5. Shan, Tolong Aku!

1103 Words
Zora yang terkejut lekas membuka mata. Namun, ia dikejutkan dengan sepasang mata yang berada tepat di depan matanya. Tangan dan kaki berusaha berontak, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan pria yang menindih tubuh dan membungkam bibirnya. Ingin teriak, tetapi suaranya teredam. Ia berusaha keras membuka mulut sekedar untuk meminta tolong. Akan tetapi, rencananya justru dimanfaatkan oleh pria itu. Lidahnya didorong masuk dan membuat Izora menyesal. "Tolong aku, Tuhan," rintih Izora dalam hati. Meskipun tahu kalau saat ini Shan berada di luar kota, tetapi Izora berharap sang suami akan pulang dan menolongnya. Namun, sampai pada pergerakan tangan pria itu yang mulai merobek piyama, harapannya itu tak kunjung terjadi. "Aku mohon pulang, Shan," batin Izora menangis. Tangannya bergerak menahan pergerakan pria itu. Otaknya berpikir bagaimana cara menyelamatkan diri. Pada akhirnya, Izora mengigit lidah pria itu, hingga mengerang kesakitan dan menjauhkan diri. "Kau berani mengigitku?" tanya pria itu menyeringai tipis. Izora langsung duduk meringkuk dan menutupi bagian atas tubuhnya yang sedikit terekspos. Raut wajahnya terlihat ketakutan dengan air mata dan keringat tercampur menjadi satu. "Sebenernya kau siapa?! Kenapa masuk ke kamarku?!" teriak Izora berharap ada orang yang akan mendengar. Tanpa menghiraukan pertanyaan yang Izora lontarkan, pria itu justru melepas bajunya. Ekspresinya terlihat biasa saja seolah teriakan Izora tidak akan membuat orang lain mendengar. Tentu saja karena rumah itu hanya dihuni oleh Shan dan Izora saja. Satpam di sana mungkin sudah diamankan lebih dulu. "Apa yang kau lakukan?! Pakai pakaianmu!" bentak Izora murka. Tangan pria itu bergerak menurunkan resleting berusaha melepas celana jins yang dikenakan. Hal itu berhasil membuat Izora semakin ketakutan. Ia bersiap turun dari tempat tidur untuk kabur. Pria itu meraih tangan Izora dan menariknya hingga masuk ke pelukan. "Kau mau ke mana, hum? Kita selesaikan apa yang tertunda lebih dulu. Setelah itu, kau boleh melakukan apa saja yang kau inginkan." "Tidak, lepas, lepaskan aku!" teriak Izora berontak. Izora memukuli d**a pria itu yang terlihat memiliki beberapa abs. Meski hanya lampu tidur yang menyala, tetapi wajah pria yang terpampang di hadapannya ini terlihat sangat tampan. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak peduli. Tangannya bergerak memukul, hingga mencakar wajahnya. "Lepas, aku mohon lepaskan aku!" Izora menoleh ke arah pintu, "Tolong aku, Shan!" imbuhnya dalam hati dengan air mata yang bercucuran deras. Tidak peduli sekeras apa pun Izora berontak, pria itu berhasil mengangkat tubuhnya ke tempat tidur dan mengungkungnya. Ketika wajahnya mendekat, Izora menggerakkan kepalanya sekeras mungkin agar rencana pria itu mengecup bibirnya tidak berhasil. "Shan, tolong aku!" teriak Izora menatap ke arah pintu. "Teriak saja. Suami tidak bergunamu itu tidak akan datang," ujar pria itu santai. Sebelum datang, pria itu sudah memeriksa jadwal Shan. Mungkin dua atau tiga hari akan berada di luar kota. Itulah alasan mengapa ia berani menerobos masuk ke kamar Izora. "Dasar b******n!" umpat Izora menatap pria itu nyalang. "Gaishan, panggil aku Gaishan." Alih-alih marah, pria itu justru meminta Izora agar memanggil namanya dengan santai. "Tidak, kau b******n! Menjauh dari tubuhku atau aku akan berteriak!" tolak Izora mengancam. Manik matanya membola seolah bisa keluar kapan saja. "Teriak saja. Tidak akan ada yang mendengar. Justru aku akan menganggap kau berteriak karena menikmati permainan kita." Mendengar ucapan Gaishan membuat Izora terdiam. Mata dan mulutnya terbuka lebar. Bagaimana bisa menikmati, sedangkan Gaishan bukan suaminya? Selagi Izora terkejut, Gaishan memanfaatkan ketidaksiapannya. Pria itu langsung membungkam bibirnya lagi. Meski ia berusaha menjauhkan tubuh pria itu, tetap tidak bisa. Sampai pada akhirnya, kejadian yang tidak seharusnya terjadi. Kesuciannya direnggut pria tidak dikenal tepat di rumah suaminya. *** "Berhenti menangis! Kenikmatan seperti ini tidak akan bisa kau dapatkan dari suamimu. Hanya aku yang bisa melakukannya," ujar Gaishan percaya diri. Pria itu memunguti pakaiannya di lantai. Kemudian memakainya satu per satu tanpa menghiraukan kondisi dan betapa sedihnya Izora saat ini. "Aku pulang dulu. Sampai jumpa besok," pamit Gaishan. Ia berjalan ke arah jendela dan dalam sekejap sudah menghilang. Yang tersisa hanya hembusan angin dari luar dan aroma tubuhnya yang menyeruak di indera penciuman. Izora menangis sejadi-jadinya. Meski Shan tidak berguna dalam hal itu, bukan berarti ia bisa tidur dengan siapa saja. Tidak peduli meski suaminya disfungsi seksual, ia bertekad untuk menjadi istri yang baik. Mempertahankan rumah tangganya yang di awali dengan keterpaksaan karena baginya, menikah satu kali seumur hidup. "Maafkan aku, Shan," batin Izora membayangkan sosok dingin suaminya. Izora menggulung selimut di tubuh dan beranjak turun. Melangkah ke arah jendela dan menutupnya rapat-rapat. Setelah itu, pergi ke kamar mandi dan berdiri di bawah air mengalir. Kembali menangis sejadi-jadinya merasa telah menjadi kotor. "Kotor, kotor sekali," ujarnya sesenggukan. Kedua tangan bergerak menggosok seluruh tubuh hingga muncul ruam kemerahan. Entah sudah berapa lama di kamar mandi, akhirnya Izora keluar. Memakai baju dan berdiri menatap tempat tidur kosong. Tiba-tiba, kejadian beberapa saat yang lalu ketika Gaishan menodainya tergambar. Apalagi melihat bercak kemerahan di seprai. Sontak, tangannya mengepal kuat dan menarik seprai itu kasar. "Menjijikan! Benar-benar menjijikan!" Izora melepas seprai dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu, ia berbaring memeluk lututnya dengan air mata yang tidak bisa berhenti mengalir. Bahkan tanpa sadar, ia sudah tertidur dan bangun di siang hari. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan enggan beranjak dari tempat tidur. Namun sayangnya, cacing di perut tidak bisa diajak kompromi. Mau tidak mau, Izora beranjak ke dapur dan membuat makanan. Selesai memasak, Izora mendengar suara pintu terbuka. Ia bergegas ke depan dan mendapati Shan berjalan masuk. "K-ka-kau sudah pulang?" tanya Izora terbata. Semula, wanita itu berani menatap suaminya. Namun, mengingat dirinya tidak suci lagi membuatnya menunduk lemah. Sementara itu, Shan hanya melirik Izora sekilas. Lalu, berjalan melewatinya begitu saja tanpa berniat untuk menjawab sama seperti sebelumnya. "Shan?" panggil Izora lirih dengan tangan menggantung di udara. Izora menatap suaminya yang berjalan menyusuri anak tangga, hingga masuk ke kamar. Jujur, ia benar-benar merasa bersalah meski apa yang terjadi bukan kesalahannya melainkan salah Gaishan. Ia menghembuskan napas panjang dan kembali ke dapur untuk makan. Berkali-kali terdengar helaan napas berat. Nafsu makan Izora hilang dengan hati dan pikiran yang kacau. Sesaat kemudian, ia merapikan dapur dan hendak kembali ke kamar. Lalu, berpapasan dengan Shan di depan anak tangga pertama. "Kau mau ke mana?" tanya Izora terkejut. Baru saja pulang dan Shan sudah ingin pergi lagi dengan penampilan yang lebih segar. "Tentu saja ke perusahaan. Memangnya kau ... kemarin bersikeras ingin bekerja, tapi sampai sesiang ini masih di rumah," sahut Shan mengejek. Shan ingat betul kemarin istrinya sulit sekali disuruh berhenti bekerja. Bahkan di depan kakeknya pun masih bersikeras sampai pada akhirnya diizinkan. "A-aku ...." Izora terlihat kebingungan harus menjawab apa dan kepalanya pun semakin menunduk. "Ada apa dengan lehermu?" Tatapan mata tajam Shan fokus pada leher Izora yang terlihat memerah dan seperti bekas cakaran. Pertanyaan yang Shan lontarkan membuat tubuh Izora tersentak. Manik matanya pun terbuka lebar dengan jantung yang berdegup kencang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD