4. Berusaha Mencari

2814 Words
   Rianti terus menatap pintu seakan bayangan itu masih ada. Dia mengerjap kaget saat Sava berdeham.    "Mau ngomong apa?" tanya Sava dengan nada biasa.    "Sstt, pelankan suaramu!" Rianti memperingatkan.     Sava memutar bola matanya malas. "Iya!" jawabnya berbisik.    "Sava, aku mau tau soal ceritamu lagi. Aku rasa ada yang mengganjal." kata Rianti.     "Ck, apa lagi?" decak Sava.     "Soal penyakitmu!" desis Rianti sambil menaikkan alisnya. Dia sangat ingin tahu, membuat Sava tersenyum miring. "Kepo! Sebagai gantinya, apa?" tanya Sava.     Rianti geram. 'Dia bisa main-main juga ternyata!' batin Rianti.     "Aku akan buatkan makanan yang lezat untukmu! Cepetan cerita!" pinta Rianti.     "Apa? Suaramu sangat kecil. Kamu biarkan aku memakanmu?" kata Sava sok tidak dengar.    Rianti melotot. "Sembarangan!" seru Rianti. Kemudian, segera membekap mulutnya. Lupa kalau sedang berbisik. "Sstt, diam!" bisik Rianti menyuruh Sava.   "Kamu yang diam!" kata Sava mendelik.    Rianti nyengir. "Eh, gimana ceritanya kamu tau kalau sakit jantung?" tanya Rianti langsung.     Sava mendengus pelan. "Kenapa tanya itu lagi, sih?" kesal Sava.    "Karena aku masih kepo!" jawab Rianti geregetan.     Pandangan Sava jadi meredup. "Kamu ngingetin umur aku aja tau, gak!" kata sava.    Bukannya Rianti kasihan justru mengomel. "Heh! Nggak usah gitu dulu! Aku serius ini!" seru Rianti meski berbisik.     Sava meliriknya. "Imbalannya kamu, ya!" pinta Sava.    Rianti mendelik. "Kok, aku? Kenapa aku?" Rianti sambil menunjuk dirinya.    Sava tersenyum aneh. "Iya, dong. Kamu, 'kan istriku, hmm?" Sava menaikkan kedua alisnya.     Membuat Rianti melotot kesal. 'Sava sempatnya mikir begituan, nyebelin!' batin Rianti.     "Jangan gitu, dong, ngakunya sakit. Sakit apaan kalau begitu!" elak Rianti.    "Emangnya kenapa? Kalau aku benar mau mati, setidaknya masih bisa merasakan surga dunia, 'kan?" goda Sava.    Rianti jadi meringis ngeri. 'Dia kira permintaan terakhir, gitu? Aku yang ngeri!' batin Rianti.     "Udah, deh, mending cerita!" pinta Rianti.     Sava mendengus dan mulai mengingat-ingat.     "Seingaku, aku pingsan dan di bawa ke rumah sakit. Aku bahkan hanya sekali melihat dokter yang merawatku. Dia tidak memberitahu apapun, selain menanyakan kabarku. Aku pikir dokter sudah bicara sama orang tuaku, jadi tidak bicara padaku. Lalu, Papa dan Mama membawaku pulang. Saat itu juga mereka memberikan semua hartanya padaku sama buku yang terkunci dengan tiba-tiba dan bilang kalau aku terkena penyakit Jantung. Dalam sebulan aku akan mati, tapi mereka tidak bilang penyakitku jenis apa. Kalau penyakit jantung bawaan, aku rasa keluargaku tidak punya riwayat jantung." jelas Sava.    "Lalu, kenapa kamu percaya? Sudah nggak mau hidup beneran?" tanya Rianti agak meninggi.     "Ck, tentu saja aku percaya. Saat itu aku sangat syok, aku di vonis mati dalam waktu dekat. Kalau kamu jadi aku pasti ketakutan setengah mati!" Sava membantah.    Rianti mendelik lalu berdecak. "Terus gimana? Lanjutkan, dong!" kesal Rianti.     Sava melotot. "Kamu ini ternyata tidak ada takut sama sekali! Lihat saja nanti malam, aku ambil keperawananmu!" ancam Sava.     Rianti menganga ingin membantah, tetapi Sava terlebih dahulu melajukan ceritanya. "Lalu, mereka ingin aku menikah. Memberitahu tentang dirimu dan entah kenapa aku langsung setuju. Aku sudah tidak ada harapan hidup lagi. Jadi, terserah dunia mau apa padaku, toh nantinya akan mati, pikirku. Mereka bilang agar ada yang menemaniku, setidaknya di akhir hidupku, ck. Soal surat dokter, aku pernah bertanya, tapi mereka justru sedih. Mereka bilang tidak ingin melihat surat itu lagi. Mereka tidak mau ingat jika aku sakit parah. Setelah itu, aku menikahimu dan mereka tidak ada." kata Sava sambil mengingat-ingat.    Rianti mendengarkan dengan serius. "Terus, buku rahasia itu?" tanya Rianti.     "Kuncinya nggak ada, Rianti. Aku sendiri bingung kenapa mereka memberiku buku," jawab Sava heran.    Rianti berpikir. "Hmm, aku rasa buku itu memang ada rahasianya. Kita harus temukan kuncinya!" serius Rianti.     Tiba-tiba Rianti memekik membuat Sava kaget. "Tunggu dulu! Kamu langsung percaya jika mengidap penyakit jantung? Kenapa tidak kanker, tumor, gagal ginjal atau apa gitu!?" serunya dengan mata melebar.     "Sembarangan! Kamu pikir aku ladang penyakit!? Uhukk-uhukk ...," Sava tidak terima tapi kemudian batuk. "Eh, Sava!" Rianti memekik lagi. Tangannya seakan ingin menangkap Sava yang mau jatuh. Lalu, Sava berdeham agar batuknya hilang. Lanjut melototi Rianti, membuat Rianti mendelik.    "Lihat? Sebelum aku di beritahu kena jantung, aku sudah batuk seperti tadi terus-terusan. Bahkan aku pernah batuk keluar darah. Sampai sekarang batukku semakin parah. Ya, aku rasa memang benar." sewot Sava lanjut berdeham.     "Itu nggak cukup buat dijadiin alasan. Kita harus punya bukti yang kuat. Misalnya, kita harus dengar langsung dari dokter yang merawatmu, atau surat keterangannya." ujar Rianti     Sava mendesah. "Hmm, aku besok dan Rey akan ke kantor. Mau ikut?" tawar Sava.    Rianti sok bingung. "Ngapain ke sana?" tanya Rianti.     Sava berdecak. "Menurutmu?" tanya Sava kesal.    Rianti nyengir. "Hehe, emangnya aku boleh ikut?" tanya Rianti.     "Ya, boleh, 'Kan aku mengajakmu," jawab Sava geram.    Rianti meringis. Berharap kalau bayangan itu bukanlah orang, tetapi hatinya yakin kalau itu orang yang mau mengintip. 'Aku dan Sava berbisik. Aku yakin itu orang. Salah satu pekerja di sini mungkin,' batin Rianti.     Rianti ingat jika ini sudah siang. Dia memekik keras sampai loncat meskipun duduk, membuat Sava mendelik.    "Oh, iya, aku harus kerja! Gawat! Bisa di pecat terus nggak dapat gaji! Jam berapa? Jam berapa sekarang?" heboh Rianti.     "Hei, tenang, Rianti. Kamu sekarang, 'kan udah nikah sama aku. Udah nggak kerja lagi, gimana, sih?" ucap Sava menenangkan.     Rianti berhenti panik, "Ha? Oh, hehe." ringis Rianti sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.     'Bodohnya aku masih ingat kerja. Sava pasti sedih lagi, tuh,' pikir Rianti.     Ternyata dugaannya salah. Sava justru terkekeh meskipun matanya menyiratkan kesedihan. "Kamu lucu tadi!" ujar Sava. Membuat Rianti senyum. Tidak sadar Rianti menikmati tawa kecil Sava. "Tau nggak, Sava? Tanpa sadar, kamu ngoceh kayak orang normal, haha." Rianti tertawa.     "Kamu pikir aku nggak normal?" sewot Sava.    "Ck, bukan gitu. Kemaren awal ketemu, 'kan kamu kayak nggak ada semangat. Udah gitu kaku, lagi. Eh, jangan tersinggung, ya!" ujar Rianti.     Sava tersenyum. "Karenamu, mungkin," jawab Sava.     Rianti ikut tersenyum. Mereka berbincang apa saja yang berhasil membuat Sava tersenyum. Rianti sadar, dia sudah lumayan jauh masuk ke hidup Sava. Bahkan, nasibnya tidak dia pikirkan. Malam ini Rianti melamun di kamarnya. Mengingat rumah, Ayah, dan almarhum Ibunya. Dia menautkan jemarinya, rasa cemas menghampiri.     'Ibu, kau lihat di sana? Aku sudah menikah,' batin Rianti.    Rianti menghela napas panjang. "Aku tidak tau tujuan. Hanya nasib Sava yang aku tau, tapi nasibku gimana?" gumam Rianti.     Menatap langit-langit yang redup tanpa lampu. Rianti pasrah, dia menutup wajahnya dengan selimut lalu tidur. Tidak lama, Sava masuk ke kamarnya hanya ingin melihat. Lalu, pergi ke kamarnya sendiri.     ~~~    Pagi sekali Rianti heboh lagi. Dia gugup langsung menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk Ayahnya, jika tidak, Ayahnya akan marah. Sampai di dapur Rianti diam. Dia sadar, rumahnya sudah berbeda. Meraup wajahnya pelan. "Oh, iya. Aku lupa, huft," desah Rianti.     Rianti kembali ke kamarnya dengan lunglai. Mencoba tersenyum dan menerima kenyataan. 'Kemana Ayah yang aku benci? Aku mau Ayah di sini,' batin Rianti.     Saat selesai membersihkan diri, Rianti teringat Sava. Mencari Sava ke seluruh ruangan, tapi tidak menemukannya. Rianti bertanya pada pembantu, mereka melihat Sava keluar dengan Paman Rey. Rianti langsung ingat .     'Dia pasti pergi ke perusahaan orang tuanya. Aku harus ikut!' batin Rianti.     Rianti celingukan bingung saat di depan gerbang. Tidak tau arah jalan. Dia hanya ingat jalan ke taman saja. Sempat berpikir ingin minta tumpangan, tapi dia tidak punya uang. Rianti bertanya pada satpam, memintanya untuk mengatarkan Rianti. Tiba di gedung perusahaan, Rianti langsung masuk tanpa menghiraukan seruan satpam. Dia celingukan karena gedungnya sangat luas.    'Aku harus ke mana? Oh, ya, tanya orang,' pikir Rianti.     Rianti menghampiri meja penerima tamu dengan tergesa-gesa. Saat dia tanya di mana Sava, orang yang melayani itu bingung. Rianti sendiri bingung bagaimana menemukan Sava. Lalu, Rianti bertanya ruangan pemimpin perusahaan ini. Jelas tidak di beritahu, dengan alasan tidak sembarangan orang boleh masuk.     Rianti ingin menerobos masuk, tetapi tidak jadi karena seseorang memanggilnya.     "Rianti!" panggil orang itu.     Rianti menoleh, dia terkejut. "Paman Rey!" ucap Rianti.     Paman Rey tersenyum dan menghampiri Rianti. 'Gawat! Gimana, nih?' pikir Rianti bingung.     "Rianti, kenapa kau ke sini? Dengan siapa?" tanya Paman Rey.     "Ah, haha. Aku ... Aku bosan di rumah. Lalu, minta tolong paman satpam membawaku keluar, haha," jawab Rianti bingung.     Paman Rey menatap pintu keluar yang nampak satpam rumah Sava dari kaca.    "Kau tau ini di mana?" tanya Paman Rey kembali menatap Rianti.     "Hmm? Tidak, aku hanya iseng masuk, hehe." cengir Rianti sambil menggaruk tengkuknya. 'Kenapa dia tanya, sih! Pasti jadi curiga,' batin Rianti.     Dia lihat Paman Rey menautkan alisnya, Rianti jadi cemas.     "Bagaimana bisa kau masuk tanpa tahu ini tempat apa? Aneh sekali, ini gedung perusahaan orang tua Tuan Sava bekerja." jelas Paman Rey.     Rianti sok kaget. "Apa? Jadi, ini kantor mertuaku? Eh," Rianti menggigit lidahnya sendiri.    Membuat Paman Rey tersenyum lalu mengangguk. "Kau mau lihat-lihat? Tuan Sava juga ada di sini," kata Paman Rey.     Rianti pura-pura terkejut lagi, "Sava ada di sini? Pantas di rumah tidak ada."     Paman Rey hanya mengangguk dan mengajak Rianti berkeliling. Tepatnya hanya menemui Sava di ruangan kedua orang tuanya.     Rianti sangat terkejut, begitu juga dengan Sava. 'Harusnya aku diam-diam ke sini, bukan ketahuan. Paman Rey bilang aku aneh segala, bodohnya aku!' batin Rianti.     "Rianti!" panggil Sava.     Rianti mengerjap dan memasang senyum. "Hehe, hai." katanya sambil melambaikan tangan.     "Kenapa kau di sini?" tanya Sava mengerutkan dahi.     'Aku mengikutimu, bodoh!' maki Rianti dalam hati.    Rianti tidak menjawab. Paman Rey pamit pergi, tinggal Sava dan Rianti sendiri. Rianti memastikan pintu tertutup rapat. Dia langsung menghampiri Sava membuat Sava sedikit mundur.    "Eh, Sava. Udah ketemu sama orang tuamu belum? Di mana mereka?" tanya Rianti penasaran.     Sava mendelik. "Kok, kamu tau kalau aku cari orang tuaku?" bingung Sava.    Rianti langsung menganga. "Ha? Ah, itu. 'Kan kamu di sini, kata Paman Rey ini kantor orang tuamu. Jadi aku tanya gitu," jawab Rianti mencari alasan.    Sava diam saja, tatapannya menyelidik. Membuat Rianti harus mengalihkan pembicaraannya.    "Emm, Sava. Aku harus balik. Kasihan paman satpam menunggu di luar. Kamu hati-hati, ya!" ucap Rianti terburu-buru.     Dia langsung pergi meskipun Sava memanggilnya lagi. Satpam sampai bingung kenapa Rianti meminta untuk kembali. Sampai di rumah Rianti menarik napas dalam-dalam. Di kamar dia mondar-mandir ingin Sava cepat pulang. Dia ingin tahu apakah Sava berhasil bertemu orang tuanya. Dia harus kembali karena Sava mencurigainya.    "Ck, harusnya nggak usah ketahuan tadi. Jadi gagal mengintai 'kan!" ucap Rianti.     Gelisah menunggu, Rianti memilih membersihkan rumah. Sapu dan pel dia rebut dari pembantu. Membuat dua pembantu itu tidak mengerjakan apapun. Saat seluruh ruangan sudah bersih, Rianti bingung tidak ada yang dikerjakan lagi. Dia mencari sesuatu agar bisa sibuk. Rianti melihat dapur dan segera mengambil alih pekerjaan Bibi juru masak. Apapun dia masak, dan Bibi hanya diam memandang. Sampai tepat jam dua belas siang, Sava belum kembali. Kali ini membuat Rianti cemas. Mondar-mandir lagi di kamar.     "Kenapa Sava belum pulang? Jangan-jangan sakitnya kambuh! Enggak, itu nggak mungkin. 'Kan ada Paman Rey," gumam Rianti.     Dia belum bisa menemukan bukti yang mencurigakan tentang Paman Rey. Jadi, Rianti masih percaya jika Paman Rey menjaga Sava.    "Di sana ngapain, sih? Lama banget!" gumam Rianti lagi.    