Mendadak grup chat itu membuat hari Karen terasa lebih berwarna. Hingga malam tiba ia masih betah berlama-lama di kedai.
Fidya terlihat gelisah. Biasanya dia sudah kembali ke rumahnya sejak pukul 18.00 WIB ketika kedai sudah tutup. Tapi kali ini ia memilih tetap tinggal.
Kedai sudah tutup sejak satu jam yang lalu. Semua kursi meja dan peralatan memasak sudah dirapikan. Fidya sesekali hanya mengintip Karen yang masih asik di ruang belakang. Tak henti-hentinya Karen tersenyum-senyum sendiri menatap ke layar ponselnya.
"Eh Fid," tanpa sengaja pandangannya berpapasan dengan tatapan Fidya yang sejak tadi mengamatinya. Mau berucap pamit tapi tidak berani. "Sana pulang aja Fid, jangan nunguin aku. Aku masih pengen di sini."
Ucapan Karen membuat Fidya lega. "Makasih ya Mbak, aku pulang duluan ya,"
"Hmm," Karen mengangguk dengan tatapan yang kembali tertuju ke layar ponsel.
Ada beberapa nomor ponsel yang Karen simpan. Nomor teman-teman yang ia kenal dekat dulu.
Mendadak Karen merencanakan banyak hal setelah reuni itu. Ia bertekad menelusuri satu persatu teman lama yang ada ia kenal dekat dahulu agar bisa segera menemukan keberadaan Aga.
Tepat pukul 21.00 wib. Karen akhirnya meninggalkan kedai dan bergegas pulang.
"Kamu kok jam segini baru pulang?" Ibu yang ternyata sudah menunggunya di depan pintu sejak tadi langsung menyambut dengan tatapan penuh tanya.
"Hehe, biasalah bu, ada urusan sedikit," Karen mencoba berkelit.
"Sudah makan belum?" tanya ibu tetap dengan tatapan curiga.
"Udah dong, masa pulang dari kedai belum makan,"
"Kamu gak habis pergi sama siapa-siapa kan?"
Karen langsung menggeleng.
"Ingat ya, sebentar lagi kamu mau tunangan. Jangan macam-macam."
"Hmm, iya bu," tak ingin membiarkan ibu membahas lebih jauh lagi Karen langsung melenggang ke kamarnya.
Kelanjutannya nanti siang ya ....