Sore menjelang malam. Biasanya Rianti pakai untuk bekerja, sekarang ada di dapur yang mewah. Tidak pernah Rianti melihat dapur seindah rumah Sava. Bahkan memakai kompor saja Rianti sempat bingung. Namun, menjadi mudah saat Sava mengajarinya. Sekarang dapur itu di kuasai Rianti. Sava hanya duduk dan memandang Rianti penuh pertanyaan, dahinya berkerut. Rianti tahu itu, tapi dia tetap memasak dan memasang senyum agar Sava nyaman dengannya.
Sayur yang dia potong dimasukkan ke panci. Rianti melirik Sava sekilas. Dia mengajaknya bicara sambil sibuk memotong bahan yang lainnya.
"Kamu tau Sava? Biasanya jam segini aku berangkat kerja di toko. Aku yakin, pasti sekarang pemilik toko marah karena aku tidak datang. Hahaha, terlalu mendadak." ucap Rianti memasukkan sayuran yang dia potong lagi.
Sava hanya tersenyum tipis. Bahkan tidak bisa dilihat oleh Rianti.
"Kamu biasanya jam segini ngapain?" tanya Rianti tanpa berhenti memasak.
Sava tampak berpikir. "Tidak ada, hanya diam," jawabnya.
Rianti mengaduk sayur itu sambil menatap Sava. "Sava, aku hanya masak sayur sop sama nasi, gimana?" tanya Rianti.
"Nggak apa-apa," jawab Sava tidak ada semangat.
Rianti mengangguk pelan. Ingin mengajak Sava bicara apapun itu, tetapi tidak tahu lagi apa yang harus dibicarakan. Jadi, dia menunggu sampai makanan siap. Rianti menyajikan sup dan nasi di meja makan dan duduk berhadapan dengan Sava. "Nah, waktunya makan!" ucap Rianti semangat. Mengambil piring dan mengisinya dengan makanan. Namun, Sava diam, Rianti jadi menatapnya. "Kamu nggak makan? Aku ambilkan, ya?" tawar Rianti.
Sava mencegahnya sambil menggeleng. Membuat Rianti heran. "Kenapa?" tanya Rianti.
"Aku nggak lapar!" jawab Sava datar.
Rianti mendengus pelan. "Sava, lapar nggak lapar tetap harus makan. Kamu dari tadi belum makan, ayo!" bujuk Rianti sambil menyiapkan piring Sava.
"Buat apa? Makan nggak makan, bentar lagi aku mati." ucap Sava sambil menggeleng.
Rianti tertegun, ingin menasehati lagi, tetapi Sava pasti menolak. Jadi, Rianti memilih diam dan melanjutkan menaruh nasi di piring. Dia berdiri dan pindah duduk di sebelah Sava. Sava hanya menatapnya bingung. "Geser sedikit!" pinta Rianti.
Sava menurut, dia bergeser dan Rianti duduk di sebelahnya. Rianti tersenyum sambil menghadap Sava, membuat Sava semakin bingung.
"Sava, aaa.." Rianti menyuruh Sava membuka mulut. Sesendok nasi dan sayur ada di depan Sava.
Sava mendelik. Dia bertanya dengan mengangkat kedua alisnya. Rianti berdecak sedikit. "Ayo buka mulut! Aaa..." Rianti menyodorkan sendok lagi.
Sava menggeleng.
"Makan, dong, Sava! Kalau kamu nggak makan, aku juga nggak makan!" kesal Rianti menaruh sendoknya di piring.
"Kamu makan aja!" Suruh Sava tidak enak jika Rianti tidak makan.
Rianti menggeleng. Tiba-tiba sendok berisi nasi melayang di depannya. Rianti terheran, dia menoleh ke Sava. Bertanya dengan menaikkan kedua alisnya dan Sava menjawab melirik sendok di tangannya. Sava menyodorkan lagi sendok itu, membuat Rianti memundurkan kepalanya.
'Dia mau menyuapiku begitu?' tanya Rianti dalam hati.
"Sava?" tanya Rianti bingung.
"Makan!" Sava menyuruh. Dia menyodorkan lagi sendoknya sampai mengenai bibir Rianti. Rianti terus mundur tapi Sava terus mendorong sendoknya.
"Makan, Rianti!" ucap Sava lagi.
'Gimana, nih? Grogi banget! Nggak pernah di suapin cowok, sih!' batin Rianti.
Ragu Rianti membuka mulutnya. Sava langsung meyuapinya. Rianti mengunyah makanannya. Melihat Sava yang menyendok nasi lagi, Rianti merebut paksa piring itu.
"Eh, sini berikan! Aku yang makan kenapa kamu yang nyuapin!?" sewot Rianti. Rianti memakan makanannya dengan cepat. Lirik pandang dengan Sava yang hanya menatapnya.
'Gak mau makan, tapi lihatin!' gerutu Rianti dalam hati.
Terus melirik Sava yang tidak mengalihkan pandangannya, Rianti jadi geram. Dia menyendok nasi dengan cepat dan menyuruh Sava membuka mulut. "Sava! Buka mulut!" seru Rianti.
Sendok itu tepat di depan mulut Sava, tapi Sava diam saja. Rianti jadi semakin kesal dan membuka mulut Sava paksa. Dia menekan kedua pipi Sava sampai mulutnya terbuka. "Buka Sava! Aaa," geram Rianti.
Sava tidak percaya Rianti melakukannya. Dia terus menolak sekuat mungkin, tetapi Rianti berhasil memasukkan nasi itu ke dalam mulut Sava. Mau tidak mau Sava harus memakannya.
"Haha, akhirnya makan juga. Gitu, dong!" seru Rianti senang.
Melihat Sava mengunyah dengan wajah kesal membuat Rianti tertawa. "Lihat wajahmu itu, haha. Lucu banget! Gimana rasanya? Enak nggak?" tanya Rianti.
Sava sedikit berpikir. "Lumayan," jawabnya.
"Lumayan? Ini enak tau! Coba makan lagi, nih!" pinta Rianti sambil menyuapi Sava lagi, dengan cepat. Sava tidak bisa mengelak. Dia harus tetap mengunyah.
"Gimana? Gimana? Enak banget, kan?" Rianti antusias bertanya.
"Sama aja," jawabnya santai.
"Ha? Sama aja? Enak banget gini, kok! Coba lagi, deh! Lidahmu kurang berasa kali!" Rianti menjejali mulut Sava lagi. Membuat Sava mendelik dan mendengus.
"Nggak enak! Hambar!" Karena kesal, Sava mengatakannya.
"Apa? Tadi lumayan kenapa sekarang jadi hambar? Masa' rasanya berubah, 'kan aneh!" ucap Rianti sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. "Enggak hambar, kok. Enak banget! Kamu coba lagi, deh!" seru Rianti menyuapi Sava lagi dengan cepat. Sampai Sava tidak bisa mengelak.
'Haha, kalau begini kamu juga makan, 'kan Sava?' batin Rianti senang.
Rianti menaikkan alisnya, bertanya bagaimana pendapat Sava.
"Sama aja," jawab Sava malas.
"Kok, sama? Coba lagi, lagi!" pinta Rianti menyuapinya lagi.
Sava mendelik. "Sudahlah, Rianti! Aku nggak mau makan!" kesal Sava malas.
Rianti mengerjap polos. "Tapi, kamu sudah makan setengahnya." kata Rianti menunjukkan nasi yang sudah tersisa sedikit di piring.
Sava melongo menatap piring dan Rianti bergantian. Wajahnya terlihat bodoh, membuat Rianti tertawa. "Hahaha, kamu lucu, ya!" tawa Rianti mengejek.
Sava mendelik. "Kamu ... Ck," decak Sava.
"Hehe, jangan marah, dong. Kalau nggak gitu, kamu nggak makan." ucap Rianti sambil membawa piring ke dapur. "Sava, habis ini kamu mau apa?" tanya Rianti sambil mencuci piring, tetapi tidak ada jawaban. Rianti menoleh ke meja makan."Sava, eh ... Kemana dia?" bingung Rianti. Sava tidak ada di sana. Rianti celingukan, tidak ada Sava di dapur dan ruang makan. Rianti mencarinya.
"Sava! Sava kamu di mana? Sava!" teriak Rianti. Mengitari seluruh ruangan bahkan sambil berlari kecil.
'Rumah kayak istana begini gimana nyarinya? Hah, Sava pake acara kabur segala!' batin Rianti mengeluh.
Rianti masuk ke kamar, tetapi Sava tidak di sana. Mencari lagi sampai ke halaman belakang, masih belum menemukan Sava. Rianti bingung, dia kembali ke lantai satu.
"Sava ... Kamu di mana, sih?" tanya Rianti teriak.
Berlari sampai ke pintu. Tidak ada satupun orang di rumah, tapi Rianti melihat bayangan orang di halaman depan. Rianti menghampirinya, silau karena cahaya matahari di barat. Rianti mengernyit, memanggil orang yang punya bayangan itu.
"Sava!" panggil Rianti.
Sava menoleh. Hanya menoleh tanpa menjawab membuat Rianti menghampirinya.
"Kenapa di sini? Aku mencarimu keliling rumah," tanya Rianti.
"Mencariku?" Sava justru bertanya sambil berkerut dahi.
Rianti berdecak, "Ya, iyalah mencarimu. Emangnya kenapa? Tidak ada yang mencarimu?" tanya Rianti bercanda. Sedetik kemudian, dia sadar kalau candaannya begitu berpengaruh untuk Sava.
"Tidak ada," jawab Sava sambil menggeleng. Melengos membuat Rianti tersentak. Dia menunduk lalu menatap Sava lagi. "Sama, dong. Aku juga tidak pernah di cari, haha," canda Rianti. Tersenyum sok ceria demi menghibur Sava. Rianti tahu, Sava juga tersenyum tetapi tidak ikhlas. Dia mencari cara agar bisa berkomunikasi lebih banyak.
"Emm, Sava. Kamu ngapain di sini? Lihat apa?" tanya Rianti celingukan mencari objek yang menarik.
Tangan Sava menunjuk matahari. "Lihat itu! Indah, 'kan?" tanya Sava tanpa ekspresi.
Rianti mengikuti arah tangan Sava. "Wah, iya itu indah. Matahari tenggelam dan hari sudah hampir malam," jawab Rianti.
"Tidak indah kalau dilihat dari rumah. Terhalang dinding dan rumah yang lain. Mau ikut denganku?" tanya Sava menoleh ke Rianti.
Rianti mengerjap. "Ah, kemana?"
"Lihat matahari di luar," jawab Sava.
"Eh, serius? Aku pikir kamu hanya mau di dalam rumah," heran Rianti.
Sava menggeleng, "Ayo ke taman!" ajak Sava sambil tersenyum.
Rianti mengerjap lagi. "Ah, iya!" tersenyum sok senang meskipun hatinya bertanya-tanya. Mengikuti langkah Sava keluar rumah menuju taman.
'Kenapa mengajakku keluar? Aku pikir dia pendiam dan ingin menikmati sisa hidupnya di rumah, haha, tapi ekspresi Sava sangat datar. Kayak ada yang dia pikirkan,' batin Rianti.
Sepanjang jalan, Rianti terus melirik Sava. Begitu tenang seakan tidak memiliki penyakit jantung. Tidak ada rasa curiga, sampai mereka bertemu banyak orang di gerbang taman. Rianti mengukir senyumnya. "Wah, taman ini cantik banget! Banyak orang, ya, haha." tawa Rianti menatap sekeliling.
Sava terus berjalan membuat Rianti harus mengikutinya. Semua orang menatap ke arahnya, membuat Rianti jadi bingung. Setelah dia pikir, mungkin mereka bukan melihatnya, melainkan Sava.
"Sava, kamu kenal mereka? Mereka menatapmu terus," tanya Rianti berbisik.
"Enggak, biarkan aja," jawab Sava tanpa menoleh.
Rianti jadi diam. 'Dia kenapa lagi, sih? Heran, deh!' batin Rianti.
Langkah Sava terhenti di danau buatan. Rianti terpana. "Wah, ada danau di taman? Keren!" seru Rianti.
Rianti melihat sekeliling, dia jauh dari orang-orang yang menatapnya tadi. Bahkan tidak ada orang lain di danau.
'Apa ini di luar taman? Hanya ada lapangan rumput dan danau,' batin Rianti bingung.
Rianti menatap Sava yang hanya diam. Sampai Rianti terkejut saat Sava memanggilnya tanpa menoleh. Rianti menjawab dengan gumaman.
"Kau lihat itu? Mataharinya mau terbenam." kata Sava, tangannya menunjuk matahari.
"Oh, iya. Udah mau tenggelam. Indah banget, 'kan?" kata Rianti tersenyum.
"Apa aku juga akan tenggelam dengan indah?" tanya Sava bergumam.
Senyum Rianti hilang, menatap Sava yang terlihat sendu. Paham maksud Sava, jika Sava hanya mengingat mati dan mati. Tidak ada harapan untuk hidup, tetapi ekspresinya datar.
"Sava, ini masih di taman? Kok, sepi?" tanya Rianti sambil menatap sekeliling. Mencari alasan agar tidak membahas kematian.
Sava tersenyum miring, "Iya, ini taman."
"Kalau taman, kenapa ada danau? Nggak ada orang di sini?" tanya Rianti heran.
Sava diam sebentar. Membuat Rianti menatapnya. "Karena taman ini berbeda. Mungkin, semua orang ingin pulang. Nanti malam pasti banyak yang datang lagi," jawab Sava panjang.
Rianti mengangguk. "Kamu sering ke sini, ya?" tanya Rianti.
Sava mengangguk. "Iya, dulu," jawabnya.
Rianti capek berdiri, dia duduk di atas rumput. Tersenyum lebar tanpa henti.
'Ini luar biasa. Aku tidak pernah melihat danau. Jangankan danau, untuk keluar jalan-jalan aja tidak bisa. Aku harus kerja sepulang sekolah,' batin Rianti.
Rianti mendongak. "Sava, duduk sini. Kamu nggak capek berdiri terus?" tanya Rianti.
"Enggak!" jawab Sava tanpa menoleh.
Rianti mencebikkan bibirnya. "Dasar, gampang menyerah sama keadaan!" gumam Rianti. Sava mendengarnya hanya melirik tanpa tertarik.
"Ck, duduk sini! Kakimu bisa sakit!" Suruh Rianti agak meninggi.
Sava menoleh, dia tersenyum tipis. "Rianti, aku mau ke toilet sebentar," kata Sava.
"Ha? Emangnya di sini ada toilet, ya?" tanya Rianti heran. Sava mengangguk. "Yaudah, jangan lama-lama, ya. Udah mau gelap soalnya, hehe." Rianti meringis.
Sava mengangguk lagi. Dia pergi meninggalkan Rianti. Bukan untuk ke toilet, tapi untuk pulang dan membiarkan Rianti sendirian. Saat sudah lumayan jauh, Sava berbalik menatap Rianti yang sedang melempari baru kecil di danau. Wajah Sava kembali murung, dia sengaja melakukannya.
Rianti tak berhenti tersenyum, tanpa berpikir buruk pada Sava. Danau seakan menyihir matanya, tetapi hari sudah malam. Tidak ada tanda-tanda Sava kembali. Rianti celingukan tidak ada orang di sekitar danau. Dia bingung, memilih pergi menuju taman. Banyak orang datang dan pergi di taman, tapi tidak ada Sava. Rianti berhenti di salah satu tiang lampu. Melihat semua orang satu per satu.
'Sava ke toilet sampai malam, kok, nggak balik?' batin Rianti.
Ingin teriak, namun banyak orang. Terus mencari, berputar-putar tetap tidak menemukan suaminya.
"Sava, ke mana, sih?" gumam Rianti cemas.
Rianti menghentakkan kakinya kesal, dia khawatir dan juga takut. Taman ini luas dan banyak orang. Tidak satu pun dari mereka yang dia kenal. Berdecak terus menerus, membuat rasa cemasnya berubah panik.
"Jangan-jangan, Sava ninggalin aku!" pekik Rianti.
Matanya melotot membenarkan pikirannya. Rianti kembali mencari jalan keluar.
"Sava!!!" pekik Rianti berlari.
Bodohnya Rianti tidak bisa menemukan jalan keluar. Seketika dia sadar dan berhenti. Mengerjap beberapa kali dan mencoba tenang. "Oh, Sava. Kamu sengaja biar aku nggak kembali lagi, 'kan?" gumam Rianti.
Rianti mengatur napasnya. Dia kembali berjalan dengan santai, mengikuti arah yang sudah beberapa kali dia lewati sampai berhasil keluar.
"Kamu pikir aku tidak bisa temukan jalan pulang? Meskipun aku baru di sini, aku hafal semuanya!" Sedikit kesal karena dia ditinggal, tapi juga merasa kasihan. Sampailah Rianti di rumah Sava. Pagar tertutup, lampu meredup dan tidak ada orang.
Rianti berdecak. "Ck, ini rumah kosong apa? Kayak nggak berpenghuni!" ujar Rianti lelah.
Dia menghela napas terus-menerus. Dengan pasrah Rianti memanjat pagar. Berhasil dan masuk rumah, ternyata pintu terkunci."Astaga! Savaaaa! Buka pintunya! Niat banget, sih, buat aku menjauh!" kesal Rianti sedikit berteriak. Berdecak sambil mencari cara. Rumah ini punya banyak jendela. Rianti membuka satu jendela juga terkunci.
"Ck, nyebelin banget, sih!" Rianti menghentakkan kakinya. Sedetik kemudian dia tersenyum. Geli dengan situasi. Rianti melipat tangan di d**a sambil berjalan mencari pintu belakang. "Haha, kalau mau mengusirku nggak lucu kayak gini juga kali. Lagian ngapain nikah sama aku kalau nggak mau ada aku? Hahaha, jadi kasihan sama Sava, nggak kasihan sama diriku sendiri. Harusnya aku yang ribet, 'kan? Baru lulus langsung nikah. Merenggut masa depanku aja!" Rianti mengoceh hingga tiba di pintu belakang. Itupun pintunya juga terkunci.
Rianti tertawa kecil bercampur kesal. "Aku lari dari taman, manjat pagar, sekarang pintu dan jendela di tutup? Hahaha, lucu banget!"
Dia meraba di sekitar dinding mencari jendela. "Huft, Sava. Harusnya aku marah sama kamu! Kenapa jadi aku yang ribet?" sambung Rianti dengan bibir mengerucut.
Rianti menemukan jendela kaca yang bisa terbuka lebar. Terpaksa Rianti mencongkel jendelanya dengan tangan, tetapi tenaganya tidak kuat. Rianti mencari cara, dia berniat memecahkan jendela itu. Tidak peduli jika Sava marah. Mengambil batu hiasan tanaman, Rianti memecahkan kaca. Dia terkikik karena kacanya pecah semua. Sangat hati-hati Rianti masuk, meskipun sedikit merasa bersalah. 'Tidak ada jalan lain!' batinnya.
Rianti tersenyum senang dan menuju kamarnya. "Aduh, kena kaca!" pekik Rianti kecil, mengambil serpihan kaca di kakinya. Rianti berhenti tepat di pertengahan kamarnya dan Sava. Meringis sambil loncat karena kakinya sedikit berdarah.
'Darahnya sedikit tapi nyelekit!' batin Rianti.
Dia tidak sengaja menoleh ke kamar Sava. Instingnya tergerak untuk melihat Sava. Rianti langsung membuka pintu kamar Sava. Pintu itu terbuka kecil. "Ha! Nggak di kunci!" pekik Rianti pelan lalu menutup mulutnya.
Rianti membuka pintu lebih lebar. Matanya langsung terarah pada seseorang yang berkelung selimut. Seperti ulat dengan lutut di tekuk. Rianti menghampirinya, memandang Sava redup dan meneliti wajah Sava.
"Huft, laki-laki serapuh ini." lirih Rianti.
Menghela napas pelan sambil duduk di lantai. Tangannya tergerak untuk menyentuh wajah Sava, tetapi Rianti sadar dan menarik tangannya, hatinya berdesir. Rianti bingung, dia menatap Sava sebentar dan memilih pergi. Menutup pintu kamar Sava pelan dan langsung masuk kamarnya. Rianti segera menggelung dirinya dengan selimut. Menutup wajahnya pakai bantal.
"Aaaaaa, aku bingung!" teriak Rianti teredam bantal.
Napasnya jadi terengah gara-gara jantungnya berdebar. Hanya melihat wajah Sava yang tertidur. Berusaha menetralkan detak jantungnya, sampai akhirnya Rianti tidur dengan sendirinya. Beberapa menit kemudian, pintu kamarnya terbuka. Sava masuk dengan ekspresi bertanya-tanya. Mendekati Rianti, mengambil bantal itu dan membenarkan letak selimut Rianti. Sava mendesah pelan. Memasukkan tangannya ke saku celana. Menatap Rianti lekat.
"Kenapa kembali, Rianti? Aku tidak pantas untukmu," lirih Sava.
Pandangan Sava sangat redup. Dia duduk berlutut, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Rianti. Sava merasakan darahnya berdesir. Bola matanya berputar-putar memandang Rianti. "Aku sendiri bingung, kenapa menikahimu," lirihnya lagi.
Sava tahu kalau ini bukan karena penyakitnya kambuh, tapi karena berdekatan dengan Rianti. Tiba-tiba, bibirnya mengukir senyum. Jemarinya tergerak membelai dahi Rianti. "Bolehkah, aku menciummu?" Sava bertanya seakan Rianti mengerti. "Hanya di dahi," lanjut Sava.
Sava mencium dahi Rianti pelan sambil menutup mata. Entah doa apa yang dia panjatkan, sangat lama. Sampai akhirnya Sava melepaskan ciumannya. Mengelus kepala Rianti sekali dan dia pergi. Kamar Rianti kembali tertutup dan Rianti tidak merasakan apapun.
~~~
Hari ke dua pernikahannya, Rianti bangun dengan terjingkat. Mendengar suara berisik, sedang meributkan sesuatu. Rianti duduk sambil menyesuaikan cahaya. "Apaan itu? Kok, rame?" bingungnya. Segera dia bangun dan menuju sumber suara. Suara itu ada di pintu belakang. Rianti langsung melotot dan menggigit lidahnya. Dia berbalik ingin kabur, tetapi gerakannya terhenti.
"Rianti," panggil seseorang dengan tenang.
Rianti meringis sambil berbalik. "Eh, Paman Rey. Selamat pagi, hehe," sapa Rianti.
Kikuk dilihat semua orang. Ada sekitar lima orang beserta Paman Rey. Rianti menjadi sedikit gugup. Terlebih lagi saat melihat di samping pintu, jendela yang kacanya dia pecahkan.
Rianti melotot lagi. 'Gawat! Aku bisa di marahi!' batin Rianti.
"Salam, Nyonya Rianti!" seru semua orang menunduk. Membuat Rianti kaget. "Eh, eh, nggak usah begitu, haha. Aku masih anak-anak, bukan Nyonya!" tawa Rianti kaku sambil menyilangkan tangannya.
Dia lihat semua orang saling melirik. Rianti sendiri juga bingung. Lalu, Paman Rey menjelaskan. "Dia istrinya tuan Sava. Namanya Rianti, tidak mau di panggil Nyonya. Panggil saja dengan namanya. Benar, 'kan, Rianti?" ujar Paman Rey bertanya.
"Ah, iya, haha." Rianti masih kaku.
'Apa yang harus aku lakukan?' batin Rianti.
Rianti menatap jendela dan semua orang agak takut. Menelan ludahnya susah payah dan nyengir. "Paman, ada apa? Ramai sekali!" tanya Rianti sok tidak tahu.
"Oh, jendela ini rusak. Apa terjadi sesuatu semalam? Apa ada pencuri?" tanya Paman Rey menunjuk jendela.
Rianti tersentak. "Ah, tidak! Tidak ada apa-apa, hehe. Hanya saja ... Aku yang merusaknya, maaf," ucap Rianti sedikit memelan.
Semua orang tidak berani bicara, hanya saling lirik.
"Kenapa di pecahkan?" tanya Paman Rey heran.
"Karena, aku tidak bisa masuk. Sava mengunci semua pintu dan jendela. Jadi, aku pecahkan saja," jujur Rianti dengan bibir mengerucut. Berdecak pelan mengingat kakinya yang terkena serpihan kaca.
"Di kunci sama tuan? Kenapa?" tanya Paman Rey mengerutkan dahi.
Rianti ingin menjawab, tetapi di sela seseorang yang ada di belakangnya. Membuat Rianti menoleh kaget.
"Aku sengaja!" kata Sava.
Seketika semua orang menunduk, termasuk Paman Rey. Rianti menatap Sava dan semua orang bergantian. 'Kenapa mereka menunduk melihat Sava? Seperti, Sava orang yang sangat di hormati. Siapa Sava? Dia punya apa sampai mereka menunduk?' pikir Rianti sambil menatap Sava.
Sava menunduk menatapnya membuat Rianti kaget. Lebih kaget lagi saat Sava menarik tangannya dan mengajaknya pergi.
"Eh, eh, aku mau di bawa kemana?" tanya Rianti mengikuti Sava.
"Rey, bereskan jendela!" titah Sava datar.
"Siap, Tuan!" jawab Paman Rey.
Membuat Rianti tambah bingung. Melihat punggung dan tangan Sava yang menggenggamnya. Sampai mereka berhenti di satu ruangan. Sava menutup ruangan itu. Rianti menatap seluruh sudut, penuh buku. Pikirnya ini adalah perpustakaan Sava.
"Wah, bukunya banyak banget! Ini milikmu?" tanya Rianti tanpa melihat Sava.
"Hmm, ini perpustakaan di rumah. Kalau bosan di kamar, aku selalu ke sini," kata Sava.
"Hebat! Punya perpustakaan pribadi. Pasti membuang banyak uang, 'kan?" Rianti masih kagum.
"Tidak juga, ini belum seberapa." jawab Sava enteng.
Rianti menoleh. "Sombong banget! Mau pamer kalau kamu kaya? Aku nggak tertarik! Tapi buku ini banyak banget! Perpustakaan sekolahku aja nggak sebanyak ini!" ujar Rianti sambil berjalan menyusuri rak buku.
Sava mengikuti di belakangnya. "Aku nggak pamer. Kamu tanya, ya, aku jawab," elak Sava.
Rianti menoleh sambil memicing. "Eh, sudah banyak bicara lagi? Kemaren bagus banget ninggalin aku!" sinis Rianti.
Sava memutar bola matanya ke segala arah. "Aku lupa kalau ada kamu," katanya tanpa dosa.
Rianti melongo. "Halah, Kamu sengaja, 'kan? Biar aku nggak sama kamu? Gemes banget pengen aku remas wajahmu!" geram Rianti.
Sava memajukan wajahnya, membuat Rianti mendelik. "Remas aja!"
Sekarang Rianti yang diam.