2. Dasar Singa Buruk Rupa!

1037 Words
"A-aku ... i-ingin pergi be-bekerja," sahut Izora terbata. Tubuh Izora menyusut ke belakang sampai mepet pintu. Raut wajahnya terlihat seperti orang yang sudah ketahuan melakukan kesalahan. "Bekerja kau bilang?!" Shan melangkah mendekat dengan rahang mengeras. "I-iya. Se-semalam ak-aku berniat memberitahumu, tapi kau tidak mau mendengar," sahut Izora membela diri. "Masuk!" seru Shan dingin. Entah apa yang membuat Shan membuka suara, padahal selama satu minggu ini ia memilih diam. Jika karena Izora ingin pergi bekerja, bukankah sejak awal seharusnya ia tahu? "Ta-tapi--." "Aku bilang, masuk!" potong Shan membentak. Mau tidak mau, Izora membuka pintu kembali dan masuk diikuti Shan. Namun alih-alih mengatakan sesuatu, pria itu justru diam dan berjalan melewati sang istri begitu saja. "Tunggu!" seru Izora mencegah langkah sang suami. Sayangnya, Shan sama sekali tidak peduli dan melangkah ke arah tangga, seolah seruan Izora tidak berarti apa-apa baginya. Sikap marah-marah sebelumnya seperti angin lalu. Dalam sekejap, ia berubah menjadi Shan yang dingin dan abai. "Berhenti di situ atau aku akan pergi bekerja!" ancam Izora geram. "Kau mengancamku?!" tanya Shan dingin. Tubuh Shan masih menghadap ke arah tangga, tetapi tangannya terlihat mengepal. Beraninya Izora mengancamnya seperti ini, sedangkan tidak ada satu orang pun yang berani memprovokasinya. "Ya, kenapa tidak?" sahut Izora menantang. Izora pikir, Shan memintanya masuk ingin mengatakan sesuatu. Namun, setelah sampai di dalam sang suami justru mengabaikannya seperti biasa. Tentu saja, ia tidak bisa tinggal diam. Ketika sedang sibuk menatap punggung sang suami, Shan membalikkan tubuhnya dengan raut dingin. Hal itu membuat Izora melangkah mundur karena terkejut. "Kau ingin pergi bekerja?!" Shan melangkah maju dengan tatapan lurus menusuk manik mata Izora. "Iya," sahut Izora berusaha menekan rasa takutnya. Izora melangkah mundur seiring langkah Shan yang kian mendekat. Raut wajah takutnya tidak bisa disembunyikan lagi, meski sudah berusaha kuat ditekan. Sampai ketika tubuhnya menempel pada pintu, Shan mengunci pergerakannya. "Apa kau masih ingin pergi bekerja?!" tanya Shan dingin. Izora menunduk tidak berani membalas tatapan tajam suaminya. "Ya, memangnya kenapa? Bahkan sebelum menikah denganmu aku sudah bekerja." Shan menyentuh dagu Izora dan mengangkatnya. Lalu, ia berkata dengan nada yang sangat dingin. "Terserah meski sudah sejak dulu kau bekerja! Setelah menikah denganku, kau harus berhenti!" "Baiklah aku akan berhenti, tapi kenapa? Beri aku satu alasan saja agar aku mengerti." Izora tidak bisa menuruti perintah Shan begitu saja tanpa tahu alasannya. Kalau sang suami takut orang lain tahu tentang pernikahannya. Bukankah tidak ada orang yang tahu kecuali keluarga inti? "Kenapa aku harus menikah dengan wanita bodoh ini?" batin Shan kesal. Mendengar pertanyaan yang Izora lontarkan membuat Shan geram. Ia menghempaskan dagu sang istri sampai terdorong ke samping. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan wanita bodoh dan pembangkang yang baru dinikahi itu. Andai bisa menolak keinginan sang kakek, mungkin sampai saat ini masih melajang dan hidup bebas. "A-aww!" pekik Izora kesakitan. Tangannya terulur menyentuh dagu. "Aku tidak peduli, mau kau bekerja atau melakukan apa pun di luaran sana karena yang aku pedulikan adalah Kakek! Jika Kakek sampai tahu kau bekerja, aku yang akan kena imbasnya!" ujar Shan dengan manik mata membola. "Ka-kakek?" Tatapan mata Izora mendadak kosong. Ia teringat sosok pria tua dengan tubuh sedikit bungkuk dan tongkat di tangan kanan. Rambut dan kumisnya sudah memutih terlihat sangat galak. Akan tetapi, Izora ingat betapa lembut kakek mertuanya itu. "Tapi Kakek sangat baik. Tidak mungkin hanya karena aku bekerja, Kakek akan memarahimu," ujar Izora tidak yakin dengan ucapan suaminya. "Apa? Hahaha ... Kakek memang baik dan sangat menyayangiku, tapi itu sebelum kau masuk ke dalam kehidupan kami! Jadi, berhenti bekerja dan menurutlah!" Sampai sekarang, Shan masih tidak mengerti alasan kakeknya begitu menyayangi Izora. Padahal target lamaran sesungguhnya untuk putri Danadyaksa. Alih-alih marah karena calon mempelai diganti, sang kakek justru menerimanya dengan baik tanpa rasa kecewa sedikit pun. "Aku yakin Kakek memang orang yang baik. Mana mungkin rasa sayangnya berkurang pada Shan hanya karena cucu menantu miskin sepertiku?" bisik Izora dalam hati. "Kenapa kau diam saja?! Apa kau mengerti?!" bentak Shan melihat Izora hanya diam. "Iya-iya, aku mengerti!" balas Izora ketus. Izora pikir, suaminya itu hanya dingin dan tak acuh. Namun setelah membuka suara, Shan justru terlihat seperti singa mengaum yang tidak pernah diberi makan. Benar-benar pemarah dan menakutkan. Shan mengancam Izora dengan tatapan tajam sambil menunjuk-nunjuk. "Awas saja kalau aku tahu kau pergi bekerja!" Setelah mengucapkan kata-kata itu, Shan lekas membalikkan tubuhnya dan melangkah ke arah tangga. Hari semakin siang dan ia harus segera membersihkan diri untuk bergegas pergi bekerja. "Dasar singa buruk rupa!" umpat Izora dalam hati. Tatapan mata Izora fokus mengikuti keberadaan Shan. Mulutnya komat-kamit mengatai wajah jelek suaminya. Mengumpati sikapnya yang dingin seolah pria tampan dalam drama romantis, padahal wajahnya jauh dari kata tampan. "Dasar buruk rupa menjengkelkan!" umpat Izora lagi sambil memutar bola mata malas. Melihat sang suami menghilang di balik pintu kamar, Izora melangkah ke arah tangga sambil menghentakkan kaki. Andai bukan ulah pamannya, mungkin sejak dua hari sah menikah sudah kembali bekerja. Di saat ingin bekerja setelah satu minggu cuti, ia justru dilarang pergi oleh Shan. Sampai di kamar, Izora menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. "Kenapa nasibku selalu sial?" Ketika kecil, ayah dan ibunya mengalami kecelakaan hingga tewas di tempat kejadian. Kemudian, ia dibesarkan oleh nenek dari pihak ibu. Setelah sang nenek meninggal, tiba-tiba dijemput kakek dari pihak ayahnya. Baru tiga tahun tinggal bersama dan sang kakek jatuh sakit. "Semua yang terjadi dalam hidupku bukan karena aku pembawa sial, kan?" Bukan hanya orang tua, nenek, dan kakeknya yang mendapat kesialan, tetapi Izora mendapat kesialan karena dirinya sendiri. Entah kesalahan besar apa yang diperbuat di masa lalu. Izora menghela napas berat. Ia beranjak bangun dan menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya yang kecil itu terlihat sangat cantik, bahkan hanya dengan riasan tipis. Hidungnya mancung, bibirnya tebal, dan sorot mata yang lembut. Perlahan, tangannya terulur membuka rambut hitamnya yang disanggul. Kemudian, ia melepas kancing kemeja satu per satu dan melemparnya ke sembarang arah. "Lalu apa yang harus aku lakukan kalau tidak bekerja?" keluh Izora dengan manik mata berkaca-kaca. Tangannya beralih melepas kaitan dan menurunkan resleting rok. Melepas rok itu dan melemparnya ke arah pintu. "Apa yang kau lakukan, Izora Zivana?!" bentak Shan sambil menggertakkan gigi. Sontak, Izora menoleh dan mendapati roknya terjatuh dari atas kepala Shan. Kini, mereka berdua saling tatap dengan posisi tubuh Izora yang hanya ditutupi pakaian dalam saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD