Ajakan Dari Centia

1704 Words
Sore itu, aku duduk di meja kantor sambil menatap layar ponsel yang dipenuhi notifikasi, sementara di hadapanku secangkir kopi yang tadi kubuat telah setengah dingin, dengan aroma samar yang masih tercium di udara. Tiba-tiba, layar ponselku menyala, menampilkan satu notifikasi baru di antara pesan-pesan yang belum kubuka—nama yang muncul di layar terbaca jelas: Centia, sahabatku yang sudah lama kutunggu. Aku pun membuka pesan dari Centia itu. “Ra, aku pengen nongkrong sambil minum, nih. Gimana kalau nanti malam kita clubbing? Kamu bisa, kan?” Aku menatap pesan itu cukup lama, jantungku berdebar halus. Aku dan Centia memang sering pergi ke klub malam bersama teman-teman untuk melepas penat setelah minggu yang melelahkan—biasanya hanya duduk, tertawa, menari sebentar, lalu pulang. Tak pernah lebih dari itu, setidaknya sampai malam ini. Tapi entah kenapa, pesan Centia kali ini terasa agak berbeda. Seolah ada nada rindu di antara kata-katanya. Atau mungkin aku saja yang sedang lelah, hingga terlalu banyak menafsir. Sebagian diriku ingin langsung pulang dan beristirahat. Namun, ada bagian lain yang ingin ikut—sekadar untuk merasa segar kembali. Rasanya aku butuh jeda, keluar sebentar dari rutinitas yang menyesakkan, agar napas terasa lebih longgar. Aku menatap layar ponsel sekali lagi. Jemariku mulai mengetik pelan: “Hmm… boleh deh, aku ikut. Sama anak-anak yang lain juga, kan?” Ada rasa antusias muncul—campuran antara ingin bersenang-senang dan penasaran. Tak lama kemudian, layar ponsel bergetar; pesan balasan dari Centia akhirnya masuk. “Jelas dong. Tapi mereka bisa gak ya?” Aku tersenyum kecil, membayangkan Centia yang mungkin sedang mengetik dengan semangat seperti biasa. “Coba chat grup deh,” balasku. Grup yang kumaksud bernama Party Family—ruang kecil di w******p yang entah kenapa terasa seperti rumah kedua bagi kami untuk berbagi cerita, tawa, dan keluh kesah sehari-hari. Delapan orang dengan karakter yang berbeda-beda, tapi anehnya saling melengkapi: aku, adikku Danis, Centia, Eka, Josef, Via, Jo, dan Tian. Kami semua teman satu gereja. Hampir setiap minggu kami bertemu—kadang untuk latihan paduan suara, pelayanan, atau jadi panitia acara gereja seperti Natal dan Paskah. Dari pertemuan yang awalnya biasa saja, hubungan kami jadi semakin dekat hingga akhirnya terbentuklah grup ini. Di sinilah tawa, curhat, dan rencana bercampur jadi satu. Tempat sederhana yang jadi penghubung ketika kami tak bisa bertemu langsung. Centia dan Eka selalu menjadi sumber energi tanpa henti—dua orang yang seolah tak pernah kehabisan bahan obrolan. Cerita mereka kadang penuh drama kecil, kadang membuat kami tertawa terbahak-bahak. Jujur saja, tanpa mereka suasana grup pasti terasa hampa dan seperti kurang berwarna. Jo, si pengocok suasana sekaligus yang paling tua di antara kami. Ia seperti kakak bagi semua—selalu tahu cara memecah kebekuan di tengah percakapan paling garing, tapi juga jadi tempat kami bersandar saat ada masalah. Di balik candaan dan humornya yang khas, Jo menyimpan sisi peduli yang jarang ia tunjukkan secara langsung. Via dan Tian adalah dua sosok yang menjadi penyeimbang di tengah riuhnya suasana. Mereka jarang berbicara, tetapi sekali melontarkan kata, suasananya selalu terasa lebih tenang. Rasanya seperti memiliki dua jangkar yang menjaga kapal kecil kami tetap stabil di tengah ombak tawa dan keluh kesah. Dan tentu saja, ada Josef—anak Gen Z sejati yang hidup di antara dunia nyata dan digital. Ia selalu mengikuti tren terbaru, namun bisa tiba-tiba berubah serius ketika pembahasan menyentuh hal-hal yang lebih dalam. Kadang aku heran, bagaimana dia mampu menyeimbangkan dua sisi itu. Sedangkan aku? Entah mengapa, aku sering merasa seperti penghubung kecil di antara semuanya. Bukan yang paling ramai, juga bukan yang paling menonjol. Tapi entah bagaimana, aku selalu berada di tengah setiap cerita—menjadi benang halus yang menjaga semuanya tetap menyatu. Kami semua berbeda, tapi ada satu hal yang sama: keinginan untuk sesekali kabur dari rutinitas—dari pekerjaan, masalah, dan rasa lelah yang kadang tak hilang meski sudah di akhir pekan. Bagi kami, Party Family bukan cuma sekadar grup, tapi tempat untuk bernapas sebentar sebelum kembali ke dunia yang melelahkan. Bagiku, grup ini semacam paradoks. Di satu sisi, mereka jadi tempatku merasa aman—tempat di mana aku bisa melepas beban dan tertawa tanpa alasan, tanpa takut dihakimi. Bersama mereka, aku bisa jadi diriku sendiri. Tapi di sisi lain, mereka juga seperti cermin—membuatku melihat diri sendiri dengan lebih jujur dan terbuka. Dari obrolan kecil, aku sering menyadari sisi diriku yang selama ini kusembunyikan. Yang pasti, Party Family sudah jadi bagian dari hidupku. Setiap momen bersama mereka meninggalkan jejak— jejak yang ikut membentuk versi baru dari diriku, versi yang mungkin takkan ada tanpa mereka. Tak lama, Centia memulai percakapan di grup untuk menindaklanjuti rencananya pergi ke klub malam. “Halo, guys! Malam ini ke klub, yuk! Udah lama banget kita nggak party bareng. Siapa aja yang join?” Beberapa menit kemudian, balasan mulai bermunculan satu per satu. “Aduh, pengen banget, tapi besok sudah ada agenda pergi sekeluarga. Skip dulu deh,” tulis Via. “Skip dulu, badan remuk. Capek banget rasanya, habis bantu Mama bersih-bersih rumah,” sambung Eka. “Pass dulu, besok pagi masih harus berangkat magang, guys,” tambah Josef. Aku menggulir layar perlahan. Mataku berhenti pada pesan yang dikirim adikku. “Skip. Besok mau keluar seharian sama pacarku,” tulis Danis. Aku terdiam sejenak. Sebenarnya aku tak pernah memaksanya untuk ikut, tapi dalam hati aku selalu merasa lebih tenang jika Danis berada di dekatku. Sejak kecil kami memang dekat—mungkin terlalu dekat. Ada rasa nyaman yang sulit dijelaskan; semacam rasa aman yang hanya muncul ketika aku tahu ia ada di sekitarku. Jadi ketika tahu ia tak bisa ikut malam ini, sedikit rasa kecewa menyelinap diam-diam. Namun aku tahu, aku harus belajar melepaskannya. Adikku sudah tumbuh dewasa; tentu saja ia punya hidup dan dunianya sendiri. Dan aku... aku harus belajar berdiri tanpa bayangannya di sisiku. Tak lama, dua notifikasi muncul hampir bersamaan. “Aku gas! Udah lama gak liat muka kalian,” tulis Jo. Disusul pesan dari Tian, “Aku juga bisa. Kapan lagi kita kumpul, kan?” Aku bisa membayangkan senyum di wajah Centia saat membaca pesan-pesan itu. Benar saja, beberapa detik kemudian pesannya muncul lagi—cepat, ceria, spontan, dan khas dirinya seperti biasanya. “Yes! Minimal masih ada yang waras. Jadi fix, malam ini aku, Rara, Jo, dan Tian, ya!” Aku tersenyum kecil membaca percakapan itu. Rencana-rencana di grup seperti ini sering kali hanya berakhir hanya sebagai wacana—niat yang menguap begitu saja di antara kesibukan masing-masing. Tapi entah kenapa, kali ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang lebih ringan, lebih spontan, seolah benar-benar bisa terlaksana. Walau malam nanti kami hanya berempat, Centia tentu tak kehilangan semangatnya. Ia langsung membanjiri ruang obrolan dengan stiker lucu dan emoji yang seolah menari di layar. Percakapan pun bergulir liar ke berbagai topik acak—lagu dan film populer, gosip ringan tentang teman gereja, hingga curhatan soal pekerjaan. Notifikasi berdenting tanpa henti, memenuhi layar dengan tawa digital yang entah mengapa membuat ruang kantorku yang sunyi kini terasa sedikit lebih hidup, di sela kesibukan pekerjaan yang melelahkan. Di tengah riuh percakapan di grup, tiba-tiba muncul notifikasi pribadi dari Centia. “Rara,” tulisnya, “malam ini kita tetap jalan, ya? Aku beneran lagi pengen party.” Aku tersenyum. Jari-jariku mulai mengetik pelan di bawah meja. “Gimana, berempat aja nih?” Balasannya datang cepat, seperti biasa. “Gas deh. Daripada aku berangkat sendiri, nanti kamu yang panik.” Aku menahan tawa kecil. “Hahaha, iya. Nanti kamu bisa dibungkus om-om.” “Yaa jangan dong,” balasnya, disertai emoji tertawa yang seolah menggambarkan ekspresinya sendiri. Aku kembali mengetik dengan nada lega. “Untung aja Jo dan Tian bisa ikut,” tulisku lagi. “Jadinya ada yang jaga kita deh.” “Betul banget,” jawab Centia. Beberapa detik kemudian, satu pesan tambahan muncul. “Oh iya, Ra. Malam ini aku bilang ke Mama kalau nginep di tempatmu, ya. Seperti biasa.” Aku membaca pesannya sambil menggeleng pelan—setengah geli, setengah pasrah. “Hadeh, kamu tuh kebiasaan,” balasku. Centia menjawab cepat, seolah sudah menyiapkan alasannya. “Yah, biar Mama tenang,” tulisnya lagi. “Lagian, rumah kamu kan paling aman buat dijadiin alibi.” Aku menghela napas panjang, masih dengan senyum kecil di wajah. Kebiasaan itu sudah berlangsung lama. Rumahku selalu menjadi alasan darurat bagi Centia setiap kali ia ingin keluar malam. Orang tuanya mempercayaiku, bahkan jarang memastikan langsung. Dan Centia memanfaatkan kepercayaan itu. Untungnya, sejauh ini tak pernah ada hal buruk yang terjadi akibat persekongkolan kecil kami ini. Aku pun tidak pernah memprotes. Mungkin karena, dalam hati, aku tahu—itulah bentuk kecil dari persahabatan kami. Ia tahu aku akan menjadi tamengnya, dan aku tahu ia akan selalu datang padaku saat dunia terasa terlalu berat. Kadang aku bertanya-tanya, apakah itu berarti aku terlalu mudah dimanfaatkan? Tapi aku sadar, aku pun menikmati keberadaannya dalam hidupku. Tanpa Centia, mungkin aku tak akan berani melangkah sejauh ini. “Aku paham kok,” kataku akhirnya. Tak lama kemudian, pesan baru muncul lagi. “Terima kasih yaa, sahabatku yang paling pengertian,” tulisnya. “Muachhh.” Aku tertawa pelan, lalu menjawab dengan nada santai, “Oke, sama-sama. Enaknya mulai jam berapa nanti?” Centia membalas dengan cepat, seolah sudah memikirkannya lebih dulu, “Seperti biasanya.” Ia kemudian menambahkan dengan nada yakin, “Sekitar jam sembilan aja nanti.” Aku kembali bertanya, sedikit penasaran dengan rencananya, “Di mana? Tempat biasa, atau mau cari suasana baru?” Beberapa saat kemudian, balasannya masuk. “Aku lagi kepikiran buat reservasi di tempat baru, yang katanya lagi hits itu, lho. Kata Jo yang pernah ke sana, musik dan lighting-nya keren banget—kayak konser tiap malam.” Aku berpikir sejenak, lalu mengetik balasan. “Oke, kamu yang reservasi. Aku ikut aja.” Tak lama kemudian, ia membalas pesanku. “Iyaa, aku booking meja buat empat orang, ya,” balasnya. Aku segera meresponsnya. “Oke deh.” Setelah itu, aku menatap layar ponsel beberapa saat sebelum mengambil cangkir kopi yang dari tadi menunggu di meja. Rasanya sudah dingin, tapi entah kenapa, kali ini pahitnya terasa menenangkan. Dalam hati, aku merasa ada sesuatu yang menunggu di balik semua ini—sesuatu yang belum jelas, namun cukup kuat membuat jantungku berdegup sedikit lebih cepat. Mungkin karena penasaran, atau karena diam-diam aku mulai tak sabar menunggu malam ini, dengan harapan yang samar namun hangat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD