Smile Ends

1258 Words
  Ruangan terasa lebih dingin dari sebelumnya. Mereka semua duduk di sofa putih dalam diam. Masing-masing berkutat dengan pikirannya sendiri. Tidak semua. Svetlana Orlov tidak bisa diam. Pikirannya panik dan kalut, memacu adrenalin untuk terus bergera. Dia membersihkan kotoran dari pengrusakan dinding. Terus bergerak membuatnya merasa lebih baik, sama seperti dulu. Menangis tidak membuatnya lebih baik. Merengek tidak membuat masalahnya berhenti. Dia harus bergerak. Dia harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Tidak ada jalan keluar di sini. Tidak ada arah untuk berlari. 'Seharusnya bisa. Seharusnya tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Tidak ada ikatan yang tidak bisa dilepas. Aku harus keluar. Aku harus pergi. Aku harus lari dari tempat ini," ucapnya berkali-kali di dalam hati.  "Lana, hentikan. Duduklah sebentar," ucap All dengan gusar.  Lana menggeleng. "Kita akan tinggal di sini sangat lama, All. Kita harus menjaga tempat ini."  Lana tahu omongannya gila. Dia terlihat seperti orang gila yang tidak tahu apa yang diperbuatnya. Dia juga ingin berhenti, tapi tidak bisa. Tangannya terus memindahkan batu pecahan dinding ke tempat sampah. Tubuhnya terus bergerak, mengikuti kencangnya debaran jantungnya. "Aku benar-benar tidak mengerti." Silvia menjambak rambutnya sendiri. Matanya liar menatap ke segala arah, mencari sesuatu yang bisa menjawab pertanyaannya. "Apa yang mereka inginkan?" "Kau kuncinya, All," ucap Lana sambil membanting pecahan besar semen sampai hancur. Ia berjalan menghampiri All. "Kalau kau mengatakan yang sebenarnya, mugkin kita bisa tahu apa motif mereka." "Apa maksudmu?" All mengerut. "Semua orang di sini adalah orang yang gagal. Tidak ada keluarga yang akan melapor ke polisi dan semuanya butuh uang yang sangat banyak." "Kupikir penghasilan di Darling bisa membuatmu hidup seperti Kardashian." All menarik bibirnya ke bawah dengan mencemooh.  Lana menggeleng. "Ayolah, All. Katakanlah siapa dirimu." Semua orang menatap All. Bahkan Zac yang selalu menghindari All pun ikut menatapnya.  "No f*****g s**t! Aku sudah mengatakan--" "Mereka memberi nama The Eight Looser. Bagaimana mungkin ada delapan pecundang di sini kalau hidupmu sesempurna itu?" Lana hampir menjerit. "Harus ada alasan kenapa kamu ikut dalam kelompok ini." "Aku sedang sial." "LELAKI KURANG AJAR!" Lana menarik bagian depan baju All. "Kenapa tidak kau buka mulut sialmu, hah?! Katakan saja kenapa kau di sini!" All menelan ludah dengan gugup. "Baiklah," ucapnya sambil menarik nafas. "Aku hacker. Aku mendapatkan uang dengan membobol rekening orang lain. Kebanyakan orang kaya raya yang menyimpan kekayaan di rekening. Aku memindahkannya sedikit-sedikit ke rekening vurtual kemudian memindahkannya ke beberapa rekening milikku sendiri saat kondisi mulai aman. Aku mengambilnya dalam jumlah terpisah agar tidak mencurigakan dan menyimpannya dalam jumlah yang sangat banyak di bunker. Cash. Aku orang yang paling dicari polisi. Tapi tidak satupun dari mereka yang bisa menemukanku. Mendekati pun tidak. Aku melakukannya dengan bersih."  "Tidak pernah ada yang mencurigaimu," tanya Mike dengan takjub. All menggeleng. "Aku yang terbaik. Microsoft harusnya menyesal sudah menolakku." Ada kekaguman yang luar biasa di wajah Mike saat mendengar cerita All. Baginya All adalah pabrik uang yang sangat efisien. "Kau seperti dewa," ucap Mike dengan keluguan anak kecil. Ketakjuban yang polos. All tersenyum bangga. "Aku bisa melakukan apa saja yang kumau. Secara resmi aku tercatat sebagai pengusaha elektronik. Aku taat membayar pajak. Bekerja adalah bagaimana kau memindahkan uang dari kantong seseorang ke kantongmu sendiri. Aku melakukannya dengan baik." "Kau bisa mengajariku nanti," seru Mike dengan kekaguman yang tidak ditutupi. "Kalau kau bisa keluar dari rumah ini hidup-hidup." Lana memperingatkan. "Tentu saja." Mike berdiri dan berseru dengan lantang. "Asal kau berhenti melempari orang dengan pisau," ucapnya sambil menunjuk hidung Silvia.  Gadis itu terkejut. Ia mengerutkan alis sebelum kemudian menunduk. "Aku benar-benar tidak berniat membunuhnya." "Siapa pun yang tertusuk pisau daging sebesar itu pasti akan mati, kau otak udang." Mike menunjuk dengan tidak sopan. "Seharusnya kamu belajar itu di MIT." "Mike!" Lana memperingatkan. "Keadaan sudah cukup buruk tanpa kau ingatkan lagi. Kumohon fokuslah." "Apa yang buruk? Kau pikir Silvia tidak berusaha membunuh kita saat tidur? Bagaimanapun dia akan menghadapi polisi setelah keluar dari sini. Hanya kitalah saksinya." "'Hanya kita'?" Lana mengerutkan kening. "Bagaimana kau bilang hanya kita?" "Semua kamera di rumah ini sudah merekamnya." Zac mengangkat bahu.  "Kita sudah menjadi reality show. Siapa pun yang ada di balik semua ini, sedang menonton kita. b******n-b******n itu menikmati tingkah laku kita." Lana menjelaskan dengan lantang. Ada rasa sesak di dadanya mengingat dirinya ditonton orang lain. Tidak ada yang tahu berapa orang yang menontonnya.  Ia pernah mendengar tentang dark web dalam deep web yang berisi kumpulan video seseorang menyiksa korbannya. Penonton boleh memesan penyiksaan yang mereka suka dengan membayar penyiksanya. Mau sampai mati atau setengah mati dengan perut terburai, itu sangat bergantung pada kekejian penonton. Apa nasib mereka akan sama seperti itu? Apa suatu hari seseorang akan menemukan mayatnya di dalam kantung plastik dengan organ dalam berserakan? Sial. Lana mual sendiri membayangkannya. "Tidak usah berlebihan," kata All yang merangkul bahu Silvia. "Jika benar ini reality show, mereka tidak akan melakukan hal buruk. Ada hukum yang mengikat mereka." "Hukum?" Lana mengernyit. "Hukum berlaku jika polisi mengetahui semua ini." "Setelah keluar dari sini, aku akan menceritakan semua pada polisi," kata Mike lantang. "Moron! Mereka akan membunuhmu." All tertawa, menunjuk pada lubang tertutup di langit-langit. "Mereka tidak peduli. Mereka memang tidak berpikir untuk membebaskan kita." Lana menarik napas dalam-dalam, mencoba mencerna kenyataan yang telah ditemukannya. "Membiarkan manusia hidup di dunia dengan memegang eahasia sebuah kelompok, itu sama saja dengan bunuh diri. Mereka jelas bukan orang sebaik itu." Semua orang melongo melihat Lana. Hanya beberapa detik sebelum kemudian umpatan demi umpatan memgalir dalam kemarahan mulut mereka. "Aku akan mandi dan tidur," ucap Zac sambil berlalu meninggalkan mereka semua. "Tidur?" Mike menjerit tidak percaya. Zac menguap keras. "Setelah mendengar kesimpulan itu, apa yang bisa kau lakukan? Tidak ada. Persiapkan saja dirimu untuk hidup selamanya di sini." Baru saja Zac masuk ke kamar mandi, dia keluar lagi dengan seringai lebar. "Pastikan kalian buang air dengan tenang. Kamar mandi juga dilengkapi kamera." Ia terkekeh sebelum masuk ke kamar mandi lagi. "SIALAN!" All menendang meja dengan jengkel. Mike terduduk di lantai dengan tangan lunglai di samping tubuhnya. "Lalu sekarang apa?" All menatap tajam kepada Lana. Lana membalas tatapannya. "Sekarang kita tahu bahwa kita bertujuh sama. Tapi aneh nya di surat itu mereka mengatakan nama permainan ini The 8th Looser. Itu artinya akan ada pecundang ke delapan yang akan datang." "Dengan tembok serapat itu, bagaimana mungkin ada orang yang bisa masuk?" All memprotes dengan keras. "Persis. Itulah yang kupikirkan. Bagaimana mungkin mereka memasukan pemain ke delapan jika rumah ini tersegel rapat." Lana menjentikan jarinya. "Rumah ini ada kelemahannya, All. Pasti. Rumah ini tidak diciptakan untuk menjadi botol kedap udara. Pasti ada cara bagaimana kita dimasukan ke dalam tempat sialan ini." Lana menatap kepada Silvia. "Kau mungkin mengerti, Silvia. Kau biasa berpikir tentang tekhnologi kan?" Silvia menatapnya dengan tatapan kosong. Gadis itu melihat ke dalan mata Lana mencoba mencerna apa pun yang dikatakan Lana. "Kau pikir ada trik untuk rumah ini?" Dahinya mengerut.  "Persis." Lana mengangkat kakinya dan duduk menghadapi Silvia. "Tapi apa pun yang kau pikirkan, jangan diucapkan. Tuliskan untukku." "Apa maksudmu? Kau tidak ingin membagi pada kami?" Mike mengeluarkan suara seperti seorang yang tersinggung. Lana menggeleng. "Siapa pun yang menyusun dan merencanakan ini semua tidak ingin rahasianya terbongkar kan? Kalau kita menyusun rencana dengan puluhan kamera menyala mengawasi kita, sama saja dengan menelanjangi mereka. Bagaimana kalau mereka meledakan tempat ini?" Silvia menatap Lana. Lana kembali menatap Silvia. Bibir mereka menyunggingkan senyum yang sama seolah mereka membicarakan rencana mereka dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain. "Apa kalian mau saling mencintai sekarang?" All tersenyum bingung di belakang Silvia. "Kita bisa melakukannya bertiga kalau kalian mau." All mencoba mendapatkan perhatian mereka. Tapi kedua gadis itu tetap saling tersenyum dalam bahasa yang hanya mereka berdua yang mendengar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD