TEENAGE EMOTION

2024 Words
Lana dan Silvia bertukar kertas yang mereka coret-coret dengan bolpen. Mereka tidak mengeluarkan suara sama sekali. Saat menulis pun mereka menutup kertas seolah khawatir ada orang yang mencontek tulisan mereka. Senyum yang mengembang di bibir mereka membuat teman-teman mereka penasaran. Siapa yang tidak? Mereka membicarakan soal jalan keluar tanpa berunding dengan yang lain. Sebagian dari teman mereka berpikir mungkin saja mereka membuat perkiraan yang salah atau mungkin saja mereka membuat kesalahan fatal. "Kalian membuat laki-laki jadi tidak berharga," keluh All tidak berusaha menutupi kekesalannya. "Ayolah, kalian belum tentu melakukannya dengan benar." "Aku akan memberitahukan kepadamu nanti, Sayang," ucap Silvia dengan lembut sambil menepuk pipi All. "Kami harus menyelesaikan semua ini dulu." "Bagaimana kita tahu ukuran rumah ini dengan benar?" Lana mendongak dari kertasnya.  Pertanyaan yang membuat All tersenyum senang. Lana tidak sepandai yang ia kira. "Tidak tahu? Jumlahkan saja petak lantainya."  Silvia tersenyum dan mencium All dengan gemas. "Kalau begitu kalian berdua akan melakukannyan untuk kami." Dia menunjuk All dan Mike. "Aku?" tanya Mike tidak percaya. "Kenapa aku?" "Kalau kamu mau membusuk di sini sih tidak masalah. Lupakan saja." Silvia tidak menoleh, terus mengerjakan denah rumah. Dia menggambar garis dengan bagian pinggir kertas sebagai penggaris. Cukup rapi untuk mahasiswa yang merasa salah masuk universitas. Mike menelan ludah. Sebenarnya dia tidak yakin dengan yang dilakukan Lana dan Silvia. Apa memangnya yang dipikirkan penari erotis dan anak mahasiswa? Namun, dia menyimpan gerutuan itu di dalam hati. Toh dia sendiri tidak punya solusi untuk kondisi mereka. Paling tidak ada yang berusaha melakukan sesuatu di sini. Lana meninggalkan Silvia. Dia meraba permukaan dinding rumah untuk melihat kemungkinan adanya celah untuk menyimpan sesuatu. Ia berharap pendiri rumah ini melakukan kesalahan seperti meninggalkan lubang paku atau sesuatu yang membuat dinding berlapis logam itu terlihat lemah. Nihil. Dinding rumah itu kokoh dan dingin.  "Dingin? Apa ini malam? Apa karena musim dingin? Apa ini berarti kami masih berada di negara empat musim? Kami masih berada di Amerika?" Lana mencoba mencari kemungkinan mereka tidur terlalu lama sampai melewatkan musim dingin. Tidak mungkin. Mereka pasti sudah dalam keadaan lemas dan memerlukan tambahan cairan makanan. Saat bangun, dia memang lemas, tapi tidak parah. Dia hanya merasa kurang cairan dan kering. Efek ini juga bisa didapat dari efek samping bius. "Bagaimana jika kami diterbangkan ke tempat lain? Ke tengah hutan Amerika? Tengah gunung? Bunker bawah tanah? Ada banyak tempat di Amerika yang jauh dari pemukiman penduduk. Jika memang begitu, setelah keluar dari tempat ini kami butuh sesuatu untuk bertahan hidup sampai bertemu dengan pemukiman warga," batin Lana lagi. "Apa yang kau lakukan?" Zac keluar dari kamar mandi. Ia hanya memakai celana jins. Tubuhnya yang berotot menguarkan aroma sabun segar. Sabun antiseptik. Aroma ini khas sekali. Lana menggunakannya untuk mencuci pakaian dalam.  Lana menelan ludah dengan gugup, berusaha mengusir bayangan Zac di kamarnya. Kenapa pada saat seperti ini dia malah membayangkan melakukan sesuatu dengan Zac? "Aku mencari celah di dinding. Bisa jadi dinding-dinding ini memiliki kelemahan. Siapa tahu pendirinya meninggalkan sesuatu." Lana berusaha tidak melihat mata Zac, tapi entah kenapa daya tarik mata kelabu itu begitu kuat  Zac mengangkat ke dua alisnya. "Siapa pun yang membangun rumah ini jauh lebih kejam dari Hittler. Mereka tidak berencana mengeluarkan kita dari rumah ini. Tembok baja. Yang benar saja?" "Dari mana kau tahu kalau logam itu baja?" "Memangnya benda apa lagi yang digunakan untuk membuat dinding rumah yang kuat?" Zac tersenyum menatap Lana. Dia berdiri terlalu dekat dengan Lana, tubuhnya terlalu mengintimidasi. "Pakai kausmu," ucap Lana dengan kikuk. "Kau membuatku tidak nyaman." Ah, akhirnya dia mengeluarkan keputusan yang benar. "Kau menginginkannya?" Lana tahu Zac hanya menggoda, tapi tetap saja sesuatu di dalam dirinya seperti meleleh saat Zac mengurangi jarak di antara mereka. "Apa yang kalian lakukan?" Mike sudah ada di belakang Lana. “Menyingkirlah dari situ!” "Tidak ada," jawab Lana dengan cepat, berusaha benar-benar terlihat seperti tidak ada apa-apa. "Pakai lagi pakaianmu, Magic Mike. Aku tidak punya uang untuk membayar aksi striptismu." Silvia berjalan dengan tenang ke dapur. "Aku akan membuat spageti. Kalian mau?" "Bangunkan aku kalau sudah siap." Zac mengerling pada Silvia. Gadis itu memutar mata. "Kamu tidur?!" Silvia melotot. "Apa lagi yang bisa kulakukan di tempat seperti ini? Membayar utang-utang tidurku yang sudah banyak berbunga." Zac terkekeh saat berjalan melewati Lana. Lagi-lagi aroma sabunnya membuat sesuatu di dalam diri Lana terasa geli. "Aku akan membantu," ucap lana, berjalan ke dapur, berharap melakukan sesuatu yang bisa membuatnya lupa tentang ini. "Aku suka masakan meksiko yang pedas." Lana tersenyum pada Silvia yang kembali tersenyum kepadanya. "Tolonglah, jangan lesbian. Kasihanilah aku." All menyentuh p****t Silvia. Gadis itu mengikik.  All akan meletakan tangannya pada p****t Lana sebelum gadis itu menyambar tangan All. "Jangan berani menyentuhku," desis Lana.  "Ugh... aku takut." All menjilat bibirnya. "Darling mengajarimu untuk tidak membiarkan orang menyentuhmu sembarangan? Hanya yang membayar yang boleh melakukannya?" "Tentu saja. Aku memilih siapa yang boleh menyentuhku," ucap Lana sambil menaikan alis, siap jika All berniat menjelakkannya. "Ini dapur, All. Bukan klub malam," ketus Silvua sambil memasukan pasta ke panci berisi air panas.  "Oke." All mengangkat tangannya. "Dapur bukan untuk laki-laki." All meninggalkan ke dua gadis itu sambil terkekeh. "Astaga! Kau ini seksis sekali." Lana memutar matanya. "Semua bahan makanan di sini instan." Silvia membuka lemari yang berisi bahan makanan.  Lana mengangguk. "Paling tidak kita tidak kelaparan." Lana mengedipkan mata kepadanya sebelum mengeluarkan gelang karet untuk mengikat rambutnya. "Mereka mempersiapkannya dengan detail. Mereka memilih bahan makanan yang bisa dimasak dengan microwave atau kompor listrik. Ini ketelitian yang luar biasa." Silvia menatap Lana. "Apa mereka sudah sering melakukan ini? Maksudku ada orang-orang sebelum kita?" "Kalau ada, di mana mereka?" Lana mengaduk pasta di dalam panci. Dia selalu suka melihat bagaimana air mendidih. Dia suka melihat gelembung-gelembung air mengangkat bagian pasta yang sudah lembek. "Di rumah lain? Atau..." Silvia menarik napas dalam. "Sudah mati. Mereka hanya bertahan beberapa bulan sampai bahan makanan habis, lalu mati kelaparan?" Benar. Bisa jadi seperti itu. Ada orang-orang sebelum mereka. Orang-orang bodo mungkin. Mereka menghabiskan makanan dalam waktu sekejap, lalu mati kelaparan di kamar mereka. Bisa jadi mereka putus asa dan melakukan bunuh diri bersama. Ini sangat mungkin. Di dalam surat itu disebutkan seolah mereka tidak mungkin bertahan sampai akhir. Penyelenggara permainan mengerikan ini tahu bahwa mereka tidak mungkin keluar sesuai harapan mereka. "Rambutmu keren sekali," kata Silvia tiba-tiba. "Rambut pirang bodoh ini? Yang benar saja. Rambut ini membuatku seperti perempuan tidak berotak yang bisa ditiduri siapa saja." Lana tertawa. "Aku rela mati demi mendapatkan kulit latina mu." Silvia tergelak. "Kenapa kau tidak mengecatnya?" "Sumpah. Aku mau mengecatnya. Tapi kalau bukan karena rambut ini, mereka tidak mungkin mempekerjakanku." Lana tersenyum masam. "Kalau aku keluar dari tempat sialan ini, aku akan berhenti bekerja dan hidup seperti manusia biasa." "Aku juga akan memulai sesuatu yang baru," ucap Silvia sambil menggenggam bahu Lana. Mereka bertukar senyum. Sesuatu yang baru. Lana memejamkan mata, mengingat lagi daftar hal baru yang ingin dilakukannya setelah keluar dari Darling. Mungkin dia akan menemui Mr. A yang tergila-gila padanya. Mungkin juga dia akan menghabiskan tabungan di Maldives seumur hidup. Dia bisa mengisi TTS sambil berendam di whirlpool. Dia juga ingin memberi makan orang utan di pedalaman Kalimantan. Semua impian menyenangkan itu musnah sudah. Dia tidak lagi punya kesempatan. Tidak. Dia tidak akan membiarkan semua berhenti di sini. Dia akan keluar. Dia akan menemukan jalan keluar. "Hei!" Silvia menjentikkan jari di depan wajahnya. "Apa yang kau pikirkan? Astaga! Kau melamun?" Silvia tertawa. "Ambilkan piring. Kita harus membagi spageti ini sebelum mereka baku hantam memperebutkannya." "Maaf," kata Lana malu. Dia melakukan permintaan Silvia. Silvia mengaduk spageti dengan saus sambil bercerita tentang bagaimana neneknya hidup dengan sangat hemat demi memberinya uang ke Amerika. Lana tidak banyak mendengarkan. Pikirannya masih terus menggali cara untuk keluar dari rumah itu. Jika memang mereka sudah mendapatkan caranya, ketepatan waktu ini sangat diperlukan. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang menunggu mereka di luar sana. Bisa saja merek terkurung di dalan gua yang penuh ular berbisa.  Ah, ular. Jika ada yang ingin dihabisinya di dunia ini, pasti dia memilih reptil tak berkaki itu  "Nah! Siap!" Silvia menatap piring-piring yang telah dihiasnya dengab bangga.  "Aku akan membawa makanan ini untuk Zac dan Ella." Lana mengangkat dua piring spageti. "Eh, Lana," panggil Silvia. "Tolong sampaikan maafku kepada Ella. Aku.. akan menyampaikannya sendiri kalau dia sudah, eh, dalam kondisi yang lebih baik." Lana menjawab Silvia dengan senyuman terbaiknya. "Aku akan tidur lagi. Berharap ketika bangun aku ada di tempat yang lebih baik," ucap Mike sambi menyeret kakinya di sebelah Lana. "Kau pikir Ella akan baik-baik saja?" Mike terdengar khawatir. "Tentu saja. Gadis remaja sangat sulit." Lana tidak pernah merasakan masa remaja. Dia juga sebisa mungkin menghindari berkenalan dengan remaja. Sudah cukuo dia menonton kisah remaja labil dari film. "Ya. Aku punya anak remaja yang, fiuh, membuatku gila." Mike bicara dengan sungguh-sungguh. "Andai kau pernah merasakan menjadi gadis remaja, kau akan lebih dari kata gila." Silvia terkekeh. "Setuju," kata Lana sebelum membawa dua piring di tangannya ke atas. Lana melihat barisan pintu kamar putih yang tertutup di depannya. Kamar yang disediakan ada delapan. Padahal mereka hanya bertujuh. Kursi makan juga ada delapan. Gelas dan piring makan juga ada delapan. Berarti memang mereka benar-benar mempersiapkan seorang pemain lagi. Apa satu pemain itu sudah mati saat dalam perjalanan ke sini? Lana mengetuk pintu kamar Ella. Pelan. Ella tidak menjawab. "Maaf, Ella. Aku masuk." Lana memegang baki dengan satu tangan sementara tangannya yang lain berusaha membuka gagang pintu. Ella tidur dengan menutupi dirinya dengan selimut. kepalanya tertindih bantal. Lana meletakan bakinya di atas meja. Lalu berjalan mendekati Ella. "Hai, sayang. Kau harus makan." Lana membuka selimut. Ella menariknya. "Dia membunuh ibuku." Ella mengeluarkan suara parau. Lana menjambak selimut yang menutupi tubuh Ella hingga selimut itu terlepas. Ella terbaring meringkuk seperti janin. Lana merasa melihat masa lalunya. Saat kematian ibunya, ia meringkuk berhari-hari di tempat tidur. Ketakutan pada apa yang akan dihadapinya setelah kematian ibunya. "Aku sendirian. Sekalipun keluar dari temat terkutuk ini aku tetap sendirian." "Bukankah itu yang kamu inginkan?" Lana meletakkan piring di meja dan merapikan sendok plastik di atasnya.  "Aku tidak pernah bersungguh-sungguh mengatakannya. Kau tahu, aku tidak benar-benar membenci ibuku. Aku hanya ingin dia tahu kalau aku punya masalah. Aku ingin dia sedikit peduli padaku." Lana diam saja. Tidak ada kata-kata baik yang bisa diucapkannya sekarang. Dia ingin sekali menjadi orang suci yang mengatakan turut berbela sungkawa atau menawarinya menjadi anak asuh. Tidak. Lana tidak benar-benar bersimpati. Ella sudah melakukan hal yang buruk.  "Kalau kau mencintainya, seharusnya kau katakan padanya." Lana tidak bisa menahan diri. "Tidak ada ibu yang membenci anaknya." "Ibumu juga" Lana mengangkat bahu. "Ibuku meninggal saat melahirkan adikku. Kehidupanku begitu buruk. Tapi aku tidak ingin menyalahkan siapa pun. Aku harus bertahan untuk diriku sendiri. Dewasalah, Elle! Ibumu ingin kamu melakukan hal yang lebih baik." Lana duduk di sebelah Ella dan menyentuh tangan gadis itu.  Perlahan, Ella menangis. Air matanya menetes satu per satu, makin lama semakin keras. Lana tidak menyuruhnya berhenti. Menurutnya wajar sekali bagi siapa saja bersedih karena kematian orang yang dikenalnya, seburuk atau sebaik apa pun hubungan saat mereka masih bersama. Dia tahu benar bagaimana rasanya ditinggalkan. "Kau mau memelukku untuk merasa lebih baik?" tanya Lana sambil mengulurkan tangan. Ella mengulurkan tangan juga. Dengan lembut, Lana memeluk dan mengelus punggung kurus remaja itu. Ella mengeratkan pelukannya dan menangis tersedu selama beberapa menit. "Makanlah! Aku akan membawakan sepiring lagi untuk Zac. Dia juga kelaparan." "Kau menyukainya?" Ella menghapus air matanya. "Siapa? Zac?" Ella mengangguk sambil menghapus air matanya. Lana tersenyum canggung. "Aku tidak tahu. Tapi... kurasa ya, aku menyukainya." “Kalian cocok.” Lana tergelak. Jika kondisinya tidak menegangkan seperti ini, mungkin dia akan tertawa terbahak-bahak. Dia sudah merasa cukup berhubungan dengan laki-laki. Mereka terlalu merepotkan. Dari sekian banyak laki-laki yang dilihatnya di tempat kerja, dia merasa lelaki memang tidak tercipta untuk tinggal sendirian di bumi. Perempuan tidak hanya tercipta untuk membuat Adam tidak lagi merasa kesepian, tetapi untuk membuat laki-laki tidak lagi merasa menjadi yang paling hebat di bumi dan merusak bumi sesukanya. "Makanlah. Gabriella pasti ingin melihatmu sehat. Aku akan memastikan hal itu untuknya." Lana mengedipkan sebelah mata. Ella terdiam. Hingga Lana menutup pintu, Ella masih memikirkan kalimat-kalimat Lana. Kalimat yang membuatnya mengingat kembali betapa ia sudah menyakiti seorang yang begitu mencintainya dengan cara yang salah. Seorang ibu gagal yang ternyata begitu ingin melindunginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD