Sudah hampir pukul delapan malam ketika layar ponselku kembali bergetar. Notifikasi dari grup Party Family muncul di layar. Namun kali ini bukan Centia yang mengirim pesan—nama Tian terpampang jelas di sana. Pesannya singkat, tetapi cukup membuatku menahan napas sejenak, dengan perasaan tak menentu.
“Sorry guys, aku nggak jadi bisa ikut. Ada urusan pekerjaan mendadak, baru bisa pulang besok pagi.”
Aku menatap pesan itu lama. Rasanya ada sesuatu yang hilang—semacam celah kecil dalam rencana malam ini. Tian memang bukan tipe yang banyak bicara, tapi entah kenapa, kehadirannya selalu membawa ketenangan tersendiri di antara kami. Ia seperti jangkar dalam lingkaran yang sering kali terlalu liar.
Tak butuh waktu lama sampai Centia merespons. Ia mengirim deretan emoji menangis disertai pesan:
“Ya ampun, Tian! Kamu tuh jarang-jarang bisa join, eh malah batal. Lain kali jangan banyak alasan. Tapi kita bertiga tetap berangkat yaa, Ra. Setuju kan, Jo?”
Beberapa detik kemudian, notifikasi baru muncul. Jo membalas dengan nada santainya yang khas.
“Boleh deh. Malam ini cukup kita bertiga aja. Tiga serangkai. Aku jadi bodyguard-nya kalian berdua.”
Centia segera membalas, cepat dan riang.
“Mantap, Mas Bodyguard. Jagain kami berdua yaa.”
Jo, seperti biasa, tak mau kalah. Dengan gaya sok seriusnya yang khas, ia menulis:
“Aku akan selalu siap sedia untuk melindungi dua tuan putri ini.”
Aku tak bisa menahan tawa kecil membaca percakapan itu. Ada rasa hangat yang mengalir pelan di d**a—campuran antara kesal, sayang, dan sedikit antusiasme yang mulai tumbuh. Lalu aku mengetik singkat:
“Okee deh, berarti tonight just the three of us.”
Setelah menekan tombol kirim, aku menatap pantulan wajahku di cermin. Di balik senyum yang perlahan muncul, ada tatapan yang terasa berbeda—seolah sedang menunggu sesuatu yang belum bisa dijelaskan.
Tak lama kemudian, pesan lain yang kuketik di grup keluarga pun terkirim—pemberitahuan sederhana bahwa malam ini aku mungkin pulang terlambat... atau mungkin tidak pulang sama sekali.
Kadang aku tersenyum miris setiap kali menyadari hal seperti itu. Sama seperti Centia, meski usiaku sudah cukup dewasa, entah mengapa aku masih merasa seperti remaja yang harus meminta izin dan mencari-cari alasan setiap kali ingin keluar malam, seolah kebebasan masih menjadi sesuatu yang harus dinegosiasikan.
Bukan karena orang tuaku keras atau terlalu protektif. Justru sebaliknya—rumahku adalah tempat yang penuh cinta dan kehangatan. Papa dan Mama selalu ada: sabar, lembut, dan selalu memberi ruang untukku berbicara. Namun mungkin di situlah letak masalah kecilnya. Mereka menjagaku dengan begitu baik hingga aku tumbuh bersama rasa bersalah setiap kali mencoba melangkah keluar dari lingkaran aman itu.
Sejak kecil aku dikenal penurut. Mereka percaya aku akan menjaga nilai-nilai yang mereka tanamkan—terutama tentang kehormatan diri dan batas-batas yang harus dijaga. Karena kepercayaan itulah, alasan-alasan kecil yang kuucapkan—seperti “lembur di kantor” atau “rapat mendadak”—tak pernah mereka pertanyakan.
Aku tahu, sebagian dari diriku merasa bersalah. Tapi bagian lain justru merasa lega. Karena di balik semua itu, aku hanya sedang mencari ruang untuk bernapas. Aku butuh kesempatan untuk menjadi Rara yang lain—bukan anak pertama yang diharapkan menjadi teladan, melainkan perempuan biasa yang kadang ingin menari sampai lupa waktu, meneguk pahit-manis kehidupan, dan merasakan dunia tanpa beban peran.
Aku tidak tahu apakah itu benar atau salah. Yang pasti, malam-malam seperti ini selalu membawa sesuatu—kadang menjadi pelarian, kadang menyelipkan pelajaran tanpa disadari.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan hampir pukul setengah sembilan malam saat kubereskan meja kerjaku. Layar laptop kumatikan, tumpukan dokumen kutata rapi, lalu kuambil satu foto sebagai bukti kecil bahwa aku memang masih di kantor. Foto itu kukirim ke grup keluarga, lengkap dengan keterangan sederhana:
“Masih lembur sedikit. Pulang agak malam yaa.”
Padahal, aku tahu dalam hati—malam ini aku sedang bersiap menuju janji lain. Sesuatu yang berbeda. Rasanya seperti ada tarikan halus yang tak bisa kutolak, semacam dorongan dari dalam diri yang sulit dijelaskan.
Kantor sudah hampir kosong. Hanya suara mesin pendingin terdengar di antara deretan meja. Aku berjalan ke ruang shower di bagian belakang—ruangan kecil yang jarang dipakai orang. Aromanya khas: sabun cair, udara lembap, dan dingin AC yang menembus kulit, lampu redup berpendar pucat di langit-langit.
Begitu pintu tertutup di belakangku, dunia luar terasa hilang. Aku menyalakan air dan membiarkan alirannya membasuh tubuh. Air hangat menghapus sisa keringat dan stres yang menempel sejak pagi. Rasanya seperti menanggalkan bukan cuma pakaian, tapi juga semua beban dari hari panjang yang melelahkan.
Selesai mandi, aku mengeringkan tubuh dengan handuk, lalu membuka tas yang memang kusimpan untuk malam seperti ini—malam di mana aku ingin tampil sedikit berbeda. Dari dalamnya, kuambil tank top dan kaus lengan panjang putih yang pas di badan. Sederhana, tapi cukup membuatku merasa segar dan percaya diri.
Lalu, rok mini hitam—sesuatu yang jarang kupakai. Saat memakainya, ada sensasi ringan, seperti melepaskan versi lamaku dan mengenakan keberanian baru. Aku sedang menyiapkan diri untuk menjadi Rara yang sedikit lebih berani—bukan hanya lembut dan hati-hati, tapi juga tahu caranya merasa cantik dan diinginkan.
Di depan cermin panjang, aku mulai berdandan. Foundation tipis, eyeliner yang menajamkan tatapan mata, sedikit blush di pipi, dan lipstik merah cerah yang memberi rona segar di wajahku. Rambut yang sejak pagi diikat kini kubiarkan jatuh bebas di bahu—lembut dan terlihat berkilau setelah mandi.
Aku mengambil botol parfum favoritku dan menyemprotkannya dua kali—satu di leher, satu di pergelangan tangan. Aroma manis langsung memenuhi udara, membuatku merasa seperti versi baru dari diriku sendiri.
Untuk menyamarkan penampilan ini, aku mengenakan jaket panjang. Saat kusampirkan di bahu, wajahku di cermin tampak kembali aman—cukup rapi untuk keluar dari kantor tanpa menarik perhatian. Tapi di balik jaket itu, di bawah aroma parfum dan senyum kecil di bibir, aku tahu siapa diriku malam ini.
Bukan karyawan yang patuh. Bukan anak pertama yang selalu diandalkan. Malam ini, aku hanya ingin menjadi Rara—perempuan yang ingin hidup tanpa aturan, sejenak bebas memilih jalanku.
Ketika keluar dari toilet, jantungku berdebar cepat. Rasanya seperti membawa rahasia kecil—manis tapi berisiko. Dari luar, aku hanya terlihat seperti karyawan yang baru selesai lembur. Tapi aku tahu, setiap langkahku malam ini akan membawaku ke tempat lain—tempat yang mungkin akan memberiku cerita baru.
Ponselku bergetar pelan. Layar menyala, menampilkan nama yang sangat kukenal. Pesan dari Centia muncul:
“Aku mau otw. Kamu udah siap, Ra? Lokasinya udah aku share, yaa.”
Aku tersenyum kecil dan segera mengetik balasan.
“Udah siap kok. Ini aku langsung pesan kendaraan. Jo gimana?”
Tak lama, balasan datang.
“Iyaa, dia berangkat bareng aku. Kamu hati-hati ya di jalan.”
Aku menatap layar sejenak sebelum mengetik kembali.
“Okee deh. Kamu juga hati-hati. See you...”
Aku meninggalkan kantor dengan napas lega, seolah baru keluar dari ruangan yang terlalu lama menahan waktu. Di luar, malam menunggu—penuh cahaya dan kemungkinan. Aku sendiri tidak tahu apakah langkah ini bentuk pelarian, atau justru awal dari sesuatu yang baru, yang rapuh namun jujur, perlahan.
Kebetulan kantorku berada di dalam mal besar. Begitu keluar dari area kerja, suasananya langsung berubah. Dari dingin cahaya neon kantor, aku melangkah ke dunia lain yang lebih hangat dan hidup.
Aku berjalan di lorong yang mulai sepi, melewati deretan toko yang satu per satu menurunkan pintu kacanya. Beberapa gerai masih buka—wangi karamel dari kedai popcorn bercampur dengan aroma kopi dari kafe. Cahaya toko memantul di lantai, membuat setiap langkah terasa seperti adegan film singkat.
Begitu tiba di area luar mal, udara malam langsung menyapa—lembap, dengan aroma khas kota: asap kendaraan, wangi sate dari gerobak kaki lima, dan angin yang berembus lembut di kulit.
Suasana malam punya daya tariknya sendiri. Lampu-lampu kota berpendar di jalan yang sedikit basah. Anak-anak muda tertawa di teras kafe, pasangan berjalan keluar dari bioskop, dan sekelompok teman bercakap di bawah lampu jalan. Aku melangkah di antara mereka dengan langkah mantap, seperti sedang menuju panggungku sendiri. Ada perasaan aneh yang tumbuh—campuran antara kebebasan dan keberanian.
Di depan mal, area penjemputan tampak padat. Mobil datang dan pergi silih berganti. Suara klakson sesekali terdengar, bercampur dengan teriakan petugas keamanan yang mengatur lalu lintas. Beberapa orang berdiri di tepi trotoar—ada yang menatap ponsel, ada yang melambai ke arah mobil yang mereka kira pesanannya.
Aku membuka aplikasi di ponsel dengan tenang untuk memastikan kendaraan pesananku sedang menuju lokasiku secara real-time. Nama pengemudi, nomor pelat, dan jenis mobil tertera lengkap di layar.
Angin malam bertiup lembut, membawa aroma aspal yang masih lembap setelah hujan sore tadi. Ujung rambutku yang terurai bergerak ringan menutupi sebagian wajah. Dari pantulan kaca toko di sebelah, aku melihat sosok perempuan muda dengan jaket panjang dan rok hitam—tampak sederhana tapi tetap menarik.
Wajahnya terlihat tenang, tapi aku tahu jantungnya berdetak sedikit lebih cepat—mungkin karena penasaran, mungkin juga karena tak sabar. Aku tersenyum kecil pada bayangan itu. Mungkin malam ini akan jadi awal dari sesuatu yang baru—sesuatu yang belum kutahu ke mana akan membawaku.
Tak lama, sebuah sedan hitam melambat dan berhenti di tepi trotoar. Lampu sein kanannya menyala, memantul di jalan basah yang berkilau redup. Nomor pelatnya cocok dengan yang tertera di layar ponselku. Aku melangkah mendekat, menahan napas, dan memastikan sekali lagi sebelum membuka pintu.
Kaca jendela pengemudi perlahan turun, menampakkan wajah seorang pria paruh baya dengan senyum ramah.
“Selamat malam, dengan Kak Rara?” tanyanya sopan.
Aku membalas senyum tipis.
“Malam, Pak. Betul, saya Rara.”
Pria itu mengangguk kecil sambil menunjuk ke kursi belakang.
“Silakan masuk, Kak,” ucapnya ramah.
Aku membuka pintu belakang mobil dan masuk dengan hati-hati. Begitu duduk, aroma kabin langsung terasa—campuran pengharum mobil dan wangi kulit dari jok yang baru dibersihkan. Suara lembut AC memenuhi ruang, menciptakan suasana tenang yang entah kenapa terasa menenangkan.
Udara di dalam mobil sedikit lebih hangat daripada di luar. Aku melepas jaket yang sejak tadi kupakai, melipatnya di pangkuan dengan hati-hati sebelum memasukkannya ke dalam tas. Gerakanku pelan dan teratur, seolah ada sesuatu di balik jaket itu yang ingin kusembunyikan, dari pandangan siapa pun.
Mobil meninggalkan keramaian mal dan melaju ke jalan utama. Aku bersandar dan menatap keluar jendela. Setiap gedung yang terlewati, setiap cahaya yang berkedip, terasa seperti denyut nadi kehidupan malam yang pelan-pelan memanggilku. Lampu-lampu kota membentuk garis-garis panjang di antara bayangan gedung.
Dari kaca jendela, pantulan wajah samar terlihat—seorang perempuan dengan bibir merah dan mata sedikit lelah. Aku menatap bayangan itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya, mencoba mengenali siapa sebenarnya yang duduk di kursi belakang mobil ini. Ada perasaan asing yang perlahan mengendap di d**a.
Aku tak tahu sampai kapan keberanian ini akan bertahan. Tapi malam ini, aku hanya ingin membiarkan semuanya mengalir, membiarkan malam membawaku ke mana pun ia mau. Mungkin, di antara dentuman musik dan cahaya lampu nanti, aku bisa menemukan kembali bagian dari diriku yang sempat hilang.