Gimin masuk ke dalam rumah, menggosok telapak tangannya untuk mengusir hawa dingin yang menyergap tubuhnya itu. “Dari mana, Romo?” tanya Dwi cukup mengagetkan romonya itu karena Dwi bertanya tepat saat romonya itu membuka pintu pawon/dapur untuk masuk. “Lihat sapi, Dwi. Buatkan kopi, sama kalo mususi/mencuci beras, airnya taruh di ember nanti.” pinta Gimin. “Buat apa, Romo?” tanya Dwi heran, tidak biasanya Romonya itu minta air pususan (haasil dari air cucian beras itu), kalau masalah kopi memang itu minuman beliau, jadi Dwi tidak heran, tapi kalau air pususan itu? “Sudah, yang penting kan kamu taroh ember nanti?” Gimin heran dengan anaknya yang satu ini, kenapa sangat cerewet seperti ini? Dwi terkekeh, romonya tetap saja suka menyembunyikan sesuatu, “inggih/iya, Romo.” memilih untuk

