aja.” Buru-buru Karen meluruskan pemahaman ibu. “Aku gak minta dimajukan atau dimundurkan. Aku cuma minta ibu dan ayah kasih aku waktu untuk menemukan Mas Aga.” “Maksud kamu?” “Waktu pertemuan keluarga akan diadakan tiga bulan lagi, artinya aku masih punya waktu untuk berusaha menemukan Mas Aga. Kalau aku berhasil, aku akan bawa Mas Aga menemui ayah dan ibu. tapi kalau sampai waktu yang ditentukan aku belum juga menemukan Mas Aga, aku menyerah. Aku ikut pilihan ibu dan ayah.” Ibu terdiam. Dahinya berkerut tanda berpikir mencerna putrinya barusan. “Memangnya kamu mau mencari Aga dimana?” Ibu setelah beberapa detik. “Aku belum tahu Bu, tapi aku akan coba tanya ke beberapa teman yang mungkin tahu.” “Siapa teman kamu yang juga mengenal Aga?” “Kalau cuma sekedar kenal, banyak yang kenal Mas Aga Bu. Tapi … gak banyak yang tahu keberadaannya. Mas Aga orangnya pendiam dan tertutup.” Ibu tidak berkata lagi. Tampak gejolak tak sepaham di rautnya. Namun enggan Ibu Sampaikan. Takut menyakiti perasaan Karen. "Ya sudah kalau begitu, tapi waktu kamu cuma sampai sebelum acara pertemuan keluarga ya, tidak ada nego perpanjangan waktu." Reflek Karen memeluk ibunya seerat mungkin. Tinggal satu lagi, ayah. Apa ayah akan semudah ibu mengijinkan permohonan Karen? "Tapi bagaimana dengan ayah Bu?" "Nanti kita bicara sama ayah." "Tapi …." "Nanti setelah makan siang kita sama-sama bicarakan ini pada ayah. Tapi kamu harus ingat, jangan memaksa. Kamu tahu sendiri kan, ayahmu keras." "Iya Bu," Karen berlari ke kamar bersorak kegirangan di depan kaca. Rahasia yang terpendam menahun akhirnya berani ia utarakan pada ibu. Walau entah ia akan mulai mencari Aga dari mana …. *** Adzan dzuhur baru saja berkumandang. Ibu dan Karen bergegas melaksanakan solat. Bi Inah selesai menyiapkan hidangan makan siang di meja. Dia sudah bekerja di keluarga ini sejak Karen belum lahir. Biasanya bi Inah akan pulang ke rumahnya setelah pekerjaannya selesai. Setiap hari ia datang untuk mencuci, menyetrika serta membersihkan rumah. Urusan memasak, tetap ibu yang pegang sepenuhnya. Bi inah sebatas menyiapkan saja di atas meja. "Sudah siap semua In?" ibu membuka kursi lalu duduk sambil mengabsen makanan yang dihidangkan di meja. "Sudah Bu," jawab bi Inah. "Ya sudah kalau mau pulang, jangan lupa bungkusin makanannya untuk orang rumah," "Inggih Bu," Bi Inah menuju dapur lalu bersiap pulang. Rumahnya hanya berjarak beberapa rumah dari sini. "Ayah masih lama gak Bu?" tanya Karen yang sudah sejak tadi menunggu ibu di meja makan. "Sebentar lagi," jawab ibu. Terdengar suara mobil ayah di depan rumah. "Tuh, sana buka pintunya," ibu memerintah. Karen bergegas keluar membukakan gerbang. Kali ini melihat mobil ayah saja jantungnya berdebar tak karuan. Karen dan Ayahnya lalu berjalan beriringan menuju meja makan. Ayah setiap hari pergi ke rumah makan miliknya di pagi hari dan pulang saat makan siang untuk beristirahat sejenak di rumah. Ia akan kembali lagi ke rumah makan sekitar pukul 16.00 WIB selepas ashar. Semua pekerjaan di rumah makan milik ayah dikerjakan oleh karyawan. Ayah datang hanya untuk mengontrol dan mengawasi terutama urusan keuangan. Ibu menuang air putih ke dalam gelas ketika ayah sudah tiba di meja makan. Seperti biasa ayah menyambutnya dengan segera meneguk sampai habis. Kami pun segera memulai makan siang. "Ini ibu masak gurame asam manis kesukaan ayah," ibu menyendokkan nasi ke piring beserta lauknya. "Wah, spesial dong ini," ayah menerima piring berisi nasi dari ibu. "Makan yang banyak Ren, kok bengong aja," ujar ayah. Tatapan kosong Karen rupanya tertangkap Ayah. "Eng, iya Yah," Ayah dan ibu terlihat lahap. Sesekali mereka bercakap-cakap ringan. Cerita tentang pelanggan di rumah makan ayah, cerita tentang karyawannya, atau cerita tentang harga cabe di pasar. Biasanya Karen selalu ikut bicara. Namun kali ini bibirnya rasanya terkunci. Isi kepala Karen tak henti mengumpulkan rangkaian kalimat yang pas untuk disampaikan pada ayah perihal Aga. "Kamu lagi gak enak badan Ren? Kok makan dari tadi kayak gak berselera begitu?" Pertanyaan ayah membuat Karen terkejut. "Eng-enggak kok Yah, ini aku makan," buru-buru ia masukkan nasi ke mulut. Tampak piring ayah dan ibu sudah kosong. Ibu lalu mengupaskan apel untuk ayah. "Bagaimana tentang rencana keluarga Pak Sumarmo untuk berkunjung ke sini Yah?" tanya ibu "Uhuk!" Mendadak Karen tersedak mendengarnya. "Kamu kenapa tho? Makan jangan buru-buru, pelan-pelan." Ibu menyikut Karen. Air putih di gelas Karen teguk hingga tandas. Sambil mengamati wajah ayah dan bersiap mendengar respon darinya. "Ya tentu jadi, baru tadi ayah telponan sama Pak Sumarmo. Ternyata Rendra itu sekarang sudah punya klinik sendiri di Jakarta sana," ujar ayah begitu bersemangat. Ternyata putra keluarga Sumarmo itu bernama Rendra. Ayah mengunyah apel yang disajikan ibu. Karen melirik wajah ibu sesaat. Aku belum bisa menebak apa yang akan diucapkannya untuk membalas kalimat ayah. "Oh, hebat dong Yah sudah punya klinik sendiri. Berarti Rendra tinggal di Jakarta?" sahut ibu. "Iya, tapi dia juga sedang persiapan membuka klinik satu lagi di dekat rumahnya." Karen hanya menyimak obrolan mereka tanpa ikut menyahut. "Lho memangnya tidak repot punya klinik dua di kota yang berbeda? Jauh lagi jaraknya. Siapa yang mengelola nantinya?" Ibu antusias bertanya. "Pak Sumarmo bilang, setelah menikah, Rendra akan pulang dan tinggal di kampung halamannya. Klinik yang di jakarta entah nanti di tutup atau bagaimana ayah kurang tahu. Yang pasti untuk saat ini dia masih menjalankan klinik yang di Jakarta. Dan bekerja di rumah sakit besar juga." "Calon menantu idaman ya Yah," ibu malah membumbui. Ayah berkelakar bahagia mendengarnya. Karen semakin tenggelam dalam perasaan kalut. Kalau Ayah terdengar sebangga itu pada sosok Rendra, bagaimana mungkin ia bisa meyakinkan ayah tentang Aga? "Ayah kan belum bertanya pada Karen, kira-kira anak kita ini setuju tidak dengan pilihan Ayah, atau mungkin Karen diam-diam sudah punya calon, harus ditanya dulu lho Yah," ibu mulai memancing. Ayah tertawa. Mungkin dianggapnya omongan ibu barusan adalah gurauan. "Mana ada calon yang lebih baik dari Nak Rendra Sumarmo? Memang kamu punya Ren?" tanya ayah. Tenggorokan Karen rasanya tercekat dan berat untuk bicara. "P-punya Yah," ucapnya gemetar. "Punya? Kamu diam-diam sudah punya calon? Siapa namanya? Kenapa tidak dikenalkan pada Ayah?" pertanyaan yang sama seperti yang dilontarkan ibu saat pertama kali mendengarnya. Karen kenal betul siapa ayahnya. Sebisa mungkin ia menghimpun kata-kata agar bisa diterima logika ayah. "Maksudnya, Karen mohon ijin untuk berdamai dengan hati Karen di sisa waktu yang Karen punya sebelum pertemuan keluarga itu digelar Yah. Kalau memang Allah mengijinkan Karen bisa membawanya bertemu Ayah dan Ibu sebelum tanggal yang ditentukan, Karen mohon agar Ayah mempertimbangkan pilihan Karen. Tapi kalau takdir berkata lain, Karen manut pilihan Ayah dan Ibu." Tak ada jawaban dari ayah. Suasana hening seketika …. Bersambung .... kira-kira kalau kalian lebih memilih dijodohkan sama dokter ganteng atau mencari cinta pertama nih?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD