3. Jangan Beromong Kosong di Depanku!

1314 Words
Untuk sesaat, mereka saling pandang. Pada akhirnya, tatapan mata Shan bergerak dari atas ke bawah membuat Izora mengikuti arah pandangnya. "Aaa!!" teriak Izora panik, kedua tangan menyilang berusaha menyembunyikan aset berharganya. Wanita itu bergerak belingsatan mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyembunyikan tubuhnya. Lalu, membungkuk dan meraih kemeja yang sebelumnya ia lemparkan. Ia berusaha menutupi bagian atas dan bawah tubuhnya, tetapi tidak bisa. "Sial! Ini tidak bisa menutupi tubuhku," umpat Izora dalam hati. Tatapan mata wanita yang baru-baru ini menyandang status istri itu, kembali menggerilya area sekitar. Kemudian, ia menemukan selimut di atas tempat tidur dan bergegas meraihnya. Sepersekian detik kemudian, selimut itu sudah terlilit di tubuh. "Tunggu!" Izora mendadak terdiam dengan raut berpikir. Lirikan matanya tertuju pada Shan yang berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangan di d**a. "Bukankah dia impoten? Bukankah dia tidak akan terpancing meski tubuhku polos sekalipun?" Izora bertanya-tanya dalam hati dengan manik mata menyipit, menatap ke arah bagian tubuh bawah suaminya. "Apa kau sudah selesai?" tanya Shan. Dari nada bicaranya terdengar seperti sedang mengejek. "I-iya. Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba masuk ke kamarku?" Izora mengedipkan matanya cepat dan bola mata yang bergerak ke sana ke mari, "Eh, tunggu! Aku tidak salah masuk kamar, kan?" imbuhnya dalam hati. Sepersekian detik kemudian, Izora kembali mengedar pandang. Mengucek matanya beberapa kali berusaha memastikan. Meskipun baru satu minggu tinggal di rumah itu, tetapi ia tidak akan salah. Ia tahu betul kalau kamar itu adalah kamar tempatnya tidur selama ini. "Bersiaplah, kita akan ke rumah Kakek tiga puluh menit lagi," kata Shan datar. "A-apa?! Apa maksudmu kita akan ke rumah Kakek?" tanya Izora terkejut. "Kenapa masih bertanya?! Kakek mengundang kita karena ulahmu, bodoh!" Ketika masuk kamar tadi, Shan berencana membersihkan diri. Namun, belum sempat masuk kamar mandi ponselnya sudah berdering. Setelah dilihat ternyata sang kakek yang menelepon. Jadi mau tidak mau, ia mengangkatnya dan mendengar kabar tak terduga. Sang kakek mengetahui rencana Izora pergi bekerja dan murka. Padahal kejadiannya baru beberapa menit yang lalu yang artinya, ada mata-mata yang ditempatkan untuk mengawasi. Kemudian, pria tua itu meminta Shan dan Izora untuk datang ke rumah. Entah apa yang akan dilakukan nanti. "Memangnya ap-pa yang kulakukan?" Suara Izora perlahan mulai mengecil teringat ucapan Shan ketika mengancamnya di bawah. "Sebenarnya ada apa? Aku hanya ingin bekerja dan tidak jadi pergi." "Sudah jangan banyak tanya! Pokoknya kau harus bersiap dan kita akan pergi dalam waktu tiga puluh menit. Mengerti!" sanggah Shan menggebu. Jangankan Izora, bahkan Shan sendiri tidak tahu apa yang akan kakeknya lakukan. Entah nanti akan memarahinya atau apa, ia sama sekali tidak peduli. Yang penting dirinya harus pergi ke sana bersama Izora sesuai perintah sang kakek. "Baiklah, aku mengerti." Izora hanya bisa mengangguk dengan segala pertanyaan yang memenuhi kepala. Menatap suaminya yang sejak tadi tidak menunjukkan ekspresi selain dingin. Kemudian, ia berjalan ke arah pintu seiring Shan melangkah pergi tanpa menutup pintu. "Ya Tuhan ..." Izora menutup pintu dan menguncinya dengan terburu-buru. Setelah itu, ia bergegas ke arah lemari dan mencari pakaian terbaiknya. "Kenapa tidak ada satu pun yang bagus?" keluh Izora sambil melempar-lempar pakaiannya asal. Baju yang dimiliki tidak banyak dan tidak ada satu pun yang bagus. Ia hanya memiliki beberapa dress, celana jeans panjang, dan kaos oblong. "Aku pakai ini sajalah." Izora meraih dress hitam pres badan dengan rok mengembang selutut. Ia bergegas memakainya takut Shan akan tiba-tiba kembali memintanya cepat-cepat. Setelah itu, ia merapikan semua pakaian dan memasukkan kembali ke lemari. Kemudian, ia duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya yang berantakan. Mungkin sekitar sepuluh menit, terdengar suara ketukan. Sontak, Izora bergegas keluar dan mendapati Shan berjalan menuruni tangga dengan setelan formal melekat di tubuh tegapnya. Izora tidak berniat memanggil suaminya dan hanya mengikuti dari belakang. Ia tidak ingin membuang-buang tenaga dan emosinya hanya karena diabaikan. Untuk apa berbicara, jika pada akhirnya tidak dianggap sama sekali. "Kenapa kau duduk di belakang?! Kau pikir aku supirmu, huh!" bentak Shan murka. Sampai di garasi, Shan langsung masuk dan duduk di kursi kemudi. Sementara Izora, wanita itu justru masuk ke kursi penumpang memperlakukannya seperti seorang supir. "Aku pikir kau tidak sudi duduk berdekatan denganku," ujar Izora menjelaskan. Selama ini, Shan hampir tidak pernah duduk di dekat Izora. Setiap pagi melewatkan sarapan dan malamnya juga sama. Hanya bersinggungan sejenak di situasi tertentu saja. Jadi, tidak salah jika Izora berpikir seperti itu. "Cepat pindah atau kau akan menyesal!" ancam Shan tidak peduli. "Aku akan pindah, tapi rubah sedikit ekspresi wajahmu," pinta Izora. Wajah Shan memang terlihat seram karena sebagian wajahnya terdapat luka bakar. Terlebih, posisi pria itu saat ini sedang marah. Rasanya lebih menakutkan lagi dan Izora merasa tidak nyaman atau lebih ke arah takut. "Ada apa dengan wajahku?!" Shan menoleh ke belakang dan menatap tajam istrinya, "Wajahku memang seperti ini, Izora Zivana! Kau mau pindah sekarang atau ...." imbuhnya sambil menggertakkan gigi. "Iya-iya, aku pindah sekarang juga." Izora langsung keluar dan pindah ke samping kursi kemudi. Jangan sampai sang suami lebih marah lagi dan mengeluarkan dua tanduk merah. "Pasang sabuk pengaman," ujar Shan mengingatkan. "Baik." Izora lekas menarik sabuk pengaman dan memakainya. Sesaat kemudian, Shan langsung mengemudikan mobilnya. Selama perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar. Pria itu memang pantas dijuluki si pelit bicara. Sementara itu, Izora memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat. Meski baru satu minggu menikah, tetapi ia tahu betul seperti apa suaminya. Daripada nanti diabaikan lagi, lebih baik diam dan memperhatikan kendaraan yang lalu lalang. "Terkadang hidup terasa seperti kejutan. Direncanakan selalu gagal dan tidak direncanakan pun apa lagi," bisik Izora sambil melirik Shan yang sedang fokus mengemudi. "Aku tahu wajahku jelek. Jadi, kau tidak perlu menatapku seperti itu," ujar Shan datar. Luka bakar Shan terletak di pipi kiri. Jadi ia pikir, saat ini Izora sedang menatap iba pada wajah buruknya. "Aku tidak pernah memandang orang dari fisiknya. Mau dia tampan atau tidak, aku sama sekali tidak peduli. Asalkan dia baik, aku akan menerimanya dengan senang hati," sanggah Izora jujur. Jauh di dalam hati Izora berpikir. Shan pria kaya yang tidak kekurangan uang. Lalu, kenapa sang suami membiarkan wajahnya seperti itu bukannya melakukan operasi plastik ke luar negeri. Jika orang lain, mungkin mereka sudah langsung memperbaiki wajahnya, alih-alih membiarkan begitu saja dan tidak disukai orang lain, terutama wanita. Tidakkah Shan ingin menikahi wanita cantik yang dicintainya? "Cih! Jangan beromong kosong di depanku!" Sejak kecil, Shan sudah melihat berbagai macam orang. Tidak ada satu pun dari mereka yang tulus. Mereka mendekat hanya karena kekayaan yang keluarga kakeknya miliki. Jika tidak, mana mungkin mereka akan mendekat. Penilaiannya tentang Izora pun sama seperti penilaiannya terhadap orang lain. Kalau tidak, mana mungkin wanita itu mau menikah dengannya yang jelas-jelas tidak berguna di atas ranjang. Terlebih, dengan luka bakar di wajahnya yang sangat menakutkan. Bahkan dari sekian banyak wanita yang kakeknya lamar, semua menolak karena dua alasan itu. "Aku memang miskin, tapi aku bukan seperti apa yang kau pikirkan," sergah Izora membela diri. Izora tahu betul maksud dari ucapan sang suami. Alasan mengapa ia mau menikah dengan Shan memang karena biaya pengobatan kakeknya. Jadi, ia tidak bisa membuat penyangkalan lain. "Cukup! Apa pun itu, aku sama sekali tidak peduli!" Shan menatap Izora sekilas dengan tatapan tajam. Sampai kapan pun, ia tidak akan mempercayai bualan wanita itu. "Terserah kau saja mau percaya atau tidak. Satu hal yang harus kau tahu, tidak semua orang di dunia ini akan tergila-gila pada uang," ujar Izora menggebu. Setelah banyak bicara, yang terlontar dari mulut sang suami justru kata-kata yang merendahkannya. Ya, meskipun Shan tidak mengucapakannya secara langsung. "Benarkah? Lalu, kenapa kau mau menikah denganku jika bukan karena uang?" tanya Shan tersenyum sinis. Pria dengan gaya rambut pomade itu tahu alasan Izora menerima tawaran kakeknya untuk menikah. Pasalnya, sang kakek telah mengirimkan banyak uang pada wanita itu. "Shan!" bentak Izora dengan napas memburu. Entah mengapa, ia tidak terima dituduh seperti itu padahal kenyataannya memang benar. Demi biaya pengobatan kakeknya, ia rela dinikahkan dengan pria tidak sempurna seperti Shan. "Kenapa?! Masih mau menyangkal?!" bentak Shan lebih murka. Ia membanting setir dan menepikan mobilnya tiba-tiba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD