Sava tidak kunjung menjauhkan wajahnya. Membuat Rianti salah tingkah. "Ehm, mundur sana!" pinta Rianti. Sava menjauh dengan senyum. Rianti menjadi menghela napas lega.
"Kenapa jendelanya dipecahin?" tanya Sava.
"Menurutmu?" Rianti menatap Sava kesal.
Sava terkekeh. Rianti tidak meghiraukannya, dia sibuk melihat deretan buku.
"Harusnya jangan kembali," ujar Sava juga melihat buku-buku.
"Terserah aku, dong!" Rianti menjawab dengan kesal tanpa menoleh. Sava sedikit mengerutkan dahi mendengar nada bicara Rianti.
'Kok, aku sewot, ya?' batin Rianti.
Dia melirik Sava yang tiba-tiba batuk. Rianti langsung memegang lengan Sava agar tidak jatuh. "Sava, kamu nggak apa-apa?" tanya Rianti khawatir. Sava masih batuk, membuat Rianti meringis. Kemudian Sava menggeleng. "Tolong, ambilkan minum!" pinta Sava lemah.
Rianti mengangguk. "Tunggu di sini!"
Rianti langsung keluar mengambil air. Memberikan air itu pada Sava. "Sava, duduklah!" ujar Rianti menuntun Sava duduk di kursi baca. Sava meminum air itu sampai habis. Dia menghela napas cepat. Rianti refleks mengelus punggungnya. "Gimana? Udah mendingan?"
Sava mengangguk. Rianti juga ikut menghela napas panjang. Melihat Sava yang mengatur napas, miris di hati Rianti. Rianti terus mengusap punggung Sava hingga Sava merasa baikan. Saat Rianti tanya apakah Sava sudah makan, Sava menggeleng. Rianti langsung pergi untuk membuatkannya makanan. Namun, saat Rianti ingin membuat makanan, sudah ada orang di dapur dan mengerjakannya. Rianti memilih mandi, selesai mandi dia mengambil sarapan Sava dan membawanya ke perpustakaan.
"Sava, makanlah! Habis itu minum obatmu!" ujar Rianti.
Sava memakan makanannya, tapi melirik Rianti yang hanya diam saja.
"Kamu nggak makan?" tanya Sava.
Rianti jadi tersenyum, "Haha, aku santai aja." jawabnya sambil mengibaskan tangannya.
"Mau aku suapi lagi?" tawar Sava polos, menunjukkan sendoknya.
Rianti mendelik dan menggeleng. "Enggak usah! Kamu makan aja, haha." cengir Rianti sambil menyilangkan tangannya. Rianti jadi merasa aneh saat Sava menunduk.
"Kamu nggak makan juga nggak masalah, 'Kan, nggak sakit. Nggak kayak aku yang harus makan tepat waktu. Ck, meskipun itu juga bakal percuma," gumam Sava sengaja. Wajahnya terlihat sedih, berhasil membuat Rianti merasa bersalah.
'Aduh, 'kan salah lagi. Dia tuh sensitif banget!' batin Rianti.
"Eee, Sava, jangan gitu! Aduh, gimana, ya? Iya, deh, aku makan juga. Padahal aku cuma belum lapar." kata Rianti sambil pergi ke dapur sedikit pasrah.
Sava menahan senyum, dia lanjut makan sambil sedikit batuk. Saat Rianti kembali, makanan Sava sudah habis.
"Kok, udah habis?" tanya Rianti melongo memegang piring.
"Karena sudah habis." jawab Sava santai sambil meminum obatnya.
Rianti melongo lalu mendengus kecil, kemudian duduk menghabiskan makanannya. Sava hanya melihatnya dengan ekspresi datar. Membuat Rianti mendumel dalam hati. 'Suruh makan, tapi nggak ditungguin. Sekarang, dilihatin doang, ngeselin!' batin Rianti.
Sampai makanannya habis. Rianti bingung mau berbuat apa. Sava nampak diam saja sambil melihat jendela. Rianti mencari cari cara untuk melakukan sesuatu. "Sava, biasanya kamu ngapain habis ini?" tanya Rianti.
"Tanya itu mulu. Aku hanya diam," jawab Sava tanpa menoleh.
Rianti menepuk tangannya sekali. Membuat Sava kaget dan menatapnya.
"Baiklah, ayo kita lakukan ini!" seru Rianti semangat.
"Apa?" bingung Sava.
"Kita akan keliling rumah. Kamu tunjukkan semuanya padaku! Ayo!" seru Rianti lagi sambil menarik tangan Sava. Sava hanya menurut mengikuti Rianti. Sebenarnya ada tujuan kenapa Rianti meminta Sava untuk memperlihatkan rumahnya. Dia ingin mencari tahu kebenaran Sava. Membuat Sava nyaman dengannya dan lupa dengan waktu.
'Bagus Sava! Teruslah bicara, aku mau lihat seberapa lelahnya kamu!' batin Rianti
Rianti dengan senang hati memandang satu per-satu ruangan. Mendengarkan Sava yang dengan spontan mengoceh. Sesekali mereka tertawa kecil. Bahkan, Sava memperkenalkan semua orang yang bekerja di rumahnya. Rianti senang dia tidak sendirian. Lima orang yang bersama Sava, tapi rasa curiganya tetap pada paman Rey.
'Dua pembantu, satu juru masak, satu satpam, satu lagi paman Rey. Lalu, kemana orang tua Sava?' Rianti masih bingung.
Sampai akhirnya Rianti di ajak ke perpustakaan lagi. Sava duduk di kursi baca. Mengambil buku yang ada di depannya. Rianti terus tersenyum meskipun pikirannya bermain.
"Sava, kenapa kamu suka di sini?" tanya Rianti.
"Karena aku kerja di sini." jawab Sava tanpa menoleh.
Rianti mengerutkan dahi merasa tertarik. Dia duduk di samping Sava dan menatapnya antusias. "Kerja? Kerja apa?" tanya Rianti.
Sava menoleh. "Kenapa tanya?" Sava seperti tidak suka.
"Ck, aku hanya ingin tau saja." jawab Rianti asal.
Rianti menghilangkan senyumnya karena Sava kembali membaca buku, tanpa menjawab. 'Stop bermainnya! Sekarang bermain sungguhan!' batin Rianti bertekad.
Dengan geram, Rianti menarik wajah Sava berani, sampai Sava melotot kaget. Menatap mata Sava serius. "Dengar, Sava! Aku nggak ada segan lagi sama kamu, karena pemilik rumah ini. Aku hanya menganggapmu suamiku dan teman. Untuk itu, beritahu semuanya tentangmu! Aku akan pecahkan teka-teki pernikahan ini!" ujar Rianti serius tanpa berkedip. Sava sampai melongo. Rianti melanjutkan ucapannya tanpa melepaskan wajah Sava. "Ini juga menyangkut kehidupanku! Terlebih aku tidak tau keberadaan Ayahku dan kenapa aku dinikahkan denganmu, mengerti!? Jadi, bantu aku! Mungkin juga kita bisa menemukan cara agar kamu sembuh. Aku tau kamu nggak sebodoh itu!"
Sava terkejut mendengarnya. Jantungnya berdetak lebih cepat, melihat wajah serius istrinya. Dia hanya diam, membuat Rianti berdecak dan kembali bicara. "Sava, percayalah padaku! Bantu aku!" gertak Rianti.
Sava mengerjap beberapa kali. "Eee, ehm, tanganmu di pipiku," kata Sava polos.
Seketika Rianti tersentak dan melepaskan Sava. Dia kikuk menatap segala arah. Namun, berusaha kembali serius. "Sava, jawab!" pinta Rianti.
Sava berdeham lagi. Dia menatap Rianti lekat. "Kalau kamu udah menemukan jawabannya, kamu bakal ninggalin aku? 'Kan kita nikah paksa," tanya Sava polos.
Rianti menggeleng dengan cepat. "Aku sudah bilang, nggak akan ninggalin kamu, apapun yang terjadi!" jawab Rianti sedikit tidak sabar.
Sava mengangguk-angguk. "Kalau aku yang minta kamu buat ninggalin aku, gimana?" tanya Sava lagi sambil menaikkan alisnya. Rianti justru tersenyum miring. "Nyatanya, aku kembali lagi," jawab Rianti. Menyindir tindakan Sava yang meninggalkannya di danau taman. Sava juga ikut tersenyum miring membenarkan ucapan Rianti.
"Kamu menganggapku suamimu? Berarti kamu istriku? Aku boleh minta hakku?" tanya Sava licik.
Rianti nampak bingung. "Hak? Hak apa?"
"Tentu saja menyentuhmu," ujar Sava tidak polos lagi.
Rianti sedikit tersentak, lalu tersenyum manis. "Jangan bercanda!"
Sava terkekeh. "Aku serius. Aku anggap kamu setuju." ujar Sava.
"Terserah! Ayo ceritakan siapa kamu!?" tanya Rianti lagi.
Sava nampak mendesah pelan. Rianti terus menatapnya penasaran. "Aku, Sava Radiavian. Usia 21 tahun. Keluargaku adalah orang kaya. Mereka punya perusahaan besar. Semua kekayaannya di wariskan padaku, tapi, tetap saja mereka yang mengelola perusahaan. Dulu aku juga bekerja, jadi reseller buku. Lumayan untuk diriku sendiri, setidaknya aku kerja, 'kan? Tidak lagi setelah aku mengidap penyakit jantung. Lalu, di vonis mati. Ck." Sava tersenyum miring saat berdecak.
Rianti sangat serius mendengarkan. 'Oh, jadi itu alasannya. Pantas saja tadi semua orang menunduk pada Sava. Ternyata Sava yang memegang kekayaan di rumah ini. Sava yang menggaji mereka, bukan orang tuanya,' pikir Rianti.
Rianti tidak terpengaruh dengan keluhan Sava soal penyakit, dia fokus pada kisah Sava.
"Lalu, orang tuamu masih bekerja?" tanya Rianti.
Sava mengangguk. "Iya, mungkin saat ini mereka sibuk dengan pekerjaannya, sampai aku nggak tau keberadaan mereka. Mungkin, mereka meninggalkanku," jawab Sava tersenyum sok manis.
"Gimana kerjanya? Maksudku, ada orang lain yang membantunya? Asisten atau orang yang tau soal keluargamu?" Rianti bertanya lagi. Rianti sengaja, karena ingin mencari tahu tentang paman Rey.
Sava tampak berpikir. "Iya, sibuk membuat mereka butuh asisten. Rey selalu membantu mereka apa saja. Dia sudah sangat lama setia kepada Papa dan Mama. Aku mengenalnya baik, makanya aku panggil dia Rey, tanpa embel-embel paman," jawab Sava.
"Tapi, paman Rey bilang, dia merawatmu sejak sakit. Kenapa katamu udah bekerja sama keluargamu sejak dulu?" heran Rianti.
"Dia memang orang kepercayaan Papa dan Mama. Mereka menyuruh Rey untuk merawatku. Mau tanya apa lagi?" tawar Sava.
Rianti ber-oh ria seakan mengerti. Menimbang sambil menatap langit-langit. "Kamu jadi reseller buku dan kerja di perpustakaan ini? Kenapa? Kerjakan di manapun, 'kan bisa," tanya Rianti menatap Sava lagi.
"Karena aku suka. Selain itu, ada sesuatu di sini," jawab Sava, mendadak suaranya memelan.
Rianti tertarik. "Apa? Sesuatu apa?" mata Rianti melebar, berharap menemukan informasi.
Sava menatapnya dalam. "Rahasia!" ujarnya.
Rianti berdecak kesal. "Ayolah, Sava! Apa susahnya ngasih tau? Apa ada yang berharga? Mungkin, sebuah dokumen atau semacamnya yang bisa memberiku petunjuk!" Rianti memaksa.
Sava tampak mengerutkan dahi, dia berpikir. "Sebenarnya, aku juga ... Uhukk-uhukk!" Sava tiba-tiba batuk, tidak bisa melanjutkan ucapannya. Rianti langsung panik, mengelus pelan punggung dan lengan Sava, sampai Sava berhenti batuk. "Ahh, Rianti, aku mau air!" lirih Sava meminta.
Rianti langsung memberikan air sisa Sava tadi. Setelah Sava meminumnya, Rianti masih diam. Karena Sava memegang dadanya seakan nyeri dan meringis, sesekali batuk kecil agar merasa lebih baik.
"Ehm, Rianti. Soal sesuatu itu ... Rahasia," kata Sava mencoba tenang sambil menatapnya.
Rianti tidak mengerti, tangannya masih memegang Sava.
"Maksudnya, itu rahasia, aku juga nggak tau apa isinya. Ada satu buku dengan gembok, tapi nggak ada kuncinya. Sejak orang tuaku menyerahkan hak warisnya, mereka memberikan buku itu padaku, dan pernikahan terjadi, mereka pergi. Sampai sekarang aku nggak tau apa isinya," jelas Sava.
Sava menoleh dan menunjuk lemari buku dekat dengan pintu. Rianti mengikuti telunjuk Sava."Di sana, buku paling atas berwarna cokelat. Entah apa alasan mereka sampai memberiku buku. Aku pikir hanya sebagai hadiah. Aku sudah tidak semangat dengan urusan dunia. Pekerjaan dan kekayaan, aku tidak punya selera. Toh, sebentar lagi aku mati." ucap Sava tenang.
Rianti menatap buku yang ditunjuk Sava, lalu menoleh ke Sava lagi. Dia mendesah pelan, membuat Sava menatapnya. "Aku memberitahu semuanya padamu. Kamu memberiku sedikit kepercayaan dua hari ini, setidaknya pecahkan alasan kenapa kita bisa menikah. Aku percaya padamu, Rianti." kata Sava serius.
Rianti sedikit tersentak sambil menaikkan kedua alisnya. Lalu, dia mengerjap dan bertanya lagi. "Oh, ya, gimana orang tuamu saat menyuruhmu menikah? Kamu pasrah gitu aja? 'Kan nggak tau siapa orangnya," tanya Rianti.
Sava tersenyum tipis. "Mereka bilang, ingin memberiku teman hidup. Haha, bicara hidup itu lucu. Hidupku tinggal menghitung hari, tapi aku menerima gitu aja. Nggak peduli siapa calon istriku, hanya di beritahu nama dan asal usulmu, aku menikah denganmu." jelas Sava.
"Ha? Segampang itu?" heran Rianti.
"Kamu sendiri, juga mau datang ke sini pakai baju pengantin. Segampang itu?" Sava balik bertanya.
Rianti berdecak. "Ceritanya memuakkan! Aku sudah pernah cerita padamu, 'kan? Kalau aku di paksa Ayah, dan sekarang tidak tau kabar Ayah. Aku harus cari tau kebenarannya!" seru Rianti.
Rianti melengos menatap buku-buku. Tiba-tiba Sava terkekeh lalu berdeham. "Ehm, masih mau memegangku?" tanya Sava polos.
Rianti langsung melotot dan melepaskan tangannya dari tubuh Sava. Dia merasa bodoh, dan Sava tersenyum aneh.
"Oke, aku sudah bercerita. Sekarang giliranmu, berikan hakku!" ujar Sava tersenyum miring.
Rianti mendelik. "Apa? Hahaha, bercanda!" kata Rianti tertawa kaku.
"Ck, jangan pura-pura nggak mau! Aku tau, kamu terpesona denganku, 'kan?" tebak Sava menggoda.
Rianti menganga. "Hahaha, ge'er banget, sih! Siapa juga yang terpesona. Kamu mungkin yang suka sama aku. Aku, 'kan cantik meski nggak pernah dandan," balas Rianti.
Sava berdecak. "Bilang aja mau menghindar!" ujarnya.
'Katanya sakit, kok, masih punya nafsu? Katanya mau mati, sempat-sempatnya mikirin begituan,' batin Rianti ingin berdecak.
"Emm, hehe. Aku masih kecil, jadi itu tidak baik. Mendingan kamu pikirin gimana nanti mati masuk surga, haha." kaku Rianti sambil mengibaskan tangannya. Seketika wajah Sava jadi murung. Rianti serba salah lagi.
'Aduh, maksudku bukan begitu. Dia jadi sedih lagi, 'kan. Ck, gimana, nih?' batin Rianti.
"Sava, aku ... Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin ...," ucapan Rianti terpotong oleh Sava.
"Enggak apa-apa, kenyataan," ujar Sava lemah.
Rianti mencegah saat Sava ingin pergi. "Eh, mau ke mana?" tanya Rianti.
"Berpikir cara masuk surga." jawab Sava sambil keluar ruangan tanpa menoleh.
Itu membuat hati Rianti tersentil. Gara-gara ucapannya, Sava jadi pasrah hidup lagi. Rianti berdecak merasa bodoh, tapi kemudian berpikir. 'Benar juga, aku udah nikah sama dia. Wah, parah kalau Sava beneran minta hak-nya gimana?' batin Rianti lalu menyusul pergi.
Rianti pergi tidak tahu tujuan. Kemudian dia melihat Paman Rey bersama Sava di ruang tamu. Mereka sedang berbincang, terlihat Sava masih murung dan mendesah berkali-kali. Rianti jadi bingung. 'Mereka bicara apa? Apa Sava sedang curhat?' batin Rianti bertanya.
Saat ingin bergabung, ada juru masak yang melintas sedang membawa minuman. Rianti menghentikannya. "Eh, tunggu dulu, Bibi!" seru Rianti.
Bibi itu berhenti. "Iya, Nyonya." jawabnya sambil menunduk singkat.
"Ah, jangan memanggilku Nyonya. Aku ini masih 19 tahun. Panggil Rianti aja!" kesal Rianti.
Bibi itu tersenyum lalu mengangguk. Rianti kembali bertanya. "Bibi, minumannya untuk Sava?"
Juru masak itu mengangguk lagi.
"Hehe, boleh aku yang berikan?" tanya Rianti meminta.
Bibi itu tampak ragu, takut dianggap tidak sopan karena Rianti yang memberikan.
"Enggak apa-apa, Bibi. Biar aku aja, sini!" Rianti mengambil paksa minuman itu, lalu pergi bergabung dengan Sava dan Paman Rey. Bibi itu hanya mendesah dan kembali lagi ke dapur.
"Hai, Paman. Kalian bicara apa? Sava, aku bawakan minum untukmu." kata Rianti sambil menaruh air itu di meja. Sava hanya meliriknya.
"Hai, juga, Rianti. Kami hanya mengobrol. Kau mau bergabung?" tawar Paman Rey.
Rianti tersenyum sok ceria. "Tidak, ah. Aku mau buat camilan. Gini-gini aku jago masak, loh. Paman mau? Emm, Sava juga mau?" tawar Rianti menatap Paman Rey dan Sava bergantian.
Sava melengos acuh, membuat Rianti paham kalau Sava masih tersinggung dengan ucapannya.
"Haha, boleh. Aku ingin mencoba masakanmu, pasti enak," kata Paman Rey dengan senyum.
Rianti berganti menatap Paman Rey. "Tentu saja, aku akan buatkan makan siang sekaligus, tunggu, ya!" seru Rianti semangat lalu pergi ke dapur.
Paman Rey melirik Sava yang masih tidak mau menatap Rianti. "Tuan, kau ada masalah dengan Rianti?" tanya Paman Rey.
Sava menoleh. "Tidak, aku hanya tidak bersemangat," jawabnya. Tiba-tiba terlintas di otak Sava untuk mengetahui surat dari dokter. Dia juga berpikir karena Rianti yang selalu meyakinkannya untuk sembuh. "Rey, aku tidak pernah melihat surat dokter. Aku ingin lihat penjelasan dari penyakitku," kata Sava.
"Tuan, orang tuamu yang membawa surat itu. Aku tidak tau keberadaan mereka," jawab Paman Rey.
"Apa mereka masih bekerja? Bagaimana kabar perusahaan?" tanya Sava penasaran.
Paman Rey menghela napas panjang. "Setelah kau menikah kemaren, tepat mereka menghilang, aku belum datang ke perusahaan. Sepertinya, mereka masih mengelolanya. Tidak ada kabar buruk hingga hari ini, itu berarti perusahaan berjalan lancar. Tentu saja orang tuamu yang mengelola, 'kan? Tapi, entah mereka ada di mana dan bagaimana cara mereka melakukan pekerjaan?" Jawab Paman Rey seakan berpikir.
Sava juga berpikir. Tidak ada rasa curiga pada ucapan Paman Rey. "Aku ingin datang ke sana. Mungkin, aku bisa bertemu orang tuaku di kantor. Setidaknya, ada informasi tentang mereka," ujar Sava.
Paman Rey mengangguk. "Baik, Tuan. Besok kita ke sana," ujar Paman Rey.
"Huft, aku ingin tau isi surat dokter itu. Bisa jadi mereka menyimpannya di kantor." ujar Sava sambil menghela napas panjang. Paman Rey menyelidik. "Kenapa kau sangat ingin tau isinya?" tanya Paman Rey.
Sava menatapnya tidak santai. "Karena aku ingin tau!" tegas Sava. Membuat Paman Rey diam. Tidak bertanya dan tidak ada lagi percakapan. Sejujurnya, hati Sava masih tidak percaya kalau dia mengidap penyakit jantung.
Rianti mendengar semuanya. Dia sengaja tidak pergi dulu dan sembunyi di balik tembok. Menguping pembicaraan mereka.
'Hmm, jadi mereka mau pergi ke kantor besok. Aku harus mengikutinya!' batin Rianti.
Melihat wajah Sava yang murung sambil berpikir, membuat Rianti merasa tidak tega. 'Sepertinya banyak rahasia untuk Sava. Aku harus cari tau semuanya. Lagipula, aku sudah masuk ke dalam hidupnya. Untuk Paman Rey, aku rasa dia tau banyak hal,' batin Rianti lagi.
Lalu Rianti pergi ke dapur dan membuat makanan bersama Bibi. Rianti membuat kue brownies sebagai camilan. Dia banyak berbicara dengan juru masak, membuatnya mudah akrab. Dia membuat begitu banyak jenis makanan. Saat waktu makan siang tiba, Rianti mengajak semua penghuni rumah untuk ikut makan. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Membuat Sava diam dan para pembantunya kikuk. Rianti asik mengatur makanan.
"Kenapa diam semua? Kalian takut dengan Sava? Dia, 'kan bukan monster." ujar Rianti santai sambil memotong kue brownies. Sava mendelik menatap Rianti. Rianti tau hal itu, tapi dia asik melanjutkan kegiatannya. "Bibi, kau hebat sekali memasak! Lain kali ajari aku lagi, ya!" seru Rianti menatap Bibi. Bibi itu hanya tersenyum kecil dan mengangguk.
"Paman Rey, kau diam saja? Cobalah brownies buatanku. Pasti enak!" seru Rianti sambil memberikan sepotong brownies pada Paman Rey. Membuat Sava memutar bola matanya. Rianti juga tahu kalau Sava tidak suka tindakannya.
"Terima kasih." Paman Rey menerimanya dengan senyum.
Rianti cengengesan lalu menatap mereka satu per-satu. Dua pembantu yang bertugas membersihkan rumah itu saling melirik. Membuat Rianti menghela napas. "Paman dan Bibi, Aku hanya ingin mengenal kalian. Aku baru di sini, aku seperti orang asing yang di buang di rumah asing. Mendadak statusku berubah, dan hilang tujuan. Tidak tau siapapun di sekelilingku. Apa salah kalau aku ingin makan bersama kalian? Aku hanya ingin merasa hidup dengan kehidupan baruku." ujar Rianti menjelaskan.
Wajahnya polos memohon. Membuat semua pembantu itu merasa kasihan. Mengerti dengan keadaan Rianti yang menjadi korban.
"Aku dipaksa menikah. Meninggalkan impian dan hidupku. Apa aku juga tidak boleh mengenal kalian?" tanya Rianti lagi. Rianti melirik Sava yang terlihat tertegun.
"Rianti, jangan bicara begitu. Kami akan makan bersamamu. Iya, 'kan?" kata Paman Rey bertanya pada semua orang. Mereka semua mengangguk dan tersenyum.
"Apa aku harus minta izin Tuan Sava?" ujar Rianti menatap Sava. Membuat Sava melirik ke segala arah.
"Emm, makanlah!" ujar Sava.
Dalam hati, Rianti merasa senang, karena Sava tidak bisa berkutik dan membiarkan mereka makan.
"Yeyy, mari makan!" seru Rianti.
Mereka makan tanpa canggung. Ada yang bisik-bisik membicarakan sifat Rianti. Semua tindakan mereka tidak luput dari mata Rianti, bahkan Paman Rey yang selalu meliriknya juga Rianti tahu. Membuat Rianti semakin curiga.
'Kenapa Paman Rey terus menatapku? Tidak mungkin kalau tidak menyembunyikan sesuatu. Hah, aku terlalu curiga padanya.' batin Rianti sambil makan.
Sampai makan siang selesai, Rianti menyerahkan semuanya pada Bibi. Saat ingin berdiri, tangannya sudah di seret Sava duluan. Rianti sempat kaget, tapi tetap mengikuti langkah Sava. Sava membawanya ke kamar.
"Eh, eh. Nggak usah narik juga kali!" kata Rianti sambil melepaskan tangannya.
Rianti bersikap santai meskipun Sava melipat tangan di d**a.
"Apa? Mau marah? Karena aku ngajak mereka makan bareng?" tebak Rianti. Sava hanya diam mendengarkan. "Dengar, ya! Aku cuma pengen kenal doang. Lagipula nggak masalah kali, sesekali makan bersama. Mereka juga sudah membantumu. Aku ... Hanya ingin bertemu orang baru. Rasanya aneh kalau terlalu sepi. Biasanya aku selalu sibuk mengurus rumah, sekolah, dan kerja." sambung Rianti memelas di akhir ucapannya. Rianti menunduk, ingat kegiatan sehari-harinya.
"Enggak kok, nggak marah. Buat apa marah?" kata Sava bertanya.
Rianti diam saja.
"Aku cuma pengen ngomong," kata Sava.
Rianti masih tidak mau menatapnya, padahal penasaran. 'Mau ngomong apa, sih? Tapi, nggak apa-apa. Biar dia aktif nggak murung lagi,' batin Rianti.
"Kamu, merasa tidak adil, ya?" tanya Sava hati-hati.
Rianti langsung mendongak. "Hmm?" tanyanya berdeham.
Sava terlihat bingung, meskipun Rianti sudah tahu maksud pertanyaan Sava. Dia senang kalau Sava tersinggung. Rianti yakin, dengan begitu Sava akan berusaha untuk hidup.
"Maksudku, kamu rindu rumah? Rindu kehidupanmu? Kamu bilang dipaksa Ayahmu menikah, 'kan? Tapi, katamu senang menikah denganku, mau jadi temanku, bahkan kamu berhasil buat aku penasaran dengan penyakitku. Nggak sadar kamu memberiku semangat hidup. Aku sampai membahas surat pernyataan dokter dengan Rey. Padahal aku tidak pernah membahasnya lagi. Aku ...," jelas Sava tapi di potong Rianti.
Rianti menjentikkan jarinya, membuat Sava mengerjap. "Nah! Itu yang aku maksud. Haha, sebenarnya aku sengaja membuatmu tersinggung dan merasa nggak enak. Biar kamu juga melihatku, tidak melulu pasrah untuk mati." kata Rianti senang.
"Ha?" Sava bingung.
"Haha, udah, nggak usah di pikirkan. Hah, aku kekenyangan!" tawa Rianti pelan sambil menepuk perutnya. Geli menatap Sava yang kebingungan. Rianti melunturkan senyumnya, karena melihat bayangan di pintu.
'Bayangan apa itu? Kok, lurus? Jangan-jangan orang sedang menguping!' batin Rianti. Rianti langsung menuju pintu itu. Namun, saat Rianti di sana, bayangannya hilang. Hanya lorong penghubung ke halaman belakang. 'Mana bayangan tadi?' batin Rianti bertanya.
Rianti berbalik saat Sava memanggilnya. "Kamu ngapain?" tanya Sava.
"Ha? Ah, tadi ada kecoa lewat," jawab Rianti.
Rianti kembali menghampiri Sava dan nyengir. "Bukan apa-apa. Cuma kecoa, haha," kata Rianti. Dia celingukan lalu melanjutkan ucapannya. "Sava, kamarmu ini kedap suara, nggak?" tanya Rianti berbisik.
Sava menautkan alisnya. "Enggak, kenapa bisik-bisik?" tanya Sava.
"Sstt! Aku mau ngomong serius. Jangan sampai ada yang dengar." bisik Rianti sambil menaruh telunjuknya di bibir.
Sava sangat bingung, tapi dia mengangguk. "Mau bicara di ranjang? Kakiku pegal berdiri!" tawar Sava.
"Yaudah, ayo! Eh, tutup pintu dulu!" ujar Rianti.
Dia langsung menutup pintu dan menarik tangan Sava untuk duduk di ranjang. 'Aku yakin banget itu bayangan orang. Nggak mungkin kalau pohon di halaman belakang,' batin Rianti.