Rianti terperangah kala mendengar suara pintu kamarnya diketuk. Rianti langsung membuka pintu itu, berharap Sava yang mengetuknya. Ternyata benar, Rianti langsung menarik tangan Sava dan mengunci pintu kamarnya. Membuat Sava bertanya-tanya dan tiba-tiba dia terbatuk, sampai jongkok.     Rianti jadi khawatir, takut jika menarik Sava terlalu keras. "Sava! Sava, kamu nggak apa-apa?" tanya Rianti sambil mengusap punggung Sava pelan.    Sava mencoba meredakan batuknya. "Ehm-ehm, air ...," pinta Sava.    Rianti celingukan mencari air di kamarnya, tapi tidak ada. "Tunggu sini, Sava! Aku ambilkan air!" ujar Rianti langsung pergi ke dapur. Kembali dengan segelas air dan menyuruh Sava meminumnya sampai habis. Rianti menatap Sava dengan cemas."Gimana?" tanyanya.     Sava mendongak lalu mengangguk sambil mengelus dadanya. Rianti refleks menuntun Sava untuk duduk di ranjang. Melihat Sava menghela napas panjang membuat hati Rianti bergemuruh. 'Pasti rasanya sakit, ya, Sava!' batin Rianti prihatin.     Rianti masih mengelus punggung Sava. "Kamu istirahat aja, tapi di sini aja, ya. Aku mau tanya soalnya!" pinta Rianti.     Sava mengangguk. Ekspresinya benar-benar lelah dan kesakitan. Rianti ikut merasa kesakitan. Dia menata bantal dan Sava perlahan berbaring di sana. Tidak sengaja pandangan mereka bertemu. Tanpa berkedip sampai Rianti melengos membuat Sava mengerjap dan mengalihkan pandangannya.     "Ehm, maaf, aku nggak sengaja!" ucap Rianti kaku.    "Nggak apa-apa!" jawab Sava cuek.    Rianti menoleh dan mendekatkan wajahnya dengan mata melebar. Sava jadi melotot.     "Sava, tadi ngapain aja, sih? Lama banget, aku nungguin tau, nggak!" ujar Rianti.      Sava menganga. Dia mendorong wajah Rianti dengan telunjuknya di dahi Rianti. "Mundur sana! Mau menciumku, ya!?" kesal Sava.    Rianti memundurkan kepalanya dan menyentuh dahinya saat telunjuk Sava di tarik kembali. "Siapa yang mau menciummu? Ge'er! Aku cuma mau tanya!" elak Rianti.      "Nggak ngapa-ngapain! Aku mau istirahat, Rianti!" ujar Sava. Rianti menatapnya sebentar dan menghela napas. "Yaudah, istirahat aja! Aku tunggu di sini!" ucap Rianti. Duduk di tepi ranjang dan menyangga kepalanya dengan kedua tangan.     "Hei! Daripada duduk melamun mending ikut tidur, sini!" ucap Sava sengaja sambil menepuk sisi ranjang.    Rianti menoleh lalu melengos. "Enak aja! Nggak mau!" Rianti menolak.    Seketika Rianti jatuh terbaring karena tangannya di tarik Sava. Membuat Rianti memekik pelan. Dia melotot menatap Sava dan ingin bangun, tetapi di tahan Sava. "Tidur! Temani aku!" pinta Sava.    "Ha!? Enggak, ah, kamu laki-laki dan aku perempuan!" tolak Rianti sambil berusaha bangun, tetapi Sava tetap menahannya. "Apa salahnya?" tanya Sava memelas.     Rianti seketika sadar kalau dia sudah menikah. 'Aduh! Kenapa aku lupa terus, sih!' batin Rianti.     Rianti melihat Sava yang masih memegangi tangannya. "Aku nggak capek. Nggak mau tidur!" ujar Rianti.     "Yaudah, diam berbaring di sini." kata Sava lalu menutup matanya. Rianti diam saja menunggu sampai Sava tertidur, tetapi, Sava memanggilnya lagi meskipun matanya tertutup. "Aku, nggak menemukan apapun di sana, Rianti." kata Sava.    Rianti langsung mengerti, jika di sana tidak ada mertuanya. Namun yang membuat Rianti terdiam adalah suara Sava. 'Aku sangat yakin kalau Sava murung lagi. Walaupun tadi bercanda dan menggodaku,' batin Rianti.     Rianti membiarkan tangannya di pegang Sava. Dia berbaring tanpa tidur. Rianti merasa dirinya dan Sava adalah teman. Bukan suami istri ataupun orang asing. Terbenak dalam hatinya memikirkan cinta. 'Cinta Ayah dan Ibuku sudah entah ke mana. Aku nggak tau bahkan nggak berpikir soal cinta, tapi aku juga ingin tau apa itu cinta,' batin Rianti.     Rianti menatap Sava. "Lalu, Sava gimana?" gumamnya.     Sampai hari sudah malam. Saat Sava bangun, Rianti tidak jadi bertanya. Memilih diam dan membiarkan Sava berbuat sesuka hati. Kini semua orang sudah pergi, tinggal Rianti dan Sava. Rianti tidak membahas apapun termasuk menyinggung penyakit Sava. Kalau Sava batuk dan butuh bantuan, Rianti akan menolongnya. Merawat Sava, menemaninya sebagai teman. Tidak ada rasa ingin tahu yang Rianti paksaan lagi. Murungnya Sava membuat Rianti fokus padanya,   begitu terus sampai satu minggu berlalu.    Selama itu juga Rianti tidak banyak bicara, membuat Sava heran. Rianti tidak banyak bertanya lagi, tetapi dia terlihat terus berpikir. Semakin lama semakin membuatnya pusing. Hari ini Rianti memilih mengunjungi rumahnya. Rindu rumah kumuh yang menurutnya jauh lebih baik daripada istana Sava. Tentu saja dengan seijin Sava. Bahkan, Sava ikut dengannya. Menurut Rianti, rasa ingin tahunya kembali lagi nanti.    Sudah setengah jam mobil melaju dan Rianti hanya diam. Sava hanya menatap Rianti, tidak berani bertanya. 'Sekarang, kenapa kamu yang murung, Rianti? Seharusnya aku, karena umurku tinggal tiga minggu lagi,' batin Sava.    Mobilnya berhenti tepat di depan rumah Rianti. Membuat para warga heboh dan melihat. Rianti keluar begitu saja dan langsung masuk, tidak menghiraukan Sava.     "Wah, mobil siapa ini? Eh, tadi itu Rianti, 'kan? Dia keluar dari mobil ini?" tanya warga bisik-bisik.     Sava bisa memaklumi, ucapan orang memang tidak ada habisnya. Dia keluar dari mobil dan membuat pekikan warga semakin heboh. Banyak yang memuji ketampanannya. Lalu menggunjing Rianti lagi saat Sava masuk ke rumah Rianti. Sava meneliti rumah itu, sangat tidak terawat. Dia mencari Rianti yang ternyata sedang berjalan ke sana ke mari.     "Ayah! Ayah, kau di mana?" teriak Rianti mencari Ayahnya.     Meskipun Rianti melihat Sava yang diam di depan pintu, Rianti tidak memandangnya. 'Terserah kamu mau apa, Sava! Aku ingin cari Ayahku!' batin Rianti.     "Ayah! Kau di mana!? Ini aku, Rianti! Ayah!" teriak Rianti sambil berlarian.    Rianti sampai di pintu belakang yang hanya ada semakin belukar. Rumahnya tiba-tiba menjadi lebih kumuh dan kosong. "Apa Ayah tidak di rumah? Dia ke mana?" tanya Rianti bicara sendiri. Rianti frustasi, pikirannya mulai negatif. Takut terjadi sesuatu dengan Ayahnya.     'Sial! Aku membencinya tapi juga mengkhawatirkannya! Jangan-jangan, Ayah, di culik!? Enggak! Itu enggak mungkin!' pikir Rianti.     Dia mondar-mandir di halaman belakang. "Mungkin Ayah sedang mabuk? Lagi?" gumam Rianti dan kakinya berhenti. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD