bc

Skandal Janda Satu Dekade

book_age18+
29
FOLLOW
1K
READ
one-night stand
family
dominant
boss
bxg
serious
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

SKANDAL JANDA SATU DEKADE (TAK INGIN MENJADI ORANG KETIGA)

Hubungan mereka awalnya hanyalah sekretaris dan bos. Tapi semua berubah setelah Sekar disalahkan dan diperlakukan kasar oleh teman teman kantornya hanya karena dia menolak lamaran wakil CEO. Sang bos, Axel Amarta datang bak super hero. Dia membawa Sekar pergi dan menghiburnya. Hingga tanpa disadari keduanya melakukan kesalahan besar yang kemudian disesali Sekar namun tidak ingin diakhiri oleh sang bos yang sudah punya tunangan.

Setelah peristiwa itu Sekar menghilang selama satu minggu. Lalu dia kembali ke kantor dengan penampilan berbeda dan tujuan berbeda yang mengejutkan semua orang termasuk sang bos, CEO Axel Amarta. Bagaimanakah cerita ini selanjutnya? Yuk baca kisahnya dalam novel Skandal Janda Satu Dekade sampai tamat ya!

chap-preview
Free preview
Bab 1. Tiba-Tiba Masuk Kerja
Sedan hitam itu berhenti tepat di depan lobi gedung utama JM Group. Suara raungan mesin yang perlahan mati seolah menandai dimulainya sebuah mimpi buruk yang baru. Dari pintu kemudi, seorang wanita melangkah keluar. Setelan blazer dan celana panjang serba hitam membungkus tubuhnya yang tegap. Rambut panjang yang dulu selalu ia sanggul rapi kini berganti potongan pixie sangat pendek—hampir menyerupai pria. Pak Yogi, petugas keamanan yang tengah bersiap memandu parkir, tertegun. Langkah kakinya sempat tertahan di atas lantai granit sebelum akhirnya bergegas mendekat. "Selamat siang, Bu Sekar," sapa Pak Yogi ramah, memamerkan deretan gigi depannya yang tak lagi lengkap. "Wah, penampilan baru ya, Bu? Terlihat lebih segar." Sekar tidak menyunggingkan senyum hangat yang biasanya selalu menyapa satpam tua itu. Wajahnya pucat, sementara di balik matanya, ada binar dingin yang menyembunyikan amarah mendalam. "Selamat siang, Pak Yogi. Terima kasih," jawab Sekar singkat. Suaranya datar tanpa nada. "Sudah seminggu tidak kelihatan... Ibu baru sembuh sakit?" tanya Pak Yogi serius, mengingat rumor panas yang sempat mengguncang kantor minggu lalu. "Saya sehat. Hanya butuh jeda," Sekar menyerahkan kunci mobilnya. "Saya tidak akan lama. Tolong parkir di area depan saja." "Siap, Bu." Pak Yogi menerima kunci itu dengan anggukan hormat. Sekar membalikkan badan, hendak menaiki tangga teras gedung JM Group yang berdiri megah dengan pilar-pilar tinggi menjulang. Namun, langkahnya terhenti. Ia menoleh kembali ke arah Pak Yogi yang baru saja menyentuh gagang pintu mobilnya. "Pak Yogi... Pak Axel ada di ruangannya?" "Ada, Bu," jawab Pak Yogi cepat. "Beliau baru saja kembali dari luar dan belum keluar lagi." "Terima kasih." Sekar merogoh kacamata hitam dari dalam tas lalu mengenakannya sebelum melangkah melewati pintu kaca otomatis. Ia berharap kacamata itu mampu menyembunyikan identitasnya dari pandangan para karyawan. Namun, perubahan penampilannya justru memancing perhatian. Begitu melintasi lobi utama yang berlantaikan marmer mengkilap, bisik-bisik langsung menyebar bagai api menyambar jerami kering. "Eh, itu Sekar Savana, kan? Sekretaris Pak Axel?" "Astaga, potong rambut pendek begitu? Kena mental apa gimana?" "Pasti ada hubungannya sama penolakan lamaran Pak Nino minggu lalu." "Aneh banget. Harusnya kan Pak Nino yang frustasi, kenapa malah dia yang berantakan begitu?" "Lagian sok jual mahal banget. Sudah janda sepuluh tahun, umur juga tak lagi muda, malah menolak mentah-mentah wakil CEO. Sok suci." Sekar mendengar setiap patah kata itu. Tangannya mengepal rapat di balik saku blazer. Muka-muka bermuka dua yang dulu melemparkan pujian kini berbalik menancapkan sembilu. Mereka hanya tahu permukaan—tentang lamaran spektakuler Nino Hardino yang ia tolak di hadapan ribuan pasang mata live stream sosial media minggu lalu. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa Sekar terikat sumpah mati dengan para wanita berkuasa di keluarga Amarta. Tugas utamanya sejak sepuluh tahun lalu bukan sekadar menjadi sekretaris profesional, melainkan pengawas terselubung untuk mengawasi gerak-gerik para pria keluarga Amarta agar tak sembarangan menjalin hubungan dengan wanita luar. Menikahi Nino Hardino—salah satu pewaris JM Group—berarti melanggar sumpah mati yang akan menghancurkan seluruh hidupnya. Namun ironisnya, yang menghancurkannya bukan Nino. Malam setelah penolakan lamaran itu, kehormatannya sebagai wanita dan janda yang terpelihara rapat selama satu dekade justru dirampas habis oleh pria lain. Pria yang selama ini paling ia hormati dan segan di gedung ini. Ting. Pintu lift terbuka di lantai 12—lantai eksekutif di mana ruangan CEO, Wakil CEO, dan jajaran direksi berada. Suasana di lantai ini biasanya begitu tenang dan penuh dengan profesionalisme. Namun hari ini, hawa dingin penolakan langsung menyambutnya. Baru tiga langkah keluar dari lift, jalan Sekar dipotong. Windy, sekretaris Nino Hardino, berdiri tegak di tengah koridor dengan kedua tangan berkacak pinggang. Di belakangnya, Elma dan beberapa karyawan perempuan lain menyusul, membentuk barikade ketat. "Masih punya muka juga kamu datang ke sini setelah bikin kacau?" celetuk Windy dengan senyum memuat dendam. "Janda dingin kayak dia mana punya empati," timpal Elma seraya melangkah maju dengan tangan bersedekap. "Pak Nino sampai nggak mau keluar ruangan berhari-hari gara-gara kamu!" Sekar menghentikan langkah. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan gemuruh yang mendidih di dalam dadanya. "Tolong beri aku jalan. Aku kesini bukan untuk berdebat." "Nggak semudah itu!" Windy mendekat, menatap Sekar dengan sorot mata menantang. "Kamu harus minta maaf pada kami dan Pak Nino! Kamu permalukan Pak Nino di depan publik! Pria sebaik itu, yang selalu memperjuangkan kenaikan gaji dan bonus kita, kamu injak-injak harga dirinya!" "Kalian tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi," sahut Sekar dingin. Matanya menatap Windy lurus dari balik kacamata hitam. "Penolakanku adalah urusanku dengan Pak Nino. Kalian tidak punya hak untuk ikut campur." "Kami yang merancang acara itu!" sergah Windy dengan suara meninggi, membuat beberapa staf menengok dari balik kubikel. "Kami tahu betapa tulusnya Pak Nino! Tapi kamu? Kamu terlalu angkuh dengan prinsip sok suci kamu itu! Tidak minum, tidak ke kelab, merasa paling benar sendiri!" "Cukup, Windy!" bentak Sekar. Suaranya bergema tegas, membuat suasana koridor seketika hening. "Jangan memaksa aku memanggil petugas keamanan. Permisi." Tanpa menunggu balasan, Sekar mendorong bahu Windy dengan tegas dan menerobos barisan mereka. Caci maki dan sumpah serapah yang menyusul di belakangnya hanya dianggap angin lalu. Hatinya teriris bila mengingat bagaimana ramahnya teman-temannya ini dulu. Namun kini, semuanya lenyap digantikan kebencian dangkal. Sekar terus melangkah cepat menelusuri lorong berkarpet tebal hingga sampai di ujung koridor. Ia berhenti tepat di depan pintu kayu mahoni berukuran besar dengan plat kuningan bertuliskan CEO - Axel Amarta. Tanpa mengetuk pintu dan tanpa menunggu izin dari dalam, Sekar langsung memutar gagang pintu dan melangkah masuk. "Selamat siang, Pak," ucap Sekar seraya menutup pintu di belakangnya dengan cepat. Pria di dalam ruangan itu seketika terperanjat dan bangkit dari kursi kerja kulitnya. Pria bertubuh tegap, berwajah tampan dengan rahang tegas dan binar mata tajam yang selalu mampu mengintimidasi siapa pun yang memandangnya. Axel Amarta. CEO JM Group. "Sekar?" sebut Axel, menyiratkan keterkejutan, sekaligus kebingungan yang luar biasa. Matanya meneliti penampilan baru wanita yang usianya lima tahun lebih tua darinya itu. "Kamu... ke mana saja seminggu ini? Kenapa ponselmu mati?" Axel tidak sabar. Ia mengitari meja kerjanya yang luas dan melangkah lebar menghampiri Sekar. Begitu mereka berdiri berhadapan, cengkeraman tangan Axel yang kuat langsung mendarat keras di kedua lengan Sekar. "Kamu tahu betapa khawatirnya aku? Apa yang terjadi? Kenapa rambutmu..." "Pak Axel, tolong jauhkan tangan Anda," potong Sekar. Suaranya tidak keras, tetapi penuh dengan penolakan yang begitu tajam. Axel tertegun. Perlahan, ia melepaskan cengkeramannya dan mengangkat kedua tangannya ke udara. "Oke. Maaf. Aku hanya... aku terlalu lega melihatmu kembali. Aku mengkhawatirkanmu seminggu ini, Sekar." Sekar tidak membalas. Ia memalingkan wajahnya, enggan menatap manik mata pria yang telah menghancurkan hidupnya. Tatapan itu kini hanya memicu ingatan kelam malam itu—malam di mana Axel memanfaatkan kerapuhan dan kepasrahannya setelah konflik lamaran Nino. "Ayo, duduklah," panggil Axel dengan nada merendah, mencoba melunakkan suasana. "Kita bicara baik-baik. Ada masalah apa? Kenapa tiba-tiba kamu mengirim pesan ingin mengundurkan diri?" "Tidak, terima kasih. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," tolak Sekar ketus. Ia merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah map tebal berwarna merah, lalu mengulurkannya tepat di hadapan Axel. "Tolong terima ini, Pak. Ini surat pengunduran diri saya. Terhitung hari ini, saya resmi keluar dari JM Group." Mata Axel terpaku pada map merah itu. Dalam detik berikutnya, rahangnya mengeras tajam. Amarah yang ditahannya seketika meledak. Tangan kanannya menyambar map merah tersebut lalu melemparkannya dengan kasar hingga menghantam dinding dan berhamburan di lantai. "Tidak! Aku menolak!" tegas Axel dengan suara berat yang menggelegar di dalam ruangan kedap suara itu. "Kamu tidak bisa mengundurkan diri dari JM Group tanpa izin dariku!" "Saya punya hak untuk pergi, Pak Axel!" balas Sekar. Ia memberanikan diri menatap lurus ke dalam manik mata bosnya. "Saya berhak menentukan di mana saya bekerja!" "Kenapa? Karena Nino?" Axel maju satu langkah, menatap tajam dengan sorot mata memerah. "Jangan konyol, Sekar! Penolakanmu pada Nino bukan akhir dari segalanya! Kamu tidak salah menolaknya. Aku bisa membereskan rumor bodoh di luar sana. Jangan hancurkan karirmu sendiri cuma karena masalah ini!" "Jadi Bapak pikir saya mengundurkan diri karena Pak Nino?" Sekar tertawa sumbang, sebuah tawa pahit yang sarat akan keputusasaan. "Anda salah besar. Saya tidak pergi dari tempat ini karena Pak Nino... tapi karena Anda!" Kata-kata itu menghantam ruangan seperti ledakan bom. Axel menyipitkan mata, lalu menyunggingkan senyum sinis yang terkesan meremehkan. "Karena aku? Apa hanya karena apa yang kita lakukan malam itu?" Axel menunjuk dirinya sendiri. "Sekar, kita berdua sama-sama dewasa. Apa masalahnya? Itu terjadi begitu saja." Mendengar ucapan yang begitu ringan dari mulut Axel, darah Sekar terasa mendidih seketika. Tanpa pikir panjang, ia memajukan tubuhnya dan mendorong d**a Axel dengan sekuat tenaga hingga pria tegap itu terhuyung dua langkah ke belakang. "Hanya? Dewasa?" tanya Sekar sakit dan kecewa, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah membasahi pipinya. "Anda bertanya apa masalahnya? Malam itu kehormatan saya yang saya jaga selama sepuluh tahun hancur! Saya merasa kotor! Saya merasa jijik dengan diri saya sendiri! Dan itu semua karena Anda!" Axel tersentak melihat kemarahan hebat wanita di depannya. Namun alih-alih merasa bersalah, sorot mata pria muda itu justru berkilat semakin liar dan penuh kepemilikan. Langkah kakinya kembali mendekat, memangkas jarak hingga tubuh mereka hampir bersentuhan. "Tenanglah, Sekar," bisik Axel dengan suara lembut yang bergetar penuh hasrat. "Kenapa kamu menyalahkan aku? Malam itu kamu tidak menolaknya. Aku tidak melihat keraguan di matamu. Kamu menginginkanku, sama seperti aku yang menginginkanmu selama bertahun-tahun." "Tutup mulut Anda!" "Jujurlah pada dirimu sendiri, Sekar," lanjut Axel, mengabaikan teriakan Sekar. Ia memajukan wajahnya hingga napas hangatnya menyapu telinga Sekar. "Dosa itu terlalu manis untuk kita hentikan begitu saja. Dan aku... masih ingin mengulanginya lagi." Bisikan itu terasa bagai racun yang memuakkan bagi Sekar. "Tidak! Saya masih waras! Karena itu saya harus pergi dari sini! Saya tidak pernah ingin menjadi orang ketiga bagi hubungan Anda dan Mbak Feli atau siapa pun di dunia ini." “Oh ya?” ucapan Sekar menyulut kegilaan di dalam diri Axel. Tanpa aba-aba, tangan kanan Axel menyambar pinggang Sekar, menarik tubuh wanita itu dengan kuat hingga menempel ketat pada tubuhnya. "Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa bekerja di tempat lain!" ancam Axel dengan suara rendah bergelombang intimidasi. "Dimanapun kamu bersembunyi, aku akan menemukanmu dan menyeretmu kembali ke lantai ini! Kalau kamu merasa masih waras, maka ketahuilah... sejak malam itu aku sudah gila, Sekar." Tangan Axel mulai bergerak liar di punggung Sekar, mengunci pergerakan wanita itu agar tak bisa melarikan diri. "Aku terobsesi padamu melebihi apa pun. Kamu tidak akan bisa pergi," ujar Axel lagi, menatap bibir Sekar yang gemetar. "Akan kubuktikan bahwa kamu membohongi dirimu sendiri." Sebelum Sekar sempat berteriak atau memberontak, Axel menundukkan kepalanya, membungkam bibir Sekar dalam lumatan paksa yang sarat akan d******i, kemarahan, dan kegilaan yang tak lagi tertahankan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.0K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.7K
bc

Tentang Cinta Kita

read
230.6K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
172.3K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
9.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook