“Eh.” Jelita terkejut ketika sebatang coklat terdorong menggeser kertas-kertas yang sedang dibacanya. Saat ia mengangkat kepalanya mencari si pelaku, senyuman manis terbit di wajahnya. “Tumben Kak Hugo mampir kemari?” “Tadinya mau ke bawah. Tapi begitu lihat kamu sendirian di sini, nggak ada salahnya sekalian ngajak kamu makan siang bareng. Kamu sendiri, kenapa belum turun?” Jelita berdiri dan melihat ke sekelilingnya. Ia baru menyadari bahwa dia sendirian. Hampir semua karyawan di ruangan itu sudah tak ada di kubikelnya masing-masing. Meskipun posisinya saat ini setara dengan ayahnya, Eyang Reswari memutuskan agar menempatkan Jelita setara dengan staff Talent and Culture. Presiden direktur menilai agar Jelita belajar memahami pengelolaan hotel dimulai dari mengenal

