Awkward 2

1894 Words
Ucapan All seperti sebuah komando yang mengusik keingintahuan. Semua mata beralih kepada Zac.  Lana baru mengingatnya. Ia merasa pernah melihat Zac. Lana menonton pertandingan terakhir Zac yang berakhir ricuh. Ia menemani pelanggan kesayangannya, lelaki berambut pirang dengan kata-kata dan perilaku yang manis. Saat itu Lana sama sekali tidak memperhatikan ring Octagon. Laki-laki itu terus menggenggam tangan Lana selama pertandingan. Dia membisikkan aturan-aturan main dan pengetahuan mengenai martial arts yang sama sekali tidak Lana pedulikan. Dia hanya ingin bersama laki-laki itu, membayangkan menjadi bagian dari hidupnya. Zac mengangkat bahu. "Kau sedang sial."  "Apa yang kau lakukan sekarang? Melatih anak-anak untuk menarik simpati media?" Suara All benar-benar melecehkan.  Lana melotot pada lelaki itu, bagaimana dia bisa menyakiti semua orang? Apa dia menikmatinya? Zac tidak membalas, padahal semua orang di ruangan itu sangat ingin mendengar jawabannya, termasuk Lana. "Sekarang giliranmu," ucap Silvia kepada All. "Tutup mulut besarmu atau kubuat kau menjadi mumi." Lelaki itu hanya terkekeh. Lana nyaris mengucapkan terima kasih dengan suara keras. Memanh harus ada yang menghajar mulut lelaki itu. "Terserah padamu, signorita." All menyerahkan tangannya kepada Silvia yang bertukar tempat duduk dengan Zac agar bisa merawat lukanya. Zac tersenyum saat duduk di sampingnya. "Hai," kata lelaki itu dengan senyum tipis. Agak mengerikan rasanya Lana merasa ingin tersenyum juga. Lelaki ini punya kemampuan menghipnotis? Lana mengambil sebonggol perban dri kotak di meja untuk membalut lukanya sendiri, mencari kesibukan. Tidak lucu kalau dia jadi satu-satunya orang tersenyum sendiri di ruangan ini. "Aku Gabriella Chase dan ini putriku Imanuella Chase." Perempuan berkulit hitam itu bertutur hati-hati. Suaranya bergetar. "Ella," ucap gadis remaja itu cepat cepat. Kemudian menutup mulutnya dengan rapat kembali. "Aku bekerja di sebuah toko dan Ella masih bersekolah." "Jangan membual, mom. Aku dikeluarkan dari sekolah." Gabriella terlihat kikuk menghadapi anaknya. Ia bahkan tidak berani menatap ke mata anaknya. Lana memperhatikan reaksi ibu dan anak itu dengan geli. Pertengkaran ibu dan remaja yang sudah lama sekali menjadi impiannya. Andai ia memiliki seorang ibu yang bisa diajak berdebat atau anak seperti perempuan lain. "Mau kubantu," tanya Zac yang melihat Lana kesusahan membalut luka di tangan kanannya. Zac duduk menghadapinya. Lana mendongak dan merasa dadanya semakin sesak. "Serahkan padanya, Lana. Dia terbiasa membalut lukanya sendiri. Dia tidak punya uang untuk membayar seorang asisten." All menyerang lagi, sepertinya dia memang berenacana terus melakukannya. "Bisakah kau tidak memancing keributan, All? Kau tidak akan bisa apa-apa kalau Wolverine itu mengamuk." Silvia mengacungkan gunting perban kepada All yang disambut All dengan tangan terangkat untuk menunjukan dia mengalah. "Aku sudah bisa memperkenalkan diri atau harus menunggu kalian semua saling membunuh?" Lelaki pucat itu sudah menghabiskan anggur di gelasnya. "Michael Hall. Mike. Aku dari sidney mengurusi perdagangan ekspor impor. Mungkin tidak seberuntung kau, All. Tapi aku bangga bisa mencapai New York beberapa tahun ini." "Haruskah aku mengucapkan selamat?" All tersenyum sinis yang membuat Mike yang berusaha menyanjungnya menjadi salah tingkah. "Selesai," bisik Zac pelan setelah membalut luka Lana. Lana melihat hasil kerja Zac. Ia tersenyum. Kebiasaan Zac membelitkan handband di tangannya sendiri sebelum menggunakan sarung tangan membuatnya mahir dalam membalut luka. "Thanks." "No. Thank you." Zac tersenyum kepadanya. "Aku pasti sudah mati kehabisan napas kalau kau tidak melepaskanku." "Oh ya."  "Cuma itu, Lana? Cuma itu yang bisa kaukatakan padanya?," cecar Lana pada dirinya sendiri. Tentu saja hanya bisa diucapkannya dalam hati. Dia kehilangan suara saat ini. "Kenapa kau ada di sini?" Zac masih memegang tangan Lana yang baru dibalutnya. Lana mengerutkan kening. Pertanyaan itu mengetuk akal sehat Lana. Pertanyaan yang menjadi kunci. Mereka dari latar belakang yang benar-benar berbeda. Pasti ada kesamaan di antara mereka yang menjadikan mereka bersama-sama ada di tempat aneh ini. Lana tersenyum lagi. "Kau benar, Zac." Kata-katanya terucap lebih keras dari yang ia harapkan. Orang-orang di meja melihatnya sekarang. Lana berpaling kepada mereka. "Listen, kita semua berbeda. Kita tidak semestinya berada dalam satu tempat seperti ini." Lana tersenyum lebar seperti seorang ilmuwan yang berhasil memecahkan misteri. "Pasti ada kesamaan di antara kita yang membuat mereka memilih kita dari sekian banyak manusia lain." "Kau yakin, kau ini striper, baby? Kau lebih cerdas dari mahasiswa MIT. Paling tidak itulah yang diakuinya."  Silvia menatap tajam ke arah All yang terkekeh. Matanya jelas menancapkan kemarahan yang tidak digubris oleh All. Lana tidak menunggu silvia bereaksi pada ucapan provokatif All.  "Aku serius, All. Please. Kita pasti memiliki kesamaan yang membuat mereka memilih kita untuk permainan ini." "Atau mungkin mereka memilih secara acak?" Mike terdengar ragu dengan kalimatnya. Lana menggeleng. "Mereka mempersiapkan tempat ini dengan sangat baik. Kalian lihat, perabotan ini bersih, bahan makanan di dapur juga lengkap, seprei di tempat tidur masih beraroma pemutih. Jika mereka begitu terorganisir dalam persiapan lokasi, kenapa mereka mau mengundang sembarang orang ke sini?" "Masuk akal," ucap Silvia dengan cepat. "Aku berada di New York untuk berlibur." Silvia menghentikan ucapannya. Alisnya mengkerut. Ia seperti sedang berusaha mengingat sesuatu. "Seseorang menangkapku. Aku mencium bau yang membuat kepalaku pusing." Dia diam sebentar. "Chloroform?" "Chlor apa?" Mike memajukan badannya. "Chloroform. Obat bius hirup. Kau pernah menonton film penculikan?" Silvia memperagakan tangan yang ditutupkan ke hidungnya. "Apakah kalian juga?" Lana mengingat-ingat kisahnya sendiri. "Nah, kau terlihat cukup pintar sekarang, signorita," Silvia sama sekali tidak memedulikan ucapan All. "Hal terakhir yang kuingat, aku masih berada di rumah sakit." Mike terlihat menerawang. Lalu salah tingkah ketika menyadari semua mata menatapnya. "Ugh, aku dalam perawatan medis." "Bukan karena penyakit menular kan?" All menatapnya dengan jijik. "Bukan. Aku... eh, kecelakaan." Mike terlihat gugup. Ia menekan gelas di tangannya keras-keras. "Kecelakaan?" Silvia memicingkan matanya dengan curiga.  Semua mata melihat Mike dari atas ke bawah sekarang, berusaha mencari bukti dari kata-katanya. Mike benar-benar terlihat salah tingkah. "Kecelakaan psikologis." Mike masih ngotot berkelit. "Kau gila? Psikopat?" All makin berani menunjukan ketidaksukaannya. "Percobaan bunuh diri, oke?" Mike berteriak dengan jengkel. "Perusahaan yang kudirikan bangkrut. Aku merugi dan berutang banyak. Istri dan anakku pergi meninggalkanku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku meminum cairan pembersih toilet dan menghabiskan satu bulan penuh di rumah sakit. Aku menghabiskan seluruh dana asuransiku." Gabriella yang hanya diam mendengarkan sekarang menutup mulutnya dengan ngeri. "Bagaimana kau melakukannya," tanya perempuan itu dengan ngeri. "Kalau kau begitu terdesak, ditinggalkan keluarga yang kau cintai dan tidak punya harapan hidup lagi, kau akan bisa melakukannya," jawab Mike dengan sebal. "Kau harus mencobanya, Mom." Ella mendesis dengan keras.  Gabriella tidak berpaling untuk memperingatkan anaknya atas kekasaran ucapannya. Dia hanya menelan ludah. Matanya masih menatap ngeri ke arah Mike. "Aku juga sama seperti Miss Grazie..." "Silvia saja." Silvia memotongnya dengan cepat. "Ya, Silvia." Gabriella mengerling kepadanya. "Aku pulang kerja larut malam. Tiba-tiba seseorang menutup mulutku dengan sesuatu lalu semuanya terasa gelap. Aku baru sadar saat berada di sini." "Lalu anakmu?" Silvia menelengkan kepalanya pada Ella. "Dia ..."  "Dia tidak tahu di mana aku." Ella menyemburkan kata-kata sepanas senapan. "Dia tidak pernah peduli kepadaku." "Karena kau berada di penjara anak-anak, Imanuella." Gabriella menjerit seperti kehilangan kesabarannya. "Kalau kau bisa menurut sedikit saja kepadaku, kau tidak akan menghabiskan waktumu di penjara anak-anak." "Kau pikir kenapa aku ada di sana, hah?" Ella bangkit dari tempat duduknya dan menatap ibunya dengan liar. "Wooo... Tenang..." All mengangkat tangannya pada ibu dan anak yang saling menjerit itu. Mereka berdua diam. "Kenapa kau ada di penjara anak-anak, Ella?" Lana bertanya dengan suara pelan. All mengerling kepadanya seperti mengucapkan terima kasih. Tapi Lana tidak ingin membuat kontak dengan laki-laki perisak itu. "Mereka menuduhku mengutil." Suara Ella terdengar lebih pelan. Tapi tetap mempertahankan kejengkelannya. Ia menolak dipersalahkan atas perbuatannya. "Karena kau memang melakukannya." Gabriella terlihat sangat jengkel pada anaknya. "Karena kau tidak bisa memenuhi apa yang diinginkan anakmu. Andai kau tidak menghabiskan uangmu untuk ganja, pasti hidup kita bisa lebih baik sekarang." Ella membuat Ibunya kehabisan kata- kata. Gabriella terdiam di tempat duduknya dengan kepala menunduk  "Dulu kehidupan kami baik-baik saja. Dad, Casper Chase, orang yang baik. Sampai ia memergoki Mom berselingkuh. Sayangnya, dia pergi ke luar negeri tanpa membawaku karena mom menjerit-jerit mempertahankanku. Seharusnya aku memilih hidup bersama Dad." Ella terlihat muram. "Aku menghadapi banyak hal yang tidak diinginkan anak lima belas tahun karena ibuku sendiri." "Maafkan aku, ella." Gabriella menutup wajahnya dengan telapak tangan. Kemudian mulain terisak. "Kau pikir semua bisa selesai dengan maafmu?" Ella menjerit marah. Orang-orang merasa tidak nyaman dengan drama keluarga di depan mereka. Tapi mereka hanya diam dan membiarkan ibu dan anak itu menyelesaikan sendiri masalahnya. "Kupikir aku sedang tidur lalu tiba-tiba aku terbangun di sini." Ella terlihat sangat murung sekarang. Dia menelungkup di atas meja. Gabriella menutup wajah dengan telapak tangan. "Aku sedang ada di dokter gigi." All memecah keheningan. Mata semua orang beralih kepadanya. "Hanya pemeriksaan rutin," tambahnya lagi. "Setelah mendapat gas bius, aku terbangun di tempat ini." "Kalau hanya periksa, kau tidak akan dibius, Idiot." Silvia memutar mata.  "Oke. Aku ingin mencabut gigi geraham sialan yang terus membuat kepalaku berdengung ini." All mendorong gelasnya dengan jari. Silvia menahan senyum. Bukan senyum senang. Itu senyum mengejek. "Bagaimana denganmu, Wolverine?" All memandang ke arah Zac. Semua mata mengikutinya. "Aku sedang mabuk di sebuah bar." Zac menutup mulut dengan cepat seperti sadar akan kesalahannya sendiri.  "Miskin dan mabuk? Astaga apa yang kau pikirkan?" All tergelak. Zac tidak menatapnya. "Mereka bahkan tidak perlu membiusmu. Kau membuat hidup orang lain menjadi mudah, kawan." All terkekeh-kekeh licik. Lana tahu ini gilirannya. Ia mencoba menggali pikirannya. Kenapa dia sampai di sini?  "Bagaimana denganmu, Nak?" tanya Gabriella pelan padanya. Dia mengingat seseorang. Perempuan. Senyum yang mengembang. Senggolan pelan di bahunya. Lalu, semuanya jadi terang benderang dan menggelap. Saat itu hampir pagi. Dunia malam New York sudah akan berganti Sabtu pagi musim dingin yang sepi. Tidak ada siapa-siapa di gang kecil itu, jalan paling cepat menuju apartemennya. "Aku baru pulang kerja." Ia berusaha mengingat-ingat kejadian di kepalanya. "Yang kuingat, seseorang menatapku lalu aku lupa sama sekali apa yang terjadi." Lana menggeleng dengan bingung. "Hah?" Silvia menatapnya heran. Sama seperti semua orang di ruangan ini. Bahkan Gabriella pun menghentikan tangisannya. "Sungguh. Aku ingat perempuan itu menatapku dengan tajam sebelum kemudian aku merasa segalanya hitam." Lana mencoba mengingat-ingat. "Aku juga mengingat sebuah bau. Aroma yang sangat kuat yang membuatku mual." "Hipnotis?" Silvia masih menegerutkan keningnya. Lana mengangkat bahu. Dia sendiri tidak tahu apa hipnotis benar-benar ada. "Jadi... kita semua korban penculikan?" Mike mengerutkan kening. "Pasti salah satu keluarga kita akan sadar kalau kita menghilang dan melapor ke polisi. Mereka akan mencari hingga ke pelosok New York. Tujuh orang menghilang secara bersamaan adalah hal yang sangat tidak wajar." Lana menggeleng. "Aku tidak punya siapa-siapa di sini." Ia tidak merasa sakit hati dengan hidupnya. Sendirian adalah hidup yang diinginkannya sejak kecil, sejak Dmitri tak lagi bernapas. "Mengingat keluargaku juga sudah pergi, secara resmi tidak ada yang peduli padaku." Mika mengangkat bahu. Ekspresinya terlihat seperti menahan sakit.  Semua orang menggeleng, mengikuti Mike. All terlihat akan bicara tapi kemudian dia menarik ujung bibirnya ke bawah dan menggeleng.  Silvia menggeleng dengan muram. Sekalipun ia memiliki jumlah keluarga yang sangat banyak di Mexico, kemungkinan besar mereka semua tidak tahu bagaimana keadaan Silvia saat ini. "Ya, Tuhan. Ini kesamaan kita." Gabriella menjerit. "Mereka memilih kita karena kita tidak punya siapa pun yang mencari." Silvia mengangkat alisnya yang hitam. Mereka saling berpandangan sekarang. Tidak akan ada yang peduli sekalipun nama mereka dianggap tidak pernah ada. Siapa pun yang melakukan ini kepada mereka tentunya telah mengorganisir dengan baik apa yang telah direncanakan. Orang-orang terkutuk itu telah memilih dengan tepat seluruh pemain. Lana merasa pasti bahwa orang-orang itu telah menguntit kehidupan mereka selama berbulan-bulan. Hingga merasa pasti bahwa mereka bertujuhlah orang yang pantas berada di The House. Tiba-tiba Lana merasa mual.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD