Izora cukup tersentak melihat kemarahan Shan yang jauh lebih menakutkan dari sebelumnya. Tubuhnya bergetar dan menyusut ke pintu.
"Kenapa diam saja, huh?!" bentak Shan lagi.
"Ba-ba-ba-baik, a-aku me-mengaku." Izora berusaha menekan rasa takutnya, tetapi tetap saja suaranya terdengar bergetar.
"Apa kau bilang? Hahaha ...."
Shan terlihat sangat tidak habis pikir dengan pengakuan Izora. Ia tertawa sambil menyugar rambutnya ke belakang.
Melihat reaksi suaminya membuat Izora semakin panik. "Jangan salah paham dulu. Aku menikah denganmu karena--."
"Salah paham bagaimana maksudmu? Sudah jelas-jelas kau mengakuinya. Semua wanita memang sama saja!" potong Shan tersenyum sinis.
"Tidak, tidak sama! Tidak semua wanita tergila-gila pada hartamu. Aku terpaksa menerima pernikahan ini demi biaya pengobatan kakekku. Jika aku menolak, Kakek akan tiada."
Mendengar jawaban Izora membuat Shan melepas sabuk pengaman. Ia mendekat dan menyentuh dagu sang istri dengan sedikit ditekan.
"Kau pikir aku percaya?" Tidak akan!" Shan menghempaskan tangannya hingga kepala Izora terbentur.
Kepalanya memang terasa sakit, tetapi Izora sama sekali tidak mengeluh. Wanita itu hanya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan dengan manik mata terpejam. Ia tidak boleh mengalah begitu saja dan membiarkan Shan terus menuduhnya yang tidak-tidak.
"Tidak peduli mau kau percaya atau tidak, itu bukan urusanku!" Izora menggertakkan gigi dan menatap tajam Shan.
Mau menjelaskan sampai mulutnya berbusa sekalipun, Shan tidak akan pernah percaya. Jadi, hentikan saja pembicaraan itu dengan mulut pedas sama seperti pria itu.
"Kau pikir, mana ada wanita yang mau menikah dengan pria buruk rupa dan disfungsi seksual sepertimu!"
Manik mata Izora membola dan memerah. Jauh di lubuk hati terdalamnya tidak tega mengucapkan kata-kata kejam, tetapi tidak memiliki pilihan lain. Ia tidak bisa terus-menerus ditindas seperti ini.
"Mau sekaya apa pun kau dan semiskin apa pun aku, lebih baik aku hidup sederhana. Aku lebih memilih bekerja sebagai karyawan biasa di hotel, daripada harus menghadapi suami tidak berperasaan sepertimu!" lanjut Izora menggebu.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Izora melepas sabuk pengaman. Menatap suaminya sinis sebelum akhirnya membuka pintu dan keluar. Berjalan menyusuri trotoar tanpa berniat untuk tetap tinggal. Entah apa yang akan terjadi pada kakeknya nanti, ia hanya ingin melepaskan keluhan di hati.
Sementara itu, Shan duduk terdiam dengan tatapan mata kosong ke arah kursi tempat Izora duduk sebelumnya. Ucapan wanita itu cukup menusuk hati.
"Izora Zivana!" Shan menoleh dan mendapati Izora semakin menjauh.
Pria dengan rahang tegas itu mengepalkan tangan diiringi suara eratan gigi. Ia lekas keluar dan mengejar istrinya dengan langkah lebar. Shan melihat Izora mulai mendekat ke arah halte dan duduk.
"Wanita ini benar-benar." Sampai ketika sampai di halte, Shan berkata, "Kembali ke mobil!"
"Tidak. Kau bisa ke rumah Kakek sendirian dan aku akan menyusul menggunakan bus," tolak Izora datar dengan tatapan mata lurus ke depan.
"Kau yakin?" tanya Shan tersenyum mengejek.
"Tentu saja," sahut Izora melirik sinis.
Shan memasukkan kedua tangan ke saku celana. "Tapi rumah Kakek di dekat pegunungan dan tidak ada kendaraan umum yang lewat. Apa kau masih ingin menggunakan bus?"
Rumah kakek Shan berada jauh di pegunungan. Ketika malam, jalanan akan sangat sepi dan gelap. Bahkan di siang hari pun, jalanan selalu sepi dan jarang sekali ada kendaraan yang melintas. Jadi, tidak mungkin ada bus yang akan melintas ke vila mewah keluarga Bagaspati.
"Aku bisa menggunakan taksi!" ujar Izora ketus.
"Baiklah, terserah kau saja aku sama sekali tidak peduli." Shan mengedar pandang menatap kendaraan yang lalu lalang. "Kalau begitu, sampai jumpa di rumah Kakek."
Shan berbalik dan melangkah kembali ke mobil. Tidak peduli bagaimana Izora akan sampai, ia akan menjelaskan pada kakeknya nanti bahwa itu keinginan Izora sendiri.
Baru setengah jalan, Shan mendengar langkah kaki tergesa mendekat. Sepersekian detik kemudian, Izora sudah mendahului langkahnya dan masuk ke dalam mobil.
"Astaga! Wanita ini benar-benar."
Shan menghentikan langkahnya dan menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan wanita yang sayangnya adalah istrinya.
"Kenapa kau diam saja?! Cepat masuk dan kemudikan mobilnya!" Izora menjulurkan kepalanya di jendela yang ia buka lebar.
Shan menghembuskan napas berat dan bergegas masuk ke dalam mobil. Lalu, ia menatap Izora sejenak yang sudah memakai sabuk pengaman dan bergegas mengemudikan mobilnya.
Sepanjang jalan, mereka hanya diam. Izora sibuk menatap ke samping dan Shan fokus mengemudi. Benar saja, keluar dari jalur kota dan masuk ke area pegunungan tidak ada kendaraan lain yang melintas. Namun, mereka justru disuguhkan dengan pemandangan indah dan udara yang sangat segar. Izora membuka jendela dan mengulurkan tangan, lalu berganti menjulurkan kepala membiarkan wajahnya diterpa angin.
"Dasar kampungan!" ejek Shan.
Izora menoleh dan menatap Shan sinis dengan bibir mencebik. Kemudian, ia kembali pada aktivitasnya menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Sampai pada akhirnya, mereka sampai di vila mewah Kakek Bagaspati.
Tidak disangka, pria tua itu menunggu di depan pintu dan langsung menghampiri mobil cucunya. Bertepatan dengan itu, Shan dan Izora keluar mobil. Untuk sesaat, ia menatap cucu menantunya dari ujung kepala hingga kaki. Kemudian, alih-alih menyapa cucunya lebih dulu, Bagaspati justru menyapa Izora dan langsung menyentuh tangannya.
"Zora," sapa Bagaspati riang.
Izora cukup tersentak, tetapi teringat perlakuan pria tua itu di hari pernikahan sama hangatnya. "Kakek, apa kabar?"
"Baik, kakek, baik. Kita masuk dulu, yuk!"
Untuk sejenak, Bagaspati melirik sinis Shan. Kemudian, ia membimbing Izora masuk ke dalam mengabaikan sang cucu.
Izora yang menyadari sikap Bagaspati bergegas menoleh ke belakang. "Apa benar yang Shan katakan sebelumnya kalau kehadiranku membuat Kakek tidak menyayanginya lagi?" batinnya bertanya-tanya.
"Sudah, jangan hiraukan suamimu. Dia memang orangnya seperti itu, tapi sebenarnya baik." Suara Bagaspati terdengar kesal, tetapi raut wajahnya melembut.
"Baik, Kek." Lagi-lagi, Izora menoleh ke belakang dan menatap Shan sekilas.
Di balik sikap dingin dan tak acuh Shan, Izora tahu jelas ada penyebabnya. Jadi, ia tidak terlalu mengambil hati setiap sikap yang suaminya tunjukkan. Hanya, terkadang merasa kesal saja.
"Duduklah." Bagaspati duduk di sofa panjang.
"Baik, Kek." Izora mengangguk dan langsung duduk di sofa single.
"Kakek tidak menyuruhku duduk?!" tanya Shan ketus. Meskipun demikian, ia tetap duduk di kursi single tepat di sebelah istrinya.
Alih-alih menjawab, Bagaspati justru membuang pandangan dengan sinis. Lalu, beralih menatap Izora dan tersenyum lebar. Ia benar-benar tidak menganggap Shan sama sekali.
"Apa kau sudah makan?" tanya Bagaspati lembut.
"Sudah, Kek. Sebenarnya yang belum makan itu Shan," sahut Izora melirik suaminya sekilas.
"Abaikan saja dia." Lagi-lagi Bagaspati menatap Shan sinis.
Sejak awal, pria tua itu sudah mengingatkan cucunya untuk bersikap baik pada Izora. Namun nyatanya, sampai di hadapannya setelah satu minggu berlalu sikap Shan pada Izora seperti orang asing.
"Oh iya, Kek. Shan bilang aku tidak boleh bekerja. Apa benar begitu?"
Izora cukup penasaran dengan alasan apa yang membuat Bagaspati melarangnya bekerja. Yang paling penting, ia tidak ingin terus-menerus berada di rumah tanpa melakukan aktivitas apa pun.
"Benar. Kakek hanya tidak ingin kau kelelahan saja. Lagi pula, Shan bisa memberimu banyak uang untuk memenuhi kebutuhanmu setiap bulannya." Bagaspati beralih menatap cucunya dengan manik mata menyipit. "Atau jangan-jangan kau tidak memberinya uang?"
Raut wajah Shan sudah panik membuat sang kakek curiga. Sejak membawa Izora pulang ke rumah setelah sah menikah, ia tidak pernah menyapa atau sekedar membalas sapaannya. Tidak memberi uang belanja atau apa pun dan bersikap layaknya orang asing yang tinggal satu rumah.
"Tidak, Kek, bukan begitu. Shan sudah memberiku uang, bahkan mengisi lemari pendingin dengan sayur segar setiap harinya," timpal Izora menggebu.
Untuk sayur dan kebutuhan dapur lainnya sudah terpenuhi sejak Izora masuk ke rumah Shan. Jadi meski tidak diberi uang, ia tidak mempermasalahkannya.
"Benarkah?" tanya Bagaspati tidak yakin.
"Iya, Kek." Izora mengangguk mantap dan melanjutkan ucapannya. "Tapi, Kek. Bolehkah aku tetap bekerja? Aku sudah terbiasa bekerja sejak kecil dan tidak bisa tinggal diam di rumah tanpa melakukan apa pun."
Bagaspati terdiam beberapa saat sambil menyentuh dagu. Hal itu membuat Izora menatapnya khawatir dengan tangan yang disatukan dan diremas.
"Hotel tempatmu bekerja merupakan salah satu hotel milik kami. Apa kau tidak keberatan bekerja sebagai karyawan biasa di sana?"
Sebenarnya, Bagaspati mengkhawatirkan perasaan Izora. Ia takut cucu menantunya merasa tidak nyaman bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan milik suaminya.
"Hah! Apa?!"
Izora cukup terkejut karena ternyata BP Hotel tempatnya bekerja dua tahun ini adalah milik keluarga suaminya. Tiba-tiba, ia merasa semakin rendah diri. Menikah dengan keluarga kaya saja sudah membuatnya merasa rendah, apalagi ternyata ia bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan suaminya sendiri.
"Te-te-tentu s-saja tidak." Izora terlihat sangat gelagapan. "Lagi pula, bulan depan aku wisuda. Jadi nanti aku bisa meningkatkan jabatan dengan ijazah baruku."
"Aku mengerti."
Ya. Tanpa diberitahupun Bagaspati sudah tahu segalanya tentang Izora. Itulah alasan mengapa ia begitu menyayangi cucu menantunya itu.
"Jadi, apa boleh?" tanya Izora ragu.
"Ya, boleh," sahut Bagaspati.
"Apa sudah selesai? Aku harus pergi bekerja ke luar kota dan sudah terlambat," kata Shan menyela.
"Ya, tapi kakek ingin berbicara hal penting denganmu."
Bagaspati berdiri dan berjalan ke arah ruang kerja diikuti Shan. Entah apa yang mereka bicarakan dan lima belas menit berlalu mereka kembali.
Shan mengajak Izora pulang dan mengantarnya pulang. Setelah itu, ia langsung pergi ke luar kota mengurus cabang hotel barunya.
***
Malam harinya ketika Izora sedang tidur, terlihat bayangan seseorang dari balik jendela. Tidak lama kemudian, jendela terbuka dan sosok tinggi mendekat ke arah tempat tidur. Ia mengecup bibir Izora dan menindih tubuhnya.