Awkward 1

1055 Words
Kecanggungan mengambang di udara seperti setan jahat yang menari-nari. Tidak ada yang mulai membuka suara. Bukan hal yang mudah menerima kenyataan terkunci bersama orang-orang asing di tempat asing pula. Lana memperhatikan wajah-wajah di depannya, tegang dan ketakutan, perasaan sama yang ada di dalam hatinya. Sebenarnya, sudah pekerjaannya berada di antara orang asing. Lana menikmatinya. Namun, dia tidak pernah berada satu rumah dengan mereka berhari-hari atau entah sampai kapan. Yang bisa direncanakannya cuma masuk kamar, melakukan yang bisa dilakukannya, dan persetan dengan semua yang terjadi pada mereka. Menurutnya, kalau semua orang menerapkan hal yang sama, mereka tentu bisa bertahan lama di rumah itu. Beberapa orang memainkan gelas anggur yang berisi setengah atau hampir habis. All menambahkan lagi anggur di gelasnya dengan santai. Sementara Zac yang terlihat tidak berniat untuk meminum anggurnya, hanya memutar-mutar gelas itu.  Seperti Zac, Lana sama sekali tidak berniat menyentuh es krimnya. Ia hanya memainkan es krim yang hampir mencair dengan sendok. Perutnya terasa penuh. Ia kehilangan selera makan. Jika bisa, dia sangat ingin muntah. Gadis remaja berkulit cokelat memakan es krim dengan lahap. Gadis itu meninggalkan suara berdecak yang menjijikan setiap menjilati sendok es krimnya. Tidak ada satu orang pun yang mengingatkan untuk berhenti. Mungkin karena itu satu-satunya suara yang menandakan masih ada kehidupan di ruang serba putih ini. Si gadis latin membelit pergelangan tangannya sendiri dengan perban. Lalu menawarkan perawatan kepada perempuan berkulit hitam di sampingnya. Perempuan itu mengangguk dengan senang. Sementara laki-laki berkulit pucat melihat mereka dengan rasa ingin tahu. "Kupikir kita harus saling mengenal," ucap Lana pelan, membuka dialog yang ia harap hanya pengenalan, lalu selesai, semua orang diam lagi seperti tadi. Semua mata tertuju kepadanya sekarang. Lana menelan ludah.  Jangan bandingkan kondisi ini dengan pekerjaannya di Darling atau Saturn. Saat bekerja, dia berusaha melupakan siapa yang ada di depannya. Kini, dia berada di tengah sekelompok manusia yang memperhatikannya, menunggu kata-kata lanjutannya.  "Uhm... paling tidak, agar kuta bisa saling memanggil satu sama lain jika membutuhkan atau... hei, kita tinggal di satu rumah, kan?" "Kau benar," ucap gadis latin sambil menggoyangkan segulung perban di depan wajahnya. "Aku akan mulai. Namaku Silvia Grazie. Mahasiswa MIT. 21 tahun. Aku dari Mexico. Yang terbaik. Aku mendapatkan beasiswa penuh di MIT." "Wow, smart ass latina, heh." All mengedipkan matanya. Silvia terlihat lebih percaya diri. Ia memiringkan kepalanya kepada All dengan gaya yang anggun. "Sulit mencari latina seksi dengan otak menawan." Gadis itu tertawa. "Tidak. Aku hanya... sekadar beruntung." Lana menelan ludah dengan susah payah. Menyebutkan pekerjaan bukan bagian dari rencana perkenalannya. "All Brown. Businessman. Yah, katakanlah uang yang merindukanku walau sudah kusuruh mengantre." All mengucapkannya dengan penuh kebanggaan.  Lana mengingatkan diri sendiri, kesuksesan adalah kebanggaan, bukan kesombongan. Laki-laki memang suka membanggakan sesuatu yang mati-matian diperjuangkannya. Dia senang melihat laki-laki pucat dengan wajah bulat itu menatap All. Kekaguman terlihat di mata birunya, sebuah ekspresi jujur tanpa kata. "Bagaimana denganmu, Miss Blonde?" All menatap langsung kepada Lana, membuatnya gelabakan. "Aku, eh... Svetlana Orlov. Panggil saja Lana." "Apa pekerjaanmu, 'panggil saja Lana'?" Mata cokelat All menatap langsung ke matanya seperti sedang berbicara berdua saja dengannya. Lana hampir tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Bukan hanya sikap intens All yang membuatnya merasa canggung, tapi juga memikirkan apa yang mungkin dipikirkan lelaki itu setelah mengetahui pekerjaan Lana. "Aku... Penari." Suara Lana terdengar kecil sekali hingga beberapa orang harus memajukan badannya. "Penari?" Alis All naik. Matanya berbinar nakal. "Studio atau yang lain?" Lana menyumpah di dalam hati. b******n itu sudah bisa menebak apa pekerjaan Lana. Tapi dia masih ingin membuat Lana mengakui sendiri di depan semua orang. Lana menarik napas dalam-dalam. Apa salahnya dengan pekerjaannya? Itu hanya caranya mencai nafkah untuk hidup. Mereka terjebak di tempat ini sekarang. Siapa pun dia bukanlah hal penting. "Aku menari di Darling atau Saturn. New York." Ia memompakan percaya diri dalam kata-katanya. Orang-orang menggumamkan kata seperti 'wow' di telinga Lana. Bukan 'wow' untuk kekaguman, tapi 'wow' karena tidak ingin memberikan pendapat yang menyakitkan. Siapa yang tidak mengenal klub malam seperti Darling dan Saturn? Gedungnya berdiri megah di pusat kota New York, impian semua orang untuk bersenang-senang. Tentu saja, hidup tidak membagikan kesenangan dengan adil. Hanya yang memiliki tumpukan dolar atau kartu hitam yang bisa menikmati tempat-tempat seperti itu. Yah... kecuali kau sangat cantik hingga bisa menjadi simpanan lelaki kaya yang bosan dengan istrinya. "Bagaimana seorang striper tahu bagaimana cara membuka tali ikatan sekuat itu?" Lelaki berkulit pucat mengulurkan pergelangan tangannya kepada Silvia untuk diobati. Walau menjengkelkan, kalimatnya tidak bernada cemoohan. "Anggap saja aku memiliki keahlian karena didikan masa kecil." Lana mengangkat bahu. "Kau terikat juga?" Lelaki pucat itu menegakan punggungnya. Silvia tetap dengan pekerjaannya membungkus luka lelaki itu dengan perban. "Tentu saja." Lana mengangkat ke dua pergelangan tangannya yang terluka. Semua orang termasuk Silvia menatap pergelangan tangan Lana yang berdarah, lebih parah dari mereka. "Siapa yang membebaskanmu?" Lelaki itu bertanya lagi. "Aku melakukannya sendiri." Lana mulai merasa tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan orang lain, tetapi baginya melepaskan simpul bukan prestasi yang membuatnya bangga. "Sudah kubilang aku punya keahlian." "Seperti Harry Potter dan tongkatnya?" All tersenyum. "Kau seharusnya bangga." "Lalu menjadi bintang sirkus?" Lana memutar matanya. "Hey, aku bermaksud memujimu. Apa semua orang di Rusia harus menjadi bintang sirkus?" All terkekeh. Lana melepaskan sebuah napas panjang untuk membuang kekesalannya. "Itu caramu berterima kasih?" Lana tidak melihat ke pada All. Ia memainkan es krimnya dengan sendok, berusaha menghitung sampai sepuluh untuk menenangkan emosinya. Lelaki dengan kebanggaan selalu melakukan pelecehan seperti ini. Hanya satu lelaki yang ia temui dan tidak melakukannya. All memajukan tubuh hingga menyentuh meja. "Akan kuberi kau kepuasan setelah ini kalau kau memaksa." Lana akan membuka mulut untuk mengumpat sebelum akhirnya ia menelan kata-katanya sendiri. Pekerjaannya telah mendidiknya untuk mengendalikan diri. Dia tidak tahu sama sekali siapa yang dihadapinya. Membuka perkelahian dengan seseorang di sini, bisa memicu emosi orang lainnya. Bukan itu yang ia inginkan.  "Bagaimana kalau kita lanjutkan?" Zac mulai bersuara. "Atau kau mau menyakitinya semalaman?" Lana berpaling kepada Zac. Ia melihat mata biru Zac yang masih memandangi gelas berisi anggur. Tangannya memainkan gelas itu hingga permukaan anggur di dalamnya bergoyang-goyang. Namun, saat mata itu melihatnya, rasanya menggelikan. Lana memalingkan wajah dan menahan keinginan untuk tersenyum. Dia sangat ingin tersenyum. "Aku Zac Browson..." "Juara UFC kelas middle weight yang diskors karena menghajar wasit." All terkekeh melihat Zac. "Man, aku selalu menonton pertandinganmu. Kau membuatku kalah telak di pertandingan terakhir. Aku bertaruh untukmu. Sial! Apa yang kau pikirkan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD