Sopir Untuk Karen

449 Words
"Kamu ini kebiasaan, ibu masih ngomong ngeluyur aja ke kamar, nanti kalau sama mertua gak boleh begitu. Dikiranya ibu gak ngajarin kamu nanti," ibu nerocos mengomel. Sementara Karen terus melenggang sampai tiba di kamarnya dan menutup pintu. Ia hempaskan tubuh yang lelah di atas tempat tidurnya yang empuk. Samar-samar Karen masih mendengar ocehan ibu tentang 'mertua'. Sosok yang konon katanya membuat hidup seseorang betubah setelah menikah nanti. Ada sekelebat bayangan mertua seperti di sinetron-sinetron muncul dalam kepala Karen. "Ish! Ngapain sih aku mikirin itu?" Karen menggerutu sendiri. Ocehan ibu yang terdengar samar-samar dari kamarnya akhirnya reda. Perlahan Karen menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sengaja ia buru-buru masuk ke kamarnya bukan karena tak sopan. Meninggalkan begitu saja ibu yang sedang bicara. Karen hanya berusaha menghindar. Menghindari obrolan tentang dokter Rendra. Ia lelah kalau harus dijejali wejangan terus menerus terkait rencana perjodohan dengan dokter Rendra. Tok … tok … tok … suara ketukan di pintu kamar membuat Karen meletakan kembali ponsel yang baru saja diraihnya. "Ren, ibu mau bicara dulu sebentar," Dengan berat Karen beranjak dari tempat tidurnya. Sepertinya ibu menyadari kalau ocehannya yang panjang lebar tadi hanya menjadi angin lalu yang tak didengar oleh Karen. "Iya Bu," Karen membuka sedikit pintu kamarnya. "Kamu kok belun ganti baju sih? Kalau pulang cepat ganti baju, bersih-bersih baru tidur." Sepasang bola mata ibu memeriksa dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Iya," jawab Karen malas. "Ibu cuma mau sampaikan pesan Ayah. Ayahmu kan masih diluar, barusan kirim pesan. Mulai besok ada sopir yang khusus untuk antar-antar kamu." "Sopir?" Mats Karen yang sudah lesu mendadak melotot. "Sopir apa bu?" "Sopir truck! Ya sopir pribadi buat kamu lah," wajah ibu serius. "Gak mau, Karen kan udah biasa kemana-mana jalan sendiri. Dari jaman kuliah juga Karen biasa sendiri. Kenala sekarang mendadak ada sopir?" "Kamu ini calon manten. Tinggak hitungan bulan, jadi harus dijaga baik-baik." ucap ibu lembut. Karen makin terdesak dan tidak nyaman dengan perubahan Ayah dan Ibu. "Ibu sekarang udah ikut-ikutan Ayah, katanya ibu mau kasih kesempatan buat aku. Tapi sekarang, mau pergi aja aku harus dijagain sopir." Keluhnya. "Kamu jangan salah paham Ren, sopir itu bukan untuk mengekang kamu. Tapi lebih ke menjaga kamu biar kamu kemana-mana gak capek. Kamu kan setiap haru selalu sibuk, calon manten kalau terlalu sibuk dan kecapean nanti kalau pas hari H sakit gimana?" Karen membisu dengan bibir manyun. Ia biarkankan ibu beranjak dari depan pintu kamarnya tanpa memberi jawaban. Pintu kamar itu kembali Karen tutup. Sorot netranya hampa. Seakan merasa perjanjiannya dengan ibu sia-sia. Ibu nampaknya sudah bertekad bulat dan sehati dengan Ayah untuk memuluskan perjodohan ini. Sementara kesempatan mencari Aga sepertinya hanya basa-basi ibu untuk menghibur Karen saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD